Mengurai Tren Media Sosial Lewat Pameran Decoding Algorithm Donni Arifianto

Kecepatan informasi, berita, isu, atau kabar yang lahir mutakhir di media sosial takkan bisa dibendung publik, termasuk seniman macam Donni Arifianto.

Sambil mengawasi jalannya kedai kopi Abraham and Smith yang ia miliki bersama dua temannya, di Jalan Tamblong Dalam No.2, Bandung, tangan Donni nyaris tak lepas dari layar ponsel pintar. Tangkapan matanya tak lepas dari konten yang tayang di media sosial paling ngehits seperti Instagram dan TikTok.

Jari di tangan kanannya mengepit tembakau lintingan sambil sesekali mengangkat cangkir berisi kopi hitam buatan Wendi, barista kebanggaannya. Kalau otaknya menemukan konten menarik, segera bapak muda beranak dua itu bergeser ke area lukis, masih di ruangan yang sama.

Studio di dalam ruang café itu begitu terbuka. Peralatan melukis tergeletak di pojok belakang meja tamu. Selain beragam cat dan kuas, sudut itu diisi banyak perangkat cetak grafis. Proses kekaryaan Donni ini jadi tontonan menarik para pengunjung Abraham and Smith yang kebanyakan anak muda.

Donni berkarya begitu merdeka, tanpa tekanan dan pengaruh pengunjung yang memenuhi meja-meja kedai kopi Abraham and Smith. Simbol-simbol, objek, figur, diksi, dan kode yang terhubung dengan konten terkini media sosial terluapkan di kanvas, tergambar satu demi satu, terselip besar dan kecil, kadang bertimpa-timpa, berkolase, padat dan beragam.

Dari kedai kopi Abraham Smith itu, karya-karya tercipta dan dibawa ke serangkaian pameran. Salah satunya Pameran Tunggal Doni Arifianto “Decoding Algorithm,” di de Braga by Artotel Bandung, 29 Juni-28 Juli 2022.

Donni Arifianto di Pameran Tunggalnya “Decoding Algorithm,” di de Braga by Artotel Bandung, 29 Juni-28 Juli 2022. Foto: Dadan Rhamdani/mikrofon.id.

Identitas Algoritma

Kurator Pameran Decoding Algorithm, Anton Susanto menjelaskan, mengamati karya Donni serasa asyiknya berselancar di media sosial. Dalam satu karya bisa ditemukan beragam hal sekaligus, berhubungan satu dan lainnya, serupa kepadatan lini masa media sosial.

Namun, dibalik keragaman tersebut, objek dan simbol yang muncul tentu berdasarkan sebuah algoritma yang spesifik sesuai dengan karakter, kebiasaan dan preferensi penggunanya.

Pada karya-karya Donni yang dipamerkan kali ini, kecenderungan “tumpang tindih” seperti yang pernah disampaikan oleh Rifky “Goro” Effendy dalam pengantar pameran tunggal sebelumnya nampak masih menjadi pola yang utama dalam proses berkarya Donni. 

Kita masih bisa menemukan teks, objek ataupun ikon yang saling tumpang tindih. Dan dalam keriuhan tumpang tindih ini akan terbentuk algoritma identitas Donni.

Anton menuturkan, pada karya-karya Donni dapat dilacak jejak praktik apropriasi dan juga modus alegorik. Kendati citraan yang muncul pada karya, seperti teks berupa kalimat atau frase, objek, ikon, dan lain-lain seperti yang muncul secara acak, yang pada kenyataannya semua itu tidak serta merta muncul.

“Donni mencoba mengurai kode-kode yang dimiliki oleh setiap citraan yang akan ia tampilkan pada karya. Kemudian mereka hadir dalam satu kesatuan pada sebidang karya, perpaduan setiap citra yang muncul itu kemudian membentuk sebuah kode baru dengan algoritma yang baru dan khas, sehingga memungkinkan memiliki sebuah teks baru,” kata Anton.

Karya Donni Arifianto di Pameran Tunggalnya “Decoding Algorithm,” di de Braga by Artotel Bandung, 29 Juni-28 Juli 2022. Foto: Dadan Rhamdani/mikrofon.id.

Penerjemahan Isu

Karya Donni tidak melulu berkenaan dengan isu maupun tema besar yang sedang atau pernah terjadi. Ide maupun gagasan pada setiap karyanya tak jarang terinspirasi dari hal-hal yang tidak jauh dari kehidupan kesehariannya: secara pribadi maupun secara komunal yaitu lingkaran pergaulan Donni sehari-hari.

Penerjemahan isu terdekat bukan berarti luput dari perhatian publik luas. Di era teknologi internet khususnya pola berbagi informasi dalam tren sosial media, kita tengah mengarungi fenomena ketika kehidupan personal menjadi konsumsi global. 

Pada era sebelumnya, hanya peristiwa global yang akan dikonsumsi oleh para personal. Kini, kita bisa menjadi tahu kehidupan personal seseorang di ruang privatnya, di wilayah antah berantah, secara pararel dalam waktu bersamaan. Informasi peristiwa besar di dunia seperti perang, bencana alam maupun wabah penyakit, bisa begitu dekat dengan pengguna media sosial di mana pun.

Donni Arifianto dan para seniman Bandung di Pameran “Decoding Algorithm,” di de Braga by Artotel Bandung, 29 Juni-28 Juli 2022. Foto: Dadan Rhamdani/mikrofon.id.

Anton menambahkan, meskipun setiap individu menggunakan sebuah platform media sosial yang sama, namun pengalaman bermedia sosialnya tidak akan pernah sama. Di situlah sistem algoritma bekerja dalam melakukan personalisasi materi apa saja yang akan dilihat, diterima, terhubung, dan berinteraksi pada seorang individu. 

Hal ini terbentuk berdasarkan preferensi personal, kebiasaan dan lingkungan (circle) pengguna platform media sosial tersebut.

Begitu juga dengan karya-karya Donni. Meskipun terdapat narasi pada karyanya, namun kemudian, setiap audiens akan memiliki ruang interpretasi yang luas dalam menafsir maupun melakukan apresiasi pada karya-karya. 

Selain karena Donni tidak menyampaikan secara gamblang, namun juga setiap audiens memiliki sistem algoritma bawaannya masing-masing. Hal ini kemudian akan menggiring setiap audiens karya-karya Donni untuk masuk melalui objek atau ikon yang sesuai dengan algoritma audiens tersebut, lalu kemudian berlanjut pada interpretasi-interpretasi  lainnya.

Doni saat ini juga dikenal dan diasosiasikan dengan kedai kopinya yang bernama Abraham and Smith. Sebelum memulai kariernya di dunia kuliner, ia telah menyelesaikan studinya dari Jurusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan sempat banyak terlibat berbagai program seni rupa, di Rumah Proses, Bandung.

Gairah berkarya dan kuliner ini kemudian berpadu pada satu tempat di Jalan Tamblong Dalam, Bandung, di mana ia membuka Kedai Kopi Abraham and Smith sekaligus merangkap sebagai studio tempat ia menghasilkan karya-karya seninya.

Karya-karya Donni di pameran ini bisa diakses lewat Galeri Foto mikrofon.id melalui link berikut: Karya Pameran Decoding Algorithm Donni Arifianto.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: