Rumah Proses: Mengerek Talenta, Mencairkan Gairah Seni Rupa

Pameran Guru dan Murid “Tatap Muka” berkesempatan menata karyanya 30 Januari-13 Februari 2022, di Galeri Kapur, Rumah Proses, Bandung. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

MIKROFON.ID – Ruang berpameran boleh jadi merupakan vaksin bagi ketahanan jiwa seorang perupa. “Vaksin” ini sungguh didambakan para perupa mula, amatir, khususnya siswa sekolah yang masih awal memupuk minat.

Tak hanya berlaku bagi seniman yang telah menjual banyak karya, ruang pameran untuk pelukis pemula akan menguatkan pijakan karier di masa depan. Tetapi, di wilayah urban sekelas Bandung sekalipun ruang pameran masih terbatas.

Padahal, bagi seniman kenamaan Kota Bandung, Rudi ST. Darma, menjaga nilai dasar dan harapan bagi perupa yang tengah merintis passion di jalur seni rupa merupakan momentum penting. Maka, Rudi membuka kesempatan bagi kelompok perupa mula untuk berpameran di galeri miliknya, Rumah Proses, di Jalan Mutumanikam No. 47, Bandung.

Pameran Guru dan Murid “Tatap Muka” berkesempatan menata karyanya 30 Januari-13 Februari 2022, di Galeri Kapur, Rumah Proses, Bandung. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

Ruang yang ditata dari sudut garasi rumah Rudi itu bisa disesuaikan beragam fungsi mengikuti kebutuhan peserta pameran. Salah satunya dengan program Galeri Kapur.

Pameran Seni Rupa Guru dan Murid dengan judul “Tatap Muka” menjadi kelompok yang berkesempatan menata karya-karyanya selama 30 Januari hingga 13 Februari 2022, di Galeri Kapur.

“Untuk itu, Galeri Kapur sebagai salah satu konsep Rumah Proses didedikasikan untuk secara berkesinambungan menjalin silahturahim, mengedukasi, menumbuhkan keterikatan untuk menumbuhkembangkan ekosistem seni yang harus dibina sejak dini, dari lingkungan terdekat,” ujar pria yang biasa dipanggil Kang Udey itu.

Pameran Guru dan Murid “Tatap Muka” berkesempatan menata karyanya 30 Januari-13 Februari 2022, di Galeri Kapur, Rumah Proses, Bandung. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

Jadi Seniman Bukan Soal

Alumnus Pendidikan Seni Rupa UPI Bandung itu melihat pentingnya mengawal lilin semangat yang belum lama dinyalakan para siswa. Di Pameran “Tatap Muka,” ada 60 karya dari siswa dan alumni beragam SMP.

Rudi menambahkan, hubungan guru dan siswa pelaku seni rupa harus dibangun secara ekosistem sejak dini. Rumah Proses dan program Galeri Kapur mendedikasikan tempatnya untuk mengedepankan seni rupa bagi guru dan murid karena selama ini ada yang luput dari medan seni: yakni ekosistem yang harus dibentuk sejak dini.

Gairah berekspresi yang tengah berkembang ini selayaknya menjadi sikap hidup. Dengan berpameran, para penyuka seni ini tak melulu dibentuk menjadi seorang seniman, tetapi juga sebagai manusia yang diasah cara mengapresiasi seni.

“Tidak semua anak-anak ini akan menjadi pekerja seni. Tetapi setidaknya mereka akan aware dengan kesenian. Mungkin di antara mereka ada yang jadi presiden, menteri, pejabat, kolektor. Lalu mereka jadi sindikasi penguat ekosistem seni. Yang kita harapkan jadi sinergi ikatan antarpelaku yang ingin membantu pertumbuhan seni,” ujarnya.

Pameran Guru dan Murid “Tatap Muka” berkesempatan menata karyanya 30 Januari-13 Februari 2022, di Galeri Kapur, Rumah Proses, Bandung. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

Untuk menjaga traksi produktifitas memerlukan aktifitas seni yang berlanjut. Di sekolah, suasana bisa dibentuk dengan menghias kelas dan membuat mural di lingkungan sekolah.

Berikutnya, dikondisikan agar ada kompetisi terus menerus dengan berbagai kategori. Sertifikat juga menjadi nilai tambah buat pelajar penyuka seni rupa. Dalam beberapa kali dalam setahun disarankan mengikuti pameran.

Dari serangkaian pameran ini nantinya akan disaring menjadi kompilasi dan dipamerkan secara khusus. Cara ini diterapkan Rudi di program Galeri Kapur.

“Secara psikologis jiwa seni anak-anak ini akan membaik. Di pameran Tatap Muka teman SMP lain hadir. Orang tau ikut mengapresiasi. Saya yakin apresiasi dari publik lewat pameran ini akan berdampak pada siswa karena mereka meraih kebanggaan di luar zona nyaman selama ini,” katanya.

Potensi

Rudi juga mencermati potensi-potensi dari siswa peserta Pameran “Tatap Muka”. Dalam karya Rizda Putri Nur Azizah berjudul “ Pebble Wreck,” teknik cat air yang diterapkan  tergolong matang dengan pola penumpukan warna yang memunculkan bentuk, tekstur, dari obyek figur yang ia pilih.

Adapun Kayla Putri Az-Zahra menggunakan cat Acrylic dengan sapuan tebal dari warna-warna yang minimalis: biru-putih dengan line hitam. Penggarapannya simpel dan sederhana tapi cukup cakap untuk menggambarkan suasana dua anak berjalan mendekati titik horison sehingga berkesan “drama”.

Yang menarik perhatian Rudi dari karya Kikan Manik Firsty adalah keterampilan menggambar di bidang kertas-kertas kecil dari tokoh band dunia, kemudian dijadikan item kolase, sehingga memunculkan karya dengan interpretasi baru.

“Karya drawing-nya yang detail, serius di bidang-bidang kecil, ditumpuk di papan dada yang diwarnai secara abstrak sehingga merupakan paduan yang kontras,” kata Rudi.

Pameran Guru dan Murid “Tatap Muka” berkesempatan menata karyanya 30 Januari-13 Februari 2022, di Galeri Kapur, Rumah Proses, Bandung. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

Galeri Kapur

Rudi menjelaskan, Galeri Kapur adalah divisi dari Rumah Proses yang didedikasikan untuk mengedepankan pameran seni rupa guru dan murid, yang merupakan ekosistem seni yang seharusnya sejak dini ditumbuhkembangkan.

Konten yang dikedepankan bukan hanya pertimbangan estetik semata, melainkan juga silahturahim, interaksi sosial langsung dengan medan seni yang diharapkan menumbuhkan apresiasi, empati, menumbuhkan kecintaan pada seni sesuai proporsinya, yang akan membentuk jejaring kelak.

Pameran Guru dan Murid “Tatap Muka” bukan sekadar menggambarkan pertemuan kembali pembelajaran sekolah setelah pandemi sekian tahun. Tetapi lebih kepada pentingnya pertemuan fisik dalam mengejawantahkan pendidikan formal seni.

Rudi menuturkan, pendidikan seni di sekolah-sekolah tingkat dasar ini bukan hanya mengajarkan keterampilan atau kecakapan semata, tetapi lebih kepada membangun karakter yang mewakili eksistensi, kepedulian sosial, apresiasi dan keterlibatan emosi (heterogen) yang berikutnya bisa membangun jejaring dikemudian hari dalam ekosistem seni.

“Semoga event ini memunculkan irisan sebagai solusi dari berbagai himpunan dinamika medan sosial seni hari ini untuk menjadi fondasi peradaban, bahwa manusia itu bermartabat,” ujarnya.

Berikut nama-nama peserta pameran:

– Afina Syaffiani Arief

– Azkia

– Khairena Amyta Daniel Rahimy

– Kheisha Nava Aliyyah

– Kiki Nugraha

– Kikan Manik Fistky

– Muhammad Raka Malsi

– Nana Nurhasanah

– Rahadian Rahardja Putra

– Rifani

– Rizda Putri Nurazizah

– Sang Art Wibawa

– Sukma Az-Zahra

– Syabila Agustina

– Teni Dwilingga Eswari

Performing Arts:

– Lingga Eswari

– Rahadian

– Bagja.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: