mikrofon.id

The Kitty Story, Lagu Ramah Anak yang Disuntik Kpop, Rock, Hingga Metal

MIKROFON.ID – The Kitty Story dibentuk di Bandung, 2017. The Kitty Story berisi Yuki Yuki Yuliawan, dan anaknya, Sang Pelantang Lirik, Ziana Levy, yang berusia 8 tahun.

Sejak awal kemunculannya, The Kitty Story dikenal tema sederhana yang berkisah tentang keseharian anak wanita bersama ayahnya.

Levy besar dengan musik-musik Kpop, meski belakangan ia banyak bergairah dengan Foo Fighters, Seringai, hingga Slipknot.

Namun, sama dengan beberapa rilisan single sebelumnya, lagu-lagu yang diciptakan The Kitty Story tergolong ramah anak.

Memang, dibandingkan lagu anak lainnya, The Kitty Story melakukan pendekatan berbeda. Boleh jadi lagu-lagu yang telah dibuat mampu disukai orang dewasa.

Yuki sengaja membebaskan genre yang ditawarkan dalam musik The Kitty Story. Bahkan, beberapa kali banyak eksplorasi tanpa terpenjara satu atau dua aliran musik.

Single perdana berkisah tentang kucing “Joey the Cat” yang dilansir 2019 misalnya, The Kitty Story menuangkan unsur rock ala Seattle. Dengan lirik berbahasa Sunda, Levy dibiarkan melepas gaya nge-rap sebagai penguat karakter vokalnya yang imut.

Pada lagu “Jalan-Jalan” sebagai bagian dari EP “Based on True Story” di tahun yang sama, The Kitty Story malah memberikan lagu penuh nuansa ska, dengan isian terompet mengarah irama tradisional Sunda.

Yang terbaru, mereka merilis single “Dua”. Raungan distorsi gitar dengan rasa rock mendorong kemerdekaan suara Levy, yang lantang meneriakkan setiap lirik.

Meskipun lirik dirancang “ramah anak”, proyek duo ayah-anak ini digarap sungguh serius. Hadirnya gitar solo setelah chorus menjadikan “Dua” makin liar.

Lompatan chord disusun tak rumit agar iringan drum mampu mengurung musik semakin energik. Dengan tempo cukup cepat, lagu ini menawarkan pembangkit mood di saat suasana sedang layu.

All Genre

Dalam proyek ini, peran Yuki tentu yang paling utama. Yuki yang menulis lagu dan menjadi produser musik The Kitty Story.

Pria kelahiran Bandung, 21 Juli 1986 itu pernah mengisi band Dinning Out dan berperan dalam mini albumnya pada 2008. Untuk banyak isian The Kitty Story, Yuki mengaku banyak dipengaruhi musik edaran 90an, mulai punk, rock, hardcore, metal, hingga blues.

Yuki menceritakan, Levy besar layaknya anak perempuan lain yang nge-klik dengan lagu Top 40 terkini, atau Kpop. Namun, awal keinginan Levy membuat album karena mendengar banyak pengaruh dari Slipknot, Foo Fighters, hingga Billfold dan Seringai.

Seiring waktu, Levy mulai menjejali kupingnya dengan warna-warna rock gaya Seattle seperti Pearl Jam hingga Alice in Chains.

Yang jadi masalah, rekaman perdana dimulai saat Levy berusia 5 tahun. Di tengah masa usia manja dan mudah teralihkan, cukup makan tenaga bagi Yuki untuk membujuknya tetap konsisten.

“Awal rekaman Levy masih umur 5 taun. Proses rekamannya seminggu, sebait. Sambil harus dibujuk Lego atau mainan lain,” kata Yuki, kepada mikrofon.id, Minggu, 1 November 2020.

Rupanya, lagu-lagu The Kitty Story cukup menarik minat, termasuk dari kalangan dewasa. Di tengah pandemi, vokalis Rosemary, Indra Gatot memilih single “Stay at Home” milik The Kitty Story, yang menceritakan situasi saat wabah Covid-19 untuk dijadikan materi proyek solo miliknya.

Tak hanya kesenangan bagi Levy, keberadaan The Kitty Story juga menjadi keinginan Yuki, yang memang menempatkan posisi sebagai ayah yang menjadi teman dekat Levy.

Project ini sebenernya project impian. Untungnya dimudahkan pisan, karena Levy seneng banget musik,” tutur Yuki.***

Tinggalkan Balasan

Back to top
%d blogger menyukai ini: