Menyerap Energi Sumber Kehidupan pada Pameran ‘Indung Si Mata Holang’

MIKROFON.ID – Masyarakat tradisional Sunda meyakini bahwa matahari adalah inti dari budaya astronomi Sunda.

Etno-Astronomi Sunda mengenal matahari sebagai patokan penunjuk waktu, nama waktu dan rentang waktu dalam sehari, disertai dengan munculnya tanda-tanda alam yang terjadi saat peredaran matahari. Matahari adalah energi penting bagi kehidupan masyarakat Sunda.

Menyerap makna tersebut, matahari dipilih sebagai perupaan dari tema sumber kehidupan lewat pameran tunggal Rini Maulina bertajuk “Indung Si Mata Holang.”

Karya-karya Rini dipamerkan di Griya Seni Popo Iskandar, Jalan Setiabudi, Bandung, pada 3-24 September 2021, dan menjadi bagian dari kemeriahan Bandung Art Month Ke-4 2021.

Indung Si Sumber Kahirupan

Melalui catatan yang diterima mikrofon.id, konsep perupaan yakni matahari dipilih Rini untuk makna indung sebagai simbol sumber kehidupan.

Energi sinar matahari telah membentuk kehidupan di bumi sekaligus mengubah iklim serta cuaca.

Unsur rupa, gaya perupaan, dan komposisi unsur rupa yang terdapat pada karya ini yaitu matahari, awan, langit, air, flora, dan fauna.

Unsur rupa lainnya yaitu garis lurus dan lengkung yang saling bertemu menjadi bidang, isen-isen yang digunakan sebagai tekstur memenuhi beberapa bidang tersebut. Warna yang digunakan menggunakan warna yang terdapat pada batik Subang.

Gaya perupaan menggunakan gaya tradisi yang terdapat pada bentuk motif batik Jawa Barat, yang digabungkan dengan gaya lukisan modern. Komposisi disusun dengan mempertimbangkan keterpaduan setiap unsur rupa di dalamnya.

Sedangkan teknik yang digunakan yaitu teknik batik tulis dengan teknik pewarnaan colet.

Dalam catatannya, Kurator Pameran “Indung Si Mata Holang,” Citra Smara Dewi melihat potensi kelokalan yang diangkat melalui karya Rini merupakan salah satu fenomena perkembangan seni rupa kontemporer.

Potensi kelokalan bukan hanya merujuk pada bahasa visual namun juga nilai-nilai filosofis yang diyakini pada kelompok individu atau budaya tertentu. Bagi Citra, spirit tersebut yang terlihat kuat pada pameran tunggal “Indung Si Mata Holang” Rini Maulina.

Dalam keyakinan masyarakat Sunda, kata Citra, Mata Holang merupakan sumber kehidupan atau pandangan hidup yang dikaitkan dengan nilai-nilai dan keyakinan akan makna dari “Indung.”

Indung merupakan nilai-nilai warisan leluhur yang mulai dilupakan, sehingga tatkala ditelusuri makna dan hakekatnya terdapat berbagai pandangan dan keyakinan di masyarakat.

“Indung merupakan ‘hal’ penting bagi kehidupan manusia yang memiliki sifat keibuan dan berperilaku keibuan. Namun, di sisi lain juga memiliki sifat sebagai pelindung, pemimpin, pusat kehidupan, memiliki kasih, keindahan, dan memiliki kemampuan generatif,” tutur Citra.

Rasa Nusantara

Ia menjelaskan, gagasan berkarya seorang perupa yang berakar dari nilai-nilai tradisi leluhur bangsa bukan merupakan hal baru dalam konstelasi perkembangan Seni Rupa Kontemporer Indonesia.

Akan tetapi, yang menjadikan “Indung Si Mata Holang” istimewa adalah pilihan Rini yang tidak terjebak pada arus seni rupa modern Barat dalam berkarya, yang mengagungkan berkarya di atas kanvas dengan media cat minyak.

Material, media dan teknis yang menjadi pilihan Rini berbasis seni rupa kenusantaraan, seperti seni batik, lukisan kaca, dan pendekatan craft lainnya.

“Meskipun pada sebagian karya juga terlihat upaya mensinergikan seni dan teknologi melalui pendekatan new media, namun masih terlihat kekuatan seni rupa tradisi,” ujar Citra.

Bagi Rini, “Indung” dimaknai dari dua pendekatan konsep: mikrokosmos dan makrokosmos. Melalui pendekatan makrokosmos, “Indung” dimaknai sebagai pelindung dan penjaga keseimbangan alam semesta, yang dapat dijumpai dan dirasakan kehadirannya baik di bumi, di air yang mengalir, dan di langit.

Dalam budaya Papua, sifat melindungi dan menjaga alam semesta merupakan simbolisasi dari kehadiran seorang Ibu. Citra menuturkan, sosok ibu merupakan metafora dari Tanah Papua; Ibu bukan hanya sekedar mewakili tanah, tetapi anak-anak manusia Papua yang tiada henti dirundung duka.

“Ibu juga memiliki makna spiritual, di mana masih terdapat keyakinan dan nilai-nilai luhur yang terus terjaga di Tanah Papua. Nampaknya terdapat irisan dalam mengkritisi makna spiritual dari dua budaya berbeda tersebut, karena pada masyarakat Sunda penghormatan terhadap Indung merupakan puncak spiritualitas,” ucapnya. 

Sementara Indung dalam pendekatan mikrokosmos tercermin pada tema-tema kehidupan keseharian, kehidupan personal, dan peran domestik dalam sebuah keluarga pada beberapa karya Rini.

Citra menyoroti kekuatan estetis pada karya Rini selain terlihat pada pemilihan artefak atau objek yang memiiki makna simbolis seperti jejak kaki, ornamen Mega Mendung dan potensi kelokalan, juga kepiawaian dan keberanian dalam melakukan eksplorasi elemen-elemen seni rupa khususnya warna, bentuk, garis, dan bidang.

Catatan penting lainnya bagaimana perempuan perupa memiliki kesadaran dalam mengkritisi, mengulik, menghadirkan dan memaknai kembali falsafah leluhur yang mulai dilupakan.

“Indung sebagai Sumber dan Falsafah Kehidupan masyarakat Sunda, telah mengajarkan banyak hal, bahwa kehidupan ini harus dilandasi saling menghargai, mengasihi, melindungi, menguatkan dan semua pesan serta nilai-nilai tersebut tersirat kuat pada pameran ini,” tutur Citra.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: