Menyingkap Potensi Folklor dalam Batik Bercerita

Para seniman perempuan ini adalah peneliti yang menawarkan satu inovasi motif baru yang dikembangkan dari kekayaan Nusantara. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

MIKROFON.ID – Pada 2019, empat dosen perempuan Ariesa Pandanwangi, Nuning Damayanti, Arleti Mochtar Apin, dan Belinda Sukapura Dewi, beranjak dari kelas untuk melakukan pengabdian masyarakat.

Berbekal serangkaian data hasil riset, para alumni Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB ini mulai mengunjungi kota target pengaplikasian folklor sebagai penguatan rasa Nusantara pada batik.

Pada 2019, mereka mendatangi sejumlah industri di Garut, Jogja, Jakarta, Cirebon, dan Pekalongan.

Mereka mengenalkan sebuah potensi baru untuk mendongkrak industri batik di wilayah setempat, yakni melalui Batik Bercerita.

Para seniman perempuan ini adalah peneliti yang menawarkan satu inovasi motif baru yang dikembangkan dari kekayaan Nusantara.

Para seniman perempuan ini adalah peneliti yang menawarkan satu inovasi motif baru yang dikembangkan dari kekayaan Nusantara. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

Setiap industri dan perajin didorong untuk mengangkat kisah legendaris dari daerahnya. Pelatihan dan pembinaan aktif dilakukan, meski harus dilakukan secara virtual tatkala pandemi merangsek di awal 2020.

Diawali dengan sosialisasi dan workshop biji asam Jawa olahan, pembinaan dilakukan supaya perajin terbiasa dengan Batik Bercerita. Workshop dimulai dari penggunaan lilin panas sampai implementasi memanfaatkan lilin dingin.

Mereka menggunakan teknik colet, beberapa diaplikasikan ke bahan kain katun, sutra, hingga sutra baron.

Para seniman perempuan ini adalah peneliti yang menawarkan satu inovasi motif baru yang dikembangkan dari kekayaan Nusantara. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

Esa, begitu Ariesa biasa dikenal, menuturkan, arah kekaryaan yakni mengisi tradisi ke dalam batik kontemporer. Misinya adalah mengembangkan motif batik dari legenda dan mitos sekitar, atau asal muasal peristiwa daerah setempat.

Beberapa dari karya juga mengadaptasi peristiwa terkini, semisal, legenda Nyi Roro Kidu di Jawa yang dikelilingi suasana pandemi. Ariesa Pandanwangi percaya, masih banyak sudut lain dongeng atau folklor yang bisa dieksplorasi untuk kemudian dijadikan tema motif Batik Bercerita.

“Dari setiap cerita, disiapkan beberapa serial. Kira juga membuka peluang industri dan perajin batik untuk mencari pasar. Kita buka ke Dekranasda, ke pemerintah daerah, ke kementerian, dikumpulkan, dan dipamerkan. Melalui batik, kita ingin mereka menggelar destinasi wisata premium,” kata Esa.

Motif tragedi dari sebuah kisah juga tak melulu dinarasikan “gelap” atau “mencekam.” Karya yang dipamerkan terkadang membangkitkan suasana ceria, terutama dari pemilihan kelir.

Keempat dosen ini membuka nuansa baru hingga menceritakan ulang kisah di beberapa motif secara riang karena menyasar sejumlah kalangan, terutama anak-anak. Mereka meyakini pendidikan karakter anak bisa dimulai dari pengenalan dongeng atau folklor yang bisa memicu ketertarikan pada batik.

Kepadatan pertemuan yang digelar hybrid ini akhirnya menghasilkan pameran “Batik Bercerita Dari Nusantara,” yang dihelat di Galeri Thee Huis, Dago, Bandung, 14-21 September 2021. Ada sekitar 60 karya yang disiapkan untuk pameran Batik Bercerita.

Pameran ini merupakan hasil karya penelitian produk hilirisasi dari sentra industri kreatif dengan hibah dari Kemendikbudristek dan didukung Disparbud Jabar.

Melalui catatannya, Kurator Pameran “Batik Bercerita,” Diyanto, mengatakan, empat perupa wanita ini sangat menaruh minat dan perhatian mendalam terhadap nilai-nilai kearifan lokal. Yang terkhusus yakni mengenai potensi visual yang terkandung dalam kekayaan khazanah mitologi dan legenda Nusantara.

Kesungguhan perhatian empat perupa wanita ini tidak hanya mengantarkan mereka pada permasalahan pentingnya riset terhadap sentra-sentra industri batik dalam kerangka memperkenalkan metoda baru penciptaan batik kreasi baru.

Lebih dari itu, mereka juga memberikan kesadaran baru terkait keleluasaan mencurahkan nilai-nilai ekspresi di samping nilai pragmatis yang berdampak terhadap produktifitas para pembatik yang bernaung dalam UMKM. 

Para seniman perempuan ini adalah peneliti yang menawarkan satu inovasi motif baru yang dikembangkan dari kekayaan Nusantara. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

Eksplorasi yang dilakukan 4 perupa wanita ini dalam praktiknya berpijak pada pola resepsi dan interpretasi atas mitologi dan legenda Nusantara selaku potensi visual dalam membentuk narasi utama. 

“Meski pemilihan mitologi atau legenda yang dilakukan oleh masing-masing perupa wanita ini nampak acak, namun menariknya nyaris seluruhnya menggarisbawahi pula intensi penting ikhwal ‘figur perempuan’ dalam kaitan kosmologi yang sarat dengan pesan moral,  eratnya hubungan dengan semesta alam,” ujar Diyanto.

Ia menambahkan, pola resepsi dan interpretasi yang dilakukannya tentu sangat bersandar pada subyektifitas dan kepekaan dirinya dalam memaknai kembali nilai-nilai dalam mitologi atau legenda yang dipilihnya. 

Namun, di balik itu semua, aspek yang sungguh terbuka dari sana selain membuka kemungkinan luas bagi penemuan artikulasi artistik atau batik kreasi baru, terbentang pula tantangan riset yang lebih luas mengingat kekayaan khazanah mitologi dan legenda Nusantara sebagai aspek yang memungkinkan terpeliharanya nilai-nilai luhur kearifan bangsa. 

Para seniman perempuan ini adalah peneliti yang menawarkan satu inovasi motif baru yang dikembangkan dari kekayaan Nusantara. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

Bagi Diyanto, pameran yang diusung oleh empat perupa wanita ini tak pelak merupakan pemantik yang berharga dan penting tidak hanya bagi para perupa wanita lain di Nusantara dalam mengelaborasi kembali ikhwal local genius sebagai potensi visual yang berarti bagi pembentukan narasi. 

“Seniman perempuan yang juga dosen seni rupa ini juga menawarkan inspirasi dan peluang bagi para perajin batik di berbagai daerah dan masyarakat pada umumnya untuk melihat lebih dalam dan ‘eling’ terhadap potensi kekayaan daerah masing-masing. Di dalamnya, tentu terdapat keunikan sekaligus nilai-nilai universal dari mitologi dan legenda yang hidup dalam masyarakatnya,” ucap Diyanto.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: