Pameran The Eternal Waiting: Kegelisahan Pengungsi Afganistan Dalam Lukisan

Seniman Afganistan, Nesar Ahmad Eesar mencipta karya soal pengungsi korban perang, di Pameran The Eternal Waiting, di Orbital Dago Bandung. Foto: Orbital Dago.

MIKROFON.ID – Hingga November 2021, UNHCR atau The UN Refugee Agency Indonesia mencatat 13.175 orang pengungsi dan pencari suaka berada di Indonesia. Sebanyak 57 persen berasal dari Afganistan, 10 persen dari Somalia, 5 persen dari Myanmar, dan sisanya Irak, Sudan, dan negara lainnya.

Para pengungsi dan pencari suaka perlu menunggu selama bertahun-tahun sampai bisa diberangkatkan ke Negara Ketiga (Third Resettlement Country). Pada 2021, UNHCR Indonesia hanya dapat memberangkatkan 468 orang saja ke Negara Ketiga, atau sekitar 3,55 persen dari total pengungsi dan pencari suaka.

Sisanya, terkatung-katung menggantung nasib di Jakarta, Aceh, Medan, Tanjung Pinang, Pekanbaru, dan Makassar. Kondisi ini diperparah oleh pandemi Covid-19 yang semakin memperkecil jumlah pemberangkatan, sekaligus memperbesar angka kematian akibat bunuh diri.

Pergulatan hidup pengungsi ini diserap betul oleh Nesar Ahmad Eesar. Pria kelahiran Zabul, Afganistan, ini melanjutkan sekolah seni kaligrafi dan seni lukis miniatur di kota Kabul atas ajakan kakaknya yang seorang sastrawan.

Nesar datang ke Indonesia karena mendapatkan beasiswa tahun 2012-2017 di Yogyakarta. Sempat pulang ke Kabul, tetapi kemudian kembali melanjutkan studinya di Indonesia pada 2019. Kini ia tinggal dan sedang berkuliah S2 Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung Bandung.

Seniman Afganistan, Nesar Ahmad Eesar mencipta karya soal pengungsi korban perang, di Pameran The Eternal Waiting, di Orbital Dago Bandung. Foto: Orbital Dago.

Pada 24 Februari-6 Maret 2022, Nesar menampilkan sederet karyanya yang meluapkan rasa dan pengalaman sebagai pengungsi, melalui Pameran The Eternal Waiting yang digelar di Orbital Dago Bandung.

Kurator Pameran The Eternal Waiting, Diaz Ramadhansyah melihat Nesar lebih menyoroti kepada masalah keseharian para pengungsi di Indonesia selama menunggu kepastian tentang keberangkatan ke negara tujuan. Mereka mencoba mengisi waktu dengan kegiatan seperti masak bersama, olahraga atau hal lainnya.

“Kegiatan tersebut mereka lalukan berulangkali hingga menjadi aktivitas sehari-hari, dan berlangsung hingga bertahun-tahun. Mereka tetap beraktivitas secara fisik tapi mental para pengungsi dihadapkan pada depresi karena menunggu kejelasan identitas, keberangkatan ke negara tujuan,” ujar Diaz.

Seniman Afganistan, Nesar Ahmad Eesar mencipta karya soal pengungsi korban perang, di Pameran The Eternal Waiting, di Orbital Dago Bandung. Foto: Orbital Dago.

Dampak Perang

Diaz menuliskan, peperangan disinyalir menjadi penyebab nomor satu pengungsian. Buktinya Afganistan merupakan negara dengan peperangan tanpa akhir, hingga memiliki sebutan “Kuburan Para Penguasa,” dimulai sejak Alexander Agung menginvasi Afganistan pada tahun 330 SM, dilanjutkan Genghis Khan dan pasukan Mongolnya, hingga upaya-upaya pasukan Inggris, Uni Soviet, Amerika, bahkan Taliban.

Konvensi Pengungsi 1951 (Convention Relating to the Status of Refugees) mendefinisikan para pengungsi sebagai, “Orang yang dikarenakan oleh ketakutan yang beralasan akan penganiayaan, yang disebabkan oleh alasan ras, agama, kebangsaan, keanggotaan dalam kelompok sosial dan partai politik tertentu, berada di luar negara kebangsaannya dan tidak menginginkan perlindungan dari negara tersebut.”

Selepas diri meninggalkan negaranya, para pengungsi ini kehilangan seluruh haknya sebagai warga negara. Masalah lainnya, mereka tidak bisa menjadi warga negara Indonesia disebabkan Indonesia bukan Negara Ketiga berdasarkan konvensi tersebut.

Meski Indonesia tak memiliki kewajiban untuk menyejahterakan mereka, pemerintah Indonesia telah menerbitkan Perpres No.125 Tahun 2016 yang menyatakan kesediaan negara membantu para pengungsi dari luar negeri atas dasar kemanusiaan.

Bantuan tersebut kadang tidak cukup. Upaya UNHCR untuk memberikan penghidupan yang layak di negara transit ini juga masih jauh dari ideal.

Seniman Afganistan, Nesar Ahmad Eesar mencipta karya soal pengungsi korban perang, di Pameran The Eternal Waiting, di Orbital Dago Bandung. Foto: Orbital Dago.

Tersingkir

Status pengungsian mengucilkan mereka dari hak-hak atas pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan. Tanpa dokumen dan identitas diri yang sah, para pengungsi dan pencari suaka sulit mendapatkan pekerjaan. Mereka hidup bergantung dari santunan UNHCR dan donasi.

“Pengungsi Afganistan merasa bukan masalah ekonomi yang menjadi momok terbesar mereka, melainkan perasaan ketidak berdayaan mereka sebagai manusia,” tutur Diaz.

Para pengungsi ini memiliki keterampilan dan pengetahuan, mendambakan kehidupan sosial yang baik, berkeluarga, mengenyam pendidikan, layaknya seorang warga negara.

Kegamangan dan penantian yang tak tampak ujungnya semakin memicu keputusasaan, ketika UNHCR tak kunjung mengirim mereka ke Negara Ketiga. Setidaknya, mereka harus menunggu paling cepat delapan tahun sebelum akhirnya diberangkatkan ke Negara Ketiga.

Hampir satu dasawarsa waktu mereka terbuang sia-sia, terkatung-katung. Sementara di luar sana, para Warga Negara Indonesia, menjalani kehidupan dengan ideal: tumbuh dewasa, bekerja, berkeluarga, dan menikmati berbagai fasilitas yang disediakan oleh negaranya.

Kondisi ini terkadang juga dipersulit oleh masyarakat Indonesia di area sekitar kamp pengungsian. Area kamp pengungsian seperti di Kalideres, Jakarta Barat, barangkali cukup kondusif. Tetapi di beberapa wilayah Jakarta Barat lainnya terjadi penolakan warga dengan alasan keamanan maupun kesehatan.

“Stereotip bahwa pengungsi adalah pencuri rupanya masih diyakini oleh sebagian warga di Jakarta Barat. Menggantungkan harapan pada UNHCR untuk mengedukasi masyarakat pun seolah percuma. Faktor penolakan ini turut menambah keputusasaan para pengungsi,” kata Diaz.

Sejumlah media memberitakan setidaknya selama tahun 2019 hingga 2022 ada 13 pengungsi Afganistan di Indonesia yang mengakhiri hidupnya sendiri. Namun kenyataannya para pencari suaka mencatat bahwa selama tahun 2021-2022 telah ada 17 korban bunuh diri.

Seniman Afganistan, Nesar Ahmad Eesar mencipta karya soal pengungsi korban perang, di Pameran The Eternal Waiting, di Orbital Dago Bandung. Foto: Orbital Dago.

Karya The Eternal Waiting

Diaz menuturkan, Nesar menyoroti berbagai permasalahan yang dialami oleh saudara-saudaranya, baik dari Afganistan maupun bangsa lain. Ia mencermati sejarah, faktor-faktor penyebab pengungsian, serta problematik mereka.

Melalui Pameran Eternal Waiting di Orbital Dago, Bandung, 24 Februari-6 Maret 2022, Nesar secara halus melakukan kritik sekaligus menuturkan kisah-kisah yang dialami para saudaranya, termasuk cerita-cerita yang tidak diekspose oleh media. Karya Eternal Waiting #1 hingga #8 dibuat selama tahun 2021 dan bercerita layaknya silent comic.

Setiap karya menampilkan beragam tanda visual yang bisa diceritakan satu-persatu, saling berkaitan dan menjalin sebuah cerita utuh.

Seniman Afganistan, Nesar Ahmad Eesar mencipta karya soal pengungsi korban perang, di Pameran The Eternal Waiting, di Orbital Dago Bandung. Foto: Orbital Dago.

Realis-Miniatur

Rangkaian karya Eternal Waiting dibuat di atas kanvas dengan medium cat minyak, tidak berbeda dengan karya-karya Nesar sebelumnya, tetapi spesial sebagai momentum di mana ia keluar dari kebiasaan melukis potret.

Nesar menggabungkan gaya lukisan realis dan miniatur dari dua seniman Afganistan yaitu Ghiasud Din Siah Qalam dan Kamaludin Behzad. Pengaplikasian gaya miniatur ini terlihat dari bagaimana Nesar meniadakan bayangan pada setiap indeks gambarnya, peniadaan perspektif, dan penanda waktu.

“Penggunaan warnanya bervariasi dan menarik. Mengulang lukisan hingga delapan kali pun, Nesar tetap menghasilkan warna yang sama. Gaya ini kemudian dikombinasikan dengan kemahirannya pada gaya realis, sebagaimana terlihat pada wajah figur-figur manusia dan jin,” ucap Diaz.

Pada beberapa bagian Nesar sengaja mengeruk karyanya dengan sisir untuk memberi kesan dramatis. Ide penggabungan gaya tersebut menunjukkan kepiawaian Nesar dalam teknik berkarya, berkat latar belakang pendidikannya.

Seniman Afganistan, Nesar Ahmad Eesar mencipta karya soal pengungsi korban perang, di Pameran The Eternal Waiting, di Orbital Dago Bandung. Foto: Orbital Dago.

Dia menjelaskan, penuturan kisah Nesar melalui karya-karyanya ini menarik untuk dicermati menggunakan metode bahasa rupa Primadi Tabrani yang berfokus pada Ruang, Waktu, dan Datar. RWD tidak mengenal perspektif, tapi di dalamnya tetap tergambar jarak (ruang) dan momentum (waktu).

Peniadaan perspektif memungkinkan setiap indeks disusun berdasarkan urgensinya. Ukuran lebih besar berarti lebih penting, dan dibaca lebih dulu. Ukuran lebih besar juga secara reflek menunjukkan waktu masa sekarang, dan yang lebih kecil terjadi di masa sebelumnya.

“Pada kasus lukisan Nesar, setiap indeks yang terkandung di dalamnya digambarkan secara unik, sarat makna, dan mewakili fragmen penting kisah sejarah pengungsian Afganistan. Indeks seperti figur manusia, latar gunung, dan pepohonan ditampilkan di setiap karya, memberi kode bahwa delapan karya Eternal Waiting ini berlatar tokoh dan lokasi yang sama,” katanya.

Keberadaan indeks gunung membagi area atas dan bawah untuk menandai lokasi yang berbeda. Dataran tempat figur pengungsi berada diasumsikan sebagai negara transit, Indonesia, sementara di balik gunung adalah negara asal pengungsi.

Nesar tidak menggambar langit biru, matahari, atau bulan untuk mengekspresikan waktu. Ia justru mengulang bentuk awan Cina di setiap lukisannya, namun posisinya selalu berpindah. Secara tersirat Nesar ingin menekankan kembali bahwa waktu terus berjalan selama para pengungsi ini menanti.

Nesar tidak secara gamblang menyinggung satu kelompok atau negara melainkan menyamarkan beberapa indeks dengan siluet atau warna blok. Siluet tank dan prajurit jelas tergambar sebagai simbol peperangan yang terjadi di Afganistan, penyebab nomor satu pengungsian.

Seniman Afganistan, Nesar Ahmad Eesar mencipta karya soal pengungsi korban perang, di Pameran The Eternal Waiting, di Orbital Dago Bandung. Foto: Orbital Dago.

Figur

Pada lukisan ke-5 siluet prajurit berubah dari ikon tentara Barat menjadi Timur Tengah, terlihat dari perubahan siluet helm menjadi turban. Figur pria dengan rompi life-vest menjadi simbol sang pengungsi, dan adanya gambar karpet bertuliskan UNHCR membuatnya jadi satir.

Nesar menggunakan lebih banyak metafora. Di antaranya yang perlu mendapatkan perhatian adalah ikon api pada latar dan pada figur pengungsi, kaligrafi, figur wanita, dan sosok jin yang perlahan-lahan menampakkan dirinya.

Sumber inspirasi Nesar menggambar jin tersebut berasal dari karya-karya Siyah Qalam yang menampilkan delapan puluh lukisan jin berdasarkan cerita rakyat Arab. Di sana, jin direpresentasikan sebagai makhluk antromorfik atau memiliki sifat-sifat seperti manusia.

Gaya penggambarannya dipengaruhi oleh tradisi artistik Cina, Persia, Turki, atau Mongol. Kitab suci Al-Quran menceritakan jin sebagai makhluk yang tercipta dari api tanpa asap, dan rakyat Arab menggambarkan mereka sebagai sosok yang kerap merasuki tubuh manusia dan mendorong terjadinya perilaku jahat.

“Tidak ada konsensus global mengenai sosok jin sebenarnya. Setiap bangsa memiliki imajinya masing-masing untuk menggambarkan makhluk ini, termasuk bangsa Indonesia. Namun Nesar menyadari, ada simbol-simbol jin yang dipercaya oleh hampir seluruh bangsa yaitu bertubuh manusia namun berwajah binatang, serta memiliki tanduk dan ekor. Penggambaran seperti ini sekaligus menyiratkan bahwa jin dan manusia sangat dekat, sama-sama bisa berkelakuan jahat. Seperti iblis,” ujarnya.

Seniman Afganistan, Nesar Ahmad Eesar mencipta karya soal pengungsi korban perang, di Pameran The Eternal Waiting, di Orbital Dago Bandung. Foto: Orbital Dago.

Hak Perempuan

Bagi Nesar, kaum perempuan Afganistan merupakan golongan yang paling menderita akibat pemerintahan Taliban. Mereka dikecualikan dari bidang sosial, ekonomi, dan politik. Mereka juga direpresi hak-haknya, seperti tidak boleh bekerja, tidak boleh bepergian sendiri, diatur cara berpakaiannya, serta dibatasi kebebasannya untuk berekspresi dan berserikat.

Figur perempuan pada lukisan Nesar menyoroti bagaimana perempuan Afganistan memprotes tekanan-tekanan tersebut, khususnya ketika dicabut hak mereka atas pendidikan. Nesar menggarisbawahi ironi yang dilakukan Taliban: berjanji menjalankan Islam sesuai syariat namun dengan mudahnya mengambil hak-hak perempuan yang justru seharusnya dimuliakan dalam Islam.

Ia juga mengkritisi kinerja UNHCR sebagai lembaga di bawah United Nations yang dinilai tidak kompeten dalam menyelesaikan permasalahan pengungsi. Mereka membatasi gerak para pengungsi, membuat mereka menunggu, sembari tetap tidak menghasilkan kemajuan andimistrasi dan justru terus menggantungkan harapan para pengungsi.

Diaz mengatakan, kondisi ini terlalu aneh bagi Nesar, seolah-olah para pengungsi ini memang sengaja “dipelihara” untuk keuntungan suatu oknum. Kecurigaan ini Nesar tuangkan ke dalam figur jin yang ia sebut Dew (iblis), yang secara tersurat melakukan pengintaian dan menikmati pemandangan keputusasaan para pengungsi sementara dirinya hidup makmur bergelimang harta.

Narasi seperti ini tidak pernah diungkap oleh media, atau, disembunyikan dengan begitu rapi oleh para oknumnya. Penyiksaan mental seperti ini tidak mungkin dilakukan oleh satu kelompok saja, melainkan mengakar pada berbagai “pemangku kepentingan”. Memahami kondisi ini, rasanya jadi wajar jika banyak pengungsi yang lelah dan memilih untuk mengakhiri hidupnya.

“Tiada lagi harapan bagi mereka, ketika pihak-pihak yang paling mereka andalkan justru tidak memanusiakan mereka,” ujar Diaz.

Seniman Afganistan, Nesar Ahmad Eesar mencipta karya soal pengungsi korban perang, di Pameran The Eternal Waiting, di Orbital Dago Bandung. Foto: Orbital Dago.

Berharap Perhatian

Permasalahan pengungsi tidak akan berakhir selama peperangan masih terjadi. Luka yang ditimbulkan terlalu dalam. Para pegungsi keluar dari negaranya dengan harapan dan pengorbanan yang begitu besar, namun yang terjadi adalah keluar kandang harimau masuk mulut buaya.

“Fanatisme suku dan kebangsaan sama mengerikannya. Ini seperti perang saudara yang notabene rawan sekali terjadi, bahkan bisa dan tidak mustahil menimpa rakyat Indonesia. Melalui karya-karyanya, Nesar berupaya menyadarkan kita bahwa pengungsian ini adalah masalah besar yang patut mendapat perhatian lebih,” kata Diaz.

Pameran Eternal Waiting mempertunjukkan daya guna Nesar sebagai seorang seniman. Tidak hanya sebagai pemuas estetik, tetapi juga berkontribusi mengungkap realita, memberi penyadaran, serta mengupayakan perubahan.

Sembilan lukisan dan enam sketsa sekaligus mengajak kita menyelami makna sebuah penantian. Aktivitas menanti terjadi karena adanya harapan yang dituju, yang akan datang. Namun jika kenyataannya penantian ini abadi, maka apa yang masih bisa diharapkan? Eternal Waiting menjadi alegori yang tepat menggambarkan bahwa permasalahan peperangan, pengungsian, dan HAM ini adalah masalah kita bersama untuk kita hayati dan cegah bersama,” ujarnya.

Seniman Afganistan, Nesar Ahmad Eesar mencipta karya soal pengungsi korban perang, di Pameran The Eternal Waiting, di Orbital Dago Bandung. Foto: Orbital Dago.

Pengalaman

Karya-karya lukisan seniman berkebangsaan Afganistan , Nesar Ahmad Eesar didasari oleh pengalaman-pengalaman para pengungsi Afganistan akibat konflik yang berkepanjangan di negaranya. Pengalaman menjadi pengungsi di Pakistan selama dua tahun, ketika perang sipil antara tahun 1996 hingga 2001, membawa pengalaman pribadi seniman kepada kehidupan teman, saudara, yang menjadi pengungsi di Rumah Detensi Imigrasi (Redunim) Jakarta, Indonesia.

Menurut Nesar, impian dan realitas yang mereka dapatkan tidak sama, bahkan muncul masalah-masalah baru yang mereka hadapi. Sebagian besar dari pengungsi yang datang ke Indonesia mengaku bahwa Indonesia bukanlah tempat tujuan akhir mereka.

Mereka tidak mendapatkan hak untuk berkerja ataupun untuk melanjutkan pendidikan formal yang semestinya. Mereka mengandalkan bantuan yang ada, yang jumlahnya terbatas dan harus berbagi bersama pengungsi lainnya.

Berbagi kamar, makanan, hingga pakaian. Persoalan di atas muncul dalam kehidupan para pengungsi ketika mencapai Indonesia dan transit di sini bertahun-tahun tanpa adanya identitas, pekerjaan dan fasilitas lain yang dibutuhkan seseorang dalam kehidupannya.

Bio Nesar

Latar belakang Pendidikan:

Graduated from high school in Afganistan at 2011 in Arts high school.

Student of Azrakhsh English language center .

Certificate from institute of the art Indonesia Yogyakarta as Darmahasiswa student 2012-2013.

Degree in art from indonesian Institute of the Arts Yogyakarta 2017

Riwayat Kerja

Worked as a cartoonist in SorGhar newspaper 2008_ 2010.

Worked as a cartoonist in Walwala newspaper about one year. 2009-2011

Teacher of Calligraphy in my own course 2007 – 2012.

Pameran Tunggal

  • ‘PIECES OF PEACE’ in R.J Katamsi Gallery ISI Yogyakarta. 22/02/2016
  • ‘PAIN’ in Katamsi Gallery ISI Yogyakarta. 22/06/2016
  • ‘RUMAH KEDUA’ in Hotel Duta Wisata 1. 02/07/2016
  • PALADIN NATION SHOW in ISI Yogyakarta 4./1/2017
  • WE in GOR UNY Yogyakarta 20 march 2017
  • FOLAD degree show in ISI Yogyakarta 12 July 2017
  • The Eternal Waiting , Orbital Dago , Bandung. 2022

Penghargaan

  • The best student at Art School Kabul Afghanista. 2009
  • The best student at Art School of Sanaye Kabul Afganistan. 2010
  • The best basic painting 1 in ISI Yogyakarta. 2013-2014
  • The best basic painting II in ISI Yogyakarta. 2013-2014
  • The best painting in workshop paper gallery 2016
  • The best painting in Djoko Pekik Art Award 2016
  • 2nd winner of borobudur painting competition 2017
  • The medal of humanity, peace, and Knowledge 1st may 2017

Pameran Bersama

  1. 2010 : (ART DAY) Exhibition in Institute of the art Kabul Afganistan.
  2. 2011 : (ART DAY) Exhibition in Institute of the art Kabul Afganistan.
  3. 2013 :
  4. ​“Seni Lukis Dasar 1” Galeri Katamsi ISI Jogja.
  5. ​“Plasa Ceria” Plasa Kampus ISI Jogja.
  6. ​“Rekreasi Seni” SASMI FAIR Unsoed, Purwokerto.
  7. 2014 :
  8. ​“Menyambut Tahun Baru 2014” Hotel Dota Wisata 1 Jogja.
  9. ​“Spirit Grebeg Sekaten” Hotel Dota Wisata 1, Jogja.
  10. ​“ATAL & ROMAN” Hotel Dota Wisata 1 Jogja.
  11. ​“Seni lukis Dasar 2” Galerry Katamsi of ISI Jogja.
  12. ​“Steal If You Dare” JL Gajayan, Jogja.
  13. ​“dies Natalis ISI” Galerry ISI Jogja.
  14. ​“Menglihat pada tanah yang berkerak” JNM Jogja.
  15. 2015
  16. ​“Dunia yang di lipat” TBY Jogja.
  17. ​(4 2 6) in PERAHU Art Connection.
  18. ​(Politics) in FSR ISI Jogja.
  19. ​“KOST PLAY” in Yogyakarta Indonesia.
  20. 2016
  21. ​Jerengrenteng #4 ‘RED APPLE’ 14/02/2016
  22. ​“Dies Natalis ke XXXII” 2016
  23. ​Rupa-Rupa Warnanya in Tahunmas Artroom 2016
  24. ​IPG Malaysia & ISI YK di ISI Yogyakarta sept 15 2016
  25. ​RERAJAH in R.J Katamsi gallery ISI Yogyakarta 1st october 2016
  26. ​TERANG BULAN in plataran Djokopekik 14th December 2016
  27. ​AKSI ARTSY in R.J Katamsi Gallery ISI Jogja 20th Dec 2016
  28. 2017
  29. ​THE BALANCE at limanjawi art house magelang 2017.
  30. ​DIES NATALIS XXXIII in R.J Katamsi Gallery 2017.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: