Tumpah Ruah Pecinta Jazz di Ngayogjazz 2022

Suasana Ngayogjazz 2022. Foto: Rayhadi/mikrofon.id.

Sepekan seusai gelaran festival jazz tahunan, Ngayogjazz, semarak kemeriahan acara ini masih terasa. Tengok saja unggahan insta stories di akun @ngayogjazz. Ribuan, atau mungkin puluhan ribu pecinta jazz yang hadir 19 November 2022, masih sulit move on dari malam minggu yang indah tersebut.

Kami berkesempatan mengunjungi Ngayogjazz 2022, di Desa Cibuk Kidul, Seyegan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Jauh dari kesan mahal, mewah, apalagi wangi, Ngayogjazz hadir sebagai alternatif yang tepat bagi pecinta jazz sungguhan!

Istimewanya lagi, gelaran pada 2022 ini Ngayogjazz kembali secara luring pasca Covid-19 mewabah. Pada 2020 dan 2021, festival ini digelar secara daring dan hybrid.

Suasana Ngayogjazz 2022. Foto: Rayhadi/mikrofon.id.

Tema “Kena Jazz, Tetep Bening Banyune” diusung untuk merespons kondisi sosial yang terjadi di masyarakat saat ini. Ngayogjazz mengajak para pecintanya untuk tetap berpikir jernih dalam bertindak atau mengambil keputusan.

“Harapannya agar kita semua dapat menjaga situasi dan kondisi senantiasa guyub dan rukun. Dan pastinya, agar kita bisa jamming bersama merayakan Ngayogjazz dengan hati yang gembira,” begitu keterangan resmi Ngayogjazz.

Mendekati usia ke-17, acara tahunan yang digelar di desa ini tidak berhenti untuk mengenalkan dan merespons jazz. Tak hanya itu, Ngayogjazz pun terus berkembang merespons kondisi terkini.

Suasana Ngayogjazz 2022. Foto: Rayhadi/mikrofon.id.

Ngayogjazz belajar untuk selaras seperti halnya musik jazz. Ada kesetaraan, interaksi, tenggang rasa, adaptif dan improvisasi secara organik dalam Ngayogjazz. Jazz sebagai laku hidup. Spirit ini yang diusung dalam pelaksanaan acara.

Di desa, semua belajar nge-jazz ala Ngayogjazz kepada warga. Sinergi antara jazz dan desa telah menciptakan harmoni yang sama dengan musik jazz. Kultur kehidupan di desa yang selaras antara manusia, budaya dan alam sama seperti jamming session dalam musik jazz honn.

Sedulur Jazz, sapaan akrab mereka untuk para tamu langganan selalu diundang untuk hadir bertamu ke desa setiap tahunnya. Menariknya, acara ini gratis alias tidak dipungut biaya bagi siapapun.

Ngayogjazz juga menghadirkan kesetaraan bagi seluruh Sedulur Jazz yang hadir, tanpa memandang alas kaki atau pakaian yang dikenakan. “Kabeh oleh melu guyup-e Ngayogjazz” (Semua boleh ikut guyubnya Ngayogjazz).

Suasana Ngayogjazz 2022. Foto: Rayhadi/mikrofon.id.

Enam Panggung

Desa Cibuk Kidul benar-benar dipoles menjadi area sirkus jazz yang liar. Enam panggung tersaji dengan tata letak yang mengharuskan pengunjung mengitari Kawasan Desa.

Keenam panggung tersebut antara lain: Panggung Cethul, Panggung Sepat, Panggung Sidhat, Panggung Welut, Panggung Tawes, dan Panggung Wader.

Suasana Ngayogjazz 2022. Foto: Rayhadi/mikrofon.id.

Yang lebih membingungkan lagi: susunan acara pada acara ini (dan Ngayogjazz versi sebelumnya) memungkinkan dua musisi favorit tampil bersamaan di dua panggung berbeda.

Sebut saja kehadiran Barry Likumahuwa Jazz Connection yang tampil di acara puncak Panggung Wethul, yang jam manggungnya berbarengan dengan Monita Tahalea di Panggung Sepat.

Memang tak sepenuhnya berbarengan, Monita tampil duluan. Namun di tengah penampilan Monita, Barry Likumahuwa memulai aksinya.

Suasana Ngayogjazz 2022. Foto: Rayhadi/mikrofon.id.

Bentrokan jam manggung lebih dari satu musisi ini menjadi sensasi tersendiri. Kita sebagai pengunjung seolah diharuskan pintar-pintar mengabadikan momen.

Apalagi jika kita hendak merekam aksi panggung musisi idola kita. Jika kita berdiam diri di satu panggung, mungkin kita akan mendapat posisi terdepan, namun sudah dipastikan kita kehilangan posisi terdepan di panggung lain dengan penampil berbeda.

Selanjutnya, keenam panggung Ngayogjazz ini hadir dengan jarak yang relatif berjauhan. Kita secara tidak langsung juga harus mengitari Desa Cibuk Kidul, digoda oleh sajian kuliner dan Pasar Jazz yang memeriahkan acara ini.

Suasana Ngayogjazz 2022. Foto: Rayhadi/mikrofon.id.

Jazz Sungguhan

Sebelum nama-nama besar seperti Monita Tahalea, NonaRia, atau Barry Likumahuwa lebih popular, (kendati mereka tak sepenuhnya dikenal karena karya-karya jazz-nya) manggung, kita justru disuguhkan pertunjukan jazz sungguhan. Beragam musisi lokal dan mancanegara bergantian membawakan komposisi yang memanjakan telinga ribuan penonton.

Nama-nama seperti KUA Etnika, Irsa Destiwi, Bonita, Sri Hanuraga, atau penampilan MLD Jazz Project, memeriahkan malam itu. Tentu, dengan jam manggung yang berdekatan atau berbentrokan, sehingga penonton bingung mau menyaksikan yang mana terlebih dulu.

Suasana Ngayogjazz 2022. Foto: Rayhadi/mikrofon.id.

Sejak dimulai pukul 13.00 WIB, komunitas jaz se-Nusantara hadir meramaikan keenam panggung Ngayogjazz. Mulai dari D’Fours & Will Star (Trenggalek Jazz Community), De Hope (Komunitas Jazz Jombang), Huaton Dixie, Kemisan Jazz (Komunitas Jazz Malang), Yohanes Gondo Trio, FjazzC-Team (Komunitas Jazz Surabaya), Gana Siddhi (Jes Udu Purwokerto), Rizky Dana Feat Blue Batik Replika (Pekalongan Jazz Society), Kencana Band (Komunitas Jazz Lampung) Andi Bayou Feat. Vika Rahmia, Enchante (Jazz Ngisoringin Semarang), Nona Sepatu Kaca (Komunitas Jazz Jogja), Treestone (Komunitas Jazz Jogja), sampai Mahakam Jazz River (Komunitas Jazz Samarinda).

Suasana Ngayogjazz 2022. Foto: Rayhadi/mikrofon.id.

Adapula ISI Yogyakarta Big Band , KopiJazz featuring Cendana Singers (Komunitas Jazz Kediri), Five in One (Komunitas Jazz Jogja), Syifa N Friends (Komunitas Jazz Jogja), Jazz Anak Nusantara (Komunitas Jazz Jogja), serta Alfado Jacob Trio (Solo Jazz Society) bergantian mengajak para penonton berdendang dengan jazz ala mereka.

Juga penampilan musisi internasional Nationaal Jeugd Jazz Orkest (NJJO) & Maarten Hogenhuis (Belanda) yang juga menghipnotis para penonton.

Suasana Ngayogjazz 2022. Foto: Rayhadi/mikrofon.id.

Dari keenam panggung, sajian di Panggung Welut-lah yang menjadi pembeda. Tak sekadar musik jazz, panggung ini juga menyajikan pertunjukkan kolaboratif dengan pendekatan musik etnik, tradisional, hingga elektronik. Beberapa nama mulai dari Cokekan – Karawitan Mudha Laras, Acapella Mataraman, Tari – Karawitan Mudha Laras, Sraddha Jalan Mulia Art Project, Ari Wvlv hadir di panggung ini.

Selain itu, arak-arakan Ngayogjazz 2022 serta seremonial pembukaan juga dihadirkan di panggung ini.

Suasana Ngayogjazz 2022. Foto: Rayhadi/mikrofon.id.

Peristiwa Budaya & Pemulihan Ekonomi

Festival jazz yang dihadirkan di tengah desa dengan segala kearifan lokalnya menjadikan Ngayogjazz bukan sekadar konser musik, melainkan juga menjadi peristiwa budaya penuh nilai. Makna dari tema Ngayogjazz 2022 diambil dari falsafah Jawa “Kena iwak-é, tetep bening banyuné” yang artinya menangkap ikannya tapi jangan membuat keruh airnya’.

“Falsafah yang kontekstual di jaman sekarang mengingat kita terkadang khilaf hanya mementingkan diri sendiri, tapi merugikan orang lain bahkan lingkungan sekitar. Tagline ini pun juga menjadi pengingat bagi penyelenggara Ngayogjazz sendiri agar tetap bisa mengadakan sebuah festival sekaligus tetap menjaga budaya dan tradisi yang sudah diwariskan,” begitu pernyataan resmi Ngayogjazz 2022.

Suasana Ngayogjazz 2022. Foto: Rayhadi/mikrofon.id.

Buat yang belum tahu, tempat acara di Padukuhan Cibuk Kidul terletak di Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan sebuah tempat yang indah berjarak kurang lebih 10 km dari pusat kota Yogyakarta. Desa ini merupakan desa dengan sumber air melimpah yang dimanfaatkan warganya untuk pertanian, kolam perikanan, dan juga program wisata.

Di Cibuk Kidul, para warga belajar nge-jazz ala Ngayogjazz. Sinergi antara jazz dan kearifan lokal diharapkan dapat menciptakan sebuah keharmonisan. Kehidupan yang selaras antara manusia, budaya, dan alam bagaikan sebuah jamming session dalam musik jazz.

Suasana Ngayogjazz 2022. Foto: Rayhadi/mikrofon.id.

Digelar perdana pascapandemi Covid-19, acara ini juga menjadi upaya pemulihan ekonomi bagi masyarakat di Padukuhan Cibuk Kidul sebagai tempat digelarnya acara. Rumah-rumah mereka disulap menjadi tempat berjualan makanan, minuman, serta oleh-oleh Ngayogjazz 2022.

“Ciri khas dari dulu sampai sekarang digelar beda dengan konser-konser lain. Bukan di gedung tapi di desa yang masih ada sawah-sawah, rumah-rumahnya. Menikmati jazz di tengah penduduk,” ujar Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa saat membuka Ngayogjazz 2022.

Suasana Ngayogjazz 2022. Foto: Rayhadi/mikrofon.id.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharja mengatakan melalui Ngayogjazz 2022 akan terbentuk sebagai ekosistem desa yang terbiasa kedatangan wisatawan. Menurutnya di Ngayogjazz 2022 ekosistem desa tidak luntur meski ada event besar.

“Dari sektor ekonomi kreatif potensi luar biasa, UMKM bisa diangkat rasakan signature di Cibuk Kidul. Terima kasih pada panitia yang telah selenggarakan event ini,” ujarnya.

Ia berharap walaupun kini sudah menjelma menjadi acara besar, Ngayogjazz tetap mempertahankan lokalitas budaya serta ciri khasnya, sehingga para pengunjung dapat menikmati ciri tersebut sebagai pertunjukkan musik yang sulit dijumpai di festival manapun.

Suasana Ngayogjazz 2022. Foto: Rayhadi/mikrofon.id.

Panduan Nonton Ngayogjazz Tahun Depan

Di akhir sesi sebelum pamitan, para pembawa acara dan tentunya ribuan penonton yang hadir berharap Ngayogjazz tetap digelar setiap tahunnya. Selain temu rindu para pecinta musik jazz, sesi tur desa yang menjadi bagian dari konsep pertunjukkan mereka adalah satu hal yang paling dinantikan.

Digelar di sepertiga akhir November setiap tahunnya, Ngayogjazz dari tahun ke tahun menawarkan pengalaman menonton konser yang tak biasa. Jika beruntung seperti edisi 2015, 2016, 2018, atau mungkin tahun ini, kamu bisa menyaksikan pertunjukkan ini di tengah cuaca yang cerah.

Suasana Ngayogjazz 2022. Foto: Rayhadi/mikrofon.id.

Namun, bisa jadi juga kamu menyaksikan pertunjukkan ini di tengah cuaca hujan atau dengan suasana desa dengan tanah yang licin sehabis hujan.

Maka dari itu, sandal yang nyaman, pakaian yang bersahabat, serta persiapan membawa mantel adalah perlengkapan wajib yang perlu kamu bawa. Tak perlu membawa terlalu banyak barang.

Cukup bawa ponsel atau kamera saku jika hendak mengabadikan pertunjukkan ini sebagai penonton. Sebab, rasa khidmatmu menikmati jazz akan berkurang jika membawa terlalu banyak peralatan.

Akhirnya, Ngayogjazz 2022 berakhir pukul 23.30 dengan harapan besar seluruh pemirsa yang hadir; sampai jumpa di Ngayogjazz 2023!***

Profil Penulis

Suka menulis, musik, fotografi, bengong, menyendiri, dan lihat pohon. Pernah keluar tidak baik-baik dari salah satu perusahaan media beken di Jakarta lalu di-doxing setelahnya. Pernah diolok-olok geng ibu-ibu wellness di Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: