mikrofon.id

Pameran Sinkretisme: Persoalan Kehidupan Religi di Indonesia

MIKROFON.ID – Hingga 17 Desember 2020 mendatang, Orbital Bandung masih akan menampilkan Adhya Ranadireksa dalam gelaran pameran tunggal bertajuk “Sinkretisme”.

Kurator pameran, Rifky “Goro” Effendy menjelaskan, dalam situs Wikipedia disebutkan bahwa Sinkretisme adalah suatu proses perpaduan yang sangat beragam dari beberapa pemahaman kepercayaan atau aliran-aliran agama.

Pada sinkretisme terjadi proses pencampuradukkan berbagai unsur aliran atau paham, sehingga hasil yang didapat dalam bentuk abstrak yang berbeda untuk mencari keserasian, keseimbangan.

Istilah ini bisa mengacu kepada upaya untuk bergabung dan melakukan sebuah analogi atas beberapa ciri-ciri tradisi, terutama dalam teologi dan mitologi agama. Dengan demikian, muncul penegasan sebuah kesatuan pendekatan yang memungkinkan untuk berlaku inklusif pada agama lain.

Rifky menuturkan, karya-karya Adhya, apakah itu lukisan, fotografi, maupun obyek lain, selalu cenderung nakal: bernada sinis tapi sekaligus mengandung sisi humor dalam menangkap persoalan yang ada di dalam masyarakat seperti intoleransi maupun radikalisme yang mengganggu keharmonisan beragama.

Melalui pameran Sinkretisme ini, Adhya ingin mengungkapkan persoalan tersebut dengan caranya , seperti dalam suatu cuplikan wawancara beberapa tahun lalu.

“Yang saya coba tampilkan adalah layer yang tidak kasat mata. Mencoba berada di sisi “in between”, berusaha melahirkan ambiguitas persepsi, dimana para penikmat memiliki kebebasan dalam berinterpretasi,” tutur Adhya, saat itu.

Religi

Ranadireksa kembali dengan karya-karya lukisannya yang sebagian besar menyajikan berbagai rupa fauna atau binatang hibrid. Hewan yang ditampilkan ini, terutama keledai yang bermutasi dengan rupa hewan lainnya seperti unta, katak, harimau, kadal, sebagai pusat dengan latar belakang lukisan flora dengan berbagai bentuk stilasinya.

Selain itu, ada pula lukisan dengan tulisan-tulisan Arab (pegon) yang biasa terdapat dalam sebuah jimat atau isim yang biasa ditemukan dalam beberapa budaya Nusantara.

Lukisan-lukisan Adhya ini, kata dia, tidak hanya menampilkan problem rupa binatang terutama keledai, tetapi juga sebagai penyimbolan kepada suatu fenomena di dalam kehidupan budaya dan religi hari-hari ini.

Fenomena ini muncul dari berbagai bentuk, terutama dengan akar budaya yang didasari percampuran dari berbagai sumber nilai yang menghasilkan bentuk-bentuk yang sinkretis, hybrid, atau eklektik.

Tema pameran Sinkretisme yang diambil lebih mengarah kepada persoalan kehidupan religi di Indonesia yang hari-hari ini penuh gejolak dan mengancam nilai-nilai toleransi.

Pada lukisannya, Adhya menampilkan simbol utama dengan penggambaran sang Keledai sebagai pemaknaan kepada suatu nilai kebodohan, tak berpikir atau hanya ikut-ikutan, walaupun di sisi lain ada pula simbol positifnya, antara lain pekerja keras atau sebagai sahabat para petani dan penjelajah.

“Maka penggabungan dengan bentuk hewan lainnya memberikan makna hibrid, paradoks, menyindir, sinis, dan sekaligus jenaka. Walaupun seharusnya pencampuradukkan itu bisa saja menjadi indah dan harmonis,” kata Rifky.

Pameran gratis ini buka tiap hari mulai pukul 9.00 hingga 20.00 WIB, di Orbital Dago, Jl. Rancakendal Luhur No. 7, Dago Atas, Bandung.

Biografi Adhya Ranadireksa:

Lahir di Bandung, 1972

Pendidikan:

  • Still-life photography, Istituto Europeo Design in Rome, Italy (1994-1997).

Pameran Tunggal:

2014: “Si Tintin Positif”, S-14, Bandung;

2011: “Cultural Hero”,Veležní palác, Odessa, Ukraine;

2010 : Lidah Bercabang. Platform3. Bandung;

1996: Solo Exhibition in CTS , Rome, Italy;

1996: “Klidný”, Convent of St. Agnes, Prague- Czech;

1995:  “Solo Exhibition Annual Anniversary of IED” ; Thema: “Bianco Nero”, Rome, Italy.

Selected Group Exhibitions:

2020: Curator Choice. Bandung Art Month (BAM)3 “EDANKEUN”, BDGconnex, Bandung;

2018: Institut des Cultures d’Islam “JAVA – Art Energy”, Paris;

2017: SENI BANDUNG. KOMVNI . “De Bloem Der Indiche Bergsteden” Ropih Gallery, Bandung;

2015: BANDUNG PHOTO SHOWCASE 2015 . Selasar Soenaryo, Bandung;

2015: 16 INTERBIFEP: International Biennal Festival Portreta Tuzla 2015 a winner Award:”Diplomaforaphotograph” on 16 INTERBIFEP. International jury of the 16th INTERBIFEP composed of: Nataša Smolič – Slovenia, Ismar Mujezinović -Bosnia and Herzegovina and Feridun Işıman – Cyprus make a selection and proclamation awarded works for 16th INTERBIFEP. Bosnia and Herzegovina;

2015: “Mind of History and Culture” by Liu Zheng and Adhya Ranadireksa Redbase Art Foundation, Jakarta;

2014: “Melihat Indonesia” Ciputra Artpreneur, Jakarta;

2013: “Archives” KOMVNI , Singapore Biennale, Singapore.***

Tinggalkan Balasan

Back to top
%d blogger menyukai ini: