La Joie de Vivre, Fase Ibu di Kehidupan Seniman Perempuan

Reflection#3, 2021, silk screen printing on canvas, 120 x 150 cm. Foto: Dewi Aditia.

Selepas lulus dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, Dewi Aditia disorot sebagai seniman yang cukup menjanjikan. Di tahun yang sama saat ia lulus, Ade, begitu ia biasa disapa, sempat mencapai finalis Phillip Morris Art Award 2003.

Pameran demi pameran pun diikuti Ade. Namun, catatan itu terhenti sampai pameran bersama di Bandung New Emergence, Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, pada 2006.

Tak banyak yang diungkap Ade soal keputusannya istirahat dari arena seni rupa. Tetapi cerita-cerita tentang bagaimana ia mengembangkan bisnis, menikah, dan menjadi ibu dari anaknya sudah cukup membuktikan padatnya keseharian Ade.

Sampai satu masa di tengah pandemi yang meredam tempo kesibukannya, kanvas dan kuas mulai dilirik. Ade kembali melukis dengan merdeka, tanpa tekanan, pesanan, tenggat, maupun pretensi. Sahabatnya di FSRD ITB, Keni Soeriaatmadja, yang kemudian mengetahui bahwa tumpukan karya baru Ade terus bertambah.

Time, 2022, mix media, 28 x 39 cm. Foto: Dewi Aditia.

Dengan sederet karya baru, Ade layak mendapat pameran tunggal. Bersama sokongan Keni dan Rifky “Goro” Effendi, terwujudlah Pameran La Joie de Vivre, yang digelar di Orbital Dago Bandung, 19 Mei-12 Juni 2022.

“Enggak ada niat pameran, karena udah lama enggak ngelukis. Ngelukis kemaren-kemaren itu iseng aja sebenernya, di tengah fokus sama anak usia 7 tahun, punya tempat produksi tas juga. Setelah anak masuk SD, baru ada waktu luang. Terus tiba-tiba karya numpuk dan diajakin Keni untuk pameran tunggal,” tutur Ade.

Dengan jeda berkarya cukup lama, kata dia, lumayan butuh waktu untuk meluweskan kembali mengarahkan kecermatan tangan di atas kanvas. Beberapa kali ia mencoba melukis lanskap, seperti yang pernah sempat ia pelajari di 2015. Lanskap juga sebagai penyiasat bagi waktu antara melukis dengan tuntasnya urusan domestik.

“Karena menurut saya melukis lanskap tidak perlu menunggu mood. Lebih fokus ke tekniknya, bukan pada emosi yang mau disampaikan di kanvas. Kalau lanskap, saya bisa tinggalin dulu, terus jalan lagi sampai beres. Jadi bisa sambal ngurus anak dan urusan lainnya. Salah satu alasan fokus di lanskap juga karena anak saya kan banyak tanya (tentang apa yang ia lukis), dan dia seneng ngelukis juga,” ujar Ade.

Better or Worst, 2022, cat akrilik di atas kanvas, 50 x 60 cm, diameter 40cm. Foto: Dewi Aditia.

Keni Soeriaatmadja, yang juga kurator Pameran La Joie de Vivre ini mengaku kewalahan mengajak Ade untuk memamerkan karya yang mengungkap ekspresi soal “menikmati hidup.” Alhasil, judul “La Joie de Vivre” serupa makna “The Joy of Life” itu menjadi perayaan atas keputusan Ade untuk muncul dan berbagi cara menikmati hidup dari masa-masa keasyikannya di studio, di rumah tinggalnya.

Ade juga menyatakan kesediaannya untuk mengadakan pameran tunggal asalkan dengan kuratorial yang tak rumit dan tanpa artist talk. Namun, perlu diakui bahwa jeda yang cukup lama membuka persoalan jarak usia dan kesenjangan akses terhadap jejaring.

Keni memahami sejumlah pertimbangan Ade untuk akhirnya mau kembali ke ekosistem seni karena memang sudah lama tak berkarya dan tak ikut rombongan pameran.

Namun, Ade muncul kembali dengan semangat yang sama: merangkum kesehariannya melalui serpihan-serpihan imaji, potongan kalimat serta kode-kode visual lain yang dituangkannya dengan ekspresif, lugas namun renyah di atas kanvas.

Pameran ini merentang perjalanan Ade berkarya melintasi dua dekade, sambil menyusuri berbagai peristiwa yang turut menandai proses internalisasi Ade dalam menuangkan gagasan-gagasan artistiknya.

“Secara visual, tidak sulit menikmati karya Ade. Semua tanda dan penanda tergambar dengan jelas dengan kode-kode yang mudah dipecahkan, gamblang, dan tanpa pretensi. Jika tulisan dalam karya menuliskan A, memang A itulah yang dimaksud oleh seniman,” kata Keni.

Biru, 2006, mix media, 100 x 150 cm. Foto: Dewi Aditia.

Gaya Ade berkarya mirip dengan membuat kolase. Ia menangkap imaji dari objek-objek visual di sekitarnya, memenggal kata dari sepotong lagu atau iklan, mencomot tanggal dari kalender, mereproduksi warna yang terekam dalam memorinya, kemudian menata semua hal tersebut ke dalam kanvas.

“Tak perlu dibanding-banding dengan karya seniman lain karena secara kontekstual karya dan gaya Ade hanya bisa diproduksi oleh Ade sendiri dengan habitusnya yang spesifik. Jadi untuk persoalan karya rupa, sila nikmati saja apa adanya,” tutur Keni.

Dibanding masa awal berkarya, perubahan kebebasan ruang Ade terlihat pada ukuran kanvasnya yang cenderung mengecil. Di sisi lain, peningkatan kualitas skill dan eksplorasi material menunjukkan konsistensi Ade dalam mengasah kemampuan dan kemapanan ekonomi yang dibangun dalam pertapaannya selama bertahun-tahun.

The Unseen, 2022, mix media, 28 x 39 cm. Foto: Dewi Aditia.

Fase Ibu

Kemunculan karya Ade dari studio yang berbagi ruang dengan dapur, ruang asuh anak, atau kegiatan layaknya ibu rumah tangga lainnya menuai banyak pujian. Produktifitas dan gairah kesenimanan Ade yang menjadi alasan Keni untuk mengusungnya ke tengah publik, lewat pameran.

Keni sekaligus ingin menegaskan bahwa stereotipe seorang ibu tak sesempit penggambaran yang merujuk pada suatu persoalan domestik, tindakan yang irasional atau kurang tangkas.

Keni menambahkan, kategorisasi seniman perempuan, ibu, dan ibu-ibu seakan menyajikan sekat kesenimanan yang yang berbeda-beda. Padahal dalam kasus pameran ini, semuanya adalah Ade.

“Oleh karenanya, kategorisasi ini sekali-kali perlu diberi perhatian karena seniman perempuan memang memiliki siklus kekaryaan yang khas terutama dikaitkan dengan fungsi biologis dan sosial yang diembannya ketika ia terikat fungsi menjadi ‘ibu’ atau terpapar stigma sebagai ‘ibu-ibu’,” katanya.

The Everlasting (2003), 2003, cat akrilik di atas kanvas, 125 x 100 cm. Foto: Dewi Aditia.

Keni menukil esai “Why Have There Been No Great Women Artists?” karya Linda Nochlin (1971) yang menyoroti pelanggengan gate-keeping dalam lanskap kesenian yang cenderung maskulin dan normatif.

Siklus seniman perempuan yang harus bernegosiasi dengan kebutuhan domestik dan biologis menjadi rintangan umum yang minim interfensi. Akibatnya, tidak hanya di seni rupa, namun juga di dunia sastra dan seni pertunjukan banyak seniman perempuan yang muncul ‘hanya’ sebagai one hit wonder.

“Meski begitu, kita pun perlu mempertanyakan, apa yang dimaksud Nochlin dengan ‘greatness’. Jika kemapanan dikaitkan dengan pengakuan di medan sosial seni dan nilai ekonomi pada karya yang dihasilkannya, maka makna seni di sini terasa sempit,” ujarnya.

Kamu Ga Boleh Gitu, 2022, cat akrilik di atas kanvas, 50 x 60 cm. Foto: Dewi Aditia.

Bagi Ade, melukis adalah cara ia menyimpan serpihan memori dan ruang rekam peristiwa yang mampir ke dalam lingkup kesehariannya. Mengutip Susan Sontag (2013) bahwa pemisahan antara tua-muda dan perempuan-laki-laki merupakan dua polarisasi utama yang memenjarakan manusia. Nilai-nilai yang dihubungkan dengan usia dan maskulinitas selalu menjadi alasan untuk hadirnya inferioritas yang arbitrari.

“Oleh karenanya, mari rayakan sajalah kembalinya Ade ke dalam kancah seni rupa Indonesia sebagai seniman, sebagai seorang perempuan, dan seorang ibu yang memang ibu-ibu. Apa pun embel-embel yang menyertainya, Ade mengajak kita untuk menikmati hidup, la joie de vivre. The Joy of Life. Karena seyogyanya seni itu membebaskan bukan memenjarakan,” tutur Keni.

Karya-karya Pameran La Joie de Vivre yang dipamerkan di Orbital Dago bisa ditinjau lewat Galeri Foto mikrofon.id melalui link berikut: Pameran La Joie de Vivre.

Lover, 2017, cat akrilik di atas kanvas, 65 x 85 cm. Foto: Dewi Aditia.

Riwayat Pameran

1998-2003, Studio Seni Lukis FSRD ITB;

2000, Pameran 40 Perupa di Nu Art Sculpture Park Bandung;

2000, Drawing Exhibition di Galeri Soemardja Bandung;

2002, Aura Machine Transdicipline Pameran Lukis Bersama di Koong Galery Jakarta;

2002, Artivity Society in Town Pameran lukis bersama di Griya Popo Iskandar Bandung;

2002, Rhizome Project di British Council Jakarta;

2002, Workshop dan Pameran ‘Signes’ bersama Prof. Wlassikof dari Perancis di Galeri Soemardja Bandung;

2002, Pameran dan Workshop GO! Bersama Martin Schmid di Fabriek Galery Bandung;

2003, I‘ll Be Your Mirror Pameran bersama di CCF Jakarta

2003, AH!An Exhibition from the heart di Gedung dua8 kemang Jakarta;

2003, Pameran bersama [SEDUCTION] Boys Don’t Cry, Ruangrupa, Jakarta, Cemeti – Yogyakarta;

2003, Finalis IAAA 2003 (Phillip Morris Art Award);

2004, Pameran tunggal ‘Peppermint Lounge’-Galeri Expatriart;

2004, Pameran bersama Objectivity – NADI Gallery, Jakarta;

2004, Pameran bersama ‘Lukisan Baru” di Galeri KITA Bandung;

2004, Pameran Tunggal ‘Hello It’s a Hey Day’ di Potluck Coffeebar Bandung;

2005, Pameran tunggal ‘Cherish O’day, Room #1, Bandung;

2006, Fashion show IKETERU HARAJUKU, Japan Foundation, Jakarta;

2006, Pameran bersama Bandung New Emergence, Selasar Sunaryo Art Space, Bandung.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: