Pameran ‘Abad 21’ Hadirkan Keragaman Transformasi Lintas Generasi

Program Studi Pendidikan Seni Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia menggelar pameran “Abad 21”. Digelar 26 Desember hingga 26 Januari 2023, di Rumah ZaFa, Jalan Sukawangi No. 45 Bandung, pameran studi mata kuliah Pendidikan Penciptaan Seni #3-2002 ini menghadirkan 8 seniman dengan karya dan pemikiran lintas generasi.

Kepada mikrofon.id, Tri Karyono selaku kurator pameran menyebut “Abad 21” merupakan ajang unjuk kabisa para mahasiswa Pascasarjana UPI dalam menyampaikan gagasan konseptual berkesenian. Selain menjadi kurator, Tri juga tampil sebagai penampil dalam pameran ini.

“Tema yang diusung adalah bagaimana manusia bersaing dengan pandemi Covid-19. Tentu pertarungan ini harus dimenangkan karena manusia punya daya pikir untuk bertahan hidup,” ujarnya.

Menelisik sentuhan visual yang disajikan para perupa, tampak keberagaman pola pikir dan latar belakang yang begitu ditonjolkan.

Seperti karya Jerry Rinaldo yang bertajuk “Surau, Lapau, Rantau,” dan “Ranah, Rantau, dan Rantau” yang menyiratkan identitasnya sebagai perantau yang menimba ilmu di kota berbeda dari tiap jenjang pendidikannya.

Atau karya Yukki Setiawan yang menampilkan visual seorang anak berseragam putih merah dengan wajah yang hanya tersaji setengah, dan seorang anak dengan seragam putih abu (SMA) yang terlihat sedang tidur di atas meja ruang kelas.

16 Karya

Secara keseluruhan, ada 16 karya yang ditampilkan dalam pameran ini. Masing-masing perupa menyajikan dua karya dengan tema yang berkesinambungan.

Jevan Ibnu Syahid tampil dengan karya “Membatik” dan “Bermain Wayang”, Lazuardienan Muhammad Utama tampil dengan karya “Iqro” dan “Hidup untuk Belajar” yang menyajikan tulisan arab dengan latar dan palet warna sederhana.

Lalu Nida Ghaida Fauziyyah tampil dengan karya “Enkéfalos Chrónos” dan “Téchni” dengan pendekatan visual yang tampak begitu imajiner dan robotik. Juga ada Suprayogi yang tampil dengan karya “Imajinasi” dan “Beban”, dengan karakter mirip-mirip dengan Nida.

Sementara itu Wisesha Weninggalih tampil dengan karya “Kalabendu” dan “Kalasuba” dengan mengangkat seorang tokoh dan kisah transformasi di baliknya.

Sebagai penutup, ada karya Tri Karyono dengan tajuk “Bayangan Air” dan “Lake” yang menghadirkan nuansa alam.

“Kegiatan praktik adalah upaya untuk menjaga kualitas keterampilan yang ditekuni. Pendidik seni profesional harus tetap menjaga kualitas diri, di antaranya dengan tetap berkarya seni, supaya segala sesuatu yang disampaikannya terutama terkait praktik seni dapat diukur, interpretasi, analisis, bahkan dievaluasi dalam ranah kependidikan. Semoga pameran ini menjadi manfaat bagi khalayak dan dapat diapresiasi,” ucap Tri.***

Profil Penulis

Suka menulis, musik, fotografi, bengong, menyendiri, dan lihat pohon. Pernah keluar tidak baik-baik dari salah satu perusahaan media beken di Jakarta lalu di-doxing setelahnya. Pernah diolok-olok geng ibu-ibu wellness di Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: