Otokritik Standar Normalitas ala Pameran Mamala

Pameran Mamala di Griya Seni Popo Iskandar, 8 Desember hingga 27 Desember 2022. Foto: Griya Seni Popo Iskandar.

Duo seniman M. Erwin Ramadhan (Merxdar) dan M. Angky Jatsa (Anik) menggelar pameran bertajuk ‘Mamala’ di Griya Seni Popo Iskandar, Jalan Dr. Setiabudhi 235B, Bandung, 8 Desember hingga 27 Desember 2022. Secara singkat, mereka coba menerjemahkan arti kata Mamala ke dalam bentuk ekspresi seni rupa.

Dalam kamus bahasa Sunda, mamala berarti risiko atau bahaya, atau sesuatu yang membahayakan. Istilah kata ini biasa diasosiasikan sebagai larangan untuk sesuatu yang tidak diperbolehkan karena kecenderungannya terhadap dampak negatif dan risiko yang merugikan akan suatu hal.

Trio Muharam dalam catatan kuratorialnya menggambarkan asosiasi kata Mamala yang coba diejawantahkan dua seniman ini.

“Mungkin jika peristiwa Mamala itu coba kita bayangkan dalam situasi keseharian yang lebih relate (nyambung) saat ini, kira-kira begini: ‘ulah jadi seniman, bisi mamala kanu hirup ka hareupna!’ (jangan jadi seniman karena berisiko untuk kehidupan selanjutnya) Karena bisa jadi, bagi Merxdar dan Anik, memilih seni rupa dan menjalani dunia kesenimanan yang diyakini keduanya hari ini merupakan risiko tersendiri dalam hidup mereka,” tutur Trio.

Sebagai kedua seniman yang tumbuh besar di tengah budaya Sunda, Merxdar dan Anik melihat momen Mamala masih sering terjadi ketika mereka bersentuhan dengan orang-orang dekat mereka di rumah. Hal ini membuat keduanya merasa “terganggu” dengan hal itu.

“Bagaimana tidak? Di tengah kedewasaan usia saat ini, perasan untuk membebaskan diri pada pilihan-pilihan yang diambil dan upaya memutuskan segala sesuatu secara mendiri jelas mereka hadapi sekarang, yang kemudian berbenturan, antara apa yang mereka lakukan saat ini dengan lontaran opini Mamala,” ujarnya.

Alih-alih meminjam imaji dan menggali kembali peristiwa Mamala yang mereka pernah alami, justru, keduanya mendekontruksi ulang dan tetap berjarak dengan ingatan kolektif tersebut.

Seni Jalanan

Karya-karya yang ditampilkan Merxdar menghadirkan kebiasaanya berkarya dengan perlakuan seni jalanan atau biasa kita kenal sebagai grafiti. Menggunakan cat semprot sebagai material, ia mencoba menemukan objek visual yang berbeda dengan karyanya di jalanan.

Ia coba melakukan repetisi dari objek serupa di beberapa karya yang ditampilkan, kali ini dengan intensi untuk meneror melalui sosok gumpalan yang ia gambarkan. Sosok itu merupakan manifestasi visual dari rasa takut yang ia dapatkan.

Sementara itu Anik memilih teknik kolase sebagai bahasa ungkap. Dalam prosesnya, ia mencoba terhubung dengan ingatan-ingatan (tentang Mamala) melalui potongan teks dan gambar pada koran, majalah, poster, dan lain sebagainya.

Pesan tentang bagaimana kecemasan, kekhawatiran dan rasa kecewanya terhadap pilihan hidup yang tak jarang membuat kondisi mentalnya jatuh dan ragu untuk memutuskan sesuatu di kemudian hari ia sajikan.

Namun di sela itu pula, Anik mencoba melampaui keraguannya dengan membuat karya yang secara bentuk telah didistraksi menjadi rusak yang seolah di baliknya ada pernyataan bahwa ia berani mengambil akibat dari risiko itu sendiri.

“Apa yang ingin mereka sampaikan dalam pameran ini tentu tidak sepenuhnya tuntas, baik secara kontekstual atupun relevansinya. Namun, upaya mendekontruksi pemahaman terhadap Mamala itu sendiri merupakan buah dari kesadaran mereka atas realitas dan kritisme yangmereka bangun dalam hidup, juga proses kreatif yang dialami,” kata Trio.

Sekali lagi, melalui pameran ini, keduanya merefleksi apa yang menjadi pilihan hidup sekaligus menandai peristiwa ini sebagai otokritik terhadap praktik kesenimanan mereka sendiri.

Bagaimana mereka ingin menggugat konsepsi normalitas pada tatanan sosial dan berani mengambil keputusan terjun sebagai seniman adalah sebuah keberanian bagi mereka.

Pameran Mamala dari Merxdar dan Anik masih berlangsung hingga 27 Desember 2022 mendatang. Sebagai informasi, dalam pameran ini, perusahaan Jepang MISSAO Corporation ikut terlibat sebagai partner kerja sama antar seniman.***

Profil Penulis

Suka menulis, musik, fotografi, bengong, menyendiri, dan lihat pohon. Pernah keluar tidak baik-baik dari salah satu perusahaan media beken di Jakarta lalu di-doxing setelahnya. Pernah diolok-olok geng ibu-ibu wellness di Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: