Beranda

  • Lewat Album ‘Samara,’ Syarikat Idola Remaja Suguhkan Kisah Kemasyhuran Rempah

    Kelompok musik Syarikat Idola Remaja merilis album terbaru mereka ‘Samara,’ pada 9 April 2022, yang bertema kemasyhuran rempah Indonesia. Foto: Syarikat Idola Remaja.

    MIKROFON.ID – Kelompok musik Syarikat Idola Remaja merilis album terbaru mereka ‘Samara,’ pada 9 April 2022.

    Lewat album ‘Samara’ ini, Syarikat Idola Remaja menggulirkan enam lagu yang mengangkat kembali keistimewaan nilai rempah Tanah Air di mata dunia.

    Kisah rempah dari sudut kolonialisme, konflik, romantisme, nostalgia, hingga akulturasi budaya, dikemas apik lewat kualitas tata musik dan lirik karya musisi yang terhimpun di tubuh SIR.

    Syarikat Idola Remaja memang diisi talenta terbaik yang terhimpun dari solois dan band tersohor seperti Mr. Sonjaya, Nada Fiksi, Parahyena, Bendi Harmoni, dan Tetangga Pak Gesang.

    Mereka yakni Dimas Dinar Wijaksana (gitar dan vokal), Dwi Kartika Yuddhaswara (bass dan vokal), Jon Kastella (gitar dan vokal), Arum Trestaningtyas (gitar ukulele dan vokal), Sendy Novian (gitalele dan vokal), Zulqi Lael Ramadhana (gitar), Fariz “Aceng” Alwan (seruling, bangsing, dan vokal), Yaya Risbaya (perkusi), dan Ferry Nurhayat (keyboard).

    Melalui catatan jurnalis yang juga penulis dan pengamat musik kenamaan, Idhar Resmadi, tak banyak musisi atau band yang berani mengangkat topik “berbeda” semacam sejarah rempah ke dalam sebuah karya lagu seperti SIR.

    Mereka jatuh hati pada diksi ‘Samara’ yang bermakna bumbu dalam bahasa Sunda, melengkapi muruah rempah yang sedang diusung.

    Album ‘Samara’ memiliki enam buah lagu. Ada hasil pendalaman rempah yang melansir sejarah terkait kolonialisme, konflik, romantisme, nostalgia, akulturasi budaya, hingga gelar budaya.

    Kelompok musik Syarikat Idola Remaja merilis album terbaru mereka ‘Samara,’ pada 9 April 2022, yang bertema kemasyhuran rempah Indonesia. Foto: Syarikat Idola Remaja.

    Alur Lagu

    Album ‘Samara’ dibuka dengan lagu pertama berjudul “Silangan Timur Jauh” yang ditulis oleh Dimas Dinar Wijaksana (vocal dan gitar). Lagu ini bercerita tentang kedatangan bangsa Eropa ke wilayah timur Tanah Air.

    Di lagu “Seribu Pulau” yang ditulis oleh Arum Tresnaningtyas bercerita tentang ekspansi bangsa Eropa ke Tanah Air di Maluku.

    Lewat “Masakan Nusantara” yang ditulis oleh Dwi Yuddhaswara dan Arum Tresnaningtyas, SIR meneropong akulturasi budaya melalui bumbu-bumbu masakan nusantara.

    Lagu “Genderang Perang” yang ditulis oleh Dimas Dinar Wijaksana, Jon Kastella, dan Arum Tresnaningtyas punya cerita kecamuk perang penjajah Eropa dengan warga pribumi.

    Sedangkan “Di Ujung Surut Pelabuhan” yang ditulis Jon Kastella memantik romantisme medan nostalgia setelah perang berlalu, yang memunculkan cerita tentang sejarah, budaya, dan masuknya peradaban baru.

    Dari tema rempah ini juga memicu gegar budaya akan masuknya berbagai pengaruh kebudayaan asing ke Indonesia, yang terserap lagu “Kota yang Masyhur” yang ditulis Dwi Kartika Yuddhaswara.

    Lagu “Kota yang Mashyur” menjadi single pertama mereka di album ini yang telah dirilis pada pertengahan Maret 2022 lalu di berbagai digital streaming platform.

    Kekuatan lirik tentu diaransemen begitu asyik bersama iringan khas SIR yang bernuansa balada pop berformat orkes musik.

    Pada debut albumnya, SIR tampak larut dalam merangkai pilihan kata. Sekumpulan pengolah syair di dalam SIR menciptakan sebuah lagu yang tak hanya naratif, tetapi juga cermat memasangkan kata yang jarang digunakan.

    SIR seolah bersepakat untuk memanggil kembali diksi yang sempat laris di masa lalu, yang nyaris ditinggalkan para penulis lagu.

    Dentuman syair klasik kembali dimunculkan lewat laras diksi “masyhur”, “silangan”, atau “Si Intan Rasa”, dalam petikan lirik lagu “Silangan Timur Jauh”.

    Cantiklah burung simata-mata / Bersihkan ranting semak dan batu / Masyhurlah jauh si Intan Rasa / Makin dicari makin diburu….

    Kelompok musik Syarikat Idola Remaja merilis album terbaru mereka ‘Samara,’ pada 9 April 2022, yang bertema kemasyhuran rempah Indonesia. Foto: Syarikat Idola Remaja.

    Eskplorasi Rempah

    Keputusan Syarikat Idola Remaja mengangkat ide sejarah rempah bermula dari keterlibatan beberapa personel mereka dalam lomba Kompetisi Cipta Lagu Dendang Rempah Nusantara, gelaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) 2021 lalu.

    Keterlibatan mereka dalam kegiatan itu memicu penggalian lebih dalam narasi tentang sejarah rempah di Indonesia. 

    “Pertengahan tahun lalu kami memutuskan untuk istirahat dari proses rekaman. Awalnya rekaman kami memang tidak punya konsep album yang sesuai. Di tengah istirahat rekaman itu, beberapa personel SIR mengikuti lomba Kompetisi Cipta Lagu Dendang Rempah Nusantara. Masing-masing personel menulis lagu tentang rempah. Kebetulan kami kirim empat lagu dan yang berhasil menang itu lagunya Jon Kastella dan Fariz ‘Aceng’ Alwan,” kata Dwi Yuddhaswara.

    Ia menambahkan, topik tentang rempah ini jadi menarik dan seksi untuk dibawakan karena tidak hanya berbicara tentang masakan semata. Ada banyak kandungan sejarah bangsa Indonesia mulai dari munculnya bangsa Eropa, penjajahan mereka, dan hadirnya sejarah kolonialisme.

    Proses mereka dalam mencari informasi tentang sejarah rempah juga sejalan dengan ramainya lingkungan pertemanan yang sedang menggandrungi dunia kuliner, terutama tentang eksplorasi mengolah rempah.

    “Selain itu juga topik rempah ini kan sedang ramai dibicarakan dari mulai akademisi, budayawan, sejarahwan, dan pemerintah. Kayaknya topik ini seru. Kami mulai menggarap topik rempah ini dan kebetulan tema-tema ini cocok dengan brand persona SIR sendiri yang memang pengennya mengangkat isu-isu lokal,” tutur Arum Tresnaningtyas.

    Dalam proses pembuatan lagu, Yuddha mengatakan, proses kreatifnya dimulai dari membuat alur sejarah rempah di Indonesia sebagai tema alur lagunya.

    Para personel SIR mulai banyak mencari beberapa literatur dan sejarah terkait rempah.

    Meski begitu, Yuddha mengatakan album ini tidak berupaya memberikan narasi sejarah, akan tetapi mencampurkannya dengan kisah semi-fiktif.

    “Awalnya bikin alur yang memang semi-fiktif, jadi ini perjalanan cerita tentang dongeng kakeknya ‘Si Bujang’ (salah satu single SIR) tentang sejarah rempah di Tanah Air. Jadi semua lagu yang ada di album ini saling berkaitan satu sama lain. Semacam album konsep,” tutur Yuddha.

    Video SIR.

    Dengan kekuatan kolektif vokal khas Syarikat Idola Remaja, antara satu lagu dengan lagu lainnya tentu memiliki karakteristik vokal masing-masing. Tak ada lead vocal yang mendominasi.

    Semua personel saling mengisi sesuai kebutuhannya masing-masing. Semua lagu di album ‘Samara’ ini tercipta untuk asyik bergoyang.

    “Proses aransemen musik disesuaikan dengan kebutuhan lagunya, sih. Tidak melulu sang penulis lagu mesti menyanyikan karyanya sendiri. Tapi memang disesuaikan dengan karakter vokal dan kebutuhan lagunya. Jadi beruntungnya di SIR itu punya karakter vokal yang unik dan berbeda, dari yang nada tinggi hingga bernada rendah,” ujar Ferry Nurhayat atau biasa disapa Gembong, salah satu personel yang bertanggungjawab dalam aransemen musik di SIR.

    SIR juga sempat berkolaborasi dengan musisi legendaris Iwan Fals dalam lagu “Bagimu” dan sempat tampil berkolaborasi di atas panggung bersama pada 2020 lalu. Lagu “Genderang Perang” juga lahir dari markas utama Iwan Fals di Leuwinanggung.

    Setelah melepas single “Kota yang Masyhur” pada pertengahan Maret 2022, kini album ‘Samara’ ini telah tersedia melalui berbagai digital streaming platform pada 9 April 2022.***

  • Trajectory of Existential Memory, Kenangan Berlapis dalam Seni Cetak Grafis

    Seniman Jumaldi Alfi menggelar pameran tunggal bertajuk “Trajectory of Existential Memory,” di Galeri Ruang Dini, Bandung, 8 – 24 April 2022. Foto: Galeri Ruang Dini.

    MIKROFON.ID – Tawaran residensi bersama The Singapore Tyler Print Institute (STPI) pada tahun 2010 silam, membuat Jumaldi Alfi seolah-olah ‘dipertemukan kembali’ dengan hasrat dan memori masa lalunya untuk mempelajari seni cetak grafis.

    Melalui Pameran ‘Trajectory of Existential Memory’, Galeri Ruang Dini Bandung berkesempatan untuk memamerkan sepilihan hasil karya cetak grafis yang dihasilkan selama program residensi seniman di STPI tersebut, pada 8-24 April 2022.

    Kumpulan karya cetak grafis ini menjadi bentuk refleksi eksistensi hidup Alfi melalui lintasan rekoleksi memori yang ia miliki.

    Sebagai seorang individu kreatif, Alfi biasa ‘memanggil’ kembali pengalaman hidupnya untuk memetakan arah atau sekadar mengekspresikan emosi yang tersimpan dalam memorinya.

    Alfi mengekspresikan memori dengan menggambarkan citraan perasaan atau pengalaman yang ia ingat dalam pikirannya.

    Dalam catatan Ruang Dini, Alfi mengakui bahwa titik pijakannya dalam berkarya memang berangkat dari pengalaman personal juga spiritualnya. Ia menjadikan proses mengingat ini sebagai bentuk refleksi diri atas esensi-esensi yang diekstraksi dari memori atas fenomena serta pengalaman yang dihadapi, termasuk abstraksi spiritualitas dan eksistensi diri.

    Meskipun karya-karya yang dipamerkan dalam pameran Trajectory of Existential Memory ini merupakan hasil dari cetak grafis, ia tetap berupaya untuk mendokumentasikan perjalanan estetisnya selama ini lewat media lukis, yang turut membawanya ke berbagai pameran di berbagai negara.

    Karya-karya Alfi identik dengan citraan lapisan-lapisan dan beragam elemen visual yang selama ini juga selalu muncul dalam karya lukisnya.

    Lapisan-lapisan ini hadir sebagai untaian dari setiap memori, rekoleksi, sekaligus kenangan yang ia miliki.

    Boleh dibilang, karya-karya yang disuguhkan Alfi menjadi semacam jejak psikologis atas pengalaman dan esensi dalam hidupnya, dan hal ini termanifestasi dalam bentuk citraan yang boleh jadi melampaui batas kesadaran.

    Dalam berkarya, Alfi seperti berupaya untuk menghindari kejelasan bentuk serta tatanan, dan hal ini ada keterkaitannya dengan kesadaran dirinya sebagai manusia.

    Elemen-elemen visual yang muncul memberikan kesan acak seperti garis-garis, goresan tulisan dan kutipan; juga citraan lain seperti figur dan bagian tubuh manusia, tengkorak, bebatuan, ataupun kaktus.

    Seniman Jumaldi Alfi menggelar pameran tunggal bertajuk “Trajectory of Existential Memory,” di Galeri Ruang Dini, Bandung, 8 – 24 April 2022. Foto: Galeri Ruang Dini.

    Citraan yang ada dalam karyanya boleh jadi tidak diperhitungkan terlebih dahulu, melainkan hadir secara spontan.

    Citraan ini dapat diargumentasikan sebagai produk dari ketidaksadaran yang tergambar, baik dalam memori maupun mimpi.

    Hal tersebut membuat citraan elemen-elemen visual yang ia tuangkan dalam kekaryaannya dapat hadir tanpa pretensi.

    Contohnya dalam seri karya “Renewall” dan “Reborn”. Berangkat dari latar belakang budaya dan memori atas pengalaman personalnya, konsep kematian (juga kehidupan) memiliki ruang dalam memori Alfi.

    Dalam karya ini ia memunculkan citra tengkorak. Ia pun mengakui bahwa keberadaan spiritualisme cukup memengaruhi prosesnya dalam berkarya.

    Dalam konsepsi spiritual budaya Timur, kematian bukanlah tanda dari keberakhiran melainkan suatu permulaan baru.

    Seniman Jumaldi Alfi menggelar pameran tunggal bertajuk “Trajectory of Existential Memory,” di Galeri Ruang Dini, Bandung, 8 – 24 April 2022. Foto: Galeri Ruang Dini.

    Kesadaran ini terwujud melalui karya “Renewall” dan “Reborn” yang diasosiasikan sebagai suatu siklus kehidupan.

    Dari konsepsi kematian pada “Renewall” dan “Reborn”, memori pun kembali memainkan peranannya dalam membentuk eksistensi seorang individu.

    Alfi sendiri meyakini bahwa jasad seseorang boleh jadi telah tiada, namun jiwa dan kehidupannya tak akan pernah berakhir, baik secara spiritual maupun pemikiran. Hal ini tentu tidak terlepas dari eksistensi memori.

    “Keberadaan jiwa seseorang bisa jadi panjang, tergantung apa yang kamu lakukan semasa hidup (juga orang-orang yang mengingat pengalaman hidupmu di masa lalu),” ujar Alfi.

    Seniman Jumaldi Alfi menggelar pameran tunggal bertajuk “Trajectory of Existential Memory,” di Galeri Ruang Dini, Bandung, 8 – 24 April 2022. Foto: Galeri Ruang Dini.

    Dalam karya “Melting Memories”, Alfi pun memastikan bahwa memori atas masa lalu tidak akan pernah bisa hilang seberapa keras kita berusaha melupakannya.

    Perasaan yang dulu sempat mengepung dapat kembali muncul sewaktu-waktu. Ingatan atas yang terjadi tiga puluh tahun lalu, bisa berkesan baru terjadi di hari kemarin.

    Alfi mengakui bahwa perasaan kehilangan, ketakutan, serta kesepian masih membekas dan terekam dalam pikiran, atau bisa pula muncul dalam bentuk mimpi buruk.

    Terlepas dari citraan kolase elemen-elemen yang ada, karya visual Alfi seolah-olah ditarik oleh esensi perasaan sunyi, seperti yang terlihat pada karya “Father and Son” dan “I Know the Moment Has Arrived”.

    Seniman Jumaldi Alfi menggelar pameran tunggal bertajuk “Trajectory of Existential Memory,” di Galeri Ruang Dini, Bandung, 8 – 24 April 2022. Foto: Galeri Ruang Dini.

    Sebagai seorang anak yang terikat pada budaya matrilineal terbesar di dunia yakni Suku Minangkabau, menjadikan keberadaan Ibu sebagai figur dominan dalam keluarga Alfi.

    Kondisi ini secara langsung memengaruhi kesenjangan relasi emosional antara ia sebagai seorang anak, dengan ayahnya.

    Tumbuh besar di tanah Jawa pun menghadapkan Alfi pada situasi paradoksal; di mana terdapat distingsi antar pola budaya dominan di sekelilingnya—yakni figur ayah yang menjadi sentral dalam keluarga— dengan praktik budaya di rumah tempat ia tumbuh.

    Hal ini membuat rasa ingin untuk memiliki kedekatan emosional dengan sang Ayah tak dapat tercapai karena batasan budaya keluarga yang terbangun.

    Ikatan emosional yang hilang dengan figur ayah ini, Alfi citrakan dalam bentuk dua batu yang berjarak—di mana simbolisme citraan batu merepresentasikan dua jiwa yang keras hati.

    Koneksi yang hilang di masa lalunya ini meninggalkan bekas rasa hampa dan sunyi dalam memori Alfi dan kemudian ia tuangkan pada karya “Father and Son”.

    Seniman Jumaldi Alfi menggelar pameran tunggal bertajuk “Trajectory of Existential Memory,” di Galeri Ruang Dini, Bandung, 8 – 24 April 2022. Foto: Galeri Ruang Dini.

    Karya “I Know the Moment Has Arrived” pun menceritakan kisah tentang kesunyian yang serupa. Karya ini lagi-lagi seperti membawa Alfi ke memori masa lalu; saat ia sempat mengalami disorientasi atas realitas di sekelilingnya.

    Alfi mengatakan bahwa semasa kecil ia sempat mengalami pengalaman dekat dengan kematian. Memori atas pengalamannya ini secara langsung mengubah kesadaran Alfi sebagai seorang individu yang eksis.

    Ia seolah-olah dibawa masuk ke dalam domain jiwa dan mental yang lain, dan dihadapi pada pengalaman di luar ketubuhannya—hingga pada akhirnya perasaan terlepas dari kehidupan ini menghantarkan Alfi pada medan lain yang dipenuhi oleh kesunyian.

    Di balik kesan ingatan gelap dalam “I Know the Moment Has Arrived”, Alfi justru kembali merefleksikan eksistensi hidupnya.

    Judul karya yang merujuk pada kutipan lagu “Coming Back to Life” dari band psychedelic rock kesukaannya, Pink Floyd, itu membentuk pandangan bahwa meskipun memori atas pengalaman yang ia miliki sempat menggoyahkan kesadaran dan eksistensinya, pada akhirnya ia tetap bertahan dan kembali menghidupi hidupnya.

    Melalui pameran Trajectory of Existential Memory, seri karya-karya yang Alfi ciptakan menjadi semacam bentuk refleksinya atas realitas personal dan faktisitas pengalaman masa lalu, ketika memori memainkan peranan dominan dalam membentuk kesadaran.

    Seniman Jumaldi Alfi menggelar pameran tunggal bertajuk “Trajectory of Existential Memory,” di Galeri Ruang Dini, Bandung, 8 – 24 April 2022. Foto: Galeri Ruang Dini.

    Dari catatan Galeri Ruang Dini, Jumaldi Alfi merupakan salah satu seniman paling dinamis dan berpengaruh di kancah seni rupa kontemporer Indonesia saat ini.

    Alfi mendapat perhatian internasional di akhir 90-an sebagai salah satu anggota pendiri kelompok seni Jendela yang berpengaruh, yang fokus pada eksplorasi estetika dan material dalam wilayah yang lebih formalis dan pribadi memperkenalkan dinamika baru ke dunia seni rupa kontemporer Indonesia.

    Alfi secara khusus dikenal karena ikonografi pribadinya yang menarik tentang tanda-tanda visual, yang mencerminkan pengalaman eksistensial dan spiritual pada tingkat individu dan kolektif.

    Alfi tinggal dan bekerja di Yogyakarta, Indonesia dan telah banyak mengadakan pameran di Indonesia maupun internasional.

    Pendidikan

    2018 Artist in Residence, Project Eleven with Victoria College of The Arts (VCA), Melbourne

    2010 Artist in Residence, STPI (Singapore Tyler Print Institute), Singapore

    1999 Indonesian Institute of Fine Arts (ISI, Institut Seni Indonesia) Yogyakarta,Indonesia

    1993 Indonesian High School of Arts (SMSR), Yogyakarta, Indonesia

    Pameran Tunggal

    2020 Footnote, SaRanG Building, Yogyakarta, Indonesia

    Digital Spiritualism, SaRanG Building, Yogyakarta, Indonesia

    2018 Blackboard Paintings, LATAR, Jakarta, Indonesia

    2016 Sanata Dharma University Gallery, Yogyakarta, Indonesia

    2014 Myth Sisyphus, Art Basel Hong Kong with Edwin’s Gallery, Hong Kong, China Melting Memories/Rereading

    Landscape, Mooi Indies, ARNDT Gallery, Singapore

    2013 Jumaldi Alfi’s, Blackboard Paintings, Primo Marella Gallery, Milan, Italy Re-PLAY #3, Jumaldi Alfi, OFCA International, Yogyakarta, Indonesia

    2012 Asian One, Art Hong Kong with Sin Sin Gallery, Hong Kong, China

    2011 Melting Memories #2, Nadi Gallery, Jakarta, Indonesia Nightswimmer, Metis Gallery, Amsterdam, The Netherlands Melting Memories, STPI (Singapore Tyler Print Institute), Singapore

    Baca Juga: Kolcai Bandung Menyingkap Keelokan Rumah Jagal RPH Ciroyom

    2010 Life/ Art #101: Never Ending Lesson, Sangkring Art Space, Yogyakarta, Indonesia Life/ Art #101: Never Ending Lesson, Valentine Willie Fine Art, Kuala Lumpur, Malaysia

    2008 Color Guide Series, Nadi Gallery, Jakarta, Indonesia

    2006 Alfi, iPreciation Fine Art Gallery, Singapore

    2003 Cover, Centre Culturel Français, Yogyakarta, Indonesia Current Trend, Regent Hotel, Jakarta, Indonesia

    2001 Alfi-Lukis, Lontar Gallery, Jakarta, Indonesia Derau-Noise, Bentara Budaya Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia

    2003 Cover, Centre Culturel Français, Yogyakarta, Indonesia Current Trend, Regent Hotel, Jakarta, Indonesia

    2001 Alfi-Lukis, Lontar Gallery, Jakarta, Indonesia

    Derau-Noise, Bentara Budaya Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia

    1998 Rekonstruksi, Aikon, Yogyakarta, Indonesia

    Group Exhibitions (Selected)

    2021 Influx : Inauguration, Ruang Dini, Bandung, Indonesia

    Twentyfive, Gajah Gallery, Yogyakarta, Indonesia

    KSRJ (Kelompok Seni Rupa Jendela), Art Basel HK,Gajah Gallery Yogya Annual Art #6, Sangkring Art Space, Yogyakarta Indonesia Verstige, Group Exhibition, Sri Sasanti Syndicate, Yogyakarta, Indonesia Daya Hidup, Museum dan Tanah Liat, Yogyakarta, Indonesia

    2020 ArtJog 2020 : Resilience, Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia (Re) Imagining The Image, Gajah Gallery, Singapore

    Roots #1, Bilai Art Space, Yogyakarta, Indonesia

    Oppo Virtual Art Jakarta, Facade Gallery, Jakarta, Indonesia

    Pameran Amal Covid-19, Padepokan Seni Bagong Kussudiardja

    Pause, Rewind, Forward #1,

    Kiniko Art Room, Yogyakarta, Indonesia PRASIDHA 93,Visual Art Exhibition,

    Kiniko Art Room, Yogyakarta, Indonesia

    2019 Recent Works, Cult Gallery, Kuala Lumpur, Malaysia

    Mind, Kiniko Art Room, Jogjakarta, Indonesia

    80 Nan Ampuh, Kiniko Art Room, Jogjakarta, Indonesia

    Bebas, Sakato Art Community, Jogja Gallery, Yogyakarta, Indonesia Representasi 3, Pendopo Art Space,

    Yogyakarta, Indonesia Incumbent, Sangkring Art Space, Yogyakarta, Indonesia

    Art Jakarta, Rachel Gallery, Jakarta, Indonesia

    2018 Art Taipei DangDai, Roh Project, Taiwan

    Bakaba #7, Sakato Art Community, Jogja Gallery, Indonesia Skectches & Drawing, LATAR, Jakarta, Indonesia

    Redraw III, UGAHARI, Edwin’s Gallery, Indonesia September Art Project, Malang, Indonesia

    Kiniko Art Project, Kiniko Art Management, Yogyakarta, Indonesia

    Art Jakarta, Edwin’s Gallery, Indonesia

    Prisoner Of Hope, 100Years Hendra Gunawan, Ciputra Artpreneur, Jakarta, Indonesia PostFEst2018, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Indonesia

    2017 Art Stage Singapore with Nadi and Edwin’s Gallery, Singapore

    WRITTEN IN THE SKY with Honold Fine Art, TONYRAKA Art gallery, Bali Alfi, Zakii, Jai, Cult gallery, Kuala Lumpur, Malaysia

    Art Stage Jakarta with Edwin’s and Rachel gallery, Jakarta

    CELEBRATING DIVERSITY, LATAR, Jakarta, Indonesia

    LINKAGE 20th OHD Museum, Magelang, Indonesia

    Seninjong, Pelataran Djoko Pekik, Yogyakarta, Indonesia

    Suka Pari Suka, Pelataran Djoko Pekik, Yogyakarta, Indonesia

    Pink Project #3, Kiniko Art Management, Yogyakarta, Indonesia

    BAKABA #6, organized by sakato art community, Yogyakarta, Indonesia

    2016 Ritiro, Kayu curated by Lucie Fontaine, Chicken Church, Magelang, Indonesia

    Ritiro, Kayu curated by Lucie Fontaine, Rumah Wayang Topeng, Ubud, Bali, Indonesia Art Taipei with Edwin’s gallery, Taipei, China

    Follow the White Cube, Honold Fine Art gallery, Bisma Eight, Ubud, Bali, Indonesia Bazaar Art Jakarta with

    Edwin’s gallery, Jakarta, Indonesia

    Artists’ Engagement with Art History, YOS Yogyakarta Open Studio, Yogyakarta, Indonesia

    Poetical State of Mind. Jumaldi Alfi, Yusra Martunus, Handiwirman Saputra. NAFA galleries, Singapore

    South East Asia Triennale Plus, National Gallery of Indonesia, Jakarta, Indonesia

    The Sea is Calling, Honold Fine Art gallery, Bisma Eight, Ubud, Bali, Indonesia

    The Fundamentals in Art, Part 1: Figure, ARNDT Gallery, Singapore

    At the Still Point, curated by Tony Godfrey, LAF, Yogyakarta, Indonesia

    Bakaba #5, organized by Sakato Art Community, Jogja Gallery, Yogyakarta, Indonesia Art Basel Hong Kong with Nadi Gallery, Hong Kong, China

    Redraw II: Discovery, Edwin’s Gallery, Jakarta, Indonesia

    2015 70 Years Republic of Indonesia, curated by Jim Supangkat, National Gallery of Indonesia, Jakarta, Indonesia

    Don’t Shoot the Painter, UBS Collection exhibition, Villa Reale, Galleria d’Arte Moderna, Milan, Italy

    Six Degrees of Separation, Canna Gallery, Jakarta, Indonesia

    Pameran Dies Natalis, ISI Gallery, Yogyakarta, Indonesia

    Archive, Yogyakarta Open Studio #3, OFCA International, Yogyakarta, Indonesia Randang dan Rendang,

    Bakaba #4, organized by Sakato Art Community, Jogja Gallery, Yogyakarta, Indonesia

    Medium of Living, Martell 300 Tricentennaire exhibition, Edwin’s Gallery, Jakarta, Indonesia Art Basel Hong Kong with ARNDT Gallery, Hong Kong, China

    Art Stage Singapore with ARNDT Gallery, Singapore

    20+2 Years Anniversary Show, ARNDT Gallery, Singapore

    2014 Hospitality, Berlin Open Studio #1, Studio Fendry Ekel, Berlin, Germany

    International Relation, Yogyakarta Open Studio #2, OFCA International, Yogyakarta,Indonesia

    Intersection: Latin America and South East Asian Contemporary, Sangkring Art Space, Yogyakarta, Indonesia

    Intersection: Latin America and South East Asian Contemporary, Gajah Gallery, Singapore and Galeria Habana, Havana, Cuba

    Art Stage Singapore with ARNDT Gallery, Singapore

    Pameran Fiesta Kota Tua, Jakarta, Indonesia

    Art Basel Hong Kong with Nadi Gallery, Hong Kong, China

    Kini. Bakaba #3, organized by Sakato Art Community, Jogja Gallery, Yogyakarta, Indonesia

    2013 Map of Association, Yogyakarta Open Studio #1, OFCA International, Yogyakarta, Indonesia

    Peristiwa Sebuah Kelas, Forum Ceblang Ceblung, Sangkring Art Space, Yogyakarta, Indonesia Istanbul Art

    Fair with Yavuz Fine Art, Istanbul, Turkey

    Pameran Seni Rupa di Rumah Warga, 8th Anniversary Jatiwangi Artfactory, Majalengka, Indonesia

    10 Years After, Sin Sin Gallery, Hong Kong, China

    Jiwa Ketok dan Kebangsaan, National Gallery of Indonesia, Jakarta, Indonesia

    Non Ekspresi, Surakarta, Indonesia

    Kindred By Choice (w. Martin Kippenberger, Fendry Ekel, Andy Warhol, Entang Wiharso and Daniel Richter),

    ARNDT Gallery, Singapore ART JOG, Taman Budaya Yogyakarta

    Me, Jumaldi Alfi and Heri Dono, Art Basel Hong Kong with Edwin’s Gallery, Hong Kong, China

    Prague Biennale 6, Prague, Czech Republic

    Art13, London’s Global Art Fair with Primo Marella Gallery, London, United Kingdom

    Indonesian Pavilion, Art Stage Singapore, Singapore

    Weight of History. The Collectors Show, Singapore Art Museum, Singapore

    2012 The Window of Jendela, OHD Museum, Magelang, Indonesia A Sign of Absence, Edwin’s Gallery, Jakarta,

    Indonesia Earthly Evocation, Sin Sin Gallery, Hong Kong, China

    2×2, Eilleen Kaminsky Foundation, New York

    Estate, curated by Lucie Fountain, Marianne Boesky Gallery, New York Yogyakarta – 5 Artists From

    Indonesia, Marc Straus Gallery, New York Reclaim.doc, Gallery Nasional, Jakarta

    Legacy, Esa Sampoerna Art Museum, Surabaya – Indonesia

    2011 Documenting Now: Person to Person, UPT Gallery, Yogyakarta – Indonesia Back to the Future, Sangkring

    Art Space, Yogyakarta – Indonesia

    ARTJOG, Yogya Art Fair, Yogyakarta – Indonesia

    Homo Ludens, Emmitan Gallery, Surabaya – Indonesia

    Bayang, the National Gallery of Indonesia, Jakarta

    Hong Kong International Art Fair (ART HK 11)”, with Nadi Gallery, Hong Kong Art Stage Singapore 2011,

    Gajah Gallery; STPI, Singapore

    Art Amsterdam, Metis Gallery, Amsterdam

    2010 The Show Must Go On, celebrating the 10th anniversary of Nadi Gallery, the National Gallery of Indonesia, Jakarta

    Unity: The Return to Art, Wendt Gallery, New York

    Hong Kong International Art Fair (ART HK 10)”, Nadi Gallery, Hong Kong

    Homo Ludens, Emmitan Gallery, Surabaya – Indonesia

    Space and Image, Ciputra World Marketing Gallery, Jakarta

    Transfiguration, Jakarta Art District, Jakarta

    Masih Ada Gus Dur, Langgeng Gallery, Magelang, Yogyakarta – Indonesia Bakaba, Sakato Art Community,

    Jogja National Museum, Yogyakarta – Indonesia

    2009 Biennale Jogja X 2009, Sangkring Art Space II, Yogyakarta – Indonesia Kado #2, Nadi Gallery, Jakarta

    Two Sides of Solitude: Jumaldi Alfi and Andy Dewantoro, Garis Art Space, Jakarta Diverse – 40 x 40: Andy

    Dewantoro, Jumaldi Alfi, Nasirun, Sin Sin Fine Art, Hong Kong

    2nd Odyssey, Srisasanti Gallery, Yogyakarta – Indonesia

    Reach for the Heart, Sin Sin Fine Art, Hong Kong

    Awareness, Indonesian Art Today, Canvas International Art, Amsterdam

    The Topology of Flatness, Edwin Gallery, Jakarta

    In Rainbow, Esa Sampoerna Art House, Surabaya – Indonesia

    Shanghai Art Fair, Nadi Gallery, Shanghai, China

    Hong Kong International Art Fair (ART HK 09), Nadi Gallery, Hong Kong

    Jendela – A Play of the Ordinary, NUS Museum, Singapore

    Friendship Code, Syang Art Space, Magelang – Indonesia

    2008 Ruang dan Waktu, V’art Gallery, Yogyakarta – Indonesia

    Expose #1 – A Presentation of Indonesian Contemporary Art by Deutsche Bank & Nadi Gallery, Four Seasons Hotel, Jakarta

    Alfi Painting Series & Handiwirman Saputra: Exterior, Inside View—Interior, Outside View, ShContemporary

    08, organized by Nadi Gallery, Jakarta Manifesto, the National Gallery, Jakarta

    CIGE 2008 (China International Gallery Exposition), Nadi Gallery, Beijing

    A Slice Indonesian Contemporary Art, Soka Contemporary Center, Beijing

    Indonesian Invasion, Sin Sin Fine Art, Hongkong

    Tribes _ Group 3, Sin Sin Fine Art, Hongkong

    2007 Shanghai Art Fair, Langgeng Gallery, Shanghai

    Cilukba!/Peekaboo!, KSRJ (Kelompok Seni Rupa Jendela), Valentine Willie Fine Art, Kuala Lumpur Fetish

    Part I, Biasa Gallery, Seminyak, Bali

    Indonesia Time, V-Art Gallery, Yogyakarta – Indonesia

    IVAA book aid vol. 01/07, Nadi Gallery, Jakarta

    Common Grounds, A glimpse of Indonesian contemporary art, Gallery Nasional, Jakarta Contemporary

    Indonesian Art Now, Nadi Gallery, Jakarta

    2006 ICON: Retrospective, Jogja Gallery, Yogyakarta – Indonesia Tobacco Wedding and Art, Magelang – Indonesia

    2005 Oven View, Biasa Gallery, Seminyak, Bali – Indonesia

    Beauty and Terror, Loft Gallery, Paris, France

    Indonesian Contemporary Art, iPreciation, Singapore

    Re-Reading Landschaap, Sakato Group, Nadi Gallery, Jakarta

    The Ordinary, KSRJ (Kelompok Seni Rupa Jendela), Nadi Gallery, Jakarta Urban Culture, CP. 2nd Biennale,

    Museum Bank Indonesia, Jakarta

    2004 Multi Sub Culture, Berlin

    Wings of Words, Studio Budaya and Langgeng Gallery, Magelang – Indonesia

    Behind the Concept, Gaya Fusion Gallery, Bali – Indonesia

    ARTSingapore 2004, Sun Jin Gallery, Suntec City, Singapore

    Mempertimbangkan Tradisi, Sanggar Sakato, Gallery Nasional, Jakarta

    Barcode, 16th FKY (Yogyakarta Arts Festival), Taman Budaya, Yogyakarta – Indonesia Get the Book!!!, Fund

    Raising, KKF, Yogyakarta – Indonesia

    2003 Read Art Project, Cemeti Art House, Yogyakarta – Indonesia

    Read Art Project, UGM Library, Yogyakarta – Indonesia

    No Body, MonDecor Gallery, Jakarta

    Borobudur, Borobudur International Festival 2003, H. Widayat Museum, Magelang – Indonesia Bazart, 15th

    FKY, Benteng Vredeburg Museum, Yogyakarta – Indonesia Membaca Ruang-Ruang, Muara Art House,

    Yogyakarta – Indonesia

    Exploring Vacuum I, Cemeti Art House, Yogyakarta – Indonesia Drawing, Sanggar Dewata Indonesia,

    Yogyakarta – Indonesia Interpellation, CP Open Bienalle, Gallery Nasional, Jakarta 10th Indonesian Art Awards, ASEAN Building, Jakarta Infatuated, Sun Jin Gallery, Singapore

    Passion: Etno Identity, Shanghai; Beijing; Jakarta 

    Penghargaan

    2003 Finalist of the 10 th Indonesian Art Awards

    1998 The Best Painting Awards, Indonesian Institute of Arts (ISI), Yogyakarta – Indonesia Finalist of the 5 th Indonesian Art Awards.***

  • Bangkitnya Titik Chaos Jangan Entertainment lewat Pameran Ilustrator Hitam-Putih ‘Resurrection’


    Didukung Arian13, Titik Chaos dan Jangan Entertainment menggelar pameran ‘Resurrection,’ di The Hallway Kosambi Bandung, 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

    MIKROFON.ID – Melewati masa vakum akibat pandemi dua tahun terakhir, Titik Chaos kembali mengadakan pameran.

    Yang menjadikannya istimewa, kali ini pameran Titik Chaos digelar bersama Jangan Entertainment, di The Hallway Space Kosambi, Bandung.

    Mengambil tema ‘Resurrection’ sebagai makna kebangkitan, pameran yang dijalani 28 Maret-5 April 2022 ini menjadi yang pertama dihelat di luar kampus Itenas, dan diikuti ilustrator dari berbagai kota.

    “Pameran Titik Chaos bertemakan ‘Resurrection’ adalah sebuah pameran yang mengangkat karya hitam di atas putih dengan format pameran interaktif. Pengunjung dapat melihat langsung karya yang disajikan dan ikut serta dalam menyumbang karya untuk dipamerkan di dalam pameran tersebut,” kata Andri “Anjrit” Januaris, ketua penyelenggara Titik Chaos kali ini.

    Ia mengatakan, ‘Resurrection’ atau yang berartikan kebangkitan sengaja diambil sebagai tema kali ini untuk menggambarkan kondisi yang terjadi dengan pameran ini.

    Titik Chaos terakhir diselenggarakan di kampus Itenas pada tahun 2019 dan harus tertahan selama 2 tahun dikarenakan pandemi Covid-19.

    Perhelatan terbaru ini merupakan inisiatif untuk membangkitkan lagi brand Titik Chaos dan menyebarluaskan ranahnya untuk seluruh masyarakat Bandung dari berbagai kalangan dan latar belakang.

    Didukung Arian13, Titik Chaos dan Jangan Entertainment menggelar pameran ‘Resurrection,’ di The Hallway Kosambi Bandung, 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

    Awal Chaos

    Titik Chaos bermula dari jenuhnya mahasiswa DKV Itenas Bandung berekspresi di bawah batasan sistem perkuliahan. Norma-norma keilmuan di kelas tak terhubung dengan atmosfer musik ekstrim yang membalut pikiran dan tubuh mereka.

    Tugas-tugas grafis di perkuliahan menuntut mereka dengan penyiapan diri berkarier di dunia kerja. Materinya tentu menyesuaikan dengan kebutuhan selera pasar.

    Namun, di balik keseriusan mereka meningkatkan skill ilustrasi dan grafis di kelas, rupanya ada gairah mereka dalam meluapkan ekspresi di ranah alternatif.

    Dalam kesehariannya, lingkungan mahasiswa DKV Itenas begitu “gelap.” Sebagian besar mahasiswa pengguna rutin kaos hitam, khususnya berlogo dan artwork band musik ekstrim.

    Lalu, mahasiswa Desain Komunikasi Visual berhimpun untuk mengumpulkan karya-karya senada gairah mereka, di luar tugas kuliah.

    Ilustrasi berbagai bentuk tulang dan tengkorak bertema kegelapan meluap dari tumpukan media penyimpanan digital.

    Karya-karya hitam-putih itu lalu dicetak dan digantung menggunakan tali di Tribun Itenas pusat nongkrong mahasiswa, menjadikannya pameran Titik Chaos yang mampu bergulir dari tahun ke tahun, sejak September 2015.

    “Awalnya acara kampus. Beberapa tahun lalu. Karya mahasiswa digantung di tribun Itenas, tempat anak-anak DKV Itenas ngumpul. Kita jenuh karena harus berekspresi,” katanya.

    Didukung Arian13, Titik Chaos dan Jangan Entertainment menggelar pameran ‘Resurrection,’ di The Hallway Kosambi Bandung, 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

    Bagi para peserta, ada aturan yang digulirkan Titik Chaos: Karya harus original, bernuansa gelap dan jahat.

    “Dari awal memang dipilih tema black and white. Di kampus itu begitu biasa melihat mahasiswa memakai baju hitam, gambar berakar, karena kebanyakan penyuka metal, punk, hardcore, dan musik ekstrim lainnya. Setiap angkatan juga wajib punya band,” kata mahasiswa DKV Itenas 2018 ini.

    Para ilustrator mengumbar ragam teknik mulai dari pointilis, cross-sketchingconcept art, kolase, graffiti, lukisan grayscale, dan digital painting.

    Acara ini diadakan seadanya. Perolehan biaya yang diajukan lewat proposal tak menemukan angka ideal.

    Demi memenuhi hasil karya seniman muda ini, mereka urunan untuk membeli kertas berkualitas sebagai medium hasil cetak para peserta pameran. Selain karya-karya itu, Titik Chaos kali ini juga menghadirkan karya video yang dinikmati pengunjung dalam ruang khusus.

    Didukung Arian13, Titik Chaos dan Jangan Entertainment menggelar pameran ‘Resurrection,’ di The Hallway Kosambi Bandung, 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

    Arian13

    Andri mengatakan, pameran mereka di The Hallway Kosambi adalah cara keluar dari zona nyaman di kampus.

    “Sayang banget ada potensi bakal gede. Dibantu Jangan Entertainment, temen-temen dari kampus, diajak keluar supaya ngejangkau massa yang lebih dari pengunjung pameran di kampus. Bagi kami, pameran fisik itu penting banget, ketimbang online karena punya rasa intim,” ujarnya.

    Bersama pameran ‘Resurrection’ di The Hallway Kosambi, Bandung ini, ada 30 lebih ilustrator terlibat tak hanya dari Bandung, tapi juga Tangerang, Bali, Jogja, hingga Palembang, dengan 60 karya yang dikurasi langsung oleh vokalis sekaligus kreator artwork band Seringai, Arian13.

    Kali ini mereka berkolaborasi dengan Jangan Entertainment, organisator acara berumur setahun yang telah sukses menggelar rentetan acara penarik massa.

    Jangan Entertainment dibentuk oleh Nashuha Rami Ismail dan Firdan Adriansyah.

    Didukung Arian13, Titik Chaos dan Jangan Entertainment menggelar pameran ‘Resurrection,’ di The Hallway Kosambi Bandung, 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

    Dalam sebuah acara belum lama ini, Rami menawarkan Arian untuk menjadi kurator pameran Titik Chaos. Rupanya, acara bersemangat kolektif ini disambut baik Arian.

    Firdan mengungkapkan, Titik Chaos selalu melahirkan karya-karya mahasiswa Itenas yang menjanjikan.

    Dengan didukung Arian, mereka berharap mahasiswa yang memiliki talenta dan para illustrator kota Bandung lainnya bisa dikenal ke ranah yang lebih luas lagi.

    Karya terpilih Arian juga mendapatkan spot khusus di venue pameran “Resurrection.”

    Didukung Arian13, Titik Chaos dan Jangan Entertainment menggelar pameran ‘Resurrection,’ di The Hallway Kosambi Bandung, 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

    Jangan

    Jangan Entertaiment dibentuk di Bandung pada 2021. Dipelopori oleh Firdan Aldriansyah dan Nashuha Rami Ismail, mereka bercita cita ingin membangkitkan skena musik lokal di Bandung.

    Salah satunya dengan merancang acara musik di tengah riuhnya pandemi Covid-19 dengan judul “FVCKSIN GIGS.”

    Acara yang digelar di Tipsy Panda ini berhasil menggaet ratusan pemuda musik dengan genre yang berbeda beda, dan menjadi program regular hingga telah berjalan 11 gigs.

    “Jangan Entertainment ingin jadi wadah band yang udah punya karya tetapi belum besar. Kita ingin bantu naekin band yang masih muda untuk naik bareng-bareng. Jangan Entertainment ini akan jadi wadah buat teman-teman musik, seni, art. Kita pengen bikin festival. Cuma sekarang belajar dulu dari mikrogigs, mikroeksibisi, bikin fondasinya dulu. Sambil tetap berjejaring untuk mencuri pengalaman dari senior,” kata Firdan.***

  • Raissa Anggiani Tawarkan Syahdu dalam Single ‘Kau Rumahku’

    Solois muda yang juga penulis lagu bertalenta, Raissa Anggiani, merilis single ‘Kau Rumahku’ pada awal 2022. Foto: Raissa Anggiani.

    MIKROFON.ID – Musisi muda, Raissa Anggiani semakin mengokohkan posisinya di tangga musik teratas, selepas merilis single terbarunya, ‘Kau Rumahku.’

    Berbagai layanan streaming lagu digital menempatkan ‘Kau Rumahku’ di zona terpopuler, seiring animo pecinta musik pada karya-karya Raissa Anggiani.

    Saat menjadi tamu dalam program #MaraMusik di 106.7 Mara FM Bandung, Rabu, 30 Maret 2022, Raissa Anggiani bercerita jika lagu berjudul ‘Kau Rumahku’ ini adalah tentang dua insan yang akhirnya dipertemukan untuk bersama.

    Mereka melewati masa-masa bahagia, merajut, dan membangun kisah cinta berdua.

    “Menjadikan pasangannya sebagai ‘rumah’ yaitu tempat ternyaman. Ke mana pun salah satu dari mereka pergi, pada akhirnya akan kembali dan pulang pada ‘rumahnya’ masing-masing,” tutur Raissa Anggiani.

    Solois muda yang juga penulis lagu bertalenta, Raissa Anggiani, merilis single ‘Kau Rumahku’ pada awal 2022. Foto: Raissa Anggiani.

    Wanita yang biasa dikenal dengan nama Rai itu menulis sendiri lirik lagu ‘Kau Rumahku’. Rai mencoba mengangkat kisah yang sederhana, cinta yang ringan, dan tentu saja membahagiakan satu dengan yang lain.

    Sebagai penulis muda berbakat, Raissa mendapat sederet pujian soal keputusannya memilih diksi yang tepat untuk dialirkan melalui kombinasi nada-nada menyentuh.

    Suaranya yang melantun lembut mengantarkan gairah karya yang ia lahirkan dari buah pemikiran dan perasaannya.

    ‘Kau Rumahku’ nampaknya dirancang sebagai sebuah lagu untuk membuai penikmatnya, sejak didengarkan perdana.

    Solois muda yang juga penulis lagu bertalenta, Raissa Anggiani, merilis single ‘Kau Rumahku’ pada awal 2022. Foto: Raissa Anggiani.

    Lirik

    Paduan nada dan lirik ‘Kau Rumahku’ melahirkan harmonisasi yang syahdu. Jika dinikmati secara saksama dan berulang-ulang, pendengar akan dapat merasakan bagaimana pesan menyentuh yang ingin disampaikan Rai lewat lagu yang ia tulis sendiri ini.

    Tak berbeda dengan karya-karya brilian yang telah ia rilis sebelumnya, lewat ‘Kau Rumahku’ ini Rai ingin menyampaikan kebahagiaan ketika setiap orang telah menemukan ‘rumahnya’ masing-masing.

    “’Kau Rumahku’ itu tempat pulang usai melewati segala hiruk-pikuk dunia. Pelukan yang diberikan oleh orang tersayang akan menjadi obat yang manjur dari segala lelah dan luka. Aku berharap agar setiap orang yang mendengarkan bisa relate dengan karya-karya yang kutulis. Sederhana, tapi penuh makna,” tutur Raissa Anggiani.

    Bersama “Satu Tuju”, “Losing Us”, “Aku Kamu Yang Lain”, serta “if u could see me cryin’ in my room (feat. Arash Buana)”, telah didengarkan hampir 30 juta streaming di Spotify. Angka ini masih terus bertambah selepas dirilisnya ‘Kau Rumahku’.***

  • Kolcai Bandung Menyingkap Keelokan Rumah Jagal RPH Ciroyom

    Komunitas Lukis Cat Air (Kolcai) Chapter Bandung melukis luar ruang bangunan cagar budaya Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Ciroyom, Bandung. Foto: Anton Susanto.

    MIKROFON.ID – Di balik deretan kios suku cadang motor Jatayu, kompleks Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Ciroyom masih menyimpan pesona arsitektural bangunan bersejarah karya arsitek Brinkman.

    Detail konstruksi masih dijaga, menampilkan peran penting RPH Ciroyom – kini dikelola Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, sebagai pengendali distribusi daging di Kota Bandung sejak 1935.

    Berkeliling menelusuri banyak sudut bangunan di area seluas 2 hektare itu, sejumlah seniman dari komunitas Kolcai Bandung mendapat kesempatan untuk menerjemahkan kisah sejarah RPH Ciroyom ke dalam karya.

    Berbekal panduan dari DKPP Kota Bandung sebagai penghuni kompleks itu, cerita awal didirikannya ruang-ruang berisi peralatan tua serta sejarah penjagalan hewan di Kota Bandung hingga masa berjalan ini menggerakkan kuas-kuas seniman spesial cat air ke atas kanvas.

    Komunitas Lukis Cat Air (Kolcai) Chapter Bandung melukis luar ruang bangunan cagar budaya Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Ciroyom, Bandung. Foto: Anton Susanto.

    Menjelang siang, Kamis, 31 Maret 2022, teman-teman dari Kolcai Bandung tiba di Jalan Arjuna No. 45, Bandung. Komunitas langsung ditemui Kepala DKPP Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar.

    Yang menarik, bangunan lanskap utama yang memiliki menara menjulang nampak berbeda dengan kondisi saat koordinator Kolcai Bandung, Anton Susanto, berkunjung sebulan lalu.

    Di dinding teratas terdapat aksen hitam tepat di samping jam analog berbentuk kotak. Sebelumnya, jam itu tidak ada.

    Dengan hadirnya jam di atas menara, bangunan itu tampil ikonik. Penempatan jam itu memberi kesan terbukanya akses pandangan terhadap bangunan dari jalan raya.

    “Kami melakukan pembersihan dan rehabilitasi bangunan sedikit-sedikit. Ketika proses pengecatan di bagian atas menara, ada sedikit kejanggalan. Rupanya ada beberapa detail bangunan yang ditutup cat. Kami juga menemukan posisi gambar jam ini dari buku arsip sejarah,” tutur Gin Gin.

    Komunitas Lukis Cat Air (Kolcai) Chapter Bandung melukis luar ruang bangunan cagar budaya Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Ciroyom, Bandung. Foto: Anton Susanto.

    Gin Gin mengajak para peserta lukis berkeliling ke berbagai ruangan komplek RPH. Tepat di bawah menara itu merupakan ruang pelayuan.

    Awalnya, ruang seluas 15×10 meter itu dijadikan tempat penyimpanan daging setelah dipotong.

    Besi-besi pengait yang masih tampak berderet itu dulunya dipakai meniriskan daging dan mengendapkan darah dengan cara digantung.

    Waktu penyimpanan selama dua hari dianggap cukup untuk menjaga stok, terutama bagi kebutuhan tentara Eropa kala itu.

    “Sudah lama fungsi pelayuan itu dianggap merepotkan. Zaman sekarang sudah tidak sesuai lagi. Masyarakat juga ingin serba cepat. Jadi setelah dipotong ingin segera dikonsusmsi. Konsep RPH juga bertujuan menjaga keamanan mutu pangan. Daging makin segar, akses lebih mudah dan cepat. Sekarang instan, ada kebutuhan langsung motong,” katanya.

    Komunitas Lukis Cat Air (Kolcai) Chapter Bandung melukis luar ruang bangunan cagar budaya Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Ciroyom, Bandung. Foto: Anton Susanto.

    Sejumlah alat dan ruang RPH dengan konstruksi dan sistem canggih di masanya ini masih terjaga dan beberapa berfungsi dengan baik.

    Di Jawa Barat, hanya Kota Bandung yang tersisa. Sejumlah bangunan di kota dan kabupaten lain dikabarkan sudah tak bersisa.

    RPH Ciroyom Bandung masih memiliki fungsi penting sebagai sentra pemotongan sapi dan babi.

    Luas lahan juga dioptimalkan sebagai area pengembangan tanaman, dan dijadikan laboratorium kecil, khususnya untuk berbagai jenis tanaman pangan sebelum disebar di lahan-lahan Kota Bandung.

    “Akhirnya kita buka kantor ini bukan sekadar tempat bekerja, tetapi tempat edukasi, pembelajaran. Kita terbuka bagi siapa saja untuk bisa melihat RPH, karena ada yang belum pernah melihat secara langsung,” ujarnya.

    Komunitas Lukis Cat Air (Kolcai) Chapter Bandung melukis luar ruang bangunan cagar budaya Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Ciroyom, Bandung. Foto: Anton Susanto.

    Sebulan sekali agri market diselenggarakan di pekan ketiga setiap Jumat dengan mengundang komunitas dan kelompok binaan, termasuk anak sekolah yang dikenalkan cara bertani, mengedukasi mereka menjadi kegiatan yang ramai.

    Gin Gin berencana untuk membuka area kantor DKPP itu sebagai wisata agri dan sejarah.

    “Apalagi di kantor ini punya nilai historis sendiri yang sayang jika tak dimanfaatkan.

    Banyak yang tidak tahu. Makanya timbul inisiatif memaksimalkan potensi yang dimiliki,” katanya.

    Dari obrolan dengan kelompok seniman Kolcai Bandung, disepakati bagaimana kompleks ini dieksplorasi. Beberapa kalangan tentu bisa menilai gedung dari banyak sisi, terutama seni.

    “Ternyata dari teman-teman seniman merespons baik. Mereka ingin eksplor juga.

    Termasuk hari ini bagaiamana mengenalkan gedung ini melalui karya lukisan, publikasi, pameran karena kita juga punya tempat yang cukup representatif dan menarik. Ruang bekas pelayuan itu juga akan dijadikan ruang pameran. Tempatnya unik juga. Sedang dibicarakan dengan Disbudpar,” ujar Gin Gin.

    Interaksi

    Koordinator Kolcai Chapter Bandung, Anton Susanto menjelaskan, dengan menggambar para seniman akan menemukan narasi dari berbagai gaya dan sudut pandang.

    Seri melukis di RPH Ciroyom ini dijadikan momen seniman untuk mengenali seluk beluk kota sendiri, dan dibagikan kepada khalayak.

    “Kita tahu perjalanan bagaimana daging tersaji di meja makan kita. Bagaimana perkembangan infrastruktur distribusi daginya berjalan. Nilai interaksinya itu dengan menggambar,” ujarnya.

    Mengobservasi ragam sudut bangunan di RPH Ciroyom memicu seniman untuk intens berinteraksi dengan ruang.

    “Yang paling ikonik itu bangunan utama dengan jam di menara. Secara arsitektural sangat artistic. Melihatnya bertahan sampai hari ini. Bahkan ada area yang belum berubah secara material. Kan kita enggak tahu visi saat itu. Mesin-mesin itu jadi insight buat seniman,” ucap Anton.

    Lewat karya cat air di atas kertas berjudul “Rumah Pemotongan Hewan DKPP Kota Bandung,” Anton memilih untuk menggambar bangunan utama dari Rumah Pemotongan Hewan DKPP Kota Bandung.

    Ia tertarik menggambar bangunan ini setelah Gin Gin memutuskan memasang dan memfungsikan ulang jam besar pada bagian menara bangunan, seperti halnya pada saat pertama kali tempat ini beroperasi pada tahun 1935.

    “Jam menara itu jadi seperti simbol penanda waktu dan perputaran aktivitas siklus kehidupan,” kata Anton.***

  • Rimar Callista Perkuat Eksistensi dari Single ‘Menunggu Kau Kembali’

    Juara Indonesian Idol 2021 Rimar Callista merilis single terbaru ‘Menunggu Kau Kembali,’ dengan menawarkan pop ballad. Foto: Rimar Callista.

    MIKROFON.ID – Penyanyi Rimar Callista mengenalkan single teranyar ‘Menunggu Kau Kembali.’

    Single ini diyakini bakal memperkuat eksistensi perempuan kelahiran Jakarta pada 18 Januari 1997 ini, selepas menjuarai Indonesian Idol musim ke-11 pada 2021.

    Sebelum ‘Menunggu Kau Kembali,’ Rimar Callista telah merilis single perdana “Waktu dan Perhatian” pada April 2021.

    Yang menjadikannya istimewa, lagu ini merupakan hasil karya ciptaan Rimar sendiri.

    Wanita ini bukan hanya dikenal memiliki bakat menyanyi, tetapi juga dalam menciptakan karya yang apik.

    Bersama barisan lirik apik yang memadati ‘Menunggu Kau Kembali,’ konsep lagu ini juga digarap serius.

    Proses pengerjaan ‘Menunggu Kau Kembali’ melibatkan salah satu musisi senior, Tohpati, yang telah santer dengan memproduksi banyak karya hits.

    Kualitas suara juara Indonesian Idol 2021 musim kesebelas ini juga dilengkapi kemampuannya menciptakan lagu.

    Rimar belajar banyak diksi dari kesukaannya membaca novel dan puisi.

    “Karena suka baca novel, puisi, dengerin banyak lagu Indonesia, jadi lebih seneng bikin lagu sendiri. Hasilnya juga semua lirik dan harmoni diresapi. Menciptakan lagu dan menyanyikannya itu bikin aku lebih seneng,” tutur Rimar, saat menjadi tamu dalam program #MaraMusik di 106.7 Mara FM Bandung, Rabu, 30 Maret 2022.

    Juara Indonesian Idol 2021 Rimar Callista merilis single terbaru ‘Menunggu Kau Kembali,’ dengan menawarkan pop ballad. Foto: Rimar Callista.

    Materi

    Dalam materi single “Menunggu Kau Kembali”, lagu ini terselimuti warna musik pop ballad dengan nuansa sendu.

    Pemilik title sarjana jurusan Petroleum Engineering atau Teknik Perminyakan Universitas Trisakti 2020 ini memilih harmonisasi musik dengan lirik yang menceritakan tentang kisah cinta, namun dari sisi kesedihan.

    Lirik lagu “Menunggu Kau Kembali” mampu membawa para penikmatnya ke banyak sudut pandang.

    Satu perspektif bisa mengarah pada suatu kisah seseorang yang ditinggal oleh Sang Kekasih.

    Saking cintanya, ia rela untuk menunggunya kembali hingga waktu yang tepat untuk bersama lagi.

    Namun, Rimar banyak mendapat inspirasi menulis lirik saat bersama ibunya. Dari berbagai tema percakapan, Rimar menangkap persoalan terkait cara menjaga nilai dalam suatu hubungan.

    Lagu ini juga mencoba menguatkan ikatan yang dijalin pasangan, agar mengingat tahap menuju masa-masa indah yang dibangun sejak awal.

    “Lagu ini juga tentang permasalahan di dalam hubungan yang enggak ada habisnya. Akhirnya keduanya harus toleran. Lagu ini menaruh harapan agar hubungan tidak jadi bad ending. Ingat-ingat lagi dulu gimana awalnya. Kok dulu kayaknya indah. Jadi, ketika dihadapkan dengan sebuah masalah, jangan terlalu cepat memutuskan,” tutur Rimar.

    Dari sisi aransemen, lagu ini menyajikan pop ballad sebagai warna musiknya. Kesenduan lirik dibalut suara instrumen piano yang harmonis dengan porsi dominan.

    Karakter vokal Rimar yang sangat kuat dalam penekanan dan pengucapan, membuat lagu ini menjadi mudah dipahami, nyaman didengar, dan juga paket lengkap untuk menjadi salah satu lagu ballad cinta terbaik.

    Melalui single ‘Menunggu Kau Kembali’ ini, Rimar berharap eksistensinya di industri musik

    Indonesia semakin berjalan dengan baik. Lebih dari itu, Rimar ingin menyajikan karya cipta lagu yang bisa terhubung senada dengan banyak orang yang sedang merasakan pengalaman hidup yang sama.

    Juara Indonesian Idol 2021 Rimar Callista merilis single terbaru ‘Menunggu Kau Kembali,’ dengan menawarkan pop ballad. Foto: Rimar Callista.

    Karier

    Bakat dan talenta serta jiwa kompetisi Rimar telah terbentuk sejak lama. Sebelum menjuarai ajang Indonesian Idol 2021, ia tercatat telah mengikuti beberapa ajang pencarian bakat lainnya.

    Pada 2015, Rimar Callista pernah menjadi peserta dalam ajang Starvoices Indonesia musim keempat dan menempati posisi ketiga.

    Kemudian ia mulai dikenal publik setelah mengikuti ajang pencarian bakat The Voice Indonesia musim kedua pada 2016, walaupun langkahnya terhenti di babak knockout.

    Masih di 2015, Rimar Callista juga pernah menjadi salah satu finalis dan mewakili Indonesia dalam ajang ASEAN ‘Be Our Rock & Pop Soul’ Music Competition yang diselenggarakan di Vietnam.

    Rekan jejaknya juga tercatat pada 2018 saat mengikuti ajang I Can See Your Voice Indonesia musim ketiga dan berperan sebagai Susan dalam episode bintang tamu Bertha.

    Rimar Callista juga pernah berduet dengan Dimash Kudaibergen, penyanyi internasional asal Kazakhstan dalam sebuah konser tunggal yang digelar di St.Peterburg, Rusia, pada tahun 2019, yang ditonton sekitar 13.000 penonton.***

  • Rieka Roslan Rilis Lagu ‘Dahulu,’ Rayakan 23 Tahun Bermusik dan Menulis Lagu

    RIeka Roslan. Foto: Rieka Roslan.

    MIKROFON.ID – Rieka Roslan masih ingat rasanya ditolak beberapa label besar saat mencoba meraba arah karier bermusik, di usia 16 tahun, kelas 2 SMA.

    Tetapi ia juga tak lupa momen-momen mengagumkan yang hadir setelah ujian itu: tawaran manggung bermunculan, ajakan label rekaman, sampai mengisi hari-hari bernyanyi lagu ciptaan sendiri, terutama saat bersama The Groove.

    Mungkin yang nyaris luput, Rieka adalah mesin pencetak lagu hits. Karyanya mengalir dari suara-suara musisi ternama: Iwan Fals, Krisdayanti, Sheila Majid, hingga Shanty.

    Lagu “Dahulu” yang dipopulerkan oleh The Groove dan menjadi salah satu hits sepanjang masa di industri musik Indonesia hanyalah satu dari setumpuk karya ciptaan Rieka.

    Menembus 23 tahun berkarya, lagu-lagu hits ciptaannya kembali dikumpulkan untuk dirilis satu per satu. Seluruh hits ini akan dikompilasikan dalam medium vinyl (piringan hitam) melalui album “Story of My Life: Rieka Roslan” yang akan dicetak terbatas.

    Fase baru dari 23 tahun berkarya ini merupakan komitmen dirinya untuk menjaga konsep nilai bermusik yang selalu dijaga.

    Rieka muda ditolak label bukan karena kualitas suara tak layak. Rieka bersikukuh ingin dikontrak dengan tetap menyanyikan lagu ciptaannya sendiri, di saat label mendesain Sang Vokalis dengan materi-materi baru.

    Maka, album “Story of My Life: Rieka Roslan” merupakan perwujudan mimpi Rieka untuk menjadi penyanyi yang melantunkan hasil karya lagu ciptaannya sendiri.

    “Di awal itu aku sempat ditolak label besar 4 kali. Bukan karena suara, karena mereka relatif suka suaraku. Tetapi karena aku keukeuh jadi penulis lagu, nyanyiin lagu sendiri. Penolakan itu jadi cambuk aku untuk berjuang dan cari jalan lain,” kata Rieka, saat menjadi tamu dalam program #MaraMusik di 106.7 Mara FM Bandung, Selasa, 29 Maret 2022.

    Menandai perjalanan panjang selama 23 tahun berkarya di industri musik Indonesia, Rieka Roslan merilis single dan music video “Dahulu,” di Jakarta, 23 Maret 2022.

    Lagu “Dahulu” dipilih karena pada tanggal 23 Maret 2022 lagu ini tepat 23 tahun mewarnai industri musik Indonesia.

    Berawal dari sebuah kisah yang terjadi 32 tahun yang lalu. Ketika itu, Rieka Roslan adalah seorang siswi SMA Negeri 2 Bandung yang senang bersenandung dan merangkai nada dan lirik hanya untuk melepaskan keinginannya untuk menjadi penyanyi yang bisa menyanyikan lagu-lagu ciptaannya sendiri.

    Rieka Roslan merilis ‘Dahulu,’ single ciptaan dirinya yang akan jadi kompilasi album ‘Story of My Life: Rieka Roslan’ bersama hits lain. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

    Keinginan keras Rieka untuk menjadi penyanyi akhirnya membuahkan hasil di tahun 1999. Mimpinya untuk menjadi penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu ciptaannya sendiri akhirnya terwujud.

    Tahun 1999, Rieka Bersama Yuke, Ali, Reza, Tanto, Deta, Rejoz, Arie dan Ari Firman akhirnya membentuk sebuah band yang kemudian dikenal dengan nama The Groove.

    Bersama The Groove, Rieka berjuang memperkenalkan genre musik yang mereka sukai ke seluruh Indonesia.

    Perjalanan karir sebagai penyanyi dilalui Rieka dari café ke café, dari satu panggung ke panggung lainnya.

    Dahulu

    Kini, di usianya yang sudah 52 tahun, Rieka ingin menuturkan kisah suka dukanya sebagai penulis lagu.

    Mengambil momentum 23 tahun perjalanan karier Rieka Roslan di industri musik Indonesia pada 2022 ini, ia mempersembahkan “Dahulu”, satu lagu yang ditulisnya 32 tahun silam dan tersimpan di buku hariannya.

    “Dahulu” dipopulerkan oleh The Groove. Lagu ini menjadi salah satu hits sepanjang masa di industri musik Indonesia dan masih diperdengarkan hingga saat ini.

    Sebagai bagian dari merayakan perjalanan karirnya, Rieka Roslan akan meluncurkan satu per satu single hits yang ia ciptakan.

    Seluruh hits ini akan dikompilasikan dalam medium vinyl (piringan hitam) dengan tajuk album “Story of My Life: Rieka Roslan,” yang akan dicetak sangat terbatas.

    Dalam proses pembuatan vinyl ini, Rieka dibantu oleh Subo Family (Aria Anggadwipa, Intan Anggita Pratiwie dan Arif Liberto Jacob).

    “Dahulu” dipilih sebagai lagu hits kedua yang diluncurkan setelah “Khayalan,” agar masyarakat bisa lebih mengenal perjuangan seorang komposer atau penulis lagu yang jarang diingat oleh pendengar walaupun lagu-lagunya mengisi hari-hari mereka.

    “Saya sangat berharap di perjalanan 23 tahun karir saya di industri musik Indonesia saya bisa mewujudkan mimpi saya untuk mencetak album kompilasi yang berisi lagu-lagi hits yang saya ciptakan baik untuk band saya The Groove maupun lagu-lagu hits yang saya ciptakan untuk penyanyi lain seperti, Iwan Fals, Krisdayanti, Sheila Majid dan Shanty,” uxap Rieka.

    Proses pembuatan single ini dibantu oleh teman-teman musisi Rieka seperti Ali Akbar dan We Are Neurotics (Jonathan Mono, Karel William dan Yosa Viano).

    “Mereka membantu saya dalam hal aransemen lagu, sehingga terciptalah lagu “Dahulu” ini dengan aransemen yang menurut saya lebih energicfresh, dan beat-nya pun sangat disko. Selain itu saya juga dibantu oleh Brury Effendy yang bermain saxophone serta Dimas Pradipta yang meramu lagu ini dalam proses mixing dan mastering,” kata Rieka.

    Video Musik

    Yang tidak kalah menariknya dari single “Dahulu” ini adalah video musiknya. Video ini disutradarai oleh Rieka dan partnernya di Halaman Musik, Angga Saleh.

    Mereka berdua ingin membuat video musik ini berbeda dengan yang lain sehingga konsepnya harus dibuat seperti film pendek yang mampu bercerita tentang isi, sekaligus cerita di balik lagu “Dahulu”.

    Music video ini dibuat berdasarkan kisah nyata yang saya alami. Saya ingin menceritakan perjalanan panjang dari seorang penulis lagu dan penyanyi yang ingin menyanyikan lagu ciptaannya sendiri, yang dulu lagunya pernah ditolak oleh label besar tapi akhirnya lagu itu berhasil menjadi hits dan masih didengarkan sampai hari ini. Proses ini yang ingin saya ceritakan melalui music video ini,” tutur Rieka.

    Di video musik “Dahulu,” Rieka Roslan melibatkan generasi muda yang sebagian adalah murid-muridnya seperti Wa Ode (Pemenang POP Academy Indosiar 2021), Inara (Finalis POP Academy Indosiar), Syahravi, anak-anak vocal grup dan band SMA Negeri 2 Bandung, anakanak dari WannaBe Dancer, dan beberapa talenta lainnya.

    Walaupun beberapa dari mereka baru mencoba dunia acting, tetapi mereka sudah terlihat natural dan dapat beperan sesuai seperti yang diharapkan. Keterlibatan generasi muda ini dimaksudkan agar tercipta regenerasi yang baik di industri musik Indonesia.

    “Sebagai pencipta lagu saya memiliki kegelisahan. Oleh karena itu saya ingin mengedukasi generasi muda agar dapat lebih menghargai pencipta lagu dengan berusaha mencari tau siapa pencipta dari lagu-lagu yang mereka dengarkan. Selain itu saya berharap single ‘Dahulu’ ini dapat diterima dengan baik oleh pendengar musik Indonesia, terutama karena single ini saya persembahkan dengan aransemen baru yang menurut saya lebih cocok untuk generasi muda saat ini. Semua ini berawal dari sebuah kisah dan ‘Dahulu’ saya persembahkan sebagai momentum Rieka Roslan 23 Tahun Berkarya,” ucapnya. 

    Rieka Roslan dikenal sebagai salah satu pendiri grup band The Groove dan juga seorang soloist.

    Rieka juga dikenal sebagai penulis lagu yang telah berhasil mencetak banyak hits di antaranya “Dahulu” dan “Khayalan” untuk The Groove, “Cobalah Untuk Setia” yang dinyanyikan oleh Krisdayanti, “Izinkan Aku Menyayangimu” yang dinyanyikan oleh Iwan Fals, dan beberapa hits lainnya.

    Rieka Roslan juga dikenal sebagai pengajar vokal dan vocal director untuk banyak penyanyi.***

  • Bandung Lautan Art, Pameran Berisi Nyala Jejaring Penggerak Seni Jawa Barat

    Pameran Bandung Lautan Art, 27 Maret sampai 4 April 2022, di Galeri Pusat Kebudayaan, Bandung memamerkan karya perupa senior alumni IKIP. Foto: Galeri Pusat Kebudayaan.

    MIKROFON.ID – Dari Pameran ‘Bandung Lautan Art’, bisa terlihat seni rupa Jawa Barat yang berpotensi bangkit selepas pandemi.

    Bertempat di Galeri Pusat Kebudayaan, Jalan Naripan, Bandung, perupa muda Seni Rupa UPI Bandung bersanding dengan pupuhu dan perupa senior alumni IKIP Bandung (AHIMSA), melakukan pameran bersama, mulai 27 Maret sampai 4 April 2022.

    Menampilkan tema besar ‘Bandung Lautan Art,’ pameran Pupuhu Ke-2 berisi para alumni seni rupa IKIP (sekarang UPI) ini cukup menarik.

    Para peserta pameran ini didominasi para guru dan dosen seni rupa. Mereka menjadi penyebar virus seni rupa kepada siswanya, sehingga melahirkan generasi seni rupa di berbagai pelosok kota dan kabupaten di Jawa Barat.

    “Tidak sedikit murid-muridnya ini studi di kampus seni ternama selain di UPI sendiri. Tentunya seorang guru akan menjadi contoh untuk muridnya, guru harus digugu dan ditiru, ini ungkapan lama dalam wejangan Sunda,” kata Isa Perkasa, kurator Galeri Pusat Kebudayaan, melalui catatannya.

    Ia mengungkapkan, pameran ini akan menjadi harapan para alumni seni rupa UPI karena para senimannya datang dari seluruh Jawa Barat.

    Tentunya karya yang mengisi Pupuhu Ke-2 ini sangat beragam. Dengan semangat romantisme berkumpul kembali reuni karyanya terpajang pameran bersama, tentu saja pengalaman berkarya yang tersimpan lama akan melahirkan karya baru dengan semangat seni rupa yang masih menggelora.

    Bagi Isa, Pameran Pupuhu ini memberikan energi pada seni rupa UPI. Seniman Pupuhu lahir dari generasi 80an dengan semangat seni rupa modernis, dengan gaya dan aliran seni lukis masih kental pada mereka.

    “Keberagaman gaya dan ungkapan visual akan jadi ciri dalam pameran Pupuhu Ke-2. Harapan karya yang ditampilkan merupakan kebaruan dalam seni rupa modernis Bandung sehingga menjadi ‘Bandung Lautan Art’ yang sesungguhnya,” tuturnya.

    Meski begitu, kebersamaan Pameran Pupuhu Ke-2 tentu tidak hanya sekadar pameran reuni. Para seniman berharap pameran ini akan menjadi kekuatan kebangkitan seni rupa di Bandung dan Jawa Barat, karena mereka yang terlibat merupakan simpul-simpul seni rupa yang terus hidup di daerah.

    Isa berharap kekuatan Pupuhu akan makin terasa apabila tetap konsisten berkarya dan semangat menjalin jaringan sesama alumni yang tersebar di pelosok Jawa Barat.

    “Semangat ini harus menjamur dan berkorbar seperti momentum Bandung Lautan Api, untuk kemudian diserap menjadi Lautan Seni Rupa, karena Bandung memberi energi untuk seni rupa di Jawa Barat,” ujarnya.

    Karya peserta pameran bisa tertampung cukup banyak karena ruang galeri yang cukup luas dan representatif di Galeri Pusat Kebudayaan, Bandung. Karya-karya yang dipamerkan merupakan karya baru.

    “Pameran ini tentunya akan menginspirasi para alumni bergabung lebih solid dan kuat. Saya yakni banyak sekali alumni yang masih konsisten dan memilih kesenimanan, sehingga pameran ini tidak hanya rutinitas tahunan, tetapi menjadi agenda melahirkan pupuhu seni rupa yang tangguh pada generasi selanjutnya,” kata Isa.

    Kurator Pameran ‘Bandung Lautan Art’ Eddy Hermanto mengatakan, dalam pameran ini para perupa mengangkat seni lukis dengan muatan cukup beragam.

    Mulai dari yang representasional, abstrak, bahkan bentuk-bentuk perupaan modern hingga wujud kekinian atau kontemporer.

    Seniman yang terlibat menarasikan serta mengelaborasikan energi kreatifnya secara personal dan memadati makna subjek yang menyimpan berbagai tafsir.

    Eddy menambahkan, peta perkembangan seni rupa masa kini diawali dengan konsep adanya suatu wilayah yang tidak lagi dibatasi oleh teritorial satu negara, melainkan sistem informasi dan komunikasi yang dapat menembus dinding geografis dan politik bahkan kehadirannya sebagai bentuk interpretasi skeptis.

    “Seni rupa masa kini merujuk pada suasana intelektual dan sederetan wujud kebudayaan yang meragukan ide-ide, prinsip-prinsip, dan nilai-nilai yang dianut modernism,” katanya.

    Menurut Eddy, seni rupa masa kini merupakan sebuah konsep periodisasi yang berfungsi untuk menghubungkan munculnya bentuk-bentuk formal baru dalam sendi kultural, dengan kelahiran sebuah tipe kehidupan sosial dan sebuah orde ekonomi yang baru.

    Apa saja yang secara eufismis, ia menambahkan, disebut sebagai modernisasi masyarakat pascaindustri atau masyarakat media digital dan visual, atau kapitalisme multinasional.

    Ia menuturkan, rtos seni rupa “kekinian” sekonyong-konyong menolak penjelasan yang harmonis, universal, dan konsisten. Mereka menggantikan semua ini dengan sikap hormat kepada perbedaan dan penghargaan kepada yang khusus, lokal, serta membuang yang universal.

    “Fondasi intelektual dari seni rupa masa kini boleh jadi untuk menciptakan dunia yang lebih jadi untuk menciptakan dunia yang lebih baik seperti yang diutarakan oleh Jean Francois Lyotard, yang paling awal mengapungkan istilah “kekinian” atau postmodernisme. Itu hanya sekadar gambaran lumrah dan tidak asing. Namun, barangkali perlu juga untuk diungkit kembali dan semoga pameran ini menjadi tepat sasaran dan bermakna,” ujar Eddy.

    Peserta Pameran

    1. AA Fauzie Falax
    2. Ace Kisna
    3. Ahmad Basit
    4. Aji Koswara
    5. Ardiyanto
    6. Arief Johari
    7. Ariesa Pandanwangi
    8. Asep Edy Mulyana
    9. Asep Wahyu
    10. Ananda Nur S.
    1. Bayu Widyaksana
    2. Christine Magdalena M.
    3. Dadang M. A.
    4. Dadang Sulaeman
    5. Deden Maulana
    6. Dedi Rasmita
    7. Deny Zoem
    8. Dewi Kusumowardhani
    9. Done Andriana
    10. Dian Kencana
    1. Ekananto Budi S.
    2. Enday Tarjo
    3. Erikson Manurung
    4. Eka Nur Lia Sk
    5. Emi Suryani
    6. Firda Faridah
    7. Faqih Faisal B.
    8. Fatih Jagad Raya
    9. Gugun Gunawan
    10. Helena Gayatri Putri
    1. Heni Mardiana
    2. Heri Santosa
    3. Heru Haerudin
    4. Hidayat
    5. Iip Ipan
    6. Ika Kurnia Mulyati
    7. Ipik Muharam
    8. Imam Suryantoko
    9. Jasa Sembiring
    10. Jenar Sukaningsih
    1. Maman T.
    2. Mahmud Nasrullah
    3. Meyhawati Yuyu Jr.
    4. Mina Sukana
    5. Reval Eka P.
    6. Muhamad Muhtar
    7. Muhammad Nashrullah
    8. Muammar Haikal Gibran
    9. Mia Syarief
    10. Oscar Sastra
    1. Nita Dewi
    2. Nanang Saifullah
    3. Niken Apriani
    4. Nunang E. Solihin
    5. Nurlela Affendi
    6. Inne Kaniawati
    7. Raden Surachman
    8. Rhyan Ikrasmara
    9. Ridwan Taufik
    10. Riki Nurdiansyah
    1. Rina Mariana
    2. Rita Gitawati
    3. Samsul Ridwan
    4. Selo Sumarsono
    5. Siti Sartika
    6. Sri Sulastri
    7. Suryatina/Isoer
    8. Suryadi
    9. Sri Nugroho
    10. Tri Karyono
    1. Teguh Indriana Pangestu
    2. Tubagus Erief S.
    3. Vidya Sukma N.
    4. Warli Haryana
    5. Wien K. Meilina Az
    6. Yoppy Yohana
    7. Yudhi Ruhyandi
    8. Yusa Widiana
    9. Yusuf Junaedi
    10. Yustine Carolies.***
  • Jejak Karya Dannus Darmawan, dari Comission Work European Metal Sampai Artwork Koleksi Maternal

    Karya Dannus Ramdhan Darmawan tersebar mulai dari ekosistem musik Eropa sampai kini menjadi pengisi artwork di Maternal Disaster. Foto: Dannus.

    MIKROFON.ID – Mengenalkan diri dengan moniker Steel Reaper, Dannus Ramdhan Darmawan menuai karier seninya begitu istimewa. Konsisten dengan gaya lanskap dengan leburan tema luar angkasa, retro-superhero, dan sapuan kegelapan, mengantarkan Dannus pada setumpuk orderan artwork dari luar negeri.

    Teknik seni ia dapatkan dari hasil pendidikan di Fakultas Pendidikan Seni dan Desain Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, yang diawali 2005.

    Sempat dikenalkan gaya realis Leonardo da Vinci, pria kelahiran 19 Mei 1987 itu tak bergariah. Teknik maestro Renaissance itu dianggap terlalu sulit, apalagi soal leburan warna pada teknik sfumato.

    Saat menempuh kuliah semester enam, Dannus memilih menekuni drawing pointilis. Ia kepincut gaya Greg “Craola” Simkins, seorang pop-surealis yang membuatnya jatuh cinta pada lanskap dan graffiti.

    Karya Dannus Ramdhan Darmawan tersebar mulai dari ekosistem musik Eropa sampai kini menjadi pengisi artwork di Maternal Disaster. Foto: Dannus.

    Eskplorasi ekspresi gaya Dannus semakin menajam setelah menceburkan diri ke dalam keramaian musik black metal yang pada 2008 lagi hits. Pencarian inspirasi yang bisa memenuhi keinginannya menciptakan ilustrasi poster dan sampul album band black metal menggiringnya ke Justin Bartlett.

    Dannus begitu mengagumi karya seniman jago artwork band extreme metal, yang banyak mendapat pujian dari majalah musik rock bergengsi asal Inggris, Kerrang! itu.

    Tema black metal yang tengah hype saat itu dibawa Dannus dalam tugas akhir di jurusan Seni Rupa UPI, yang dipadati analisis drawing sablon pada kultur black metal. Pertanyaan dosen soal masa depan karier dia dari seni rupa dengan mantap dijawab visinya.

    “Saya mau jadi ilustrator. Banyak potensi dari drawing ini dari mulai freelance maupun brand,” kata Dannus, saat diwawancara mikrofon.id pada pertengahan Maret 2022.

    Ekspresi karyanya makin matang setelah berkenalan dengan nama-nama besar pencipta artwork band ekstrim dalam negeri seperti Ken Terror, Morrgth, dan Riandy Karuniawan.

    Karya Dannus Ramdhan Darmawan tersebar mulai dari ekosistem musik Eropa sampai kini menjadi pengisi artwork di Maternal Disaster. Foto: Dannus.

    Ubah Gaya

    Lulus dari UPI menjadikan Dannus menguasai teknik gambar dengan berbagai gaya. Kesukaannya pada gambar-gambar luar angkasa hingga film fiksi ilmiah serupa Star Wars, Star Trek, Dune, hingga Interstellar, rupanya memberikan ciri dalam karya-karya Dannus.

    Karya-karya itu yang bakal terasa dalam artwork di beragam desain clothing kenamaan, Maternal Disaster. Dannus mulai mengisi posisi ilustrator di Maternal Disaster pada 2016, dan sekarang diberi tanggung jawab sebagai creative manager.

    Sambil mengisi tugasnya, Dannus masih menerima permintaan karya untuk sejumlah band.

    Demi memenuhi kejaran deadline, ia mulai mempelajari digital painting. Kebetulan ada lima desain commission work dengan bayaran tablet digital painting, Wacom CTL 470.

    Dengan tambahan brush pelengkap software yang didapat gratis di internet, kerjaan makin lancar dan orderan yang diterima mengalir deras.

    Karya Dannus Ramdhan Darmawan tersebar mulai dari ekosistem musik Eropa sampai kini menjadi pengisi artwork di Maternal Disaster. Foto: Dannus.

    Selera Eropa

    Dannus makin produktif berkarya. Kebetulan, pemilik Maternal Disaster, Vidi Nurhadi membebaskan Dannus mengerjakan band, musik, atau artwork terkait ekosistem subkultur di luar perusahaan asal dijalani seusai jam kerja.

    Ia sempat membuatkan cover album bagi band black metal Jakarta, Avhath dan unit pop punk/hardcore asal Bandung, Billfold.

    Dannus terbilang aktif mengunggah karyanya di Instagram dengan signature moniker Steel Reaper. Platform mikro-blog ini membuka ruang luas bagi penikmat karya di berbagai belahan dunia.

    Hingga pada 2018, band progressive rock asal Swedia, Hallas, mengirim pesan pribadi (DM) ke akun Instagram Dannus untuk dibuatkan artwork t-shirt.

    Nuansa poster 80an, vintage galaksi, serta pilihan superhero dari beberapa karyanya mencuri perhatian para personel Hallas.

    Bagi Dannus pribadi, permintaan desain kaos untuk tur Hallas merupakan penghormatan besar karena ilustrator pujaannya, Adam Burke, yang membuat sampul album awal Hallas.

    Ciri karya Dannus juga terhubung erat dengan lirik Hallas yang didominasi tentang galaksi. Ia menawarkan sosok warrior and star rider dengan tema berkelana di tengah bintang dan galaksi.

    Selain mengerjakan t-shirt, Hallas juga meminta secara khusus desain 5×3 meter backdrop panggung yang akan dibawa tur Eropa. Masih kurang, Hallas meminta Dannus menggambar bass drumhead yang biasa menjadi signature.

    Karya Dannus Ramdhan Darmawan tersebar mulai dari ekosistem musik Eropa sampai kini menjadi pengisi artwork di Maternal Disaster. Foto: Dannus.

    Commision work

    Media sosial, Instagram, dan luasnya sebaran internet melesatkan nama Dannus. Dari Hallas, tawaran commission work terus berhamburan mulai dari unit thrash metal Norwegia, Deathhammer dan Inculter, band death metal Sepulcher, sampai band heavy metal dari Swedia, Enforcer.

    Terkini, ada orderan dari band heavy metal asal Kolombia, Diamond Chazer.

    Rupanya ekosistem subkultur di luar band juga kepincut karya Dannus. Ada Chris Gregson, founder Blood Wizard Skateboard yang meminta desain papan skate khusus.

    Dannus memberikan desain Crimson Wanderer, dengan 4 karya seri untuk kebutuhan sablon t-shirt dan artwork skateboard.

    Seri Crimson Wanderer mengisahkan penyihir berjubah merah darah dibarengi makhluk mitologi, dengan lanskap galaksi yang sama-sama digandrungi Dannus dan Gregson.

    Brand skateboard lain, Ouro Wheels juga kesengsem jasa Dannus untuk mendesain gambar tema untuk diaplikasikan ke roda skateboard.

    Gambar yang terus berseliweran di layar smartphone komunitas metal dunia juga sampai ke Inggris. Clothing Mary Wyatt di London minta dibuatkan satu seri t-shirt karya Dannus.

    Yang bikin keren, klub motor Eropa, Gospel Riders juga ikut memesan artwork Dannus secara khusus.

    Karya Dannus Ramdhan Darmawan tersebar mulai dari ekosistem musik Eropa sampai kini menjadi pengisi artwork di Maternal Disaster. Foto: Dannus.

    Bikin Band

    Derasnya energi black metal juga diluapkan Dannus lewat band Ancient, yang ia dirikan bersama Dante (gitar), Reza (bas), dan Jali (drum).

    Dibentuk pada 2015, Ancient telah merilis EP “The Old Dark Tyranny” pada 2017, yang dirilis kaset oleh Hand Numbered Records, Singapura.

    Resting Hell Records, Kediri, merilis ulang melalui 500 keping CD.

    Melalui leburan unsur 80’s speed and heavy metal, Ancient mengeluarkan single “Razor Sharp Beyond The Nile,” September 2020, yang dirilis dalam bentuk kaset oleh Destruction Records, Jerman.

    Label dari Xinjiang, Tiongkok, menyatakan keinginannya untuk merilis ulang single Ancient dan menyiapkan biaya tur Singapura dan Malaysia. Tetapi urung berjalan karena tertahan pandemi.

    Tawaran rilis album juga muncul dari label Jerman. Sudah ada lima materi untuk dilanjut. Tetapi rencana itu tertunda karena salah satu personel mereka, Dante, pindah ke Yogyakarta.

    Pada November 2020, ada pula rilisan vinyl 7” Disaster Records untuk Ancient split Brigade of Crow.

    Karya Dannus Ramdhan Darmawan tersebar mulai dari ekosistem musik Eropa sampai kini menjadi pengisi artwork di Maternal Disaster. Foto: Dannus.

    NFT

    Dannus juga punya perhatian pada seni graffiti. Ia terinspirasi dari Lugosis, seorang seniman tato asal Italia yang tinggal di Paris, Prancis.

    Ia merilis kepenasarannya pada seni grafitti lewat rancangan proyek bernama Zhnets. Nama ini masih tetap tersambung dengan sosok pencabut nyawa Reaper, yang ia banyak tanamkan di karya-karyanya.

    Reaper versi proyek ini tak seseram di berbagai karya metalnya. Zhnets berbasis kartun yang menyerupai gaya seniman graffiti dan komunitas hip hop Rusia: berjaket tebal dan bercelana sporty.

    Rencananya Dannus akan melempar edisi Zhents Moskow, London, dan Paris, ke tengah ekosistem Non-Fungible Token (NFT). Tetapi rencana itu tak akan diwujudkan.

    “Reaper itu menceritakan diri sendiri. Saya suka dengan karakter ikon atau perwujudan malaikat pencabut nyawa, karena itu adalah gambaran yang tidak nampak di dunia nyata, mungkin itulah (wujud pencabut nyawa) yang selama ini digambarkan. Proyek itu dibikin 2021, sebelum konsultasi sama teman dan tahu NFT itu haram,” ujar Dannus, yang sempat menjadi Asisten Manajer Roemah Seni Sarasvati itu.

    Karya Dannus Ramdhan Darmawan tersebar mulai dari ekosistem musik Eropa sampai kini menjadi pengisi artwork di Maternal Disaster. Foto: Dannus.

    Religi

    Dannus mengatakan, selama perjalanan menggambar dan menemukan banyak referensi, akhir-akhir ini muncul keinginan untuk menuangkan lebih banyak unsur religi.

    Sebenarnya, ia telah memilih jalan hijrah sejak 2015, dan terus mendalami Islam lewat pengajian rutin.

    Perubahan gaya berkarya didapatnya dari arahan Koma, seniman graffiti Jakarta yang telah lebih lama mendalami agama. Mereka berdua berdiskusi lama, menyoal aturan Islam yang tak membolehkan melukis makhluk hidup.

    Dannus khawatir uang yang didapat dari pekerjaan menggambar masuk kategori haram dan jauh dari kandungan berkah. Percakapan dengan Koma pada 2021 itu menghadirkan jawaban. Dannus semakin yakin bahwa mustahil jika Islam menyulitkan pencarian nafkah dari industri kreatif.

    “Ngobrol bareng dia (Koma) langsung terjawab. Kalau bikin gambar realis ada mata, hidung, dan anatomi tubuh enggak boleh. Haditsnya juga ada. Kalau panca inderanya dihilangkan bukan bagian dari bentuk makhluk hidup,” tuturnya.

    Dengan panduan itu, Dannus akan terus berkarya meski akan muncul sejumlah pertimbangan sebelum memulai prosesnya.

    “Memang ini jadi personal choice. Tapi saya sekarang merasa hadits itu sebagai jawaban pegangan berkarier di masa mendatang,” ujarnya.

    Karya Dannus Ramdhan Darmawan tersebar mulai dari ekosistem musik Eropa sampai kini menjadi pengisi artwork di Maternal Disaster. Foto: Dannus.

    Regenerasi

    Dannus merasa beruntung bekerja di Maternal Disaster karena ekspresi bagi ilustrator begitu dibebaskan.

    Ia meyakini gaya seni yang dikerjakan masih sesuai syariat Islam. Di tengah produktifitas kerja yang sedang dijalani, Dannus menyempatkan diri mengajarkan kemampuannya untuk orang lain, khususnya mahasiswa yang menyukai seni.

    Dorongan bagi para pekerja seni mula juga disokong penuh pemilik Maternal Disaster, Vidi Nurhadi, yang meminta Dannus mengelola ruang pamer seni Temporal Platform.

    Dengan konsep art call submission, seniman terpilih diperkenankan mengikuti pameran Temporal Platform yang diadakan secara periodik, di toko Maternal Disaster.

    “Saya memang suka sharing, terutama di medos. Saya pengen ilmu ini terus dibagikan. Mudah-mudahan bisa memompa temen-temen muda, mahasiswa, kalau jalan karier ini bisa dicapai siapa saja,” ucap Dannus.***

  • Pameran Ajeg Melampaui Diri: Pijar Beuys di Kegelapan Bioskop Dian

    Goethe-Institut Bandung dan 13 seniman menyajikan pameran ‘Ajeg Melampaui Diri’, di eks Bioskop Dian, Bandung, 17 Maret-24 April 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

    MIKROFON.ID – Urukan tanah setinggi 30 sentimeter dibentuk keliling menjadi dinding sebuah kolam seluas 4×2 meter. Kolam ini membendung air bertabur bunga-bunga, yang mengambang begitu tenang.

    Di sejumlah penjuru tertancap bongkahan beton, yang diselingi wadah bambu berisi bunga.

    Kolam itu mengisi ruang yang dahulu berderet kursi-kursi penonton film layar lebar, di kolong atap tinggi, di bawah langit-langit rompal, di eks Bioskop Dian Bandung.

    Kolam itu merupakan karya Farhan Deniansah, satu dari 13 seniman yang menghidupi “gelapnya” eks Bioskop Dian lewat Pameran ‘Ajeg Melampaui Diri’, di eks Bioskop Dian, Bandung, yang digelar 17 Maret-24 April 2022.

    Dari karya itu, Farhan melihat manusia bukanlah penghuni tunggal bumi, namun seringkali berlagak layaknya yang berkuasa. Alam dijajah, tanah dikeruk, danau diuruk, mahluk dianiaya dengan cueknya.

    Generasi terus berganti, semua sudah rusak, semua sudah hilang, namun manusia justru saling menyalahkan.

    “Karya ini mengajak untuk mengenang bahwa pada mulanya tanah Bandung merupakan danau purba besar, sehingga memiliki banyak danau-danau besar dan kecil yang tersebar di dalamnya,” tutur Farhan, mahasiswa Seni Rupa Murni FSRD Universitas Kristen Maranatha yang fokus di studio mix media dengan keahlian lukis dan patung itu.

    Goethe-Institut Bandung dan 13 seniman menyajikan pameran ‘Ajeg Melampaui Diri’, di eks Bioskop Dian, Bandung, 17 Maret-24 April 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

    Dari layar lebar bioskop rancangan Wolff Schoemaker itu, ada karya Shelvira Alyya Putri Anjani. Mahasiswi program studi Film dan Televisi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung ini menayangkan soal pernikahan dari perspektif perempuan lewat film pendek “Lamun.”

    Tayangan film berdurasi 7.31 menit itu seakan memutar ulang sejarah gedung, yang sejak nyaris 100 tahun lalu berfungsi sebagai ruang hiburan warga penikmat visual-bergerak.

    Melalui “Lamun,” Shelvira mencoba menerka-nerka posisi perempuan di tengah peradaban. Berawal dari berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar, terutama kepada lingkungan perempuan terdekat mengenai pernikahan, Shelvira terdorong membuat karya yang membicarakan pernikahan dan perempuan.

    Memaknai kata “lamun” dari bahasa Sunda yang berarti “jika”, “kalau”, “semisal”, ia membayangkan peristiwa yang telah atau sedang dialami oleh lingkungan perempuan dan akan atau bisa jadi tidak mungkin terjadi kepada dirinya sebagai perempuan.   

    “’Lamun’ menjadi sebuah judul yang berarti ‘kalau’, menceritakan bagaimana kalau hal yang biasanya dilakukan oleh laki-laku berubah menjadi dilakukan oleh perempuan,” tuturnya.

    Goethe-Institut Bandung dan 13 seniman menyajikan pameran ‘Ajeg Melampaui Diri’, di eks Bioskop Dian, Bandung, 17 Maret-24 April 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

    Dari karya foto hadir Dike Trivinggar dengan judul “Bioskop Dian”.  Melalui serangkaian foto-fotonya, Dike menangkap gelap dalam makna indrawi di tengah gedung minim pencahayaan, dan gelap yang bermakna “asing.”

    Dike memaknai gelap dalam dwimakna sebagai kualitas yang positif, dan juga “asingnya” ruang sesungguhnya menandakan bahwa ada “sesuatu lain” yang inheren dengan Bioskop Dian, yang menunggu untuk dikenali dan diekspresikan.

    Bagi Dike, bermain cahaya adalah pilihan yang masuk akal untuk merespons atmosfer Bioskop Dian. Ia melakukan sedikit intervensi singkat terhadap permukaan bagian interior bioskop di lima titik berbeda yang ia anggap menarik.

    Intervensi yang dilakukan yakni mengaplikasikan material reflector yang dapat memantulkan cahaya ketika tersorot sinar dalam area gelap, untuk kemudian dipotret dengan kamera beserta lampu kilat.

    “Lewat seri karya fotografi berjudul ‘Bioskop Dian’, saya bermaksud menciptakan ruang yang ‘baru’ dari ruang yang lama dan memberi penegasan atas kehadiran Bioskop Dian,” ujar Dike.

    Warisan Beuys

    Eksplorasi artistik oleh 13 seniman ini dihadirkan bersama dua kurator pameran ‘Ajeg Melampaui Diri’ Erik Pauhrizi dan Tisna Sanjaya, serta Goethe-Institut Bandung.

    Berdasarkan catatan kuratorial pameran ini, ‘Ajeg Melampaui Diri’ merupakan proyek pameran dalam merespons pengembangan keberlanjutan estetika warisan Joseph Beuys.

    Sebuah proyek pameran yang dilandasi oleh proses lokakarya “Ajeg Pada Jejak”, interaksi antara psikologi manusia, artefak representasional, konteks sejarah, lingkungan digital dan identitas budaya nusantara yang mendasari pemahaman komprehensif juga pengalaman estetis untuk merekam reaksi emosional dan memberikan kontribusi terhadap penyelidikan praktik estetika.

    Pameran ini menjadi laboratorium untuk melakukan perluasan terhadap konsep seni dari prinsip-prinsip artistik yang mapan, di mana setiap seniman muda belajar dan berpartisipasi secara aktif untuk bertindak dalam menyelaraskan logika, spiritual dalam diri, memperpanjang bagaimana budaya adat leluhur lebih suka menjalin, membuat hubungan dalam mempengaruhi dan menghasilkan pemikiran dan perasaan.

    Beuys yang tidak henti-hentinya menyerang gagasan tradisional seni modern dengan demokrasi dan radikalisasi tentang konsep seni dalam wacana interpretatifnya sendiri.

    Ia menghapus pemahaman umum tentang peran tunggal seniman dan menunjukan bahwa seniman dapat berperan lebih dari satu bahkan dua, tidak hanya menjadi pelukis atau pematung tetapi bisa juga secara bersamaan menjadi politikus, filsuf, sejarawan, etnolog, memproyeksikan citra dirinya kepada publik menjadi seorang visioner, spiritualis, dan penyembuh.

    Memahami Beuys yang kemudian diartikulasi ulang oleh seniman-seniman muda pada Pameran ‘Ajeg Melampaui Diri’, beberapa seniman di antaranya menggunakan proses seni sebagai ruang penyembuhan dari keyakinan yang berlebihan dan harus dibebaskan dari kepercayaan patologis kuasa akal.

    Kolaborasi

    Goethe-Institut Bandung bersama Erik Pauhrizi dan Tisna Sanjaya berusaha mengelaborasi interaksi antara psikologi manusia, artefak representasional, konteks sejarah, lingkungan digital, dan identitas budaya Nusantara melalui pameran ‘Ajeg Melampaui Diri’ yang diselenggarakan pada Kamis, 17 Maret sampai dengan Minggu, 24 April 2022.

    Pameran ini dilandasi oleh proses lokakarya ‘Ajeg Pada Jejak’ yang diadakan pada Oktober 2021 dalam mengembangkan warisan estetika Joseph Beuys.

    Ketiga belas seniman terlibat memiliki latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang beragam, dari mahasiswa di perguruan tinggi negeri dan swasta, tenaga pengajar, pekerja lepas, desainer, hingga pegiat seni tradisi.

    Mereka mendaftarkan diri mereka untuk lokakarya ‘Ajeg Pada Jejak’, dan kemudian diberikan alokasi waktu selama dua bulan untuk memproduksi karya yang kemudian dipamerkan.

    Seniman yang terlibat dalam pameran ini yakni Agung Eko Sutrisno, Antonia Putri, Audya Amalia, Dike Trivinggar, Dimas M. Iqbal P. B., Dwi Prayudha, Farhan Deniansah, Fatimah Afnantwina Refyan, Nur Ilham Natsir, R. Reihan A. Bratasoerja, Shelvira Alyya Putri Anjani, Tara Shakin, dan Widi Asari.

    Erik Pauhrizi dan Tisna Sanjaya selaku kurator berusaha untuk mempertemukan berbagai disiplin dalam penyusunan seniman terlibat.

    Pameran ‘Ajeg Melampaui Diri’ diselenggarakan bekerja sama dengan Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI dan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB.

    Rangkaian pameran ‘Ajeg Melampaui Diri’ juga menyediakan berbagai kegiatan pendukung yang bisa diikuti oleh publik. Tur berjalan kaki hari Jumat, 18 Maret bersama Bandung Good Guide menelusuri sejarah yang hidup di kawasan Jl. Asia Afrika dan berakhir di eks Bioskop Dian.

    Sesi diskusi terbagi menjadi dua, sesi wicara seniman diadakan pada Jumat, 25 Maret 2022 dan sesi wicara kurator diadakan hari Jumat, 1 April 2022.

    Aktivitas lain yang juga terbuka bagi publik adalah pemutaran film yang dilangsungkan setiap Sabtu tanggal 9, 16, dan 23 April 2022, pukul 14.00 WIB.

    Goethe-Institut Bandung dan 13 seniman menyajikan pameran ‘Ajeg Melampaui Diri’, di eks Bioskop Dian, Bandung, 17 Maret-24 April 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

    Berikut ini sekilas biografi singkat kurator dan seniman Pameran ‘Ajeg Melampaui Diri’ yang diperoleh dari data Goethe-Institut Bandung:

    Kurator

    Erik Pauhrizi menyelesaikan Diplom Freie Kunst pada tahun 2012 di Hochschule für Bildende Künste Braunschweig (HBK), berikut Meisterschüler Freie Kunst pada tahun 2016 dengan penghargaan Meisterschüler Prize 2016.

    Erik saat ini mengajar di Program Studi Film dan Televisi UPI dan juga aktif berkarya dan berpameran baik di dalam maupun di luar negeri dengan fokus kepada isu-isu Post-Kolonial/ De-Kolonial melalui pendekatan seni visual dan film eksperimental.

    Adapun Tisna Sanjaya adalah dosen di Institut Teknologi Bandung dan pernah terlibat di berbagai perhelatan seni di dalam maupun luar negeri. Tisna Sanjaya kuliah seni di Indonesia dan Jerman.

    Praktik artistik Tisna sering mengangkat isu-isu politik, sosial dan juga lingkungan hidup. Ia kerap melakukan proses penciptaan di ruang publik secara interaktif untuk memantik kesadaran masyarakat tentang kenyataan-kenyataan sosial yang timpang.

    Seniman

    Agung Eko Sutrisno Visual dan Performance Artist yang tinggal dan bekerja di Kota Bandung, menempuh program studi patung ISBI Bandung mendirikan prfrmnc.rar yang konsen dalam Pengumpulan Arsip, laboratorium, ruang diskursus performance art di Bandung dan juga pendiri KAPITAL SPACE bandung. Dalam praktik keseniannya ia tertarik pada sejarah, nilai-nilai arsip dan pelestarian ingatan kolektif dan ia menelusuri ulang hubungan sejarah dan antroposentris sebagai upaya melihat peristiwa kota yang terjadi.

    Pada tahun 2019 Eko masuk menjadi Semifinalis Bandung Contemporary Art Awards (BACAA 6). Biennale performance art Singapore Power Play (2020). Ring project Jakarta Biennale (2021)

    Antonia Putri akrab disapa Antonia, Dian, Putri, atau Depe. Dari kecil ketertarikannya terhadap seni, seperti bernyanyi, menggambar, dan menulis cerita. Saat ini sedang masih menjadih mahasiswi seni terpadu (Integrated Arts) dengan konsentrasi seni visual di Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR).

    Dalam praktik karyanya ia kerap berimajinasi dan menumpahkannya pada gambar dan tulisan.

    Audya Amalia lahir di Bandung pada tahun 1996. Ia menempuh pendidikan di Studio Patung Seni Rupa Institut Teknologi Bandung dan lulus pada tahun 2019. Dalam proses pembuatan karya, Audya memliki ketertarikan pada patung, instalasi, dan seni serat.

    Dalam karyanya dua tahun terakhir, ia menerapkan proses berkarya dengan pendekatan relasional dan dialogis. Ia pun memiliki kedekatan dalam topik domestik, perempuan, dan sejarah.

    Dike Trivinggar adalah perupa dan pengajar yang kini berdomisili di Bandung menyelesaikan studi seni di Universitas Telkom pada tahun 2019. Di tahun yang sama melakukan pameran tunggal pertamanya di Studio Batur, dan di tahun 2021 pameran mini tunggal yang bertajajuk “6 Degrees” di galeri Konter, Bandung.

    Selain berkarya kini ia mengajar mata kuliah Studio Lukis dan Studio Intermedia di Universitas Telkom sebagai Asisten Dosen dan aktif sebagai salah satu anggota Indeks, sebuah inisiatif riset independen seni yang berbasis di Bandung.

    Dimas M. Iqbal P. B. lahir dan melanjutkan studi di Bandung, Dimas merupakan seorang pekerja lepas setelah menuntaskan studinya di bidang desain interior. Karya yang dibuatnya sering mengangkat tema tentang „memori beserta ruang yang dimiliki manusia,, dan dalam eksplorasi karyanya ia menerapkannya dalam bentuk dua dimensi dan bahkan tiga dimensi.

    Dwi Prayudha menyelesaikan studinya dengan jurusan ekonomi management di Binus University. Ketertarikannya terhadap seni disalurkan dalam praktinya menggambar, melukis, membuat patung, dan bercerita melalui gambar bergerak. Dalam praktik seninya ia tertarik membahas tentang manusia, ekosistem dan alam.

    Farhan Deniansah Lahir di Tangerang dan tumbuh besar di Jakarta. Mahasiswa Seni Rupa Murni FSRD Universitas Kristen Maranatha dan fokus di studio mix media dengan keahlian lukis dan patung. Ketertarikannya terhadap seni kontemporer baik dari segi visual maupun konseptual. Pada tahun 2019 menjadi finalis 24 besar Kompetisi Trimatra Salihara.

    Fatimah Afnantwina Refyan merupakan mahasiswi semester 5 di jurusan Desain Komunikasi Visual di ITENAS Bandung. Dalam praktik di displinnya ia terbiasa dengan membua elemen-elemen visual dan merancang konsep desain.

    Hal apa yang dia pelajari memberikan ketertarikan tersendiri terhadap seni sebagai eksplorasi pemikiran imajiner, ekperimental. Baru-baru ini mengikuti program kreativitas mahasiswa, yang di mana menggunakan pendekatan iptek dengan objek penelitian Seniman di Desa Lukis Jelekong.

    Nur Ilham Natsir alumni Seni Rupa Universitas Telkom tahun 2019. Setelah menyelesaikan masa studi ia menggelar pameran tunggal pertama berjudul ‘Dalam Ruang Pertemuan’ dan ikut serta dalam perhelatan BIJABA #1 Biennale Jawa Barat di Thee Huis Gallery, Taman Budaya Jawab Barat, Bandung.

    Dalam praktik kerja keseniannya kerap “bermain-main” dengan objek benda-benda, visual ataupun teks dan sejak 2021 bergabung dan berkontribusi dalam kelompok teater Samana.

    Reihan A. Bratasoerja mahasiswa di program studi Film & Televisi Universitas Pendidikan Indonesia. Karya seni yang ia kerjakan secara khusus adalah audio visual, tetapi ia pun menggambar, melukis dan melakukan eksperimen dengan berbagai macam media.

    Apa yang ia coba angkat dalam karyanya membahas soal diri sendiri dan berhubungan dengan ingatan masa lalu, yang merupakan bagian dari sejarah.

    Shelvira Alyya Putri Anjani lahir di keluarga yang cukup kental akan kesenian tradisi, seperti penari, sinden, reog dan pencak.

    Hal tersebut memberikannya cukup banyak pengaruh dalam praktik berkarnya, sekarang ia sedang melakukan studinya di program studi Film dan Televisi UPI.

    Secara kekaryaannya Shelvira fokus dalam praktik tari dan peran, kemudian dua hal tersebut ia kembangkan dan eksplorasi dengan medium gambar, video atau film. Isu yang sedang ia kerjakan sekarang mengenai perempuan, sebagai sebuah proses mengenal diri berdasarkan respon, pengalaman, pengetahuan dan energi di lingkungan sekitar dari perempuan itu sendiri, untuk dirinya atau yang lain.

    Tara Shakin adalah seniman lukis dan drawing yang karyanya mencoba memahami trauma masa lalu yang kemungkinan memberikan dampat pada Kesehatan mental, melalui proses berkarya yang ia lakukan, seni dapat diterapkan menjadi sebuah terapi untuk meleburkan trauma.

    Ia menyelesaikan studi seni rupa murni di FSRD Universitas Kristen Maranatha. Lalu pada 2019 ikut serta dalam pameran “Asia International Friendship Exhibition (AIFE)”, Tokyo, Japan dan selama 2020 dan 2021 aktif dalam pameran virtual.

    Widi Asari seorang fashion designer yang melihat residu tekstil sebagai penyebab “luka” baik bagi manusia dan non-manusia. ia tinggal di kawasan industri tekstil dan melakukan praktik fashion dengan menggunakan material dari residu tekstil. Menciptakan karya fesyen/tekstil menggunakan perspektif area abu-abu yang sering tidak terlihat dan mengkomunikasikan “luka” yang membentang dari hulu-hilir industri tekstil.***