Pameran Surveying Surfacing, Merekam Cara Penguasa Mengawasi Massa

Pameran “Surveying Surfacing,” mengungkap ragam gaya rezim mengatur kepatuhan khalayak, di Galeri Ruang Dini, Bandung, 11-31 Maret 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

MIKROFON.ID – Galeri Ruang Dini bersama Ruang MES 56 mengadakan pameran bersama “Surveying Surfacing,” di Galeri Ruang Dini, Jl. Anggrek No.46, Cihapit, Bandung, 11-31 Maret 2022.

Karya fotografi yang dipamerkan para seniman berbasis Yogyakarta yakni Akiq AW, Danysswara Gobi, Dito Yuwono, Rangga Purbaya, dan Wok The Rock ini merekonstruksi pengamatan masing-masing dalam menangkap arti kepatuhan khalayak, berdasarkan aturan penguasa dari rezim yang berbeda.

Dari caratan kuratorial pameran bersama “Surveying Surfacing,” oleh Indeks (@indeks_id), setiap rezim penguasa tentu memiliki moda produksinya masing-masing dalam membentuk citra pemerintahannya.

Pameran “Surveying Surfacing,” mengungkap ragam gaya rezim mengatur kepatuhan khalayak, di Galeri Ruang Dini, Bandung, 11-31 Maret 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

Di masa Orde Baru, pohon beringin tidak hanya dijadikan sebagai simbol negara, namun juga dikooptasi dalam satu kendaraan politik praktis yang langgeng bertahan selama lebih dari tiga dekade.

“Di era ini, ‘stabilitas’ dan pembangunan seolah- olah menjadi hal yang sakral dan hadir sebagai landasan negara untuk meregulasi pemerintahannya. Atas nama stabilitas–layaknya pohon beringin besar yang berdiri kokoh–kepatuhan adalah sebuah kepatutan agar rezim penguasa dapat tetap bertahan,” demikian catatan yang ditulis Indeks.

Dalam periode 1964-1971, Indeks mencatat fase menjelang senjakala Demokrasi Terpimpin. Kala itu, transformasi Sekber Golongan Fungsional menjadi sebuah parpol ikut dibidani oleh seorang “dukun” politik.

Perwira militer ini gandrung akan ramalan Jayabaya yang menubuatkan tatanan stabil bernegara. Terawangan politiknya ampuh. Restunya mengamini pohon beringin sebagai simbol. Lewat sulur-sulutnya, pohon bertuah ini diyakini membawa semangat mengayomi dan menyatukan.

Pameran “Surveying Surfacing,” mengungkap ragam gaya rezim mengatur kepatuhan khalayak, di Galeri Ruang Dini, Bandung, 11-31 Maret 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

Narasi itu merupakan terjemahan dari karya foto Wok berjudul The Great Banyan Disorders (series) dalam lima seri “Beringin,” yang dicetak di atas kanvas.

Deretan pohon tua nan agung, digdaya, dengan segala kemegahannya, mengarungi era dengan beralih fungsi menjadi spot “mojok,” TPS (Tempat Pembuangan Sampah) dadakan, hingga menyiapkan posisi baru di tengah proyek pembangunan.

“Di Dinding Kota Aku Temukan Para Anggotanya” karya Akiq AW mengingatkan strategi usang negara yang menempatkan relief sebagai “wakil” pemerintah di tengah publik. Akiq menangkap gambar relief petugas berseragam satuan lalu lintas kepolisian yang sebagian telah rusak.

Pameran “Surveying Surfacing,” mengungkap ragam gaya rezim mengatur kepatuhan khalayak, di Galeri Ruang Dini, Bandung, 11-31 Maret 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

Indeks menilai, layaknya relief aparat lalu lintas pada seri foto “Di Dinding Kota Aku Temukan Para Anggotanya” karya Akiq AW, yang catnya terkelupas retak dan ditimpa vegetasi liar, pohon beringin pada foto Wok juga tidak ditampilkan sebagai sebuah penanda otoritas negara yang adiluhung.

Kedua karya tersebut tidak diciptakan sama: “Di Dinding Kota Aku Temukan Para Anggota” adalah sebuah dokumentasi fotografis, sedangkan “The Great Banyan Disorders” (series) merupakan apropriasi spekulatif.

“Namun demikian, apropriasi dan dokumentasi ini merekam hal yang sama: memudarnya sebuah era kekuasaan tunggal,” kata Indeks. 

Perulangan

Diresmikannya Perumnas sebagai paket pembangunan pun menjadi wujud lain atas usaha Soeharto untuk membentuk karakter manusia “kelas menengah” yang bersinergi bagi tujuan dan agenda negara.

Melalui siaran berita yang berhasil ditangkap oleh Dito Yuwono dalam Sarana Bina Keluarga Perumnas yang diresmikan Soeharto, diluncurkan sebagai sebuah paket pembangunan tata kota ke wilayah satelit dan sekaligus pembentukan karakter manusia sesuai dengan agenda pemerintah.

Pameran “Surveying Surfacing,” mengungkap ragam gaya rezim mengatur kepatuhan khalayak, di Galeri Ruang Dini, Bandung, 11-31 Maret 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

Karya foto Dito ini ditampilkan di dalam tayangan televisi versi tabung. Dengan menggunakan konverter khusus, foto-foto dengan bingkai berlapis menjalankan mode slideshow bertema suasana rumah di era 70an.

Latar suara tayangan itu memperdengarkan siaran berita TVRI yang melaporkan persiapan Presiden Soeharto meresmikan layanan kereta rel listrik dari Jakarta menuju Depok. Perjalanan kereta itu sekaligus mengarahkan pada peresmian Perumnas Depok I.

Mempertegas pesan sebagai Bapak Pembangunan yang begitu memperhatikan rakyatnya, peresmian itu sejurus dengan penyerahan rumah Perumnas secara simbolis bagi wartawan Harian Angkatan Bersenjata.

Korban Peristiwa 1965

Kegelapan negara kian terungkap dan semakin jelas, seperti halnya peristiwa 1965 ketika banyak manusia yang menjadi tumbal pengambilalihan kekuasaan. Generasi boleh jadi akan berganti dan lupa menjadi ancaman paling laten.

Narasi dan informasi visual pada sisi korban peristiwa 1965 adalah hal yang terlalu lama ditabukan untuk dibicarakan, diingat, apalagi dicatat secara formal. Pada karya Rangga, citraan wajah memang cukup berjarak dari sifat visual fotografis.

Pameran “Surveying Surfacing,” mengungkap ragam gaya rezim mengatur kepatuhan khalayak, di Galeri Ruang Dini, Bandung, 11-31 Maret 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

Namun demikian, karakter facial masih sangat jelas untuk bisa dikenali dan diingat. Dalam usaha untuk mendapatkan informasi sintesis terkait peristiwa 1965, bisa jadi institusi kecil setingkat keluarga atau kerabat menjadi tempat terakhir untuk mendulang data.

Namun, inisiatif menulis ulang sejarah dengan usaha mengolah data (meski seiring pergeseran rezim pengolahan data dan teknologi informasi kian melintasi batas privasi) yang terus berlangsung secara mandiri di tengah masyarakat Indonesia, membantu kita untuk tetap menyegarkan ingatan, dan pameran “Surveying Surfacing” menjadi bentuk lain akan usaha tersebut.

Pameran “Surveying Surfacing,” mengungkap ragam gaya rezim mengatur kepatuhan khalayak, di Galeri Ruang Dini, Bandung, 11-31 Maret 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

Pengawasan Kamera

Ada pula gambaran otoritas negara dengan kekuatan digitalnya, yang mengatur gerak gerik publik dari ciri mulai merambatnya kamera pengawas di tembok-tembok ruang sosial atau mengarahkan sipil melepas-kendali data pribadi sebagai upaya pengendalian pandemi.

Tanpa mikrocip yang ditanamkan ke dalam tubuh, konsekuensi penanganan pandemi memang telah jauh melintasi batas privasi. Sistem besar yang dikelola oleh otoritas negara menghubungkan banyak informasi personal dan meregulasinya secara ketat.

Sertifikasi vaksin terhubung dengan nomor kependudukan dan menjadi prasyarat untuk perjalanan dan mengakses ruang-ruang publik. Belum lagi aturan untuk selalu memindai QR Code yang artinya merekam keberadaan individu pada lokasi dan waktu tertentu.

Pameran “Surveying Surfacing,” mengungkap ragam gaya rezim mengatur kepatuhan khalayak, di Galeri Ruang Dini, Bandung, 11-31 Maret 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

Kendati demikian, lahirnya generasi baru menjadikan transisi politik sebagai suatu keniscayaan. Hadirnya mereka yang menantang wibawa “Sang Pohon Besar” menjadi pertanda bahwa sebuah era kekuasaan tunggal telah pudar.

Berbagai bentuk pengawasan dilakukan untuk menciptakan kepatuhan. Entah itu melalui telescreen, berupa peringatan berulang, melalui emulasi polisi (sebagai otoritas negara yang adiluhung), atau sekadar tampilan wajah pemegang otoritas sebagai figur “bapak negara” yang tersebar di mana-mana untuk menandakan bahwa khalayak berada dalam pengawasan.

Masing-masing dari para seniman di pameran ini tumbuh menyaksikan periode kekuasaan politik yang berbeda-beda.

Mereka memiliki persepsi dan pengalamannya sendiri atas moda produksi citra; moda produksi yang pada pameran ini ditempuh secara berbeda-beda untuk merekam, mengingat, menulis ulang, hingga menandingi otoritas negara dalam membentuk kepatuhan khalayak.

Dalam rentang waktu enam dekade, pembangunan karakter manusia ini dilakukan lewat pembangunan infrastruktur, karisma politik elektoral, hingga regulasi teknologi informasi. Surveying Surfacing adalah bunga rampai bagaimana usaha untuk membentuk kepatuhan ini terus menerus dinegosiasikan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: