Semangat Juang Seniman dalam Pameran Art Quarantine #5

MIKROFON.ID – Figura dengan kesan mewah berkelir emas menjadi bingkai sebuah bungkusan kecil yang menempel di bagian tengahnya. Bungkusan itu hanyalah keresek hitam layaknya kemasan paket jasa pengiriman. Dari stiker putih khas perusahaan jasa antar-kirim yang tertera keterangan “Pengirim: Artlover, Kepada: Siapapun, Di: Jalan Seni.”

Fun object yang dibuat Rudi ST Darma itu seolah menjadi pesan yang mewakili rutinitas seniman di tengah pandemi. Meski raga sudah jarang berjumpa, lalu lintas karya lewat antar-kirim masih terus berjalan.

Akan tetapi, di balik bingkai elegan itu rupanya ada karya yang tersembunyi. Terdapat kertas dengan hasil paduan dua warna merah yang digabung sebagai ekspresi kesetaraan. Karya mix media berjudul “Jalan Seni” itu dibuat dadakan menjelang gelaran Bandung Art Month 2020.

Bertempat di Galeri Rumah Proses, Rudi dan sederet seniman ternama lainnya menggelar pameran “Art Quarantine #5”. Rudi dan rekan seniman lainnya meyakini bahwa pandemi Covid-19 tak melemahkan mereka untuk berkarya.

“Art Quarantine ini adalah seni yang dikarantinakan karena situasi pandemi, tetapi kerja seni tidak bisa dibatasi,” tutur Rudi, di Galeri Rumah Proses, Bandung, Kamis 1 Oktober 2020.

Seniman yang ikut ambil bagian, Mayek Prayitno, membuat catatan untuk pameran “Art Quarantine #5”ini. Mayek mengatakan, kali ini pameran “Art Quarantine” diselenggarakan dengan single track “Etalase”.

Gagasan ini mengandaikan dunia sebagai etalase yang dibungkus atmosfer dan biosfer. Di dalamnya terpajang berbagai macam organisme makhluk hidup yang berjejaring dengan peradaban manusia dan dampak dari aktifitasnya.

Umumnya, etalase yang sering dikenali adalah kotak kaca, box transparan untuk menaruh benda-benda. Sementara “Etalase” dalam konteks pameran ini dipakai dan ditarik keluar (out) dari bentuk aslinya (box) sebagai ruang pajang “out of the box”: yang berisi benda artistik, yakni karya seni dan ide di baliknya yang merujuk pada situasi pandemik.

“Art Quarantine” tumbuh dari kemauan untuk berbagi pengalaman dari satu orang ke orang lain. Pengalaman ini memberi sudut pandang yang berbeda di setiap tempat dari setiap lingkungan yang terdampak.

Pengalaman berbagi ini tak lain menjadi sebuah cara tentang bagaimana merasakan setiap keadaan antara tertekan, sakit dan sehat, lalu memberi kesempatan dan melibatkan orang lain untuk menafsirkan, merenungkan karya-karya visual bergaya figuratif, simbolis atau metaforis. Cara ini juga sekaligus memberi penghiburan bagi audiens dalam menikmati pameran “Art Quarantine #5” ini di Galeri Rumah Proses.

Mayek berharap masa transisi menuju normal kembali ini mencerminkan perubahan perilaku, harapan, rencana, dan peluang setelah tiga bulan di rumah dan bulan-bulan berikutnya. Tidak hanya itu, masa ini juga membuat orang-orang kembali berjuang dari rasa kehilangan yang direnggut virus dan belajar berjiwa besar dalam menghadapinya.

“Tidak mudah memang, paling tidak ‘Art Quarantine #5’ yang digelar secara fisik adalah rencana rentetan dari pameran online selama empat kali dalam masa pandemi, yakni mewakili gagasan dan sisi lain kehidupan seniman dari dampak pandemi, masa inkubasi, cara bertahan hidup, representasi perenungan, semangat juang dan produktivitas perupa dalam proses menghasilkan karya seni, benda-benda artistik atau merchandise untuk diapresiasi secara maknawi, sekalian ditawarkan pada pecinta seni atau publik umum yang berminat mengoleksi,” tuturnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: