Under The Volcano: Memaknai Saling Jaga di Hadapan Bencana

Pementasan Under the Volcano, di Ciputra Artpreneur Theater, 27 Agustus 2022. Foto: Bakti Budaya Djarum Foundation.

Setelah memukau Beijing pada 2014, Singapura (2016), dan Borobudur (2018), pertunjukan Under The Volcano kembali dipentaskan.

Kali ini, melalui dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation, kolaborasi Bumi Purnati Indonesia, Komunitas Seni Hitam Putih Sumatera Barat, dan Ciputra Artpreneur menggelar pertunjukan teater Under the Volcano, di Ciputra Artpreneur Theater, 27 Agustus 2022 lalu.

Disutradarai oleh Yusril Katil, pementasan ini mengangkat tema terkait keindahan dan kekayaan bumi pertiwi yang diliputi beragam potensi bencana alam.

Karya ini terinspirasi dari “Syair Lampung Karam” karya Muhammad Saleh yang ditulis pada 1883.

Pementasan Under the Volcano, di Ciputra Artpreneur Theater, 27 Agustus 2022. Foto: Bakti Budaya Djarum Foundation.

Komunitas Seni Hitam Putih menyerap betul apa yang digambarkan Muhammad Saleh dalam syairnya. Apalagi Komunitas Seni Hitam Putih berasal dari Padang Panjang, sebuah wilayah berkontur geografis yang dikelilingi gunung berapi. Mereka terhubung dengan situasi di kampung halaman yang harus selalu waspada terhadap bencana alam.

Nuansa Minangkabau yang dinamis dan melankolis begitu terasa dalam karya yang dimainkan oleh Komunitas Seni Hitam Putih dan Jajang C. Noer, dikomposeri oleh Elizar Koto dengan dramaturgi Rhoda Grauer ini.

Musik dan tarian didasarkan pada bentuk-bentuk tradisional Melayu yang digubah untuk mencerminkan berlalunya waktu, berdampingan dengan komposisi musik dan tarian kontemporer.

Pementasan Under the Volcano, di Ciputra Artpreneur Theater, 27 Agustus 2022. Foto: Bakti Budaya Djarum Foundation.

Under the Volcano dibagi menjadi enam bagian dan dilakonkan dengan narasi berbahasa Melayu dan Minangkabau, yang diperkuat dengan elemen silat, tarian, musik, dan efek visual digital yang gemilang.

Pertunjukan yang berdurasi kurang lebih 80 menit ini dimulai dengan cerita awal sebelum bencana terjadi.  Digambarkan suasana kehidupan yang harmonis, masyarakat menjalankan kegiatan sehari-hari secara damai.

Tiba-tiba gempa datang, diikuti ledakan gunung dan tsunami. Para penghuni lereng panik dan berusaha menyelamatkan diri.

Pementasan Under the Volcano, di Ciputra Artpreneur Theater, 27 Agustus 2022. Foto: Bakti Budaya Djarum Foundation.

Ketika letusan mereda, kecemasan tak lalu surut. Masalah baru timbul mendera masyarakat dalam hal sandang, pangan, dan papan yang menyebabkan trauma dan kemiskinan. Sedikit demi sedikit masyarakat membangun kembali rumah dan desa dengan bantuan banyak orang. Akhirnya kehidupan kembali normal dan damai.

Under the Volcano melambungkan pesan universal bagi manusia di tengah potensi bencana: bahwa jika hari ini adalah tahun 1883, untuk bertahan hidup dari bencana alam seseorang harus bergantung pada bantuan orang lain.

Jika dilihat dalam kondisi geografis Tanah Air, Under the Volcano menjadi sebuah pengingat bagi masyarakat Indonesia bahwa bencana alam akan selalu menjadi bagian dari kehidupan, karena letak daratan yang diliputi sesar, pegunungan, dan lintasan ring of fire.

Pementasan Under the Volcano, di Ciputra Artpreneur Theater, 27 Agustus 2022. Foto: Bakti Budaya Djarum Foundation.

Menebar Syair

Direktur Artistik Bumi Purnati Indonesia, Restu Kusumaningrum mengungkapkan, Under the Volcano telah beberapa kali dipentaskan. Pertama kali dihadirkan dalam acara Olimpiade Teater ke-6, di Dayin Theatre, Beijing, Tiongkok pada 7 dan 8 November 2014.

Under the Volcano kembali mengulang kesuksesan saat pementasan di TheatreWorks, Singapura, pada 21-23 April 2016. Yang terakhir, Under the Volcano juga ditampilkan pada perhelatan budaya Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) 2018, di Panggung Akshobya Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, 24 November 2018.

“Kami harap pertunjukan keempat ini dapat memperoleh apresiasi yang tinggi dari para penikmat seni serta memperkenalkan syair-syair lampau dan memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada generasi muda,” tutur Restu.

Pementasan Under the Volcano, di Ciputra Artpreneur Theater, 27 Agustus 2022. Foto: Bakti Budaya Djarum Foundation.

President Director Ciputra Artpreneur, Rina Ciputra Sastrawinata menyampaikan bahwa Ciputra Artpreneur memiliki misi untuk mengangkat kesenian dan kebudayaan Indonesia dengan menyediakan tempat pertunjukan yang memiliki standar Internasional.

Kelayakan ruang ini dirancang agar para seniman maupun kelompok seni seperti Bumi Purnati dan Komunitas Seni Hitam Putih Sumatera Barat bisa menampilkan hasil karyanya yang istimewa bagi publik.

Ciputra Artpreneur Theater menjadi salah satu teater di Indonesia yang berstandar internasional dengan kapasitas 1.141 kursi. Teater ini dilengkapi dengan tata suara kualitas terbaik dari Meyer MICA, serta memiliki kualitas tata pencahayaan, suara, dan akustik yang berstandar internasional.

Pementasan Under the Volcano, di Ciputra Artpreneur Theater, 27 Agustus 2022. Foto: Bakti Budaya Djarum Foundation.

Dengan kualitas ruang pertunjukan kelas internasional, Ciputra Artpreneur Theater telah menyelenggarakan pertunjukan Broadway pertama di Indonesia seperti Beauty and The Beast, dan pertunjukan lain seperti Shrek The Musical, Annie, Vienna Boys Choir, dan Shaolin Warriors.

“Kami juga sangat mendukung agar pertunjukan Under the Volcano kembali dihadirkan karena selain memiliki alur cerita yang menarik, pertunjukan ini menjadi salah satu pertunjukan yang memanjakan mata serta sarat akan pesan-pesan kemanusiaan. Semoga pertunjukan ini dapat menjadi sajian menarik bagi penikmat seni,” ujar Rina.

Pementasan Under the Volcano, di Ciputra Artpreneur Theater, 27 Agustus 2022. Foto: Bakti Budaya Djarum Foundation.

Sementara itu, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian menuturkan, Bakti Budaya Djarum Foundation dukungan terhadap beragam pementasan atau pertunjukan yang kental dengan kebudayaan Indonesia, seperti pementasan Under the Volcano merupakan komitmen mereka dalam menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap kekayaan dan keberagaman budaya tanah air.

“Selain menampilkan dan memperkenalkan budaya Minangkabau yang dikemas dengan sangat baik dan menarik, lakon Under the Volcano ini juga mengenalkan para penikmat seni dengan syair-syair lampau yang kaya akan nilai sejarah. Semoga lakon ini dapat menghibur dan menambah wawasan para penikmat seni, terutama generasi muda,” ucap Renitasari.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: