Mengenang 1 Tahun Eben Burgerkill, Melanjutkan Visi Sang Legenda

Mengenang 1 Tahun berpulangnya Aries “Eben” Tanto, keluarga hingga teman-teman berkumpul di Laswee, Bandung, Senin, 5 September 2022. Puluhan orang berkumpul, berbaur, bertukar setumpuk cerita kebaikan Eben semasa hidup.

Mereka-mereka ini yang memiliki kenangan melekat saat ngumpul bareng, berbagi asap rokok, atau melepas tawa bersama Eben. Di satu ruangan, terpajang memorabilia yang sempat melekat bersama gerak dan hidup gitaris Burgerkill itu.

Karya rupa, aksesoris, alat musik, hingga hasil tangkapan kamera yang menggambarkan momen-momen Eben bersama banyak orang ini dipamerkan dengan tajuk “True Megabenz, True Friend, True Family”.

Di sebuah sudut, disimpan barang yang dipakai terakhir oleh mendiang Eben, sesaat sebelum wafat pada Jumat, 3 September 2021. Saat itu, Eben mengenakan kaos band black metal asal Skotlandia, Hellripper, topi band metal Inggris, Godflesh, juga sepatu Nike, untuk sebuah keperluan syuting.

Barang itu ditempatkan di atas panggung mini bersama gitar Gibson kesayangan, beragam efek gitar, serta ampli. Penampilan Eben dengan beragam barang tersebut terlihat dalam foto latar yang memperlihatkan aksi di hari terakhirnya.

Sejumlah artwork dan lirik coretan Eben juga ikut dipamerkan di sebuah kotak kaca. Selain itu, Eben memiliki koleksi gelang dari banyak event penting yang selama ini tak pernah lepas.

Wristband yang dinilai memiliki sejarah itu yakni Wacken Open Air, Jerman, 2015 dan 2019, Bloodstock Open Air, Inggris, serta Konser 48 Tahun God Bless, Agustus 2021. Yang tak kalah utama, gelang event konser akbar Burgerkill “Venomous Alive” yang digelar di Stadion Siliwangi, 2011 silam.

Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id. Grafis: Dadan “Ogos” Ramdhani/mikrofon.id.

True Megabenz

Konser “Venomous Alive” itu disebut-sebut sebagai panggung Burgerkill yang paling dikenang Eben. Satu di antara 300 foto yang dipamerkan menggambarkan suasana hati Eben saat itu. Ia memeluk erat istrinya, Anggi Pratiwi, selepas konser.

“Panggung dia paling besar itu Killchestra, Venomous di Siliwangi, sama God Bless. Itu yang aku lihat seumur hidup aku dia kelihatan tegang. Dia selalu nangis kalau punya impian terus kesampaian. Aku ngerasain dia lega bisa kesampaian main di Siliwangi buat Venomous Alive itu,” kata perempuan yang biasa disapa Bubu Anggi itu, saat ditemui di Laswee, Rabu, 7 September 2022.

Eben merupakan pejuang mimpi. Ucapan yang mengalirkan nada optimistik tak jarang mewujud nyata. Anggi menceritakan, harapan Burgerkill atau Mesin Tempur masuk ulasan majalah sekelas The Rolling Stones atau Metalhammer UK berawal dari ucapan-ucapan sepintas di rumah.

“Kalau berawal dari ‘Mungkin enggak band Indonesia masuk di majalah-majalah itu?’ dia pasti jawab, ‘Amin-keun karena enggak ada yang enggak mungkin.’ Termasuk waktu lewat Stadion Siliwangi, Sabuga, terus dia nyeletuk ‘Si BK main di sini, edan pasti ya’. Itu dari ucapan selewat. Akhirnya terwujud. Aku jadi saksi hidup ucapan dia, kenapa akhirnya aku tidak meledak nangisnya waktu dia meninggal, karena dia sosok luar biasa,” tutur Anggi, yang menyebut cita-cita yang masih dipegang Eben hingga akhir hayat adalah membangun museum musik di Bandung.

Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

True Family

Di sisi lain ruangan berlimpah foto-foto yang menjadi gambaran bahwa Eben juga family man. Tampil momen Eben saat umrah bersama orang tua dan keluarganya. Sebuah foto yang berkesan sejuk yakni saat kejutan di malam menjelang ulang tahunnya yang ke-41.

Foto itu diambil Anggi dari kejauhan. Tampak sebuah kue mangkuk dengan satu lilin menyala yang dipegang Anggi, berlatar Eben yang sedang terduduk dalam posisi menyelesaikan salat malamnya.

“Keinginan dia untuk dimakamkan di halaman rumah juga diucapkan dia saat rumah mulai dibangun. Termasuk menyediakan ruangan buat mandiin jenazah di samping kamar,” tutur Anggi.

Soal kemesraan dengan Anggi juga jadi keistimewaan lain dari hidup Eben: meski sebagian besar berisi foto mereka berdua di acara musik. Romantisme foto tahun 2020 berlatar pegunungan indah Nepal pun hasil melipir di tengah agenda tur Burgerkill saat itu.

“Dia orang yang mengutamakan pasangannya. Karena kalau kita berduanya udah oke, kita bakalan jadi contoh baik buat anak-anak. Makanya kalau ngajak nge-date kebanyakan ke konser. Sisanya yang libur panjang baru bareng semuanya sekeluarga,” ujarnya.

Foto Eben ada di mana-mana, terutama bersama anak-anaknya, Abiel Dzaki Ibrahim (15 tahun), Alieq Sabih Ismail (11), Augie Maliq Sulaiman (2); di ruang keluarga, ruang kerja, hingga area menyenangkan: bath tub kamar mandi.

Terlalu banyak keriangan di tengah foto bersama anak-anaknya. Memori HP yang paling banyak disimpan terakhir tentu bersama anak bungsunya. Eben ada saat liburan, makan, berenang, atau bersenang-senang di kamar mandi.

Momen mengasuh anak ini begitu berharga di tengah waktu padat Sang Ayah. Tengah pekan adalah masa meluapkan kerinduan Eben selepas manggung di akhir pekan, atau hari-hari tur panjang Burgerkill.

“Ngamen itu kan weekend. Makanya kalau ada di rumah, dia minta makan harus bareng keluarga. Yang paling dikenang itu kalau dia udah ngajak anak-anak, ‘Ada yang mau ikut bapak mandi?’. Habis itu di kamar mandi pasang musik, liar bareng. Kalau ditanya momen apa yang paling dikangenin sama anak-anak, pasti bilang momen mandi,” kata Anggi.

Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

True Friend

Menempati sisi kanan ruangan, kolase foto-foto Eben bersama banyak orang tertempel rapi. Ratusan momen kebersamaan Eben dengan teman-temannya ini didominasi senyum dengan gaya dalam suasana bersenang-senang.

Cetakan-cetakan foto ini berisi Eben bersama teman di Burgerkill, Mesin Tempur, Extreme Moshpit, teman kampusnya di Itenas, teman kecilnya, atau orang-orang yang mungkin baru dikenalnya. Di tengah ruangan, bertabur foto-foto Eben bersama rockstar dan teman musisi.

Anggi mengakui bahwa keseharian pria kelahiran Jakarta, 26 Maret 1977 itu dikenal lumrah mengajak orang terdekat untuk berfoto bersama. Foto-foto yang dicetak ini bersumber dari memori ponsel pribadi Eben dan kamera lawas sejak 2015.

Pameran ini juga mengambil gambar dari persepektif teman-temannya yang berbagi di media sosial, Bubu Anggi, serta fotografer profesional yang bergerak bersama Burgerkill seperti Gogeng, Anggra Bagja, dan lainnya.

“Dia itu memang hobi foto. Kalau foto sama keluarga, 80 persennya itu isinya selfie, dia yang motoin. Dia teh orang yang dikit-dikit, foto heula, ah,” katanya.

Suasana Mengenang 1 Tahun Eben Burgerkill, di Laswee, Bandung, Senin, 5 September 2022. Foto: Anggra Bagja.

Pewaris Visi

Bagi Kimung, Eben menjadi salah satu sahabat terbaiknya. Bersama Kimung dan almarhum Ivan Scumbag, Eben menginisiasi Burgerkill. Sebegitu rapatnya hubungan Kimung dengan Eben. Sampai-sampai Eben menjadi orang yang paling dipercaya oleh Kimung.

“Orang yang saya enggak ragu buat cerita apapun, tanpa ada rasa waswas. Aman lah semua sama Eben teh,” tutur Kimung.

Di tahun-tahun terakhir sebelum berpulang, Eben menekankan bahwa Burgerkill sudah merambah arena musik global. Maka, BK harus tetap menjadi band yang aktif. Maksud ini mencakup semua potensi yang ada di tubuh Burgerkill seperti sekolah musik yang dijalankan Agung, sound engineering yang terus diperdalam Ramdan, pergerakan Puput di generasi seusianya, dan banyak lagi.

”Pak Eben selalu menekankan BK bukan sekadar band, tetapi sudah menjadi menjelma jadi ranah tersendiri ekonomi kreatif. Semua menunjang baik BK maupun banyak orang,” kata Kimung, yang dipercaya mengelola redaksi Extreme Moshpit oleh Eben.

Khusus Extreme Moshpit, Eben berharap regenerasi yang terus bergulir. Sebagai penopangnya, perlu mendorong pergerakan pengarsipan dan pendokumentasian musik.

“Melalui Exmosh, kita bisa melihat kategori-kategosi Honours, Icon, yang kekuatannya ada di studi tentang arsip dan dokumentasi yang ada di Exmosh. Icon itu dari sejarah dan dokumentasi Exmosh. Yang saya baru tahu setelah meninggal, beliau dengan kawan-kawannya sudah mempersiapkan museum. Bahkan dia sudah nyari tanah untuk jadi bakal calon museum,” tuturnya, seraya menyebut bakal banyak pengembangan di Extreme Moshpit yang digerakkan bersama anak muda termasuk rilisan majalah versi cetak.

Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id. Grafis: Dadan “Ogos” Ramdhani/mikrofon.id.

Selepas ulang tahun yang ke-25 Burgerkill, ada banyak momen Eben menyadari hal riil yang harus dilakukan terkait arsip dan dokumentasi. Dari buku My Self: Scumbag Beyond Life and Death yang ditulis Kimung, Eben ikut melahirkan lima hal yang harus didorong bagi pengembangan ekosistem musik.

Ada tentang kesehatan musisi, cara melawan diskriminasi sosial dan stigma, pergerakan pengarsipan dan dokumentasi, mendorong berbagai proses kolaborasi dan menciptaan kemungkinan baru, hingga merumuskan pengembangan komunitas di ranah mutakhir.

Bagi Kimung, Eben punya andil besar untuk menyisipkan nama Burgerkill sebagai wakil Indonesia di kancah musik internasional. Berbagai panggung event metal dunia hingga tur di daratan Eropa dan Amerika Serikat membawa Burgerkill untuk menggaungkan Indonesia.

“Karena sudah melangkah di dunia gobal, yang kita usung sudah nama Indonesia. Jadi kalau kita menelaah lagi posisinya Pak Eben, dia sudah mahluk global. Metalhammer UK pun secara khusus menulis tentang kepergian Pak Eben sepanjang 2 halaman penuh,” tuturnya.

Eben dinilainya selalu memberikan banyak masukan, wawasan, dan pikiran yang cerdas. Eben memang dikenal pintar, cerdas, visioner, dan selera musik tinggi, yang menjadikannya sebagai perfeksionis dan punya standar ideal.

“Standar ini diterapkan di mana-mana, termasuk pergerakan melalui media, zine, musik, seni, semua hal yang dia kerjakan. Yang luar biasa yang  ia kerjakan jadi warisan buat saya pribadi, juga banyak orang, artinya ketiadaan beliau jadi warisan yang jadi pekerjaan rumah buat kita untuk mengelola dan meneruskannya,” ujarnya.

Begundal

Ipin, yang bergabung dengan Begundal Hellclub sejak 2007 punya setumpuk kenangan bersama Eben. Mendiang Eben sangatlah dekat dengan para begundal. Lontaran candanya yang membuat ia dekat dengan para Begundal.

“Udah ngga ada batasan lagi antara member band BK sama para fans-nya. Pak Eben sangatlah humble, suka bercanda dan seorang yang perhatian sama Begundal. Beliau becandanya khas pisan, meskipun kadang bercandanya rada kamalinaan tapi seru,

enggak ada yang pundungan juga,” ujarnya.

Dalam setiap kesempatan bertemua, perhatian Eben dilayangkan lewat pertanyaan seputar kerjaan dan bahkan kehidupan keluarga Begundal.

“Kalau ketemu sering nanyain gimana pekerjaan? Keluarga? Gimana planning Begundal? Begundal mau bikin apa lagi? Enggak secara langsung ketemu, kadang suka chat di DM Instagram juga. Perhatiannya teh kerasa pisan. Bukan ke saya aja, tapi mungkin ke semua Begundal yang di sekitar beliau,” katanya.

Ipin sempat dipercaya Eben untuk menangani konten video Begundal Campfest. Awalnya tentu canggung berhadapan dengan panutan sekaligus legenda musik. Tapi Ipin malah dibebaskan berkarya. Eben sesekali mengarahkan dan merevisi hasilnya.

Eben tak pernah pelit ilmu. Ia suka mengajarkan sesuatu hal, berbagi, terutama soal konten. Ia menjadi orang yang terkenal perfeksionis dalam berbagai hal.

“Ada kata-kata yang saya ingat sampai sekarang. Beliau selalu bilang sama joke-nya, ‘nanaon teh kudu alus, daek beungeut bengo? Irung nyengsol? Kan embung,’ (Kalau bikin sesuatu itu harus bagus. Memang mau muka kelihatan miring? Hidung bengkok? Enggak, kan). Di situlah saya termotivasi belajar untuk bikin sesuatu pekerjaan yang maksimal,” kata Ipin.

Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id. Grafis: Dadan “Ogos” Ramdhani/mikrofon.id.

Eben sering memotivasi para Begundal supaya menciptakan sesuatu harus diyakini bakal keren. Jika tak merasa keren, mending tak usah dilakukan.

Ipin dan para Begundal menempatkan mendiang Eben sebagai legenda panutan. Sederet prestasi yang dibawa bersama Burgerkill jadi buktinya. Termasuk membuka jejaring dengan media dan komunitas metal luar negeri.

“Sampai vokalis Lamb of God pun mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya almarhum Pak Eben di Instagram pribadinya. Terus Extreme Moshpit menjadi media partner Wacken Worldwide, dan mungkin banyak lagi. Buat saya almarhum Pak Eben itu sangatlah visioner buat band, dan buat komunitas yang di sekitarnya,” katanya.

Ia berharap Burgerkill terus menghadirkan karya, melanjutkan spirit Eben juga almarhum Ivan SCMG. Ia meyakini banyak prestasi dan pencapaian yang Burgerkill raih berkat kerja keras semua tim hingga bisa ada di titik sekarang, sekaligus masih banyak impian lain yang belum tercapai.

Ipin juga berharap ke depan Extreme Moshpit masih menjadi media informasi seputar perkembangan terkini Burgerkill, termasuk bocoran proyek dan acara yang bakal hadir.

“Dulu pas almarhum Pak Eben masih ada sering spill info-info seputaran Burgerkill atau Begundal di Extreme moshpit, karena banyak juga pendengar Extreme Moshpit adalah para Begundal. Semoga Extreme Moshpit Radio & TV makin besar dan berkembang lagi. Kalau saya ingin warisan spiritnya tetap terus ada dengan adanya merchandise TRUE untuk mengenang beliau dan semangatnya yang membara. Meskipun raganya sudah berpulang, tapi warisan semangatnya akan tetap terus membara,” tutur Ipin.

Suasana Mengenang 1 Tahun Eben Burgerkill, di Laswee, Bandung, Senin, 5 September 2022. Foto: Anggra Bagja.

Dengan ratusan memori foto ini sedikit banyak menunjukkan bahwa Eben peduli dengan sekelilingnya, Eben yang senang berkumpul, melempar usil, atau beradu tawa.

Anggi mengungkapkan, acara ini bertujuan sederhana: mengumpulkan orang dekat, Begundal, atau teman-teman Eben dari masa kecil hingga kenalan terakhir.

“Sebelum lanjutin semua, Burgerkill, Extreme Moshpit, yang aku jaga ini silaturahmi Si Bapak. Dia teh orangnya ke sana-sini banget. Selain jadi energi sendiri, ini cara dia untuk saling support. Mudah-mudahan kenangan dan apa yang dia tinggalkan ini manfaatnya terus manjang di masa depan,” tutur Anggi.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: