Pameran Merumuskan Asal: Rupa Tradisi Nusantara lewat Seni Grafis Sunaryo

Karya Sunaryo, Cili (1975). Foto: Selasar Sunaryo Art Space.

Pameran Merumuskan Asal menampilkan sejumlah koleksi karya sebagai bagian penting perjalanan karier Sunaryo sebagai seniman.

Tersaji apik di Ruang B Selasar Sunaryo Art Space selama 1 Maret hingga 24 Juli 2022, koleksi yang dipamerkan menawarkan karya-karya seni grafis Sunaryo, khususnya teknik cetak saring.

Karya-karya grafis Sunaryo dalam pameran ini menunjukkan citraan yang mengingatkan pada khazanah visual tradisi, yang secara isi berhubungan dengan soal “asal” atau “awal”.

Yang menarik, “rasa” tradisi yang muncul dalam karya Sunaryo tak melulu soal sejarah peradaban dari latar terdekat kelahiran Sang Perupa.

Meski lahir di wilayah Banyumas, Jawa Tengah, bukan Borobudur yang ia soroti sebagai bahan imajinasinya dalam menuangkan arti tradisi. Melangkah jauh, Sunaryo bertualang dengan kekayaan khazanah visual Papua, Maluku, hingga Aborigin Australia.

Kurator Selasar Sunaryo Art Space, Heru Hikayat mengatakan, pameran Merumuskan Asal ini membawa publik lebih dekat dengan jejak kekaryaan Sunaryo, yang merentang 50 tahun di dalam lautan seni rupa.

“Dalam menerjemahkan tradisi ini, Pak Sunaryo malah kemudian lebih terpantik dengan bahasa rupa dari Papua atau Aborigin. Karena yang dicari Sunaryo lebih mendasar: intuisi,” kata Heru.

Melalui catatan kuratorial SSAS, Heru menuturkan, penulis yang juga kritikus seni Sanento Yuliman menyebutnya lirisisme yang bermakna susunan rupa yang ekspresif dan memuaskan perasaan akan rupa. Lirisisme mengantarkan karya menjadi sesuatu yang sangat personal.

“Kalau khazanah visual tradisi itu turun temurun beberapa abad. Itu dipertemukan dengan kepuasan yang sifatnya personal. Kalau sudah hubungannya seperti itu kadang-kadang terlepas dari ruang geografis. Kita bisa tiba-tiba terhubung dengan khazanah Afrika atau Amerika, karena itu datangnya dari ruang personal,” tutur Heru.

Karya Sunaryo, Relung-Relung (1980). Foto: Selasar Sunaryo Art Space.

Kurator Agung Hujatnikajennong memilah pembabakan kekaryaan Sunaryo menjadi tiga. Pertama, “Fase Awal” (1969- 1973), terdiri dari karya-karya patung yang dipengaruhi secara kuat oleh bahasa estetik ‘Mazhab Bandung’.

Kedua “Fase Decenta” (1973-1983), yang terdiri dari lukisan, patung dan cetak grafis yang berangkat dari pengolahan khazanah bahasa visual Nusantara. Dan yang ketiga “Pasca-Decenta” (1984-sekarang), yang dicirikan oleh karya-karya dengan keragaman pendekatan tema, medium dan material.

Pameran Merumuskan Asal kali ini merujuk pada fase kedua, khususnya karya seni grafis. Masa-masa bersama AD. Pirous, dan seniman lainnya yang tergabung dalam Decenta terhitung sebagai babak penting dalam babak kekaryaan Sunaryo.

Decenta, atau Design Center Association, merupakan sebuah kelompok yang aktif di Bandung sejak 1973 hingga 1983. Kerja kelompok ini banyak dan ragam.

Salah satu yang menonjol dari kerja-kerja itu adalah penjelajahan dalam disiplin seni grafis (utamanya cetak saring), dan hal ini bertaut dengan pencarian akar tradisi Nusantara.

Karya Sunaryo, Senja (A Dusk) (1980). Foto: Selasar Sunaryo Art Space.

Kritikus Sanento Yuliman memaparkan satu kecenderungan dalam seni lukis seperti ini. “Pelukis menciptakan susunan rupa yang ekspresif bagi emosinya (segi liris) dan memuaskan perasaannya akan rupa (segi estetis). Segi liris dan segi estetis ini yang diterapkan Sunaryo pada penjelajahan di wilayah seni grafis, dan mempertemukannya, sebagai pribadi, dengan khazanah tradisi utamanya dari wilayah Papua dan Aborigin Australia,” kata Sanento, dalam satu waktu.

Fase Decenta pernah dipamerkan di SSAS pada 16 Mei-3 Juli 2017, dengan judul “Titik Awal: Cetak Saring Sunaryo 1973-1983”.

“Pameran ini saya rasa perlu untuk saya mengenang kembali bahwa sebetulnya apa yang sudah saya kerjakan dan sekaligus mempertanyakan hari ini saya sudah sampai di mana dan mau ke mana. Saya rasa itu yang paling penting dalam pameran ini. Dan mungkin saya tidak melihat atau tidak ingin menonjolkan bagaimana pencapaian tekniknya. Tetapi lebih bagaimana dan apa yang sudah saya lalui untuk ke depan…,” kata Sunaryo, dalam kesempatan wawancara dengan kurator Chabib Duta Hapsoro.

Dengan eksponen utama AD. Pirous, para eksponen Decenta masing-masing menjelajahi kekhasan tertentu sesuai watak dan minat pribadinya.

Fase Decenta

Heru menambahkan, Decenta dianggap sebagai fase kedua Sunaryo karena bahasa estetik Mazhab Bandung yang identik dengan formalisme: langgam seni modern yang mengutamakan pencarian individual dengan genre visual yang dianggap universal.

Dari sekian banyak kemungkinan teknik seni grafis yang terutama dieksplorasi oleh Sunaryo adalah cetak saring. Dalam risetnya, karya Sunaryo pada periode ini memang ada hubungannya dengan kerja-kerja desain yang dilakukan oleh Decenta.

“Dalam membuat karya itu cenderung terancang, terdesain, makanya ada banyak blok-blok yang menurut Sunaryo berhubungan dengan teknik kolase. Rancangan rapi diganggu dengan bagian yang sifatnya spontan. Pada periode ini Sunaryo kemudian menemukan kepuasan untuk mengeksplorasi warna-warna tanah, warna-warna yang alami, tetapi di beberapa bagian dipertemukan dengan warna yang kontras,” ujarnya.

Pameran Merumuskan Asal

Dalam rentang 50 tahun karir kesenimanannya, kekaryaan Sunaryo menjelajahi ragam genre dan media, mulai dari seni patung, seni grafis, lukisan, drawing, instalasi, seni kinetik, seni lingkungan, performans, bebunyian, dan lain-lain.

Karya Sunaryo tersebar bukan hanya di ruang-ruang pribadi, melainkan juga ruang publik; skala kecil maupun monumental. Menampilkan kekaryaan Sunaryo artinya memilah, titik tekan atau fokus mana yang hendak ditampilkan pada satu kesempatan.

Untuk melihat karya-karya yang ditampilkan dalam Pameran Merumuskan Asal, bisa mengakses melalui link berikut: Galeri Foto Pameran Merumuskan Asal.

Salah satu program rutin di Selasar Sunaryo Art Space adalah menampilkan karya-karya Sunaryo, sang pendiri SSAS. Menghuni Ruang A dan B di Selasar Sunaryo Art Space, 1 Maret hingga 24 Juli 2022, dua pameran yakni Merumuskan Asal dan Puisi Kertas & Refleksi ditampilkan sekaligus, menitik-tekankan pada dua sisi yang berbeda.

Untuk mengakses langsung artikel Puisi Kertas & Refleksi bisa langsung melalui link berikut: Pameran Puisi Kertas & Refleksi.***

Tinggalkan Balasan

Back to top
%d blogger menyukai ini: