Pameran Hariring Kelir: Senandung Warna Lewat Cat Air

Sebanyak 14 seniman mengikuti pameran “Hariring Kelir,” di Mola Art Gallery, Cipageran, Cimahi, 3 Desember hingga 3 Januari 2022. Ada Agus Budiyanto, Anton Susanto, Budi Bi, Dony HW, Galuh Tajimalela, Ikhman Mudzakir, Irwan Wijdayanto, Kinkin, juga Made Sutarjaya, Moelyoto, Ngurah Darma, Nur Ilham, Rendra Santana, serta Yus R. Adiwinata.

Para perupa menampilkan karya-karya istimewa, kaya warna, dengan keterampilannya mengolah cat air. Kurator Pameran Hariring Kelir, Anton Susanto mengungkapkan, pameran ini menyajikan berbagai tema dengan basis cat air.

Cat air merupakan sebuah medium yang tidak dapat sepenuhnya dikontrol maupun dimanipulasi. “Berbeda dengan medium lukis cat minyak atau cat akrilik yang dalam pengerjaannya dapat sepenuhnya dikontrol atau dimanipulasi sehingga memberikan hasil visual sesuai dengan yang direncanakan,” ujar Anton.

Namun, dengan tingkat kesulitan yang dihadapi, karakter cat air mampu memberikan ruang kejutan yang menjadikannya salah satu aspek keunggulan. Penamaan hariring sebagai tajuk pameran menyadur makna diksinya dari bahasa Sunda yang berarti senandung.

Foto: Mola Art Gallery.

Menyarikan senandung yang lembut sealiran dengan sifat cat air yang menawarkan karakter visual nan lembut, atau lebih ringan dibanding medium lain. Hasil pewarnaan cat air juga menayangkan tingkat kecerahan yang berbeda serta karakater yang paling khasnya yaitu transparan.

Anton menambahkan, kelir atau warna pada judul pameran ini tidak semata merujuk pada pemaknaan warna yang beragam secara harfiah. Kelir juga ditujukan sebagai penanda keragaman cara dan pendekatan setiap seniman dalam proses berkarya dengan medium cat air.

Kelir menjadi sebuah penanda ruang yang terbuka untuk perbedaan di mana saat semua disandingkan secara bersamaan akan menjadi sebuah komposisi orkestrasi yang menjadi satu kesatuan yang khas dan unik.

“Yang mana, akan menjadi sebuah kompilasi penampang atas perkembangan juga dinamika serta kecenderungan cat air yang merupakan sebuah ‘medium unik’ di ranah seni rupa secara global hari ini, setidaknya di Indonesia. Setiap seniman adalah kelir yang akan melahirkan kelir-kelir yang beragam pada setiap karyanya,” katanya.

Foto: Mola Art Gallery.

Senandung

Pameran ini bertajuk “Hariring Kelir” yang diambil dari bahasa Sunda, yang bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya adalah Senandung Warna.

Hariring atau senandung adalah alunan lagu atau nyanyian dengan suara lembut untuk menghibur diri. Biasanya senandung ini dilantunkan untuk menenangkan dan menidurkan bayi.

Dalam bersenandung tercipta harmonisasi nada yang diungkapkan secara lembut dan tidak  lantang, namun tetap dengan vibrasi dan energi yang mampu menggerakan hati atau emosi bagi yang melantunkan lagu tersebut ataupun mendengarkannya.

“Hariring merupakan sebuah proses yang personal, terdapat keintiman terhadap diri ‘aku’ yang melantunkannya, namun tetap memiliki kemampuan untuk menyentuh dan berinteraksi dengan yang berada di luar “ke-diri-annya”. Lembut namun berdampak,” tutur Anton.

Foto: Mola Art Gallery.

Sejurus dengan tujuannya, pameran Hariring Kelir ini diharapkan dapat menjadi ruang ekspresi dan eksplorasi bagi setiap seniman yang terundang. Setiap seniman diberikan ruang seluas-luasnya untuk memilih alunan senandungnya masing-masing dalam berkarya.

“Terselip proses kontemplatif yang intim namun tetap memberi bagian kepada publik untuk dapat berinterkasi dan apresiasi. Seperti halnya alunan hariring, dapat dilantunkan dengan versi masing-masing, begitu pun dalam proses berkarya para pelukis dengan medium cat air ini. Setiap pelukis dapat melakukan ekplorasi dan juga eksperimentasi terhadap cat air sebagai modus dan media kekaryaan,” tuturnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: