Pameran Tunggal ‘Sumarah’ Tjutju Widaya, Memotret Perempuan Kuat yang Terusir Keluarga

Kecintaan Tjutju Widjaya untuk membesarkan seni rupa di Indonesia tak pernah luntur. Ia menggelar pameran tunggal bertajuk ‘Sumarah’. Foto: Selasar Sunaryo Art Space.

MIKROFON.ID – Kecintaan Tjutju Widjaya untuk membesarkan seni rupa di Indonesia tak pernah luntur. Di usia 80 tahun, ia menggelar pameran tunggal bertajuk “Sumarah”, yang dihelat di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, 3-29 Agustus 2021.

Pameran ini merupakan seri lanjutan dari kiprah Tjutju dalam mengembangkan ilmu seni rupa. Tahun kemarin, ia meraih gelar doktor setelah mempertahankan disertasi berjudul “Representasi Feminisme Kelenteng Perempuan dan Zhai Ji di Bandung”, pada Program Studi Doktor Ilmu Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung.

Lukisan yang dipamerkan di Selasar Sunaryo ini dibuat dengan mengembuskan narasi dari hasil disertasi dirinya.

Kurator Pemangku Selasar Sunaryo Art Space, Heru Hikayat ikut mencermati proses kekaryaan Tjutju, di amfiteater SSAS, Rabu 9 Juni 2021.

Kanvas berukuran 2×3 meter telah terhampar. Tjutju menjajal kanvas, berjalan di atasnya, mengitarinya, dan mencoba berbagai kemungkinan gerak tubuh di atas kanvas itu. Dalam pengamatan Heru, Tjutju perlu memastikan bahwa saat ia bergerak, kanvas itu bisa “menerimanya”.

Sejumlah asisten sigap dengan sejumlah wadah berisi tinta, kuas, kuas kecil dan kuas besar, bersiap memasok kebutuhan Bu Tjutju. Kuas besar panjang gagangnya sedikit lebih dari setengah tinggi tubuh Bu Tjutju.

Dengan posisi itu, Heru melihat Tjutju seolah tengah mengacungkan senjata, tombak. Selain kuas, telah disiapkan tinta dengan 3 tingkat kekentalan yang berbeda. Tinta disiapkan dalam wadah yang berbeda-beda, ditempatkan mengelilingi kanvas.

Setelah semua siap, Bu Tjutju turun ke arena, memulai dengan kuas kecil dan tinta yang paling rendah tingkat kekentalannya. Ia menyapukan kuas dengan tinta tipis itu di kanvas. Tubuhnya menunduk, menyesuaikan dengan ukuran kuas.

Ia menggoreskan sejumlah huruf, dengan aksara Cina. Pada lapis pertama ini, ia menuliskan sejumlah kata dan frasa, terjemahannya dalam Bahasa Indonesia adalah: takut; takut sekali; sedih; tersendiri; bingung tak berdaya.

Ia menulis pula kalimat: “Waktu kecil papa mama tak ingin saya. Saya dibuang”. Lalu ia berhenti, berdiri di pinggir kanvas. Ia melanjutkan dengan kuas besar dan tinta yang tingkat kekentalannya sedang. Sapuan kuas dengan tinta sedang meningkahi lapis pertama.

Kini ada 2 lapisan. Bu Tjutju kembali menepi. Asisten menyiapkan wadah tinta terakhir. Tinta paling kental, paling tebal. Seakan menyiapkan jurus pamungkas, Bu Tjutju menatap kanvasnya beberapa lama.

Ia lalu maju, mencelupkan kuas besar ke wadah tinta, dan menyapu kanvas. Sebagian tinta tersembur ke pinggiran arena. Bu Tjutju bergerak makin luwes. Kuas besar membuat tubuhnya lebih tegak. Lapisan terakhir terwujud dari sapuan yang kuat sekaligus luwes, dengan tinta hitam legam.

Pada lapis terakhir ini, Bu Tjutju menulis; “yong gan” (berani). Selesai. Bu Tjutju membungkukan badan pada segelintir orang yang menyaksikannya saat itu.

Lukisan tersebut menjadi lukisan paling besar dalam pameran tunggal Bu Tjutju kali ini. Lukisan berjudul “Brave” ini ikut tampil bersama 16 lukisan lain di Bale Tonggoh SSAS.

Penghayatan Sapuan

Pada karya Brave, pada lapis pertama, kata, frasa, kalimat yang dituliskan, mewakili persoalannya. Dampak dari keterusiran, trauma, dan lain-lain. Bagi Bu Tjutju, menuliskan kata-kata itu adalah cara menghayati.

Heru menuturkan, Tjutju Widjaja adalah ketua kehormatan Perkumpulan Kaligrafi Indonesia dan pernah memenangi kompetisi Chinese Calligraphy.

Ia mendalami disiplin kaligrafi Cina, terus menerus mengasah keterampilannya, dan aktif berkegiatan dalam lingkup komunitas penekun kaligrafi. Kanvas yang digunakan Bu Tjutju, dilapisi kertas xuan. Kertas, tinta, kuas, adalah bagian dari pakem tradisi kaligrafi Cina.

“Pemilihan media ini menunjukkan bahwa tradisi (kaligrafi) tetap menjadi pijakan. Pilihan kanvas kemudian menunjukkan inovasi, melampaui pakem. Bu Tjutju, menyapukan kuas pada kanvas berlapis kertas xuan, dengan gestur yang “bebas”, tidak melulu mengikuti pakem tradisi kaligrafi Cina,” tutur Heru.

Kecintaan Tjutju Widjaya untuk membesarkan seni rupa di Indonesia tak pernah luntur. Ia menggelar pameran tunggal bertajuk ‘Sumarah’. Foto: Selasar Sunaryo Art Space.

Gestur itu datang dari penghayatan atas kisah hidup dan akhlak para zhai ji. Pada aksi di Amfiteater, pada lapis pertama, kata Heru, gesturnya datang dari penghayatan atas kata “takut”, dan trauma keterusiran dari keluarga.

Lalu, dengan meneladani akhlak para zhai ji, rasa takut itu diatasi, dilampaui. Pada lapis pertama, huruf-huruf masih terbaca, walau tidak mudah, sebab bentuknya tidak selalu sesuai konvensi. Abstraksi sudah mulai terjadi, sebab emosi tercurah.

Lapis kedua dan ketiga, abstraksi makin mengemuka. Keterbacaan sudah sepenuhnya ditinggalkan. Kata yang dituliskan pada lapis ketiga adalah kebalikan dari “takut”. Berani. Brave. Bagi Bu Tjutju, perubahan emosi dari penghayatan atas ketakutan berbalik jadi keberanian, itulah yang menggerakan tubuhnya.

“Media lukisan menjadi saluran bagi perubahan emosi. Lapis ketiga lukisan, itulah yang terutama tampil pada kita para pemirsa. Lapis paling depan adalah sapuan kuas yang mengemuka meninggalkan seluruh narasi,” ujar Heru.

Semua itu adalah latar, narasi di belakang. Yang terdepan adalah sapuan kuas. Di latar depan, narasi juga wacana-wacana semacam pakem tradisi kaligrafi, hadir sayup-sayup. Sapuan kuas mengatasi semua itu.

Sesuai kebiasaan kaligrafi Cina, saat melukis, bidang gambar Bu Tjutju tidak tegak, melainkan dihamparkan. Sebab, lukisannya berupa abstraksi dan abstrak, maka mana bagian atas dan bawah, ditetapkan kemudian secara arbitrer.

Karena itulah, jika mencermati sapuan kuas dan efek cipratan, yang saat pembuatannya dipengaruhi oleh gravitasi dan anatomi tubuh, pada hasil akhirnya dinisbikan. Pada hasil akhirnya, efek cipratan tinta seperti mengingkari gravitasi, sementara tubuh, membayang.

“Gravitasi dan tubuh pun undur ke latar belakang. Sapuan kuas Tjutju Widjaja menempati peran utama. Kuat sekaligus lembut. Meledak sekaligus terkendali. Sumarah…,” ucap Heru.

Perempuan Kuat

Heru menjelaskan, paling tidak ada 3 isu yang mengemuka dalam “Sumarah”; pertama, soal diaspora dan perpaduan budaya Tionghoa di Nusantara, atau Bandung tepatnya.

Kedua, isu perempuan dan gender. Ketiga, tentang lukisan kaligrafi dan abstrak. Secara menyeluruh, Tjutju Widjaja sebenarnya membuat seri karya abstrak, semi abstrak, juga kaligrafi.

Zhai Ji adalah pendeta perempuan, berbakti di Kelenteng Perempuan. Kelenteng ini khas, sebab menampung para perempuan, yang karena berbagai alasan terusir dari keluarga.

Riset Tjutju Widjaja lebih jauh mengungkapkan bahwa bagi mereka tidak ada lagi kebebasan untuk menjalani kehidupan “personal”, melainkan menjadi pelaksana ritual keagamaan dan mempraktikkan laku pelayanan tanpa pamrih.

Bagi Tjutju Widjaja, inilah yang luar biasa: terbuang dari keluarga justru tidak membuat para pendeta perempuan itu menjadi pendendam; sebaliknya mereka rela memberikan hidupnya jadi pelayan umat.

“Perilaku yang luar biasa. Perilaku inilah yang kemudian disarikan menjadi sejumlah frasa dan kata, yang dianggap merepresentasikan semangat, spirit, atau inti. Semangat apakah? Sumarah. Tepatnya, Sri Sumarah, tokoh dalam cerita pendek karangan Umar Kayam,” ujar Heru.

Ini adalah tipe kepasrahan yang “kuat”. Sumarah lalu diambil jadi judul pameran, untuk memberi tekanan pada semangat tersebut.

Dalam cerita pendek karangan Umar Kayam, Sri Sumarah digambarkan sebagai tokoh perempuan yang menerima ajaran khas Jawa, menjelang pernikahannya. Mengikuti kisah hidup Sri Sumarah, “sumarah” bukan lagi sekadar pasrah menerima, lebih dari itu sumarah adalah laku ikhlas.

Sri Sumarah mengecap kebahagiaan hidup sekejap, sebelum bertubi-tubi didera kesialan. Sri menjalani semua itu dengan ketenangan luar biasa, dengan sikap “bersetia  menjalani tugas”, sebagai manusia, sebagai perempuan, sebagai istri, sebagai ibu (bahkan sebagai warga negara).

“Ini adalah tipe kepasrahan yang ‘kuat’. Setiap karya pada pameran ini dijuduli dengan kata atau frasa yang merepresentasikan narasi tersebut,” tutur Heru.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: