Tesla Manaf: Kuntari, Larynx, dan Jalur Terjal Musik Eksperimental

Bersama moniker Kuntari, Tesla Manaf terus melenggang melalui karya musik eksperimental, menanggalkan pencapaian tertinggi lewat 12 album (termasuk label asal New York), panggung 12 negara, dari 10 tahun lebih di dunia jazz.

Keseriusan Tesla di arena bebunyian khas ini hadir lewat album Kuntari terbaru, Larynx, melengkapi tiga album dan EP musik eksperimental yang telah diinisiasi sejak 2020.

Album ini diperkenalkan pertama kali lewat label penghimpun karya musik eksperimental Yes No Wave pada pertengahan tahun 2022. Di akhir 2022, label Grimloc Records dan Disaster Records menambah traksi perluasan karya Kuntari lewat CD dan audiens yang lebih luas.

Dalam Larynx, Tesla seakan menampilkan sajian orkestra dalam lagu-lagunya. Dinamika presentasinya begitu kentara. Penempatan instrumen yang tepat mampu menghantarkan dinamika ritmik bebunyian mengalir kompak, menuju penutup yang bakal melekat pada memori audiens di setiap panggung.

Bunyi baru ini diciptakan oleh duo drum-perkusi dan cornet-gitar. Kepaduan Tesla dengan Rio Abror begitu erat, dengan menghasilkan banyak variasi ritme yang berat.

Larynx berpadatkan pengembangan selama hampir 2 tahun dengan melibatkan penelitian di berbagai tempat; mengabaikan not, dilatari suara perkusi dalam suasana gelap.

Komposisi Larynx ini merupakan hasil pematangan ide dan konsep eksperimental selepas masa-masa musik elektronik Tesla. Akan tetapi, Larynx bisa dibilang lompatan jauh Tesla, merentang dari konsep album Last Boy Picked yang dilansir 2020 sekalipun.

Sejumlah unsur semacam bebunyian sebentuk gema di lubang, hingga nuansa etnik, alam liar, dan lolongan binatang, memang sudah pernah hadir di album musik experimental elektronik Tesla seperti di Black Shirt Attracts More Feather (2020), dan karya lainnya.

Tetapi kali ini, Tesla ingin mengenalkan “bulan madunya” bersama cornet/terompet.

Sama halnya dengan instrumen musik lainnya yang ia sempat kuasai, Tesla melanjutkan eksperimennya dalam menciptakan teknik embouchure yang tidak ortodoks untuk cornet/terompet.

“Dulu impulsif, segala instrumen dibeli. Terompet itu mulai ulik iseng 2020. Pengen coba satu instrumen baru yang kata orang sulit banget buat yang belom pernah sentuh. Tapi terompet ini sekarang jadi instrumen andalan,” kata Tesla, saat ngobrol bareng mikrofon.id, September 2022.

Foto: Grimloc Records.

Larynx

Larynx ini dipicu oleh album Last Boy Picked. Tesla mengajak drummer andalannya, Rio Abror, yang bisa menerjemahkan segala bentuk komposisi yang diinginkan.

Larynx diserap dari vocal-chord yang diangkat sebagai metoda mahluk hidup, binatang, manusia, mengejar yang mereka inginkan lewat kata-kata atau tone yang berubah di dalam tenggorokan.

Suara terompet itu diarahkan membentuk animal-mating call; teknik binatang saat hendak berhubungan badan atau reproduksi, yang mengeluarkan suara-suara aneh untuk menggaet pasangannya.

“Jadi yang gua ulik bukan suara terompet, tetapi suara binatang yang kalau mau ML kayak gimana,” katanya.

Di balik larynx yang tercipta dari raungan dan lolongan hewan, Larynx yang ingin disampaikan Tesla pada lagunya sebenarnya menohok tingkah manusia. Tentang perilaku cabul pria yang menyisakan luka permanen bagi para korbannya, khususnya anak di bawah umur.

Sensor birahi yang dilepas meliar tertuju pada korban-korban yang dianggap lemah. Sedangkan “mating call” yang digunakan manusia bisa begitu intimidatif.

“Di tengah jalan, ada cerita yang ngena banget yang ngasih emosi khusus ketika gua di atas panggung. Akhirnya gua punya arah untuk meluapkan si amarah itu ke arah mana. Meluapkan amarah itu pakai terompet,” tutur Tesla.

Bersama moodboard yang sudah jelas dan tebal isinya itulah yang membuat Larynx ketika dibawa di atas panggung mencapai presentasi maksimum. Terompet itu disokong kompak dengan irama Hadrah Kuntulan Banyuwangi, dan Sar Ping/Barongsai Bali-Cina yang dipacu Rio Abror.

“Secara sound udah tep, udah klop banget. Meskipun drumnya sudah di-set lengkap, semua di-tuning, kick, snare, rototom di-tuning, beater drum pakai koin biar suaranya lebih keras, snare enggak pake wire, atau rototomnya semua dibikin ringing, dikasih bell, dikasih chinese gong, ada ceng ceng, dan enggak ada bunyi apapun yang sifatnya sustain, jadi semuanya tuh kayak bunyinya ‘mati’. Akhirnya bisa nemu hal-hal yang kayak gitu karena sesuai moodboard-nya tadi,” katanya.

Foto: Grimloc Records.

Penguasaan Terompet

Tesla begitu mematangkan persiapan rancangan musik hingga penampilan panggungnya. Seperti diketahui, pria kelahiran 29 Agustus 1987 itu tidak hanya dikenal sebagai musisi jazz kontemporer yang dibesarkan musik klasik sejak kecil.

Tesla juga banyak dipercaya sebagai komposer untuk menciptakan scoring film, ilustrasi musik, teater, hingga tari. Bekal musikalitas sudah ia kantongi.

Di luar harmoni yang biasa ia tampilkan, lewat musik eksperimental ini Tesla ingin memanfaatkan suara yang tak normal untuk menjadi bahan berkarya dan bahan bertindak di atas panggung.

Sejak awal, ia mencari bagaimana caranya membunyikan terompet yang pemain terompet lain pun tak pernah kepikiran untuk membunyikannya dengan cara serupa.

“Teknik pasti ada. Tetapi ini enggak ada modifikasi terompetnya, sama sekali. Ini murni cara tiup. Secara enggak langsung nyiptain teknik sendiri yang membuat gua nyaman, dan ngeluarin suara yang sebenarnya tuh enggak normal,” ujarnya.

Perlakuan dirinya pada terompet sama ketika Tesla mencoba mengendalikan instrumen yang ingin ia kuasai. Ia hindari aksi para pemain terompet, bahkan sebisa mungkin tak melihat atau mendengar semua musik yang berhubungan dengan terompet.

“Karena kalau misalnya gua maksa ke arah sana pasti entar ujung-ujungnya bunyinya bakal sama. Itu yang bahaya sebenarnya. Dan itu amat sangat dihindari di dunia eksperimental karena kita bereksperimen. Kalau kita ngebunyiin sesuatu yang ujung-ujungnya sama lagi namanya enggak eksperimen,” katanya.

Foto: Kuntari.

Eksperimental

Ia mengakui tak akan ada teknik baru yang muncul dari eksperimen ini. Cuma cara pandang atau kerangka berpikir Tesla yang memelintir cara memainkan terompet.

“Tetapi cara nge-twist-nya aja perlu mindset yang tepat, arah yang tepat, dan moodboard yang tepat. Karena misalnya kalau gua punya teknik yang sama persis, sebenarnya sama aja tekniknya sama pemain terompet yang lain,” katanya.

Ia tak bersepakat jika musik eksperimental disalahartikan sebagai “cara bebas memainkan instrumen apapun yang penting berbunyi”.  Eksperimental ia nilai sebagai jenjang yang lebih tinggi dari musik populer di bumi ini.

Titik itu yang membuatnya bergelora untuk bereksperimen yang akhirnya bisa menciptakan suara baru. Dari pangkal berpikir itu pula, Tesla mantap meninggalkan raihan di ranah jazz yang memberikan kenyamanan dalam hidup bermusik.

“Aku banyak banget kenal musisi yang bukan cuma virtuoso, tapi maestro di musik klasik. Aku 10 tahun di musik klasik, kan. Udah lama banget, udah ngelotok banget. Nah, yang aku suka orang-orang yang secara teknik atau secara ilmu pengetahuan udah virtuoso atau maestro tetapi mereka pada akhirnya memilih jalur eksperimental. Eksperimental tuh jauh banget di luar zona nyaman,” ujarnya.

Dengan keputusannya manggung lewat jalur musik eksperimental, ia memahami jangkauan audiens yang masih tergolong langka. Ia siap dengan ekosistem yang bakal dianggap membuat orang trauma dari menonton musik eksperimental, dianggap terlalu berisik, dinilai musik enggak jelas.

“Makanya, itu pentingnya kita punya presentasi yang mumpuni, yang kuat secara visual, secara sound, agar orang tahu bahwa kita tuh memang genre yang patut banget untuk diberi ruang. Meskipun kita bakal sulit untuk jadi musik yang popular tetapi siapa yang tahu, ya, mungkin 20 tahun lagi 30 tahun lagi kita jadi genre populer. Kita jadi kayak pop. Tiap gang tuh maenin lagu eksperimental, orang mukul-mukul alat,” tuturnya.

Tesla mengatakan, musik eksperimental ini bukanlah musik klasik yang ada bukunya. Ia harus mendesain karya sematang-matangnya: Sensitif terhadap suara, sensitif apa yang dibunyikan, serta memasang posisi sebagai pendengar.

“Makanya aku maksa diri punya alat di mana semua alat itu udah di-mixing di tempat. Di luar drum. Misalkan format Larynx, jadi si alat itu biar pun entar di sound di mixer-nya nanti cuma dua channel dengan flat segala macem, sound-nya itu gimana caranya udah jadi, udah harus maksimal, tinggal di-adjustadjust dikit. Makanya itu yang aku enggak terlalu khawatir. Kalau sound check tinggal fokus ke drum,” katanya.

Hasilnya, ya memang sesuai yang ia katakan itu. Tesla diajak main di gigs musik underground, bersama band punk, metal, dan musik ekstrim lainnya. Di tahun 2022 pula ia mendapat undangan main di berbagai negara bersama karya eksperimentalnya.

Panggung dan audiens dengan genre terbuka ini yang dibutuhkan musisi eksperimental. Inklusifitas bebunyian ini yang bisa menentukan panjang jalan musik eksperimental.

“Misalnya festival yang satu line-up yang semuanya pop, tiba-tiba muncul satu musisi yang nyeleneh. Orang mau enggak mau denger, kan. Kupingnya terbuka. Jadi yang penting buat musisinya presentasinya harus bagus. Klo enggak bagus dicap seumur hidup,” ujarnya.

Foto: Kuntari.

Alih Instrumen

Ia tak menampik bila gonta ganti instrumen juga terkadang bisa jadi bumerang. Publik bakal melihat arah kesukaan pada Tesla tak jelas ke mana. Bahkan saat periode dirinya di jazz pun punya tiga periode berbeda, dan akhirnya fansnya terbagi tiga.

“Sekarang gua enggak maen gitar sama sekali, di mana semua gitaris di Indonesia yang melihat Tesla dilirik label Amerika Serikat, dan menaruh harapan Tesla sebagai gitaris masa depan. Tiba-tiba gua tidak bermain gitar 100 persen, dan mereka kecewa banget. Dan ternyata, enggak bisa dipaksa. Kalau dilihat-lihat instrumen itu cuma jembatan menuju hal yang absolut yang mesti gua kejar: musik atau seni itu sendiri,” katanya.

Tesla tak ingin memusingkan masa depan tangannya ada di instrumen apa. Mungkin tahun depan tak lagi maen terompet. Mungkin juga terompet menjadi instrumen Tesla seumur hidup.

“Mungkin gua bakal nanya lagi ke diri sendiri, sekarang kesenimanan gua mau dibawa ke mana. Bunyi apa lagi yang perlu gua cari tahu, bukan terpatok pada genre lagi, bukan terpatok pada instrumen lagi, bahkan bukan terpatok lagi pada musik lagi. Jadi apa sih yang mau gua kejar biar gua utuh secara seniman,” tuturnya.

Tesla telah mengenal gitar klasik sejak usia 9 tahun hingga menginjak 19 tahun. Apa yang ia cita-citakan dari kecil saat menguasai gitar itu sudah terwujud hingga 2017; Tur keliling dunia, dapat label dari luar negeri, banyak main di panggung besar.

Bila dipaksakan main gitar lagi, bunyinya tak bakal berubah. Walaupun diciptakan 10 album ke depan, ia meyakini sound yang bakal “gitu-gitu lagi.”

Maka, ia melepas gitar sementara, mencoba instrumen baru yang belum dicoba sebelumnya, untuk menemukan bentuk sonik baru yang bakal berbeda dari yang sebelumnya.

“Dan di Larynx itu kejadian. Dan kayak ‘anjir, ini bunyi apaan’. Bahkan gua sendiri tuh enggak tahu gua bisa bunyiin kayak gini. Dan itu relief banget gua sebagai seniman. Sesuatu yang amat melegakan. Dan gua tenang banget, ‘oke gua enggak bakal balik main gitar kayak dulu.’ Dan gua tidak pernah mencoba bernostalgia dengan memainkan gitar kayak dulu,” ujarnya.

Foto: Kuntari.

Musik Elektronik

Sebelum merekatkan jari pada terompet, Tesla lebih dahulu menggulirkan karya eksperimental dari instrumen elektronik. Sejak 2016, ia bergairah membeli analog synthesizer dengan bebunyian aneh dan unik di setiap kunjungan ke berbagai negara.

Karena besar di jazz, awalnya banyak yang menyangka Tesla tak bakal lama mencoba musik-musik baru bernuansa noise ini. Akhirnya ia mulai diterima karena memang sangat serius menekuni instrumen itu. Sambutan itu membuatnya semringah karena menambah jejaring pertemanan beda genre.

Di luar itu, ia sempat merasa khawatir jika suatu saat mudah bosan dengan satu instrumen seperti terompet kali ini, dan itu berbahaya.

“Karena kayak udah ngedapetin sesuatu, terus ‘wah, kecepetan, nih,’ kayak ngejarnya kecepetan tiba-tiba udah dapet ‘di atas’ apa yang gua pengen, lah kasarnya. Tiba-tiba, ‘ah, kok kayak gini’. Dan Mas Ucok (Grimloc) pun mengaminkan itu. Karena dia ngerasa album Larynx ini jauh lebih suka dibandingkan Last Boy Picked. Padahal menurut dia sebelumnya Last Boy Picked itu udah peak banget. Itu bahaya banget memang. Kayaknya mesti agak pelan-pelan sekarang. Karena gua pengen bedua si Larynx ini bertahan,” katanya.

Ia cukup terbantu dengan sokongan Hery “Ucok” Sutresna di Grimloc Records yang menangani sejak dari proses awal mulai sampul album, moodboard, cara jualan, hingga distribusi.

“Maksudnya biarpun udah dirilis sama Yes No Wave, tetapi Yes No Wave punya cara sendiri untuk mempromosikan dan mendistribusikan si musik gua ini. Tetapi sekarang Grimloc dengan cara berbeda lagi, nanti Orange Cliff pakai cara sendiri lagi. Jadi menyenangkan banget. Aku kayak ngasih kebebasan ke label,” ujarnya.

Foto: Kuntari.

Label

Tesla Manaf begitu bersyukur dengan respons yang disodorkan label yang menaunginya mulai dari Orange Cliff, Yes No Wave, Grimloc Records, dan Disaster Records. Yes No Wave tergolong cukup istimewa.

Bagi Tesla, pencapaian tertinggi dari yang tertinggi musik eksperimental itu masuk label Yes No Wave karena label itu segala pusat musik eksperimen ada di situ. Tetapi ia juga punya cita-cita dari dulu ingin dilirik Grimloc.

Meski menyukai rilisan-rilisan Grimloc, saat itu ia tak pernah merasa bakal digubris Grimloc dengan musik-musik yang dimiliki. Kenekatan itu diluapkan saat Tesla telah siap dengan materi album Last Boy Picked.

“Akhirnya gua nekat nge-chat Ucok. Itu nekat banget. Itu tuh nunggu pikir-pikir niatan kirim message-nya pun, ‘anjir udah seminggu, anjir gua bakal ditolak mentah-mentah enggak, ya? Dimarahin enggak, ya? Ya seperti pada umumnya banyak orang segan sama Mas Ucok, dan gua salah satunya,” katanya.

Dengan misi ingin mencari sesuatu di luar zona nyaman, akhirnya ia memberanikan diri mengirimkan pesan tawaran materinya ke Ucok. “Awalnya, ‘oke makasih, nanti saya dengerin.’ Akhirnya keputusan disambut baik sama Mas Ucok ini akhirnya membuahkan banyak banget hasil. Banyak banget kesempatan-kesempatan yang enggak pernah gua lihat sebelumnya. Ketemu orang baru. Wah, itu perjalanan yang amat sangat menarik, gua ada di Grimloc ini. Karena mengarahkan gua untuk ketemu kesempatan-kesempatan baru yang belum pernah gua capai. Salah satunya Yes No Wave,” katanya.

Tesla punya trauma khusus dari Yes No Wave. Saat itu, 2019 ia menemui Woto Wibowo atau biasa dikenal Wok The Rock, seniman yang juga pendiri Yes No Wave. Sebagai kurator, Wok tak sekadar merilis musisi Indonesia, tetapi menghubungkannya dengan festival luar negeri.

Tesla begitu hati-hati menawarkan lagunya karena mengenal Wok yang selalu disegani musisi. Dalam pertemuan itu, Wok menyiratkan penolakan atas karya Tesla meski tak diungkap secara langsung.

“Dan gua yakin Mas Wok enggak suka karya gua, dan dia menolak mentah-mentah meski dia enggak ngomong secara langsung. Tetapi gua ngerasa karya gua tuh waktu itu belum cukup. Itu tuh sedihnya minta ampun. Dari situ gua kalau denger Mas Wok dan Yes No Wave trauma banget. Gua ngewajarin, sih. Karena saat itu gua masih muda di skena itu. Belum punya khas baru, tapi gua sok-sokan pengen masuk Yes No Wave. Tapi emang dulu gua tahu persis gua bapuk banget. Saat itu, gua pasti bakal menghina diri gua sampai sekarang,” tutur Tesla.

Cerita berbalik dan Tesla akhirnya berhutang besar pada Ucok. Saat Grimloc merilis album Last Boy Picked, Ucok mengirim album itu pada Wok, tanpa sepengetahuan Tesla.

“Gua kan masih trauma. Itu kalau gua tahu (Ucok kirim materi ke Wok) pasti gua larang. Tapi tiba-tiba Mas Wok nge-chat aku di Messenger. ‘Tes, aku suka album kamu yang sekarang.’ Anjir, shock banget waktu itu,” kata Tesla.

Dalam momentum respons yang baik itu, ia tawarkan sekaligus materi album Larynx. Album itu juga diterima baik untuk dirilis di Yes No Wave.

“Akhirnya dia suka. ‘Tes, aku mau rilis yang ini (Larynx).’ Tapi sebelum rilis dia ngajak ketemu. Tiba-tiba berapa hari kemudian, ada yang ngetok pintu depan. Anjir, gua kaget banget ada Mas Wok di rumah gua. Akhirnya ngobrol-ngobrol, ya akhirnya nanya soal artistik Larynx dan cocok sama dia, akhirnya rilis,” katanya.

Penyelaman Tesla ke dasar musik eksperimental meninggalkan nama besarnya di panggung jazz di permukaan. Ekosistem musik eksperimental ini membuat dirinya harus memahat kembali nama dari awal.

Di titik itu ia belajar bahwa di masa peralihan menuju musik eksperimental ia belumlah kuat, belum siap. Dalam posisi yang belum siap, ia merasa penting untuk memburu cara penyampaian narasi, menjelaskan karya, hingga menguasai maksud dan tujuan penciptaan musik yang akan ditawarkan.

“Secara enggak langsung, gua boleh lah berbangga dengan diri sendiri karena gua bisa mengenal banyak orang sejauh ini, dan gua membuka diri dengan banyak orang,” tutur Tesla.

Komunitas

Secara personal, Ucok telah mengenal Tesla sebelum Kuntari atau eksperimental masa instrumen elektronik. Tesla juga sempat main dalam panggung perlawanan terhadap penggusuran warga Taman Sari, bersama Grimloc dan komunitas advokasi warga yang tertindas.

“Tesla memang teman bagian dari komunitas. Saya pernah dengar Tesla sebagai pemain jazz. Meski saya enggak begitu dengerin apa yang dia mainin, tidak sefrekuensi jazz-nya. Ketemu di Taman Sari itu sebuah kebetulan, ketidaksengajaan yang natural, yang diinginkan,” kata Ucok.

Ia memerhatikan perkembangan Tesla dalam materi tribal di album Last Boy Picked sebagai lompatan ekstrim yang berbeda saat era pergulatannya dengan eksperimental elektronik bersisipkan drone ambiens.

Pendekatan instrumental Last Boy Picked, yang juga dibangkitkan di Larynx memiliki nuansa gelap, apokaliptik, membentuk sisa reruntuhan lingkungan Chernobyl, yang akhirnya punya nilai cocok dengan Grimloc.

Skill Tesla itu no doubt. Tetapi justru Kuntari menarik bukan karena perkara skill. Dia berbicara melampaui skill, kemudian bagaimana metode memperlakukan instrumen itu bukan cuma perkara memainkannya, tetapi dia mengkomunikasikan gagasan nuansa, ide, dan lain sebagainya. Itu yang lebih penting,” ujarnya.

Grimloc

Grimloc tertarik pada Kuntari sama halnya dengan alasan ajakan pada band lainnya yang dirilis Grimloc bahwa mereka adalah model band yang perlu eksposur dan orang patut tahu.

Ucok menuturkan, sebenarnya sudah lama Grimloc menunggu proyek eksperimental yang bisa diajak jalan bareng. Hanya, proyek semodel ini di Bandung cukup langka.

“Cuma baru kali ini aja nemu. Enggak semua eksperimental, atau enggak semua metal cocok juga di Grimloc. Yang pasti ada jenis eksperimental yang satu frekuensi, baik dalam approach, metoda, atau nuansa,” katanya.

Di era saat ini, kata dia, semua genre punya pasar dan peluang sendiri. Itu terbukti rapatnya undangan manggung buat Tesla, di dalam dan luar negeri. Bahkan Senyawa masih getol keliling dunia.

“Ketika memainkan musik unik, otentik, bisa bicara lebih banyak di luar. Tinggal di domestik kita bicara bukan cuma perkara rekamannya, tetapi event-event yang membuka ruang buat instrumental. Mungkin ada tetapi intensitasnya beda. Kita bisa mulai membuka line-up beda genre dengan melibatkan kawan-kawan musik eksperimental,” ujarnya.

Harapan besar Ucok, banyak kawan-kawan, terutama di Bandung, yang menumbuhkan karya eksperimental baik elektronik atau akustik, yang menambah warna-warna baru.

“Saya yakin main di ruang komunitas manapun kawan-kawan ini akan terbiasa dan memberanikan membuat musik serupa,” kata Ucok.

Lorong Tak Berujung

Vokalis dan penulis lagu band eksperimental Senyawa, Rully Shabara, memberikan pengamatan khusus pada Tesla lewat liner notes album Larynx. Ia mengenal Tesla saat masih dipuji kalangan jazz sebagai anak ajaib dengan permainan gitar impresif.

Perhatian Rully menajam saat Tesla berani menjual gitarnya dan mengawali karier musik eksperimental dari nol.

“Dia rela keluar dari lingkar nyaman yang sedang memujinya, lalu dengan rendah diri mengaku sebagai anak baru di kalangan yang belum begitu mengenalnya. Anak ini tahu dia akan memasuki Lorong gelap yang panjang. Saya terkesan lalu diam-diam memantau prosesnya,” katanya, dalam catatan itu.

Ia melihat Tesla menerapkan disiplin yang sama untuk mendalami instrumen barunya; instrumen elektronik, terompet, dan gitar yang tak lagi berstandar jazz yang dikuasai sebelumnya.

“Saya belum tuntas memantau Tesla. Saya ingin tahu akan sejauh apa dia konsisten mencari celah di lorong gelap. Saya yakin dia tahu lorong ini bukan saja gelap tapi juga tak berujung,” kata Rully.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: