Menimbang Nilai Sampah Lewat Pameran Requestioning

Karya Ridwan Manantik di pameran tunggal bertajuk Requestioning, di Galeri Pusat Kebudayaan Bandung, Jalan Naripan, 1 Oktober-10 Oktober 2022. Foto: Galeri Pusat Kebudayaan Bandung.

Seniman Ridwan Manantik mengadakan pameran tunggal bertajuk Requestioning, di Galeri Pusat Kebudayaan Bandung, Jalan Naripan, 1 Oktober-10 Oktober 2022.

Perupa kelahiran Bima, 15 Januari 1968, ini menampilkan karya-karya yang mempertanyakan hakekat sampah di tengah kita. Selama ini, karyanya dikenal kental dengan isu alam dan lingkungan.

Sejak tahun 2016 melalui karya-karya lukis dan instalasi, ia menjadikan karyanya sebagai gerbang untuk membicarakan tentang kegiatan dan keseharian, bagaimana laku kita terhadap alam dan lingkungan ini.

Pameran tentang sampah ini merupakan kali kedua dari lima pameran tunggalnya. Menurut catatan Diaz Ramadhansyah, dalam pameran sebelumnya Ridwan lebih menitikberatkan sampah sebagai sebuah objek. Maka pada pameran kali ini Ridwan ingin menghadirkan sudut pandang yang berbeda.

“Sampah tidak hanya Ia pandang sebagai benda bekas pakai manusia yang sudah tidak memiliki nilai. Baginya, pemberian nilai pada benda tersebut sifatnya sangat relatif dan dipengaruhi oleh latar belakang setiap masyarakat yang melihatnya. Sebuah sampah bagi seseorang belum tentu sampah bagi orang lain,” kata Diaz.

Melalui pameran kali ini, Ridwan ingin berbagi kisah perjalanan hidupnya, kegelisahan, serta renungan-renungan subtilnya atas nilai-nilai di kehidupan manusia.

Karya Ridwan Manantik di pameran tunggal bertajuk Requestioning, di Galeri Pusat Kebudayaan Bandung, Jalan Naripan, 1 Oktober-10 Oktober 2022. Foto: Galeri Pusat Kebudayaan Bandung.

Simbolisasi Nilai

Diaz mengingatkan kembali bahwa manusia selalu menyematkan nilai pada benda di kehidupan berdasarkan keyakinan yang dipercayai atau disepakati oleh kelompoknya. Nilai juga bisa disematkan kepada seseorang untuk menandai citra dan status sosialnya di masyarakat.

“Nilai sebuah benda tidak lepas dari faktor lokasi di mana benda tersebut ditempatkan. Seburuk-buruknya sebuah benda, jika disimpan di tempat tinggal kita maka tidak disebut sampah. Sedangkan sebaik-baiknya sebuah benda, jika diletakkan di tong sampah bersama plastik, kertas, dan sisa bungkus makanan, maka ia menjadi sampah. Kalau begitu, sampah dikonstruksi oleh nilai atau lokasi benda?” katanya.

Besaran maupun pentingnya sebuah nilai sangat relatif, mudah dikonstruksi sekaligus rentan pula terdekonstruksi. Begitu pula yang menimpa karya seni, sejak awal mula masih berada di studio, pameran, diakuisisi kolektor, hingga ketika berada di studio, pameran, diakuisisi kolektor, hingga ketika berada di balai lelang, nilainya berbeda-beda.

Pemikiran-pemikiran ini yang menggelisahkan Ridwan sebagai perupa.

Ada beberapa simbol yang disisipkan Ridwan dalam karya-karyanya kali ini. Simbol pertama adalah sculpture “Pumpkin” Yayoi Kusama dan “The Thinker” Auguste Rodin di antara timbunan sampah. Keduanya digunakan Ridwan untuk mewakili sculpture-sculpture lain yang kerap berada di ruang pamer, galeri, museum, atau sebagai dekorasi di gedung-gedung megah ibukota.

Nilainya ditentukan oleh beragam faktor, internal maupun eksternal. Terkadang bahkan dikonstruksi menggunakan mitos-mitos tak kasat mata, disusun sedemikian rupa demi tujuan pasar.

Seni lambat laun digunakan sebagai penanda status dan kelas sosial di masyarakat. Seni seolah kehilangan auranya sebagai benda cipta karsa dan rasa budaya.

“Maka ketika benda-benda tersebut berada di tumpukan sampah, apakah nilai yang selama ini dibangun para agen seni padanya menjadi gugur?” tutur Diaz.

Jika benda-benda tersebut ditemukan oleh pemulung yang tidak memiliki informasi tentang karya seni tersebut, maka belum tentu dianggap berharga. Pemulung akan lebih mengutamakan botol-botol plastik bekas yang bisa segera ia jual kembali.

Karya Ridwan Manantik di pameran tunggal bertajuk Requestioning, di Galeri Pusat Kebudayaan Bandung, Jalan Naripan, 1 Oktober-10 Oktober 2022. Foto: Galeri Pusat Kebudayaan Bandung.

Perenungan ini membawa Ridwan pada perenungan berikutnya, betapa sebuah objek benda menjadi bernilai tertentu tergantung di mana ia ditempatkan dan bagaimana Ia diperlakukan.

Permasalahan sampah maupun nilai-nilai dalam kehidupan sebagaimana selalu ditemui oleh Ridwan tidak akan usai hingga ke masa mendatang sekalipun. Ridwan berharap generasi saat ini dapat mewarisi kebiasaan dan pemahaman bagi generasi mendatang.

Aktivitas Ridwan bersama Rumah Anak Bumi menjadi contoh nyata upaya Ridwan untuk memberikan edukasi dan penyadaran kepada masyarakat dan generasi muda, pentingnya menjaga lingkungan dan membiasakan diri dengan nilai-nilai hidup positif sehingga ke depannya mereka dapat mewarisi lingkungan yang lebih baik serta bekal moral untuk memaknai dan menjalani kehidupan secara bijaksana.

“Apakah generasi mendatang akan memiliki dan menjalani hidup yang bernilai diwariskan generasi saat ini kepada generasi yang akan datang. Tidak hanya perkara nilai, Ridwan bertanya, lingkungan seperti apa yang akan diwariskan kemudian?” ujarnya.

Karya Ridwan Manantik di pameran tunggal bertajuk Requestioning, di Galeri Pusat Kebudayaan Bandung, Jalan Naripan, 1 Oktober-10 Oktober 2022. Foto: Galeri Pusat Kebudayaan Bandung.

Simbol berikutnya adalah boneka beruang mini merah jambu dan minion kuning yang digunakan Ridwan sebagai bentuk manifestasi dari perenungannya tentang nilai-nilai apa yang akan atau hidup dalam lingkungan dan situasi yang kotor, rusak, using, dan dianggap tidak bernilai seperti tumpukan sampah. Kuasa itu sepenuhnya ada dalam genggaman kita semua sebagai pewaris bagi kehidupan dan peradaban mendatang.

Simbol ketiga adalah sebuah medali yang tersangkut di dekat sampah-sampah plastik. Medali sebagaimana disepakati secara kolektif merupakan simbol atas pengakuan, penghargaan, dan penghormatan atas prestasi dan kontribusi Lantas sesungguhnya menjadi bernilai dan dapat memberikan nilai untuk pemilikinya. Jika medali tersebut hadir di tumpukan sampah, bisa jadi ia tidak lebih hanya benda mati dan terbuang layaknya sampah dan dianggap sudah tidak bernilai bagi sebagian manusia.

Karya Ridwan Manantik di pameran tunggal bertajuk Requestioning, di Galeri Pusat Kebudayaan Bandung, Jalan Naripan, 1 Oktober-10 Oktober 2022. Foto: Galeri Pusat Kebudayaan Bandung.

Simbol lainnya adalah perhiasan dan barang merk kenamaan yang kerap menjadi penanda kelas ekonomi dalam masyarakat. Barang bermerk terkenal tak ubahnya tas, dompet, atau aksesoris fesyen yang dibuat dengan kualitas yang bagus namun tersemat logo desainer-desainer kelas dunia seperti LV, Hermes, atau Dior.

Harganya sangat mahal, namun nilainya tidak bisa permanen. Diaz menekankan, tren barang branded ini terlalu fluid. Setiap saat muncul tren barang baru yang otomatis akan menenggelamkan tren sebelumnya.

“Kita patut meragukan, barang-barang tersebut bernilai karena memang dibuat dengan kualitas terbaik atau sebenarnya jutru masyarakatlah yang berkuasa mengkonstruksi nilainya sesuai tren yang ingin dibangun,” ucapnya.

Terhadap sampah pun, akhirnya manusialah yang menentukan apakah sebuah barang telah menjadi sampah atau belum. Manusia pulalah yang berkuasa untuk menentukan sebuah benda telah bahwa benda-benda yang diangggap sudah tidak bernilai dan berfungsi sebagaimana awalnya, ternyata dalam konteks sosial dan kultur masyarakat tertentu bisa dimaknai berbeda.

Situasi ini mengingatkan Diaz pada fenomena limbah tekstil industri fesyen Indonesia, di saat industri fesyen menyebutnya limbah sementara pemulung memilah-milah pakaian yang masih layak pakai untuk mereka jual kembali. Begitupula dengan fenomena yang sedang marak terjadi di tengah pergaulan generasi muda, ada trend yang bertajuk thrifting. Pada tren ini, anak-anak muda beramai-ramai membelanjakan uang mereka untuk membeli pakaian bekas yang diimpor dari berbagai negara.

Karya Ridwan Manantik di pameran tunggal bertajuk Requestioning, di Galeri Pusat Kebudayaan Bandung, Jalan Naripan, 1 Oktober-10 Oktober 2022. Foto: Galeri Pusat Kebudayaan Bandung.

Sapuan Ridwan

Sapuan kuas Ridwan serta kecenderungannya dalam mencampur warna merupakan manifestasi perjalanan kesenian Ridwan yang banyak terpengaruh dari pengalamannya sebagai visual merchandiser. Pengalaman hidupnya yang telah melalui berbagai permasalahan hidup memberinya keberanian serta keyakinan pada setiap tarikan garis.

Diaz menilai keputusan-keputusannya dalam menyusun komposisi gambar sangat khas ala iklan reklame.

Ia menyusun dan menempatkan sedemikian banyak gambar namun secara jelas bisa menyiratkan simbol-simbol yang ingin ia tonjolkan. Keterampilannya dalam melukis realis banyak diperoleh dari kawan-kawan seniman di Pasar Baru dan terpengaruh dari gaya Sukriyal Sadin.

Di satu sisi, Ridwan tidak memiliki banyak kesempatan untuk mengenyam pendidikan seni formal dan mengeksplorasi medium serta teknik baru. Namun, kecakapannya dalam berpikir kritis, kreatif, dan aksi-aksi inisiatifnya justru mendukung proses pendalaman penajaman karyanya.

“Sebagai sosok yang juga pernah bekerja di bawah korporasi, kepiawaiannya dalam menghasilkan karya secara cepat dan indah merupakan sisi positif yang dimilikinya. Harapan besar Ridwan, pameran Requestioning kali ini mampu memproyeksikan pada publik hasil pemikiran-pemikiran dari berbagai pertanyaan yang mengemuka sejalan dengan proses berkesenian dan aktivitasnya yang intens pada pelestarian lingkungan,” kata Diaz.

Karya Ridwan Manantik di pameran tunggal bertajuk Requestioning, di Galeri Pusat Kebudayaan Bandung, Jalan Naripan, 1 Oktober-10 Oktober 2022. Foto: Galeri Pusat Kebudayaan Bandung.

Bio Ringkas

Ridwan Manantik lahir di Bima, 15 Januari 1968. Saat ini ia menetap di Jl. Cemara 1, No 12

Perumnas 1, Parungpanjang, Bogor.

Pameran Bersama

 1995, Pameran Sketsa. Plaza Bintaro, Tangerang Selatan 1996. Pameran di Balai Budaya, Jakarta;

1997, Jambore Pasar Seni Ancol;

1998, Pameran di Plaza Pulo Gebang, Jakarta;

1999, Pameran di Balai Budaya, Jakarta;

2002, Pameran di Anjungan NTB, TMII, Jakarta;

2004, Pameran di WTC Sudirman. Jakarta;

2005, Pameran di Modern Gallery, Jakarta;

2007, Pameran di Grand Indonesia;

2010, Pameran di Hotel Sahid, Jakarta;

2011, Pameran di Hotel Crown, Jakarta;

2012, Pameran di WTC Sudirman, Jakarta;

2013, Pameran Trotoart. Galeri Cipta 2, TIM, Jakarta.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top
%d blogger menyukai ini: