Menjelmakan Imajinasi Lintas Generasi di Pameran Imagination Sequences

12 seniman lintas generasi mengadakan pameran bersama ‘Imagination Sequence,’ di Galeri Orbital, Dago, Bandung, 11 Maret-11 April 2022. Foto: Dadan Ramdhani/mikrofon.id.

MIKROFON.ID – Sebanyak 12 seniman lintas generasi mengadakan pameran bersama ‘Imagination Sequence,’ di Galeri Orbital, Dago, Bandung, 11 Maret-11 April 2022.

Melampaui hasil imajinasi yang tertuang di dalam pameran ini, kurator pameran, Asmudjo J. Irianto menitikberatkan bentangan lingkungan seni rupa lintas generasi yang masih mampu dirawat dengan saksama.

“Saya memuji para seniman senior dan sudah cukup mapan bersedia untuk tampil bersama para seniman muda. Hal ini merupakan pembelajaran bagi para seniman yang lebih muda,” tuturnya.

Pameran ini menarik, justru karena keragaman karya dan latar belakang perupanya. Beberapa sudah senior dan mapan dalam medan seni rupa Indonesia, beberapa lainnya masih belia dan muka baru.

Beberapa memiliki latar belakang pendidikan seni rupa, di antaranya bahkan masih menjadi mahasiswa seni rupa, dan ada pula seniman otodidak.

Para perupa senior dalam pameran ini, Andreas Camelia, Wahyu Karyadi, Tony Masdiono, Rosid, Hendrik Lawrence dan Ronny Tjandra tampil dengan karya-karya yang selama ini telah menjadi identitas dan kekuatannya.

“Para seniman emerging, seperti Eris Lungguh, Iwonk Ridwan, Prabu Perdana, dan Tara Shakin mulai menampilkan identitas karyanya—yang bisa jadi berubah. Sementara muka baru seperti Jessica Xavier dan Klarissa Emeralda masih mencoba membangun identitas karyanya,” kata Asmudjo.

Ia menilai pameran ‘Imagination Sequences’ merefeksikan pluralitas dalam seni rupa kontemporer. Pada sisi lain, pameran ini juga menunjukkan popularitas karya-karya dua dimensi dalam dunia seni rupa kontemporer.

Karya tiga dimensi hanya muncul melalui tangan Iwonk Ridwan dan Wahyu Karyadi. Jika karya Iwonk sepenuhnya merupakan karya patung, maka karya Wahyu berupa hibrida, antara dua dimensi dan tiga dimensi.

Karya “lukisan” Andreas, Rosid dan Hendrik dekat dengan drawing. Eris Lungguh, Prabu Perdana, Klarissa dan Tara Shakin menampilkan karya lukisan.

Dua seniman dwimatra tampil agak beda, Toni Masdiono dengan karya drawing bergenre komik (cergam) dan Jessica Xaviera menampilkan teknik tatto di atas kulit sintetik.

Dua belas karya menampilkan dua belas imajinasi, dengan tampilan visual dan narasi yang saling berbeda.

Imajinasi, saat ini sudah menjadi pokok yang jarang dibicarakan, padahal imajinasi, intuisi dan kreativitas merupakan hal penting dalam seni rupa.

Persoalan isu, representasi dan trend wacana lebih menguasai perbincangan seni rupa. Aspek “politis”, yaitu kaitan narasi karya dengan persoalan sosial-politik-budaya tampaknya menjadi hal yang lebih menarik diperbincangkan.

Beralih Imajinasi

Tajuk pameran ini Imagination Sequences merupakan tajuk yang dipilih oleh kedua belas seniman yang berpameran. Tajuk tersebut tampak sesuai dengan latar belakang seniman dan karya-karya yang ditampilkan.

Melihat pameran ini, kita seperti diajak berpindah dari satu tema ke tema lain, dari satu rupa ke rupa lain. Saling berbeda gaya dan topik. Kita seperti diajak masuk, berturut-turut dari satu ruang imajinasi ke ruang imajinasi lainnya.

12 seniman lintas generasi mengadakan pameran bersama ‘Imagination Sequence,’ di Galeri Orbital, Dago, Bandung, 11 Maret-11 April 2022. Foto: Dadan Ramdhani/mikrofon.id.

Asmudjo mengatakan, karya-karya pada pameran ini tidak ada yang bersifat transgressif. Kendati ada kritik, namun disampaikan melalui bahasa visual yang baik.

Lewat karyanya, Andreas Camelia mengkritik soal perburuan ikan hiu, yang hanya diambil siripnya untuk menjadi sup sirip ikan hiu.

Berkurangnya ikan hiu yang mengganggu ekosistem kehidupan laut itu diwujudkan ke tampilan sejumlah hiu tanpa sirip yang bertumpuk di dasar laut.

“Namun yang penting bukanlah soal tersebut—yang sudah cukup kita fahami—namuh bagaimana Andreas menerjemahkan persoalan tersebut secara imajinatif ke dalam karyanya. Tampil menawan, karya tersebut menunjukkan kekuatan narasi yang dihasilkan melalui kekuatan teknis dan aspek formal,” kata Asmudjo.

12 seniman lintas generasi mengadakan pameran bersama ‘Imagination Sequence,’ di Galeri Orbital, Dago, Bandung, 11 Maret-11 April 2022. Foto: Dadan Ramdhani/mikrofon.id.

Wahyu Karyadi secara imajinatif menyusun gubahan visual yang tidak biasa, yaitu patung dalam rongga panel. Patung tersebut, mudah diduga merupakan sosok legenda. Oleh karena itu, sosok patung dipisahkan dari dunia nyata dan menempati rongga panel, yang biasa dikirimi sesaji oleh masyarakat yang “menghormatinya”.

Pada bagian permukaan panel, Wahyu menempelkan “sesajian masa kini”, dan gambaran “wajah-wajah” yang memicu interpretasi pemirsa sesuai imajinasi sang seniman.

12 seniman lintas generasi mengadakan pameran bersama ‘Imagination Sequence,’ di Galeri Orbital, Dago, Bandung, 11 Maret-11 April 2022. Foto: Dadan Ramdhani/mikrofon.id.

Karya Tony Masdiono, “Lao-San 189” berbicara mengenai seni popular dan seni tinggi yang seolah sudah cair batas-batasnya. Sesungguhnya demarkasi seni tinggi dan seni popular tetap ada, masalahnya adalah seni rupa kontemporer yang dapat berupa apapun tampilannya, termasuk tampilan komik.

“Dalam ruang galeri, karya Toni dengan tampilan komik adalah karya seni, yang mengajak kita untuk berimajinasi mengenai aksi babat sejarah sekaligus berpikir ulang mengenai cergam lokal,” tuturnya.

12 seniman lintas generasi mengadakan pameran bersama ‘Imagination Sequence,’ di Galeri Orbital, Dago, Bandung, 11 Maret-11 April 2022. Foto: Dadan Ramdhani/mikrofon.id.

Asmudjo mengamati karya Hendrik Lawrence yang keluar dengan kekuatan bahasa rupa realis. Tampak sosok perempuan berpayung, judulnya “Orang Bandung di Uluwatu”. Sosok tersebut bisa mewakili siapapun, diri kita sendiri, saudara atau teman.

12 seniman lintas generasi mengadakan pameran bersama ‘Imagination Sequence,’ di Galeri Orbital, Dago, Bandung, 11 Maret-11 April 2022. Foto: Dadan Ramdhani/mikrofon.id.

Karya Eris Lungguh menunjukkan bagaimana sekadar buah pisang dapat menggerakkan imajinasinya menjadi karya seni. Tentu hal tersebut berkaitan dengan memorinya bagaimana buah pisang menjadi bagian dari pengalaman dalam keluarganya, juga mengenai manfaat dan filosofi pohon dan buah pisang.

“Tidak penting, bahwa pemirsa memahami narasi tersebut, lebih penting pengalaman imajinatif pemirsa berhadapan dengan karya yang hampir menjadi abstrak,” kata Asmudjo.

12 seniman lintas generasi mengadakan pameran bersama ‘Imagination Sequence,’ di Galeri Orbital, Dago, Bandung, 11 Maret-11 April 2022. Foto: Dadan Ramdhani/mikrofon.id.

Tatto yang biasanya tampil di permukaan kulit tubuh manusia menjelma menjadi karya dua dimensi di atas permukaan kulit sintetik yang digarap oleh Jessica Xavier. Imajinasi pemirsa mungkin justru dibawa menjauhi perihal Tatto, dan masuk ke dalam imajinasi visual mengenai waktu yang tertuang dalam karyanya.

12 seniman lintas generasi mengadakan pameran bersama ‘Imagination Sequence,’ di Galeri Orbital, Dago, Bandung, 11 Maret-11 April 2022. Foto: Dadan Ramdhani/mikrofon.id.

Karya Ronny Tjandra membawa pemirsa pada persoalan mutakhir mengenai segala keresahan yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19. Imbauan yang sering diumumkan pihak formal malah membingungkan, alih-alih menenangkan.

Situasi tersebut direpresentasikan oleh Ronny melalui rangkaian teks, yang cukup populer di masa pandemi ini.

12 seniman lintas generasi mengadakan pameran bersama ‘Imagination Sequence,’ di Galeri Orbital, Dago, Bandung, 11 Maret-11 April 2022. Foto: Dadan Ramdhani/mikrofon.id.

Karya Prabu Perdana juga bicara mengenai pandemi Covid-19, namun dari paradosk positifnya: bagaimana kondisi pandemik yang buruk bagi manusia, namun sebaliknya positif bagi alam.

12 seniman lintas generasi mengadakan pameran bersama ‘Imagination Sequence,’ di Galeri Orbital, Dago, Bandung, 11 Maret-11 April 2022. Foto: Dadan Ramdhani/mikrofon.id.

Imajinasi mengenai tokoh yang ditampilkan oleh Rosid dan Tara Shakin, menjadi ode bagi wajah tokoh yang ditampilkannya. Rosid menampilkan wajah Sawung Jabo. Bagi yang mengenalinya, tentu wajah tersebut membawa imajinasi pemirsa pada sosok sesungguhnya.

12 seniman lintas generasi mengadakan pameran bersama ‘Imagination Sequence,’ di Galeri Orbital, Dago, Bandung, 11 Maret-11 April 2022. Foto: Dadan Ramdhani/mikrofon.id.

Namun bagi yang tidak mengenali Sawung Jabo, wajah tersebut dapat membawa imajinasi mengenai sosok laki-laki paruh baya yang tampak memandang jauh ke depan.

Karya Iwonk Ridwan berangkat dari imajinasi mengenai memori personalnya. Hal itu tampak dari tanda-tanda visual yang ditampilkan oleh karyanya. Ada rumah sebagai kepala, Ada jantung, otak di kedua telapak tangan, dan bola di bagian kaki. Agaknya tanda-tanda tersebut berkaitan dengan pengalaman hidup Iwonk.

12 seniman lintas generasi mengadakan pameran bersama ‘Imagination Sequence,’ di Galeri Orbital, Dago, Bandung, 11 Maret-11 April 2022. Foto: Dadan Ramdhani/mikrofon.id.

Sementara karya Klarissa Emeralda juga bicara mengenai refleksi diri, mengenai self discovery, bagaimana keindahan dan semangat dapat muncul dari kekacauan.

“Semoga pameran ini, dengan judul yang dipilih sendiri oleh para senimannya, menjadi titik self-criticism mengenai langkah ke depan dalam mengelola imajinasi, ketrampilan dan kognisi agar karya-karyanya lebih kuat, dan berhasil dalam kontestasi dalam medan seni rupa kontemporer,” ujarnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: