Pameran Fotografi “Dystopian Diffraction: Absence/Presence” Isi Galeri Ruang Dini

Di Galeri Ruang Dini, gelaran Bandung Photography Triennale mengangkat sub tema “Dystopian Diffraction: Absence/Presence” untuk tiga karya perupa.

Ada Sjuaibun Iljas dari Indonesia, Alberto Marin dari Cile, dan Nguyen The Son dari Vietnam, yang memajang karyanya, di Galeri Ruang Dini, Jalan Anggrek No. 46 Bandung, 9 sampai 30 September 2022.

Alberto Marin menghadirkan lanskap arsitektural. Ruang yang muncul merupakan ruang publik pada perkotaan. Bangunan dan ruang yang ada menunjukkan berbagai karakteristik tempat, dari bangunan tiket, bangunan publik, dan tanah kosong.

Ruang urban kota yang seharusnya hiruk pikuk dengan segala aktivitasnya justru “absence” oleh aktivitas manusia.

Dengan ketidakhadiran aktivitas manusia ruang publik ini justru pada ujungnya akan menjadi ruang privat. Karya Marin juga menyoal tatanan ruang arsitektural dengan intensi yang semuanya merujuk soal daya guna ruang tersebut dari jejak manusia.

Karya Marin membangun relasi antara yang privat dengan yang publik dan yang personal dengan yang kelompok.

Pameran Dystopian Diffraction: Absence/Presence bagian dari Bandung Photography Triennale, di Galeri Ruang Dini, 9-30 September 2022. Foto: Bandung Photography Triennale.

Karya Nguyen The Son, hadir menyoal tentang kerusakan lingkungan. Nguyen menyoroti tentang hubungan sebab akibat dari sebuah masalah ekologi pada sungai (sungai merah).

Sungai tersebut merupakan sumber kehidupan utama dari masyarakat utama yang ada di Hanoi, tempat dia tinggal. Karya Nguyen menghadirkan pencemaran lewat cerobong asap yang menjadi penyebab (di hulu) dan puing bangunan (di hilir) hasil dari kerusakan lingkungan.

Relasi sebab akibat pada sebuah peritiwa ekologi menunjukan campur tangan manusia memegang peranan penting. Karya Nguyen berfokus tentang bagaimana relasi yang sangat dekat pada suatu peristiwa ekologi, apa yang dilakukan pada lingkungan akan berdampak pada ruang hidup orang lain.

Karya Sjuaibun Iljas, dalam pameran ini berbeda dengan dua karya seniman lainya, yaitu menghadirkan aktivitas manusia. Tangkapan aktivitas yang ada merupakan aktivitas keseharian.

Aktivitas tersebut terdiri dari sosok yang sendiri di antara keriuhan aktivitas. Relasi yang “bergerak” dan yang “diam” hadir dalam sebuah komposisi visual yang kontras. Kontras ini menunjukkan antara yang statis dengan yang dinamis bergabung dalam sebuah ruang interaksi.

Karya Iljas menciptakan ruang perenungan ikhwal pola interaksi antar manusia. Interaksi yang berkembang dengan cara khas dan berbeda dengan sebelumnya.

Pameran Dystopian Diffraction: Absence/Presence bagian dari Bandung Photography Triennale, di Galeri Ruang Dini, 9-30 September 2022. Foto: Bandung Photography Triennale.

Ketiga seniman ini menggunakan tone warna (hitam putih/berwarna) menjadi sebuah tawaran visual. Hitam putih yang pada dasarnya akan merujuk pada asosiasi masa lampau dan memantik nostalgia.

Kurator pameran ini, Zusfa Roihan menuturkan, cahaya dalam fotografi menempati posisi penting yaitu sebagai bagian yang memunculkan aspek “presence”. Keterlibatan unsur cahaya dalam proses teknis pun menjadi tangkapan utama pada kamera.

Aspek “presence” dalam karya-karya fotografi tentu berkaitan dengan apa yang disebut dengan subject matter.

“Pada fotografi konvensional, yang hadir dalam karya merupakan tangkapan dari realita yang ada. Tidak heran jika kemudian medium ini digunakan sebagai media dokumentasi paling signifikan,” katanya.

Dalam perkembangan lebih lanjut, fotografi hadir tidak hanya sebagai dokumentasi semata, tetapi juga sebagai sebuah medium seni yang bisa merekontruksi realita sehingga bisa menjadi cara untuk mengartikulasikan gagasan dari seorang seniman.

Visual yang dimunculkan secara tak langsung merupakan sebuah ekspresi individu dari seniman.

“Saat ini, fotografi berada pada kondisi yang strategis. Ketika representasi mengalami krisis, fotografi justru bisa menjadi salah satu medium yang tetap kritis terhadap realitas. Alih-alih menghadirkan yang ‘nyata,’ fotografi justru bisa menjadi sebuah cara membangun sebuah ‘drama’ melalui cara yang paling umum, yaitu melalui bahasa yang representatif,” ujar Zusfa.

Pameran Dystopian Diffraction: Absence/Presence bagian dari Bandung Photography Triennale, di Galeri Ruang Dini, 9-30 September 2022. Foto: Bandung Photography Triennale.

Karya yang dipamerkan dalam pameran ini menggunakan pilihan pendekatan fotografi konvensional. Yang menarik, visual yang dihasilkan adalah visual dari pendekatan dokumentasi fiksi.

Hal ini memunculkan sebuah kontradiksi. Secara umum bila berhadapan dengan karya foto dokumentasi, sang operator -dalam hal ini yang dimaksud adalah fotografer- berada pada posisi sebagai pengamat yang mana apa yang dilihat mata akan ditangkap oleh kamera. Operator hadir sebagai penangkap momen dan peristiwa. Sang operator yang “absence” dalam pendekatan ini, justru hadir dalam membangun relasi antara subjek dan objek.

Perilaku ini yang kemudian menjadikan fotografi dokumentansi mudah diterima oleh apresiator secara umum sebagai sesama pengamat. Hal ini juga yang menjadikan pendekatan dokumentasi fiksi tetap siginifikan saat ini karena kemampuan untuk mendekatkan sekaligus mengaburkan, yang objektif sekaligus yang subjektif.

Pada ketiga seniman ini justru merujuk pada cerminan masa depan. Masa depan yang mungkin gelap, temaram dan tidak berwarna. Ketiganya juga mengkonstruksi visual melalui “lapisan” lewat berbagai cara, dari efek kabur hingga kedataran. Lapisan yang kemudian menjadikan karya yang ada memunculkan soal tidak hanya hal yang “presence“ semata tetapi juga yang “absence”.

“Yang ‘presence’ hadir sebagai pintu masuk untuk memahami yang ‘absence’. Keduanya menjadi satu untuk membangun jalinan pemaknaan dalam karya. Pada akhirnya, proyeksi tentang masa depan dari masing-masing seniman menunjukkan sikap kritis tentang apa yang terjadi pada situasi di sekitar mereka,” tutur Zusfa.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: