mikrofon.id

Trajectory of Existential Memory, Kenangan Berlapis dalam Seni Cetak Grafis

Seniman Jumaldi Alfi menggelar pameran tunggal bertajuk “Trajectory of Existential Memory,” di Galeri Ruang Dini, Bandung, 8 – 24 April 2022. Foto: Galeri Ruang Dini.

MIKROFON.ID – Tawaran residensi bersama The Singapore Tyler Print Institute (STPI) pada tahun 2010 silam, membuat Jumaldi Alfi seolah-olah ‘dipertemukan kembali’ dengan hasrat dan memori masa lalunya untuk mempelajari seni cetak grafis.

Melalui Pameran ‘Trajectory of Existential Memory’, Galeri Ruang Dini Bandung berkesempatan untuk memamerkan sepilihan hasil karya cetak grafis yang dihasilkan selama program residensi seniman di STPI tersebut, pada 8-24 April 2022.

Kumpulan karya cetak grafis ini menjadi bentuk refleksi eksistensi hidup Alfi melalui lintasan rekoleksi memori yang ia miliki.

Sebagai seorang individu kreatif, Alfi biasa ‘memanggil’ kembali pengalaman hidupnya untuk memetakan arah atau sekadar mengekspresikan emosi yang tersimpan dalam memorinya.

Alfi mengekspresikan memori dengan menggambarkan citraan perasaan atau pengalaman yang ia ingat dalam pikirannya.

Dalam catatan Ruang Dini, Alfi mengakui bahwa titik pijakannya dalam berkarya memang berangkat dari pengalaman personal juga spiritualnya. Ia menjadikan proses mengingat ini sebagai bentuk refleksi diri atas esensi-esensi yang diekstraksi dari memori atas fenomena serta pengalaman yang dihadapi, termasuk abstraksi spiritualitas dan eksistensi diri.

Meskipun karya-karya yang dipamerkan dalam pameran Trajectory of Existential Memory ini merupakan hasil dari cetak grafis, ia tetap berupaya untuk mendokumentasikan perjalanan estetisnya selama ini lewat media lukis, yang turut membawanya ke berbagai pameran di berbagai negara.

Karya-karya Alfi identik dengan citraan lapisan-lapisan dan beragam elemen visual yang selama ini juga selalu muncul dalam karya lukisnya.

Lapisan-lapisan ini hadir sebagai untaian dari setiap memori, rekoleksi, sekaligus kenangan yang ia miliki.

Boleh dibilang, karya-karya yang disuguhkan Alfi menjadi semacam jejak psikologis atas pengalaman dan esensi dalam hidupnya, dan hal ini termanifestasi dalam bentuk citraan yang boleh jadi melampaui batas kesadaran.

Dalam berkarya, Alfi seperti berupaya untuk menghindari kejelasan bentuk serta tatanan, dan hal ini ada keterkaitannya dengan kesadaran dirinya sebagai manusia.

Elemen-elemen visual yang muncul memberikan kesan acak seperti garis-garis, goresan tulisan dan kutipan; juga citraan lain seperti figur dan bagian tubuh manusia, tengkorak, bebatuan, ataupun kaktus.

Seniman Jumaldi Alfi menggelar pameran tunggal bertajuk “Trajectory of Existential Memory,” di Galeri Ruang Dini, Bandung, 8 – 24 April 2022. Foto: Galeri Ruang Dini.

Citraan yang ada dalam karyanya boleh jadi tidak diperhitungkan terlebih dahulu, melainkan hadir secara spontan.

Citraan ini dapat diargumentasikan sebagai produk dari ketidaksadaran yang tergambar, baik dalam memori maupun mimpi.

Hal tersebut membuat citraan elemen-elemen visual yang ia tuangkan dalam kekaryaannya dapat hadir tanpa pretensi.

Contohnya dalam seri karya “Renewall” dan “Reborn”. Berangkat dari latar belakang budaya dan memori atas pengalaman personalnya, konsep kematian (juga kehidupan) memiliki ruang dalam memori Alfi.

Dalam karya ini ia memunculkan citra tengkorak. Ia pun mengakui bahwa keberadaan spiritualisme cukup memengaruhi prosesnya dalam berkarya.

Dalam konsepsi spiritual budaya Timur, kematian bukanlah tanda dari keberakhiran melainkan suatu permulaan baru.

Seniman Jumaldi Alfi menggelar pameran tunggal bertajuk “Trajectory of Existential Memory,” di Galeri Ruang Dini, Bandung, 8 – 24 April 2022. Foto: Galeri Ruang Dini.

Kesadaran ini terwujud melalui karya “Renewall” dan “Reborn” yang diasosiasikan sebagai suatu siklus kehidupan.

Dari konsepsi kematian pada “Renewall” dan “Reborn”, memori pun kembali memainkan peranannya dalam membentuk eksistensi seorang individu.

Alfi sendiri meyakini bahwa jasad seseorang boleh jadi telah tiada, namun jiwa dan kehidupannya tak akan pernah berakhir, baik secara spiritual maupun pemikiran. Hal ini tentu tidak terlepas dari eksistensi memori.

“Keberadaan jiwa seseorang bisa jadi panjang, tergantung apa yang kamu lakukan semasa hidup (juga orang-orang yang mengingat pengalaman hidupmu di masa lalu),” ujar Alfi.

Seniman Jumaldi Alfi menggelar pameran tunggal bertajuk “Trajectory of Existential Memory,” di Galeri Ruang Dini, Bandung, 8 – 24 April 2022. Foto: Galeri Ruang Dini.

Dalam karya “Melting Memories”, Alfi pun memastikan bahwa memori atas masa lalu tidak akan pernah bisa hilang seberapa keras kita berusaha melupakannya.

Perasaan yang dulu sempat mengepung dapat kembali muncul sewaktu-waktu. Ingatan atas yang terjadi tiga puluh tahun lalu, bisa berkesan baru terjadi di hari kemarin.

Alfi mengakui bahwa perasaan kehilangan, ketakutan, serta kesepian masih membekas dan terekam dalam pikiran, atau bisa pula muncul dalam bentuk mimpi buruk.

Terlepas dari citraan kolase elemen-elemen yang ada, karya visual Alfi seolah-olah ditarik oleh esensi perasaan sunyi, seperti yang terlihat pada karya “Father and Son” dan “I Know the Moment Has Arrived”.

Seniman Jumaldi Alfi menggelar pameran tunggal bertajuk “Trajectory of Existential Memory,” di Galeri Ruang Dini, Bandung, 8 – 24 April 2022. Foto: Galeri Ruang Dini.

Sebagai seorang anak yang terikat pada budaya matrilineal terbesar di dunia yakni Suku Minangkabau, menjadikan keberadaan Ibu sebagai figur dominan dalam keluarga Alfi.

Kondisi ini secara langsung memengaruhi kesenjangan relasi emosional antara ia sebagai seorang anak, dengan ayahnya.

Tumbuh besar di tanah Jawa pun menghadapkan Alfi pada situasi paradoksal; di mana terdapat distingsi antar pola budaya dominan di sekelilingnya—yakni figur ayah yang menjadi sentral dalam keluarga— dengan praktik budaya di rumah tempat ia tumbuh.

Hal ini membuat rasa ingin untuk memiliki kedekatan emosional dengan sang Ayah tak dapat tercapai karena batasan budaya keluarga yang terbangun.

Ikatan emosional yang hilang dengan figur ayah ini, Alfi citrakan dalam bentuk dua batu yang berjarak—di mana simbolisme citraan batu merepresentasikan dua jiwa yang keras hati.

Koneksi yang hilang di masa lalunya ini meninggalkan bekas rasa hampa dan sunyi dalam memori Alfi dan kemudian ia tuangkan pada karya “Father and Son”.

Seniman Jumaldi Alfi menggelar pameran tunggal bertajuk “Trajectory of Existential Memory,” di Galeri Ruang Dini, Bandung, 8 – 24 April 2022. Foto: Galeri Ruang Dini.

Karya “I Know the Moment Has Arrived” pun menceritakan kisah tentang kesunyian yang serupa. Karya ini lagi-lagi seperti membawa Alfi ke memori masa lalu; saat ia sempat mengalami disorientasi atas realitas di sekelilingnya.

Alfi mengatakan bahwa semasa kecil ia sempat mengalami pengalaman dekat dengan kematian. Memori atas pengalamannya ini secara langsung mengubah kesadaran Alfi sebagai seorang individu yang eksis.

Ia seolah-olah dibawa masuk ke dalam domain jiwa dan mental yang lain, dan dihadapi pada pengalaman di luar ketubuhannya—hingga pada akhirnya perasaan terlepas dari kehidupan ini menghantarkan Alfi pada medan lain yang dipenuhi oleh kesunyian.

Di balik kesan ingatan gelap dalam “I Know the Moment Has Arrived”, Alfi justru kembali merefleksikan eksistensi hidupnya.

Judul karya yang merujuk pada kutipan lagu “Coming Back to Life” dari band psychedelic rock kesukaannya, Pink Floyd, itu membentuk pandangan bahwa meskipun memori atas pengalaman yang ia miliki sempat menggoyahkan kesadaran dan eksistensinya, pada akhirnya ia tetap bertahan dan kembali menghidupi hidupnya.

Melalui pameran Trajectory of Existential Memory, seri karya-karya yang Alfi ciptakan menjadi semacam bentuk refleksinya atas realitas personal dan faktisitas pengalaman masa lalu, ketika memori memainkan peranan dominan dalam membentuk kesadaran.

Seniman Jumaldi Alfi menggelar pameran tunggal bertajuk “Trajectory of Existential Memory,” di Galeri Ruang Dini, Bandung, 8 – 24 April 2022. Foto: Galeri Ruang Dini.

Dari catatan Galeri Ruang Dini, Jumaldi Alfi merupakan salah satu seniman paling dinamis dan berpengaruh di kancah seni rupa kontemporer Indonesia saat ini.

Alfi mendapat perhatian internasional di akhir 90-an sebagai salah satu anggota pendiri kelompok seni Jendela yang berpengaruh, yang fokus pada eksplorasi estetika dan material dalam wilayah yang lebih formalis dan pribadi memperkenalkan dinamika baru ke dunia seni rupa kontemporer Indonesia.

Alfi secara khusus dikenal karena ikonografi pribadinya yang menarik tentang tanda-tanda visual, yang mencerminkan pengalaman eksistensial dan spiritual pada tingkat individu dan kolektif.

Alfi tinggal dan bekerja di Yogyakarta, Indonesia dan telah banyak mengadakan pameran di Indonesia maupun internasional.

Pendidikan

2018 Artist in Residence, Project Eleven with Victoria College of The Arts (VCA), Melbourne

2010 Artist in Residence, STPI (Singapore Tyler Print Institute), Singapore

1999 Indonesian Institute of Fine Arts (ISI, Institut Seni Indonesia) Yogyakarta,Indonesia

1993 Indonesian High School of Arts (SMSR), Yogyakarta, Indonesia

Pameran Tunggal

2020 Footnote, SaRanG Building, Yogyakarta, Indonesia

Digital Spiritualism, SaRanG Building, Yogyakarta, Indonesia

2018 Blackboard Paintings, LATAR, Jakarta, Indonesia

2016 Sanata Dharma University Gallery, Yogyakarta, Indonesia

2014 Myth Sisyphus, Art Basel Hong Kong with Edwin’s Gallery, Hong Kong, China Melting Memories/Rereading

Landscape, Mooi Indies, ARNDT Gallery, Singapore

2013 Jumaldi Alfi’s, Blackboard Paintings, Primo Marella Gallery, Milan, Italy Re-PLAY #3, Jumaldi Alfi, OFCA International, Yogyakarta, Indonesia

2012 Asian One, Art Hong Kong with Sin Sin Gallery, Hong Kong, China

2011 Melting Memories #2, Nadi Gallery, Jakarta, Indonesia Nightswimmer, Metis Gallery, Amsterdam, The Netherlands Melting Memories, STPI (Singapore Tyler Print Institute), Singapore

Baca Juga: Kolcai Bandung Menyingkap Keelokan Rumah Jagal RPH Ciroyom

2010 Life/ Art #101: Never Ending Lesson, Sangkring Art Space, Yogyakarta, Indonesia Life/ Art #101: Never Ending Lesson, Valentine Willie Fine Art, Kuala Lumpur, Malaysia

2008 Color Guide Series, Nadi Gallery, Jakarta, Indonesia

2006 Alfi, iPreciation Fine Art Gallery, Singapore

2003 Cover, Centre Culturel Français, Yogyakarta, Indonesia Current Trend, Regent Hotel, Jakarta, Indonesia

2001 Alfi-Lukis, Lontar Gallery, Jakarta, Indonesia Derau-Noise, Bentara Budaya Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia

2003 Cover, Centre Culturel Français, Yogyakarta, Indonesia Current Trend, Regent Hotel, Jakarta, Indonesia

2001 Alfi-Lukis, Lontar Gallery, Jakarta, Indonesia

Derau-Noise, Bentara Budaya Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia

1998 Rekonstruksi, Aikon, Yogyakarta, Indonesia

Group Exhibitions (Selected)

2021 Influx : Inauguration, Ruang Dini, Bandung, Indonesia

Twentyfive, Gajah Gallery, Yogyakarta, Indonesia

KSRJ (Kelompok Seni Rupa Jendela), Art Basel HK,Gajah Gallery Yogya Annual Art #6, Sangkring Art Space, Yogyakarta Indonesia Verstige, Group Exhibition, Sri Sasanti Syndicate, Yogyakarta, Indonesia Daya Hidup, Museum dan Tanah Liat, Yogyakarta, Indonesia

2020 ArtJog 2020 : Resilience, Jogja National Museum, Yogyakarta, Indonesia (Re) Imagining The Image, Gajah Gallery, Singapore

Roots #1, Bilai Art Space, Yogyakarta, Indonesia

Oppo Virtual Art Jakarta, Facade Gallery, Jakarta, Indonesia

Pameran Amal Covid-19, Padepokan Seni Bagong Kussudiardja

Pause, Rewind, Forward #1,

Kiniko Art Room, Yogyakarta, Indonesia PRASIDHA 93,Visual Art Exhibition,

Kiniko Art Room, Yogyakarta, Indonesia

2019 Recent Works, Cult Gallery, Kuala Lumpur, Malaysia

Mind, Kiniko Art Room, Jogjakarta, Indonesia

80 Nan Ampuh, Kiniko Art Room, Jogjakarta, Indonesia

Bebas, Sakato Art Community, Jogja Gallery, Yogyakarta, Indonesia Representasi 3, Pendopo Art Space,

Yogyakarta, Indonesia Incumbent, Sangkring Art Space, Yogyakarta, Indonesia

Art Jakarta, Rachel Gallery, Jakarta, Indonesia

2018 Art Taipei DangDai, Roh Project, Taiwan

Bakaba #7, Sakato Art Community, Jogja Gallery, Indonesia Skectches & Drawing, LATAR, Jakarta, Indonesia

Redraw III, UGAHARI, Edwin’s Gallery, Indonesia September Art Project, Malang, Indonesia

Kiniko Art Project, Kiniko Art Management, Yogyakarta, Indonesia

Art Jakarta, Edwin’s Gallery, Indonesia

Prisoner Of Hope, 100Years Hendra Gunawan, Ciputra Artpreneur, Jakarta, Indonesia PostFEst2018, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Indonesia

2017 Art Stage Singapore with Nadi and Edwin’s Gallery, Singapore

WRITTEN IN THE SKY with Honold Fine Art, TONYRAKA Art gallery, Bali Alfi, Zakii, Jai, Cult gallery, Kuala Lumpur, Malaysia

Art Stage Jakarta with Edwin’s and Rachel gallery, Jakarta

CELEBRATING DIVERSITY, LATAR, Jakarta, Indonesia

LINKAGE 20th OHD Museum, Magelang, Indonesia

Seninjong, Pelataran Djoko Pekik, Yogyakarta, Indonesia

Suka Pari Suka, Pelataran Djoko Pekik, Yogyakarta, Indonesia

Pink Project #3, Kiniko Art Management, Yogyakarta, Indonesia

BAKABA #6, organized by sakato art community, Yogyakarta, Indonesia

2016 Ritiro, Kayu curated by Lucie Fontaine, Chicken Church, Magelang, Indonesia

Ritiro, Kayu curated by Lucie Fontaine, Rumah Wayang Topeng, Ubud, Bali, Indonesia Art Taipei with Edwin’s gallery, Taipei, China

Follow the White Cube, Honold Fine Art gallery, Bisma Eight, Ubud, Bali, Indonesia Bazaar Art Jakarta with

Edwin’s gallery, Jakarta, Indonesia

Artists’ Engagement with Art History, YOS Yogyakarta Open Studio, Yogyakarta, Indonesia

Poetical State of Mind. Jumaldi Alfi, Yusra Martunus, Handiwirman Saputra. NAFA galleries, Singapore

South East Asia Triennale Plus, National Gallery of Indonesia, Jakarta, Indonesia

The Sea is Calling, Honold Fine Art gallery, Bisma Eight, Ubud, Bali, Indonesia

The Fundamentals in Art, Part 1: Figure, ARNDT Gallery, Singapore

At the Still Point, curated by Tony Godfrey, LAF, Yogyakarta, Indonesia

Bakaba #5, organized by Sakato Art Community, Jogja Gallery, Yogyakarta, Indonesia Art Basel Hong Kong with Nadi Gallery, Hong Kong, China

Redraw II: Discovery, Edwin’s Gallery, Jakarta, Indonesia

2015 70 Years Republic of Indonesia, curated by Jim Supangkat, National Gallery of Indonesia, Jakarta, Indonesia

Don’t Shoot the Painter, UBS Collection exhibition, Villa Reale, Galleria d’Arte Moderna, Milan, Italy

Six Degrees of Separation, Canna Gallery, Jakarta, Indonesia

Pameran Dies Natalis, ISI Gallery, Yogyakarta, Indonesia

Archive, Yogyakarta Open Studio #3, OFCA International, Yogyakarta, Indonesia Randang dan Rendang,

Bakaba #4, organized by Sakato Art Community, Jogja Gallery, Yogyakarta, Indonesia

Medium of Living, Martell 300 Tricentennaire exhibition, Edwin’s Gallery, Jakarta, Indonesia Art Basel Hong Kong with ARNDT Gallery, Hong Kong, China

Art Stage Singapore with ARNDT Gallery, Singapore

20+2 Years Anniversary Show, ARNDT Gallery, Singapore

2014 Hospitality, Berlin Open Studio #1, Studio Fendry Ekel, Berlin, Germany

International Relation, Yogyakarta Open Studio #2, OFCA International, Yogyakarta,Indonesia

Intersection: Latin America and South East Asian Contemporary, Sangkring Art Space, Yogyakarta, Indonesia

Intersection: Latin America and South East Asian Contemporary, Gajah Gallery, Singapore and Galeria Habana, Havana, Cuba

Art Stage Singapore with ARNDT Gallery, Singapore

Pameran Fiesta Kota Tua, Jakarta, Indonesia

Art Basel Hong Kong with Nadi Gallery, Hong Kong, China

Kini. Bakaba #3, organized by Sakato Art Community, Jogja Gallery, Yogyakarta, Indonesia

2013 Map of Association, Yogyakarta Open Studio #1, OFCA International, Yogyakarta, Indonesia

Peristiwa Sebuah Kelas, Forum Ceblang Ceblung, Sangkring Art Space, Yogyakarta, Indonesia Istanbul Art

Fair with Yavuz Fine Art, Istanbul, Turkey

Pameran Seni Rupa di Rumah Warga, 8th Anniversary Jatiwangi Artfactory, Majalengka, Indonesia

10 Years After, Sin Sin Gallery, Hong Kong, China

Jiwa Ketok dan Kebangsaan, National Gallery of Indonesia, Jakarta, Indonesia

Non Ekspresi, Surakarta, Indonesia

Kindred By Choice (w. Martin Kippenberger, Fendry Ekel, Andy Warhol, Entang Wiharso and Daniel Richter),

ARNDT Gallery, Singapore ART JOG, Taman Budaya Yogyakarta

Me, Jumaldi Alfi and Heri Dono, Art Basel Hong Kong with Edwin’s Gallery, Hong Kong, China

Prague Biennale 6, Prague, Czech Republic

Art13, London’s Global Art Fair with Primo Marella Gallery, London, United Kingdom

Indonesian Pavilion, Art Stage Singapore, Singapore

Weight of History. The Collectors Show, Singapore Art Museum, Singapore

2012 The Window of Jendela, OHD Museum, Magelang, Indonesia A Sign of Absence, Edwin’s Gallery, Jakarta,

Indonesia Earthly Evocation, Sin Sin Gallery, Hong Kong, China

2×2, Eilleen Kaminsky Foundation, New York

Estate, curated by Lucie Fountain, Marianne Boesky Gallery, New York Yogyakarta – 5 Artists From

Indonesia, Marc Straus Gallery, New York Reclaim.doc, Gallery Nasional, Jakarta

Legacy, Esa Sampoerna Art Museum, Surabaya – Indonesia

2011 Documenting Now: Person to Person, UPT Gallery, Yogyakarta – Indonesia Back to the Future, Sangkring

Art Space, Yogyakarta – Indonesia

ARTJOG, Yogya Art Fair, Yogyakarta – Indonesia

Homo Ludens, Emmitan Gallery, Surabaya – Indonesia

Bayang, the National Gallery of Indonesia, Jakarta

Hong Kong International Art Fair (ART HK 11)”, with Nadi Gallery, Hong Kong Art Stage Singapore 2011,

Gajah Gallery; STPI, Singapore

Art Amsterdam, Metis Gallery, Amsterdam

2010 The Show Must Go On, celebrating the 10th anniversary of Nadi Gallery, the National Gallery of Indonesia, Jakarta

Unity: The Return to Art, Wendt Gallery, New York

Hong Kong International Art Fair (ART HK 10)”, Nadi Gallery, Hong Kong

Homo Ludens, Emmitan Gallery, Surabaya – Indonesia

Space and Image, Ciputra World Marketing Gallery, Jakarta

Transfiguration, Jakarta Art District, Jakarta

Masih Ada Gus Dur, Langgeng Gallery, Magelang, Yogyakarta – Indonesia Bakaba, Sakato Art Community,

Jogja National Museum, Yogyakarta – Indonesia

2009 Biennale Jogja X 2009, Sangkring Art Space II, Yogyakarta – Indonesia Kado #2, Nadi Gallery, Jakarta

Two Sides of Solitude: Jumaldi Alfi and Andy Dewantoro, Garis Art Space, Jakarta Diverse – 40 x 40: Andy

Dewantoro, Jumaldi Alfi, Nasirun, Sin Sin Fine Art, Hong Kong

2nd Odyssey, Srisasanti Gallery, Yogyakarta – Indonesia

Reach for the Heart, Sin Sin Fine Art, Hong Kong

Awareness, Indonesian Art Today, Canvas International Art, Amsterdam

The Topology of Flatness, Edwin Gallery, Jakarta

In Rainbow, Esa Sampoerna Art House, Surabaya – Indonesia

Shanghai Art Fair, Nadi Gallery, Shanghai, China

Hong Kong International Art Fair (ART HK 09), Nadi Gallery, Hong Kong

Jendela – A Play of the Ordinary, NUS Museum, Singapore

Friendship Code, Syang Art Space, Magelang – Indonesia

2008 Ruang dan Waktu, V’art Gallery, Yogyakarta – Indonesia

Expose #1 – A Presentation of Indonesian Contemporary Art by Deutsche Bank & Nadi Gallery, Four Seasons Hotel, Jakarta

Alfi Painting Series & Handiwirman Saputra: Exterior, Inside View—Interior, Outside View, ShContemporary

08, organized by Nadi Gallery, Jakarta Manifesto, the National Gallery, Jakarta

CIGE 2008 (China International Gallery Exposition), Nadi Gallery, Beijing

A Slice Indonesian Contemporary Art, Soka Contemporary Center, Beijing

Indonesian Invasion, Sin Sin Fine Art, Hongkong

Tribes _ Group 3, Sin Sin Fine Art, Hongkong

2007 Shanghai Art Fair, Langgeng Gallery, Shanghai

Cilukba!/Peekaboo!, KSRJ (Kelompok Seni Rupa Jendela), Valentine Willie Fine Art, Kuala Lumpur Fetish

Part I, Biasa Gallery, Seminyak, Bali

Indonesia Time, V-Art Gallery, Yogyakarta – Indonesia

IVAA book aid vol. 01/07, Nadi Gallery, Jakarta

Common Grounds, A glimpse of Indonesian contemporary art, Gallery Nasional, Jakarta Contemporary

Indonesian Art Now, Nadi Gallery, Jakarta

2006 ICON: Retrospective, Jogja Gallery, Yogyakarta – Indonesia Tobacco Wedding and Art, Magelang – Indonesia

2005 Oven View, Biasa Gallery, Seminyak, Bali – Indonesia

Beauty and Terror, Loft Gallery, Paris, France

Indonesian Contemporary Art, iPreciation, Singapore

Re-Reading Landschaap, Sakato Group, Nadi Gallery, Jakarta

The Ordinary, KSRJ (Kelompok Seni Rupa Jendela), Nadi Gallery, Jakarta Urban Culture, CP. 2nd Biennale,

Museum Bank Indonesia, Jakarta

2004 Multi Sub Culture, Berlin

Wings of Words, Studio Budaya and Langgeng Gallery, Magelang – Indonesia

Behind the Concept, Gaya Fusion Gallery, Bali – Indonesia

ARTSingapore 2004, Sun Jin Gallery, Suntec City, Singapore

Mempertimbangkan Tradisi, Sanggar Sakato, Gallery Nasional, Jakarta

Barcode, 16th FKY (Yogyakarta Arts Festival), Taman Budaya, Yogyakarta – Indonesia Get the Book!!!, Fund

Raising, KKF, Yogyakarta – Indonesia

2003 Read Art Project, Cemeti Art House, Yogyakarta – Indonesia

Read Art Project, UGM Library, Yogyakarta – Indonesia

No Body, MonDecor Gallery, Jakarta

Borobudur, Borobudur International Festival 2003, H. Widayat Museum, Magelang – Indonesia Bazart, 15th

FKY, Benteng Vredeburg Museum, Yogyakarta – Indonesia Membaca Ruang-Ruang, Muara Art House,

Yogyakarta – Indonesia

Exploring Vacuum I, Cemeti Art House, Yogyakarta – Indonesia Drawing, Sanggar Dewata Indonesia,

Yogyakarta – Indonesia Interpellation, CP Open Bienalle, Gallery Nasional, Jakarta 10th Indonesian Art Awards, ASEAN Building, Jakarta Infatuated, Sun Jin Gallery, Singapore

Passion: Etno Identity, Shanghai; Beijing; Jakarta 

Penghargaan

2003 Finalist of the 10 th Indonesian Art Awards

1998 The Best Painting Awards, Indonesian Institute of Arts (ISI), Yogyakarta – Indonesia Finalist of the 5 th Indonesian Art Awards.***

Tinggalkan Balasan

Back to top
%d blogger menyukai ini: