Pameran Critical Faces Tampilkan Bentuk Politik Penuh Pikuk

Isa Perkasa dan Setiyoko Hadi mengadakan Pameran Critical Faces, yang diadakan di Orbital Dago Bandung, 21 Juni hingga 31 Juli 2022.

Sesuai tajuknya, dua seniman kenamaan ini memajang karya-karya yang memuat beragam gambaran budaya politik nasional serta kegemparan yang ditimbulkannya di tengah publik.

Kanvas yang tersaji didominasi oleh wajah-wajah dari pelaku sistem politik, yang turut menyeret publik sebagai obyek di pusaran intrik politik.

Wajah-wajah atau potret pada karya mereka merepresentasikan keambiguan, kemenduaan manusia-manusia sekitar kita saat ini, dan boleh jadi wajah-wajah itu adalah kita sendiri.

Rifky “Goro” Effendy lewat catatan kuratorialnya mengatakan, Isa Perkasa sudah sejak lama membuat simbol-simbol manusia dengan wajah-wajah yang kaku dan ambigu, berseragam, bertopeng, janggal, sarat metafor. Muka-muka lelaki yang sebagian besar berpeci, pakaian jas, seragam aparatur dibuat berongga, gerowong, untuk kemudian diisi pesan-pesan tertentu.

Karya-karya Isa dalam seri “Republik Negeri Folower“ menyenggol masa-masa dimulainya Pilpres dan Pilkada di sekitar 2018, yang menjadi respons atas dampaknya kepada keseharian warga.

Tak asing lagi siasat para politikus yang berupaya meraih suara calon pemilih dengan menggunakan berbagai cara memikat, seperti pembagian uang (serangan fajar) paket sembako dan lainnya.

Tanpa ragu, politikus juga memanfaatkan isu-isu keagamaan, rasial kepada golongan-golongan tertentu yang berdampak pada polarisasi kehidupan sosial masyarakat terutama diranah sosial-media.

Pada karya “The Folowers of Emak-Emak” yang dibuat dengan drawing pensil pada 2022, Isa menggambar seseorang lelaki berjas dan berpeci tengah bersikap salam, dengan muka celengan ayam di tengah para perempuan atau ibu-ibu berkerudung dengan wajah-wajah kosong, diselingi dengan kemunculan ikan-ikan Koi lambang kesejahteraan.

Isa mengirimkan pesan soal kenyataan sosial, di saat para ibu-ibu dijadikan target pengikut kelompok politik, begitupun isu-isu dalam kontestasi politik melalui grup-grup WhatsApp.

Partai politik juga masih berkutat dengan konsep sodoran selebritis sebagai calon wakil rakyat atau pemimpin demi meraup suara “emak-emak” tersebut.

“Konten menjadi sumber pendapatan, jalan hidup di semua kalangan. Banyak yang berlomba mencari followers, politik pun masuk ke wadah ini. Negeri ini menjadi ‘republik followers’, yang layak berkuasa adalah follower-nya banyak,” ujar Isa.

Tetapi secara ironis, politikus yang telah berhasil mendapatkan jabatan tak jarang dari mereka kemudian tersandung berbagai kasus korupsi. Isa menggambarkannya dengan memunculkan sosok-sosok berjas, berpeci sebagai simbol orang-orang penting dan formal, seperti pejabat pemerintah dan wakil rakyat.

Tampilan karya itu dipadati pula oleh berbagai simbol seperti ikan, tikus, kucing keberuntungan, celengan ayam, hingga burger, sebagai makna kerakusan, keinstanan, kesejahteraan, kelicikan, dan lainnya yang berkaitan dengan tujuan-tujuan terselubung para elit politik itu.

Pada karya-karyanya, Rifky melanjutkan, Isa banyak menggambarkan persoalan itu dalam nuansa kelabu, dengan teknis menggambar dengan arang, pensil, media campur dengan krayon, soft pastel dan akrilik. 

Tampaknya dominasi kekelaman melalui nuansa hitam-putih pada karya-karya Isa masih terus terasa, walaupun ada selingan dengan karya lukisan pemandangan sawah dan gunung berjudul “Panen Besar untuk Festival 2024”, yang lazim ditemui pada lukisan jelekong atau lukisan yang banyak menghiasi rumah-rumah masyarakat umumnya.

Lukisan awalnya dipesan oleh seorang anggota DPRD tetapi kemudian batal diambil tanpa sebab. Ia kemudian mengubah lukisan itu dengan menambah elemen sosok-sosok berjas dengan tikus-tikus.

Subyek perbedaan pandangan dan keberpihakan politis atau keterbelahan, celah, kerenggangan atau polarisasi dalam kehidupan sosial masyarakat mendapatkan perhatian khusus pada karya-karya Setiyoko Hadi. Suasana itu begitu terasa pada masa Pilpres lalu: kehidupan di lingkungan pertemanannya terbelah, terutama banyak terjadi di ranah media sosial seperti grup WhatsApp maupun Facebook.

Meski berjarak dengan politikus dan kelompok yang didukung, mereka saling membela calon masing-masing dan saling mengomentari satu sama lain, bahkan saling menjatuhkan. Tak jarang dari perseteruan itu beberapa anggota membentuk grup-grup WhatsApp baru yang anggotanya teman-teman yang sepihak.

Subyek itu ia ungkapkan ke dalam lukisan berjudul “Penduduk SR” (2020), yakni dengan memindahkan foto-foto dari teman-teman semasa kuliah ke atas kanvas melalui media khusus, dengan menggabungkan masing-masing dua wajah ke dalam satu kanvas.

Teknik lain yang digunakan adalah merajut dua drawing kertas bergambar para tokoh-tokoh Nasional kedalam satu frame sehingga terjadi efek optis atau silung seperti pada karya “Dwi Tunggal“ (2022) atau potret teman-temannya yang diberi judul “Lukamu Lukaku“ (2022), yang ditambahi juntaian benang-benang dan jarum menggantung di ujungnya.

Garapan karya-karya Setiyoko menunjukkan suatu penjelajahan lanjut pada drawing dan lukisan, seolah dua media utama ini belum cukup baginya untuk mengungkapkan gagasan-gagasan tentang masalah utamanya yakni tentang perpecahan hubungan antarteman.

Pada karya-karyanya terdahulu, Setiyoko melukis banyak wajah seperti lukisan para tokoh dunia yang semua sudah wafat berjudul “Sebentar Ada Lalu Tiada” (2014).

Lukisan diperlakukan dengan berbeda pada karya media campur yang terdiri susunan mozaik yang terdiri dari ratusan lukisan kanvas kecil yang kemudian memunculkan wajah Kristus bersilang dengan potret dirinya secara optis pada karya “Titik Temu” (2017 – 2022). Potret dirinya dalam berbagai mimik wajah hitam-putih muncul dalam instalasi drawing di atas kertas dan obyek koper pada “Evolusi Emosi” (2021).

Ada pula instalasi lukisan potret diri yang dibumbui dengan ikatan pada kanvas dan juntaian benang-benang sehingga bernada spiritual  suatu pencarian jati diri ke dalam batin seperti karya instalasi drawing berjudul “Faith Hope Love” (2022).

“Ziarah ke dalam diri adalah upaya mengenali jati diri yang terus menerus sepanjang hidup ini, melalui pendakian atau turunan, berputar-putar, berulang-ulang sebagai sebuah proses. Berhenti atau gagal memahami diri berhenti dan gagal pula kita memahami sesama, alam semesta bahkan Tuhan, dan wajah adalah pintu masuknya,” tutur Setiyoko Hadi.

Bio Singkat

Setiyoko Hadi lahir di Solo pada 1963.

Pendidikan: 1985 Seni Lukis FSRD ITB.

Pameran Tunggal:

2012, “Pulang”, Galeri Pelita, UPH, Tangerang.

Pameran Bersama:

1993 Pameran Pamesrani, Galeri Nasional Jakarta;

1994 Pameran Bienial Seni Rupa Jakarta IX, Taman Ismail Marzuki;

2011 Pameran bersama PRESERVE HUMANKIND,  di Jakarta Art  District, LG East Mall Grand Indonesia;

2013 Pameran bersama Integritas, Galeri Maranatha  UKM, Bandung;

2016 Pameran Zona#1 “Versi-Resepsi” di Thee Huis Gallery, Taman Budaya Jawa Barat;

2018 Pameran “Standing with The Masters”, Jababeka Convention Centre (JCC) Cikarang;

2019 Pameran Biennale Jawa Barat, Thee Huis Gallery Bandung;

2020 Pameran  “Etalase” di galeri Rumah Proses;

2021 Pameran “Jauh di Mata Dekat di Garis” di Rumah Anak Bumi;

2021 Pameran Tunggal “Nyanyian Ziarah” dalam rangka Pameran Tunggal 51 Perupa, di Musyawarah Art Space Cinere Depok;

2022 Pameran Gambar “Gerak-Gerik” di Musyawarah Art Space Cinere Depok.

 

Isa Perkasa lahir di Majalengka pada 1964.

1985-1993: Belajar di seni grafis FSRD-ITB

1997 Artist in residence “ Nagasawa Art Park” di Tsuna, Japan;

          Study wood-block print Japan dan kertas Japan;

1999 Artist in residence di Pacific Bridge Galery, Oakland, CA, USA;

1996-2009 Kurator Galeri Rumah Teh Taman Budaya Jawa Barat, Bandung;

2019-kini: Kurator Galeri Pusat Kebudayaan, Bandung;

                   Mendirikan Institut Drawing Bandung di Bandung;

Penghargaan

1998 Lima besar Phillip Morris Indonesia Art Award di Jakarta;

1998 Juror Choice lima besar Phillip Morris Asia Art Award di Hanoy, Vietnam;

Pameran Tunggal

1992 “Nude” Drawing di lorong FSRD ITB;

1996 “Bercanda Dengan Cermin” Instalasi drawing di CCF Bandung;

1999 “Kawin” Drawing kontemporer di Galeri Rumah Teh Bandung;

2000 “Teka Teki Silang Pendapat” Drawing di Koong Galeri Jakarta;

2004 “Drawing Bandung di Common Room Bandung;

2006 “Nada Hitam” Drawing di Galeri Adira Bandung;

2009 “Ingatan Yang Diseragamkan” di Selasar Sunaryo Artspace Bandung;

2010 “Seragam Yang Diingatkan” di Galeri Canna Jakarta;

2011 “UNIFORMED MEMORIES” Di Artipoli Art Gallery Belanda;

Pameran Bersama

1993 Biennale Seni rupa kontemporer Jakarta IX di TIM Jakarta;

1997 Isa Perkasa dan Bunga Jeruk di Cemara Galeri Jakarta;

1998 Wood block print making di Sanko Galeri , Kobe, Jepang;

1999 “Pancaroba Indonesia” Pacific Bridge Gallery Oakland, CA USA;

2000 Reformasi Indonesia Protest in Bleed 1995-2000 Museum Nusantara, Belanda;

2014 “Everyday is Like Sunday”, Langgeng Gallery Magelang;

2015 Instalasi artepak annual jeprut di galeri Soemarja FSRD-ITB;

2016 Manifesto V, “Arus” Galeri Nasional Jakarta;

2017 Banjir, IASR ITB di galeri YPK Bandung;

2018 XYZ ART _ UNLIMITID di galeri gedung gas Bandung;

Sejak Tahun 1988 hingga kini banyak membuat karya dan membentuk kelompok. Performance Art, di antaranya kelompok Sumber Waras, Kelompok Perengkel Jahe dan Kelompok Nyeuneu Nyeni.

Koleksi karya Pameran Critical Faces bisa dilihat di Galeri Foto mikrofon.id, lewat link berikut:Pameran Critical Faces.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top
%d blogger menyukai ini: