Menghidupkan Pernikahan Fiktif Joi dan Tina di Goethe-Institut Bandung

Suasana Pameran Pernikahan Joi Rumengan dan Tina Kosasih, di Goethe-Institut Bandung, Sabtu, 24 September 2022. Foto: Djuli Pamungkas.

Di Jalan LLRE Martadinata, Kantor Goethe-Institut Bandung bersolek sejak Sabtu, 24 September 2022. Janur kuning di pagar, sebentuk tenda di halaman, Goethe-Institut Bandung menggelar hajatan.

Tergantung di bawah janur, tertulis “Pernikahan Tina Kosasih dan Joi Rumengan.” Mengenakan atasan kebaya, formal, maupun kasual, para tamu undangan berkumpul.

Sesaat musik mengiringi, lengser menyambut “kedua pengantin” untuk diantar ke pelaminan. Setibanya di pelaminan, yang tersisa hanya dua pasang alas kaki pengantin.

Sebagai pengantin, “Tina dan Joi” tidak tampil secara fisik. Mereka adalah tokoh utama cerpen karya seniman Suina Latersia dan Tegar Pratama. Hajatan di Goethe-Institut Bandung merupakan lanjutan kisah Tina dan Joi yang berakhir tunangan di akhir cerpen.

Meski perayaan nikah ini hanyalah fiktif, tamu yang hadir larut dalam kemeriahan imajinasi. Lengser yang diperankan Fadli Surbakti serta MC oleh Nurdin Faqot yang memandu setiap langkah acara pernikahan itu menjalankan perannya dengan serius. MC bertugas memandu acara, sesi demi sesi, sambil tetap menyinggung “keberadaan” Joi dan Tina yang sedang menjadi raja dan ratu hari itu.

Joi dan Tina begitu “berwujud”. Selayaknya prosesi di pernikahan, para tamu undangan mengekspresikan kebahagiannya, termasuk dengan bergiliran mengikuti sesi foto bersama pengantin yang diatur sesuai kelompok.

Suasana Pameran Pernikahan Joi Rumengan dan Tina Kosasih, di Goethe-Institut Bandung, Sabtu, 24 September 2022. Foto: Djuli Pamungkas.

Pesta Sesungguhnya

Dari pemilihan nama Joi Rumengan dan Tina Kosasih, Suina dan Tegar berupaya memantik wacana “name stereotype.” Joi dari Manado dan Tina dari Sunda. Maka, format tradisi yang diusung dalam pernikahan ini merupakan akulturasi dari kedua daerah itu.

Meski begitu, unsur tradisi sengaja tak terlalu menonjol. Sesuai isi cerpen, Joi dan Tina menjadi representasi anak muda masa kini. Joi merupakan sound engineer dan Tina seorang penyiar radio.

Selain peran lengser, MC juga cukup kental dengan gaya Sunda. Tetapi mewakili energi muda, latar musik dipilih alunan electronic techno.

Sementara menu jamuan makan dipilih khas Manado seperti sup kacang merah dan brenebon, hasil karya Mei dari Mimilu. Untuk daging dipilih imitasi menyesuaikan gaya hidup sehat anak muda.

Adapun jamuan minuman tradisional Cap Tikus dan goyangan hiburan juga mengambil nuansa pesta pernikahan di Manado.

Suasana Pameran Pernikahan Joi Rumengan dan Tina Kosasih, di Goethe-Institut Bandung, Sabtu, 24 September 2022. Foto: Djuli Pamungkas.

Kolaborasi

Suasana yang ditampilkan memang dibuat nyaris sempurna selayaknya pernikahan nyata. Semua ini dirancang sebagai proyek pertunjukan dan pameran multimedia yang diinisiasi Suina dan Tegar, dan direspons oleh tujuh seniman muda lokal.

Mereka yakni Agung Yandistira, Andhika Y. Prakasa, Ari Nugraha, Cisya Paramita, Dea Widya, Dhimasvani Erwin, dan Kristo Muliagan Robot.

Para seniman yang terlibat memperlakukan ruang-ruang yang ada di Goethe-Institut Bandung mulai dari halaman parkir hingga halaman belakang sebagai manifesto jalanan, rumah, juga teritori tetangga yang lumrah ditemui dalam banyak hajatan.

Masing-masing seniman mengintepretasikan cerita pendek menjadi suatu karya sesuai bidangnya.

Halaman parkir Goethe-Institut beralih fungsi menjadi panggung teatrikal. Ada tangan Dea Widya yang merangkai tali-tali plastik apik penuh warna yang diuntai sebentuk tenda.

Di area perpustakaan, instalasi layang-layang dari bambu sepanjang empat meter beserta jejaring tali ragam kelir menggantung. Karya falinggir atau layang-layang dalam bahasa Manado ini bermakna jembatan: yang bisa membuat orang terganggu, atau berlalu Lalang dengan hati senang.

Suasana Pameran Pernikahan Joi Rumengan dan Tina Kosasih, di Goethe-Institut Bandung, Sabtu, 24 September 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

Begitu pula karya animasi Agung Yandistira dari ratusan gambar dibuat secara manual dengan menggunakan alat seadanya. Pojok ruang informasi diubah fungsinya menjadi ruang pamer arsip animasi dan musik dengan tata letak serupa kamar laki laki bagi Agung dan Dhimasvani Erwin.

Karya ilustrasi yang dibuat dengan proses perendaman terlebih dahulu juga mengalihfungsikan perpustakaan menjadi sebuah ruang pamer. Karya itu tercipta dari serangkaian bahan jamu kuat laki-laki yang dibeli langsung dari toko jamu terkenal di Bandung, Babah Kuya.

Sementara taman belakang Goethe-Bandung tempat orang bersantai dijadikan ruang pamer karya eco print Cisya Paramita yang digantungkan layaknya menjemur pakaian.

Eksperimentasi yang coba direspons dan dipraktikkan dalam para perupa di pameran ini, dilakukan dengan cara yang sama yakni dengan menguasai ruang publik.

Suina menuturkan, pertunjukan dan pameran ini menjadi cerminan perebutan ruang publik menjadi ruang untuk kepentingan pribadi yang paling sering dijumpai dalam perayaan pernikahan rumahan. Ia menukil soal fenomena “private to public”.  

Di banyak tempat, termasuk Kota Bandung praktik seperti ini begitu lumrah: menutup akses jalan utama untuk kepentingan pernikahan hingga berhari-hari lamanya.

Praktik tersebut bisa dinyatakan sebagai perebutan ruang publik untuk sesuatu yang bersifat privat namun sekaligus menjadi acara kolektif yang melibatkan banyak orang untuk saling

berkolaborasi dalam menyukseskan pernikahan tersebut. Ia menjadi pesta besar-besaran yang dirayakan dan melibatkan orang di sekitarnya.

Suasana Pameran Pernikahan Joi Rumengan dan Tina Kosasih, di Goethe-Institut Bandung, Sabtu, 24 September 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

Cerpen

Suina Latersia dan Tegar Pratama bertemu di KOTATON, sebuah program dari proyek Rubicon yang dimulai pada tahun 2021 oleh Goethe-Institut Bandung, Institut Français d’Indonésie Bandung, dan Rakarsa Foundation.

Kemudian, mereka berdua mulai menulis cerita pendek bersama secara estafet, saling mengisi, tanpa intervensi satu sama lain.

Cerpen ini berkisah tentang hubungan Tina dan Joi, yang nyaris luar biasa harmonis. Pasangan ini mengadu asmara selama lebih dari sepuluh tahun tanpa prahara atau konflik.

“Kita pengen bikin cerita sangat sederhana. Enggak mau bikin plot twist rumit. Biasa-biasa aja. 10 tahun menjalin hubungan, tidak pernah berantem, too good to be true. Makanya Joi pengen melanjutkan sama Tina, tetapi sempat ragu karena tidak mendapat kesulitan apapun,” kata Suina.

Kemudian, Joi dan Tina memulai petualangan ke tempat baru, dengan kegiatan baru, di Festival Layang-Layang, di Cikancung Kulon. Larut dalam keasyikan bermain layang-layang, muncul sifat anak-anak Joi yang selama ini belum pernah dilihat Tina.

Melihat Joi bersama teman baru, Tina merasa diabaikan. Timbul pergolakan yang belum pernah terjadi pada pasangan ini. Fase itu menjadi momen goyah pertama kali yang pernah hadir dalam hubungan Joi dan Tina.

Di ujung cerpen, Joi dan Tina akhirnya kembali rujuk. Joi mengikatkan tali layangan sebagai simbol bertunangan. Bersama respons seniman yang terlibat, keterbukaan Goethe-Institut Bandung, serta asyiknya tamu undangan yang ekspresif, pesta pernikahan Joi dan Tina menjadi perayaan nyata yang hidup.

“’Tina Kosasih dan Joi Rumengan’ adalah pesta, yang kebetulan fiksi. Sedangkan perayaan dan kemerdekaanya adalah nyata,” kata Suina.

Suasana Pameran Pernikahan Joi Rumengan dan Tina Kosasih, di Goethe-Institut Bandung, Sabtu, 24 September 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

Goethe-Institut

Selama satu minggu, kelompok seniman mentransformasi Goethe-Institut Bandung menjadi tempat pernikahan dan menggambarkan kenangan kisah cinta utopis pasangan muda Tina Joi melalui karya seni yang beragam. 

Pertunjukan multimedia dan proyek seni membayangkan apa yang terjadi setelah pertunangan dan mengeksplorasi hubungan yang sering kabur antara ruang pribadi dan publik. Dengan cara ini, para seniman untuk sementara waktu melipatgandakan fungsi Goethe-Institut Bandung sebagai sebuah ruang.   

Di samping sebagai lembaga kebudayaan Jerman dengan kursus bahasa, program budaya, dan perpustakaan, Goethe-Institut Bandung dengan terbuka menjadi jalan, rumah, dan lingkungan, yang ditransformasikan oleh sebuah perayaan.

“Kami senang menjadi tuan rumah proyek kreatif dan eksperimental oleh mantan peserta KOTATON ini. Kolaborasi ini adalah contoh yang bagus dari keberlanjutan Rubicon. Goethe-Institut Bandung berusaha mendukung seniman dan ide-ide baru yang muncul dengan memberikan ruang jika memungkinkan,” kata Direktur Goethe-Institut Bandung, Caroline Brendel.

Suasana Pameran Pernikahan Joi Rumengan dan Tina Kosasih, di Goethe-Institut Bandung, Sabtu, 24 September 2022. Foto: Djuli Pamungkas.

Para Seniman

Suina Latersia lahir di Manado. Petualang dan aktif pada kegiatan jelajah alam dan ekspedisi nusantara. Saat ini berkecimpung dalam bidang wisata perairan Indonesia dan tergabung dalam  projek  SOLU Kayak  Adventure.

Suina membangun sekolah Kayak di Sibandang, Danau Toba, didasari atas kecintaan dan ketertarikan pada budaya dan sejarah Batak. Ia juga aktif sebagai penulis dan membuat karya seni partisipatoris (Par-tea). Pertunjukannya antara lain diselenggarakan di Pagerwangidome, Ereveld Pandu, dan Museum Geologi Bandung.

Suina pernah terlibat dalam projek Adventure Documentary Festival yang karyanya  dipamerkan di Paris, Jerman, gedung perpustakaan Kemendikbud dan Gedung Teater Usmar Ismail PPH UI Indonesia.

Ia merupakan inisiator perpustakaan Bacadome dan kelompok seni Yesyesyes serta pernah berkolaborasi dengan beberapa seniman dari Meksiko dan Ukraina dalam acara Cultural Exchange.

Tegar Pratama adalah seorang penulis dan guru yang belakangan ini banyak berkarya dan berproses dalam lingkup seni rupa. Ia adalah seorang guru dan penulis asal  Bandung yang tertarik pada usaha-usaha kesenian.

Ia menyelesaikan studinya di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, UIN  Sunan Gunung Djati (2016 – 2020), dan saat ini sedang menyelesaikan gelar masternya di bidang pendidikan, di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, UPI Bandung sejak 2021. 

Kegiatan interdisiplinernya di bidang ekologi, pendidikan, dan transformasi sosial dalam  mengeksplorasi kemungkinan baru melalui pendidikan, mendongeng, dan berkesenian. Ia sering mendukung gerakan pendidikan anak, isu-isu lingkungan, dan bekerja sama dengan masyarakat setempat, sekolah, dan orang lain dari berbagai bidang untuk membuat  perubahan di masyarakat sekitarnya. 

Salah satu karyanya ialah Reimagine The Basin, sebuah projek interdisiplin yang bekerja sama dengan psikolog dan seniman untuk membayangkan ulang Manglayang. Projek tersebut telah dipamerkan di Lawangwangi Art Space.

Suasana Pameran Pernikahan Joi Rumengan dan Tina Kosasih, di Goethe-Institut Bandung, Sabtu, 24 September 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

Kolaborator  

Agung Yandistira adalah seniman Sukabumi yang tinggal di Bandung. Dalam profesi seninya, ia mengadopsi pendekatan filosofi syariah untuk menciptakan karya yang bertemakan seni Syariah.

Secara otodidak  Agung menjadikan proses berkarya sebagai tempat menimbang nilai-nilai akan hubungan makhluk hidup dan spiritualisme. Karya-karya yang ia buat telah dipamerkan di Pameran Belantara, Boredome poster, dan pameran seni rupa residensi Cek Ombak di Lawangwangi.

Andhika Y. Prakasa adalah seniman teater kelahiran Subang yang menggeluti seni rupa sejak tahun 2017. Dalam enam tahun kiprahnya, ia telah berpartisipasi dalam 17 pameran yang diselenggarakan di berbagai kota, di antaranya Bandung, Jakarta, Tangerang Selatan, Yogyakarta, Surabaya, dan Subang. Beberapa karyanya juga sudah dikontrak oleh beberapa galeri, seperti galeri Art moment Jakarta, dan L Project.

Ari Nugraha adalah ilustrator lepas, praktisi budaya, dan seniman kelahiran Purwakarya. Ia mendirikan “WATIK” (Wayang Plastik), sebuah pertunjukan mendongeng yang terbuat dari botol plastik daur ulang.  

Ia memulai aktivitas artistiknya melalui salah satu kelompok seni di Bandung yaitu Sanggar Seni Rupa Kontemporer. Sekarang ia tergabung dalam organisasi RAKARSA (Yayasan Rodha Among Karsa).

Suasana Pameran Pernikahan Joi Rumengan dan Tina Kosasih, di Goethe-Institut Bandung, Sabtu, 24 September 2022. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

Cisya Paramita adalah seniman kerajinan yang sebelumnya bekerja sebagai konsultan pemasaran dan manajemen strategis di industri fesyen, dekorasi rumah, serta makanan dan minuman.

Pengalamannya lebih dari 12 tahun dalam membantu pengembangan beberapa perusahaan di Kanada, Jepang, dan Eropa. Ia selalu mencari dan mengerjakan beberapa projek yang ia gemari.

Maka, membuat produk kerajinan dan memperbaiki hal tersebut adalah hal yang datang secara alamiah. Ia juga membantu orang lain untuk membuat brand tentang apa yang mereka gemari, karena ia  percaya bahwa hidup dengan membuat apa yang kamu cintai dan membantu orang lain dalam membuat hal yang serupa akan membantunya lebih jauh lagi. Sekarang, keberanian dan rasa penasarannya membuat ia mencoba untuk membuat brandnya sendiri dan mencoba hal-hal yang baru.

Dea Widya adalah seorang arsitek, seniman, dan dosen dari Blora yang berlokasi di Bandung. Karyanya sering menggunakan bentuk-bentuk organik desain arsitektur yang berhubungan dengan manusia, lingkungan, psikologi, dan ruang.

Karya-karyanya telah dipamerkan di beberapa pameran seperti Power and Other Things, Museum of Beaux Art, Brussel, Europalia Art Festival, 2017, Jakarta Biennale 2015, Artjog 2015, SouthEast Asia Triennale 2016, installation collaborators for The Last Ideal Paradise, Theater Combinate Austria, 2019. Di tahun 2021, ia menjadi artistic director untuk Indonesia Pavilion in London Design Biennale 2021, dan menjadi mentor dalam Future Architecture Platform/ Belgrade International Architecture Week Summer Film School.

Dhimasvani Erwin adalah musisi lulusan Fikom Universitas Padjadjaran dengan gelar Sarjana Ilmu Komunikasi dan Perpustakaan. Ia sekarang bekerja sebagai desainer lepas dan desainer grafis gerak. Ia juga merupakan seorang musisi.

Sekarang ia bekerja sebagai pekerja lepas desain dan motion graphic. Ia juga membuat sebuah band The Manhattan yang terinspirasi dari The Beatles sejak 2004 dan aktif di komunitas Indo Beatlemania Club.

Tahun 2010 ia tergabung dalam Sanggar Motekar Desa Sayang, Jatinangor dan mementaskan sebuah pagelaran bernama Motekar Adumanis. Saat ini ia sedang tergabung dalam sebuah projek musik bernama The Armando and Dimidimbo.

Kristo Muliagan Robot adalah seniman teater asal Kupang yang telah berkiprah sebagai aktor dan produser selama kurang lebih 11 tahun, baik sebagai pemeran maupun produser. Selain pada pertunjukan teater, Kristo juga menggeluti bidang film dan terlibat dalam beberapa karya sutradara seperti Hanung Bramantyo dan Garin Nugroho. 

Kristo telah menggelar pertunjukan di beberapa kota seperti Jakarta, Banten, Bandung, Majalengka, Yogyakarta, Semarang, Solo, Banyumas, Malang, Mojokerto, Pontianak,  Kupang  dan pernah menjadi perwakilan Indonesia dalam perhelatan Asean

Pacific Berau di Shanghai Theatre Academy, China. Saat ini Kristo berdomisli di Kupang NTT, dalam rangka memperdalam kajian-kajiannya mengenai budaya NTT.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top
%d blogger menyukai ini: