Menilik Pesona Printmaking di Pameran Over The Wall

Studio seni grafis yang berbasis di Bali, Black Hand Gang, menggelar pameran “Over the Wall,” di Galeri Ruang Dini, Bandung, 12 – 30 November 2022.

Pameran karya-karya printmaking ini diisi oleh seniman residensi Black Hand Gang, seperti: Agus Suwage, Degeha, Eddie Hara, Kemalezedine, Mella Jaarsma, Sir Dandy, dan karya Social Note: Black Hand Gang x Uji Hahan x Uma Gumma.

Seniman ini menampilkan karya seni menggunakan berbagai teknik dan gaya seni cetak, baik dengan gaya khas masing-masing dari seniman tersebut maupun karya yang lebih eksperimental.

Pameran Over The Wall menampilkan pesona seni cetak yang dibawa oleh lapisan teknik pada tekstur kertas. Black Hand Gang merasa perlu untuk mengenalkan keistimewaan dari karya-karya grafis atau cetak.

Karya Mella Jaarsma di Pameran Over The Wall, Galeri Ruang Dini, November 2022. Foto: Ruang Dini.

Karya cetak di atas kertas masih kerap dinilai sebagai medium “niche” yang masih jarang dikenal. Padahal, lapisan-lapisan teknik di atas tekstur kertas memiliki daya tarik tersendiri dan mampu menghadirkan keakraban bagi yang melihatnya.

Over The Wall menunjukkan bahwa seni grafis pandai menjelajahi dinding tempat karya seni biasanya dipajang: memahami bahwa seni, dalam ukuran atau media apa pun, memiliki kemampuan luar biasa untuk mendominasi ruang.

Menampilkan karya dari sekumpulan seniman berlatar belakang disiplin yang berbeda, Over the Wall juga melampaui batas seni grafis karena tidak terjerat batasan teknik ataupun ikatan tema.

Oleh karena itu, Black Hand Gang mempersembahkan Over the Wall bahwa berbagai macam ukuran dan medium apapun seni cetak dapat menguasai sebuah ruang.

Karya BUNDLE OF TEN SN300 Social Note di Pameran Over The Wall, Galeri Ruang Dini, November 2022. Foto: Ruang Dini.

Black Hand Gang

Black Hand Gang menjadi studio seni grafis terkemuka di Indonesia yang menawarkan kualitas produksi seni cetak kelas dunia. Studio ini menjadi hub untuk mendistribusikan buah kreativitas Indonesia ke seluruh dunia.

Sebagai sebuah studio printmaking atau seni cetak grafis, Black Hand Gang mengkurasi

pameran unik dan membuka pintu kolaborasi dengan berbagai perupa yang bekerja di bidang seni media cetak; baik dari Indonesia maupun luar negeri, sudah mapan maupun baru muncul, dan tradisional maupun kontemporer.

Proses produksi kreatif Black Hand Gang begitu memerhatikan keterampilan seniman dan teknis. Setiap cetakan dibuat menggunakan tangan oleh pembuat grafis profesional dengan proses kimia yang tidak beracun dan ramah lingkungan, dan diproduksi dalam edisi terbatas berkualitas tinggi.

Karya Kamalezedine di Pameran Over The Wall, Galeri Ruang Dini, November 2022. Foto: Ruang Dini.

Managing Director Black Hand Gang, Lina Nata Kurnia menuturkan, BHG memang sejak awal dibentuk dari kolaborasi. Diinisiasi di awal pandemi, BHG membuka studio yang menghimpun seniman yang menekuni medium seni cetak.

“Saat buka studio, di Indonesia belum ada ruang serupa. Saat itu karya printmaking setengahnya masih dianggap kriya. Jadi belum sepenuhnya diterima di pasar seni rupa. Kolektor Indonesia saat itu ingin satu karya unik yang ekskusif. Printmaking yang membedakan karena karyanya multiple. Makanya harga karyanya bisa terjangkau,” ujarnya.

Black Hand Gang membuka studio untuk umum dan secara rutin mengadakan workshop untuk mengenalkan printmaking dari mulai proses hingga keseruannya.

Seiring waktu, BHG terus menciptakan aktivitas bersama sejumlah nama seniman. Hingga saat ini ada 35 seniman yang sudah membuat proyek bersama.

Lina menambahkan, hingga saat ini perhatian pada printmaking terus meningkat. BHG juga secara konsisten menciptakan aktivasi melalui workshop atau pameran di berbagai kota, termasuk di Ruang Dini Bandung.

Ia berharap Black Hand Gang bisa menjadi ruang yang mampu mengembangkan karya seni cetak di Indonesia. Dengan dukungan ekosistem seni rupa, seniman yang fokus di ranah printmaking saat ini sudah selayaknya memiliki wadah sekelas Singapore Tyler Print Institute (STPI).

“Indonesia punya banyak seniman yang bagus. Banyak banget. Di Singapura ada STPI karena didukung sama pemerintah. Mutakhir. Cita-cita BHG sih, kalau didukung, pengen ke arah itu (STPI). Kenapa Indonesia enggak bisa bikin kayak gitu? Padahal kita bisa, senimannya ada,” ujarnya.

Karya Eddie Hara di Pameran Over The Wall, Galeri Ruang Dini, November 2022. Foto: Ruang Dini.

Seniman Over The Wall

Agus Suwage

Agus Suwage dikenal sebagai seniman profesional berbagai teknik melukis dan drawing. Karyanya yang memasukkan gaya dan karakter gambar ke dalam konvensi seni lukis menarik perhatian penikmat seni rupa Indonesia maupun mancanegara.

Belakangan karyanya menjadi sangat khas sejak mulai menawarkan potret diri sang seniman dalam berbagai pose dan setting, yang kerap menyampaikan pesan-pesan kritis terhadap persoalan sosial politik di sekitarnya.

Karya Agus Wage di Pameran Over The Wall, Galeri Ruang Dini, November 2022. Foto: Ruang Dini.

Degeha

Nama Degeha tengah disorot sebagai seniman muda Bali yang menjanjikan. Karyanya banyak terinspirasi oleh ilustrasi tradisional Bali dan Jepang dengan semangat budaya pop, serapan simbol sakral, dan mitologi.

Eddie Hara

Eddie Hara menjadi seniman kontemporer Indonesia terkemuka dengan daftar panjang pameran di acara seni bergengsi seperti Art Jakarta, Art Basel Hongkong, Art Paris, Art Philippines, dan Art Stage Singapore.

Bersama predikat ‘Punk Uncle’ dalam seni rupa kontemporer Indonesia, Eddie Hara menggulirkan karya dengan konsep unik seperti komik, pengaruh gaya art brut, dengan pesan sosial dan isu lingkungan yang terinspirasi dari potret anti kemapanan dan subkultur.

Karya Sir Dandy di Pameran Over The Wall, Galeri Ruang Dini, November 2022. Foto: Ruang Dini.

Kemalezedine

Lahir di Yogyakarta dan kini tinggal di Bali, Kemalezedine menjadi bagian dari gerakan kelompok Neo-Pitamaha, yang mempelajari dan bereksperimen pada seni rupa Indonesia dan lukisan-lukisan Bali.

Ekspresi dramatisnya terhadap karya-karyanya sejalan dengan konsepnya yang kuat seputar identitas sosial manusia bekenaan dengan budaya, religiositas, dan politik.

Mella Jaarsma

Mella Jaarsma dikenal berkat instalasi kostumnya yang rumit dan fokusnya pada bentuk keragaman budaya dan ras yang tertanam dalam pakaian, tubuh, dan makanan.

Ia lahir di Belanda pada 1960 dan belajar seni rupa di Akademi Minerva di Groningen. Setelah itu ia meninggalkan Belanda untuk belajar di Institut Seni Jakarta dan Institut Seni Indonesia di Yogyakarta, untuk kemudian tinggal dan bekerja di Indonesia. Pada 1988, ia ikut mendirikan Rumah Seni Cemeti bersama Nindityo Adipurnomo di Yogyakarta.

Karya Degeha di Pameran Over The Wall, Galeri Ruang Dini, November 2022. Foto: Ruang Dini.

Sir Dandy

Sir Dandy adalah seniman visual sekaligus vokalis band indie alternatif Indonesia, Teenage Death Star, yang juga bersolo karier dengan genre pop-indie.

Pada karya seni visualnya, ia bermain-main dengan teknik lukis dan sablon. Dengan rasa karya pop-art yang kuat, ia pernah disebut-sebut sebagai Andy Warhol Indonesia.

Karya BUNDLE OF TEN SN300 Social Note di Pameran Over The Wall, Galeri Ruang Dini, November 2022. Foto: Ruang Dini.

Black Hand Gang x Uji Hahan x Uma Gumma

Social Note merupakan proyek seni karya bersama Uji Handoko Eko Saputro a.k.a Hahan dan Adi Kusuma alias Uma Gumma. Proyek ini merupakan observasi dan rekaman pemikiran dan praksis umat manusia dalam mencapai kekayaan dan mencapai kemakmuran.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top
%d blogger menyukai ini: