mikrofon.id

Visualisasi Tarian Lena Guslina dalam Pameran Lukisan ‘Kumau Diriku’

Penari Lena Guslina mengadakan pameran lukisan ‘Kumau Diriku: Gerak Gerik Lena Guslina’, di Galeri Pusat Kebudayaan, 20-23 Maret 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

MIKROFON.ID – Lena Guslina merayakan 22 tahun berkarya sebagai seniman, penari, dan koreografer, dengan mengadakan pameran lukisan ‘Kumau Diriku: Gerak Gerik Lena Guslina’, di Galeri Pusat Kebudayaan Bandung, 20-23 Maret 2022.

Kurator pameran ‘Kumau Diriku: Gerak Gerik Lena Guslina’ Isa Perkasa melihat tarian Lena Guslina yang tergambarkan dalam lukisan ini sangat subjektif. Tampak ada kemurungan, kemarahan, tangisan, penyesalan. Ada batin yang sangat dalam.

Saat proses menari di atas kanvas, tak ada seorang pun yang boleh masuk menyaksikan ke dalam tarian privasi tersebut.

Lena menari dalam ruang tertutup sebuah kamar. Satu demi satu terlahir visual rupa. Lena mengaku tidak sedang melukis. Karya lukis yang tercipta dari tarian ini adalah olah sukma dan olah rupa.

Bagi Lena Guslina yang dikenal seorang seniman tari kontemporer, bersentuhan dengan seni rupa bukan hal baru. Selain banyak berteman dengan perupa, karya tarinya dengan gaun merah yang cukup besar dan kolosal pernah ditampilkan dalam acara seni Dago Festival tahun 2001.

Di ruang publik, karya tersebut sangat terasa seni rupanya. Bisa disebut karya performance art dari tubuh Sang Penari yang tampil instalatif di tengah-tengah publik.

Kesadaran merupa sangat terasa. Menampilkan kostum tari tak biasa ini menjadi visual unik yang ditonton, selain gerak tubuh menari.

“Berhubungan dengan seni rupa bisa sangat berdampak bagi proses kreatif tari kontemporer Lena Guslina. Pencarian bentuk baru sangat dibutuhkan dalam tari kontemporer. Menari seni rupa yang Lena lakukan adalah kebaruan karya tarinya,” kata Isa.

Penari Lena Guslina mengadakan pameran lukisan ‘Kumau Diriku: Gerak Gerik Lena Guslina’, di Galeri Pusat Kebudayaan, 20-23 Maret 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

Lukisan

Tarian ini sangat berhubungan dengan persoalan diri subjektif yang datang dari dalam tubuh Lena. Tarian di hadapan kanvas ini lebih tepatnya adalah curhat yang tertuang di dalam kanvas.

Proses melukis yang dilakukannya tidak sedang terpengaruh Jackson Pollock, seniman Amerika Serikat yang dikenal sebagai tokoh abstrak ekspresionis dengan teknik splatter atau cipratan cat.

“Lena dalam lukisannya sepintas seperti cipratan Pollock. Cipratan cat karya Lena sangat berbeda dalam memperlakukannya karena yang Lena lakukan dengan tubuh menari,” ujar Isa.

Dalam setiap lukisan yang tercipta selalu ditemani musik kontemplatif karya Toni Anderson yang membawa jiwa Lena ke masa lampau, memanggil memori masa kecil.

Masa bersama ayahnya yang penuh kenangan tidak bisa terlupakan. Entah kenangan seperti apa yang membuat karya rupanya terlihat murung.

Seperti yang Lena ungkapkan melalui kesedihan, kepedihan, ratapan yang tak tertampung dan terbendung lagi, begitu lama terpendam. Ketika menjadi lukisan bisa tampak visual keindahan.

“Karya-karya ini sangat enak dinikmati dan diapresiasi tidak seperti kenangan lama masa lalunya. Ketika tariannya bisa tersaji untuk ditonton publik, pada karya seni rupanya adalah ruang privasi tetapi beberapa karya bisa terbaca secara visual bentuk. Seperti tampak pada karya perahu mengarungi badai, gerakan tarian, gunung meletus, gunungan, bongkahan batu melayang seperti bumi,” katanya.

Ini adalah kesadaran Lena membentuk rupa. Pada karya terbaru 2022 tampak lebih feminis, lembut, cipratannya sangat halus dan tertata rapi penuh kesabaran dan detail.

Karya seni rupa berupa lukisan yang tersaji ini sama memiliki ruang yang terbuka diapresiasi secara naman. Walaupun senimannya mengatakan sangat privasi.

Penari Lena Guslina mengadakan pameran lukisan ‘Kumau Diriku: Gerak Gerik Lena Guslina’, di Galeri Pusat Kebudayaan, 20-23 Maret 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

Riwayat

Oleh orang tuanya, perempuan kelahiran Bandung, 1977 itu dikenalkan pada tari tradisi di Sanggar Raden Oni Martasuta.

Lalu Lena mendalami tari secara akademik di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, yang sekarang telah berubah menjadi Insitut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.

Karya Semesta adalah koreografi perdananya yang lahir pada tahun 2000.

Dalam kurun waktu 2016-2017, Lena bersama kelompoknya Legus Studio mengisiasi program “Dialektika Tubuh 10 Taman Kota,” ketika Bandung sedang semarak dengan revitalisasi taman-taman kota.

Penari Lena Guslina mengadakan pameran lukisan ‘Kumau Diriku: Gerak Gerik Lena Guslina’, di Galeri Pusat Kebudayaan, 20-23 Maret 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

Lena membuka ruang publik sebagai panggung ketubuhan dan sarana ekspresi dan eksplorasi.

Eksplorasi tubuh yang terjalin dari interaksi antara tubuh penari dengan taman sebagai ruang publik, yang melibatkan respons ragam flora, fauna, lalu sublime pada kebutuhan penari.

Gagasan dialektika tubuh yang sedari awal dirancang cair lalu mengalami ekskalasi pada isu yang lebih makro yakni fenomena bencana alam dan disharmonisasi lingkungan sehingga lahirlah karya Desah Rimba dengan venue pelataran Gunung Manglayang, “Jejak Rimba” di Hutan Kota Bandung, “Elegi Bumi” di Taman Hutan Raya Juanda pada Maret 2020.

Penari Lena Guslina mengadakan pameran lukisan ‘Kumau Diriku: Gerak Gerik Lena Guslina’, di Galeri Pusat Kebudayaan, 20-23 Maret 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

Koreografi MAYA adalah buah koreografinya dari hasil perenungan di masa pandemi, pada 2020, yang merupakan refleksi kegundahan dan keterkungkungan ruang, mobilitas, interaksi, kesadaran esoteric, dan jeda bagi bumi untuk menata diri.

Di masa pandemi 2020-2022 ia mencoba mengurai gerak ketubuhan yang acap kali menjadi stagnan, lalu mencoba menguaknya karena merasa sulit mengungkap gerak ketubuhanya (unspeakable) secara verbal.

Alhasil, ia mencari gagasan dan menemukan kanvas sebagai media ekspresinya.

Penari Lena Guslina mengadakan pameran lukisan ‘Kumau Diriku: Gerak Gerik Lena Guslina’, di Galeri Pusat Kebudayaan, 20-23 Maret 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

Dorongan yang mungkin mempengaruhi Lena dalam kekaryaan seni lukis muncul saat sering menjadi pelaku tari pada performance artopening act event-event pembukaan seni rupa atau stimulasi ketika menjadi model lukisan dari pelukis-pelukis maestro seperti mendiang Jeihan Sukmantoro, Sunaryo, dan banyak lagi.

“Sehingga menunangkan ide karyanya dengan car akrilik pada media kanvas yang dilakukannya secara intuitif dan kesadaran yang tidak didasari oleh kaidah-kaidah lazimnnya pada disiplin kesenirupaan,” tutur Isa.***

Tinggalkan Balasan

Back to top
%d blogger menyukai ini: