mikrofon.id

Lukisan ‘Terkutuk’, Prediksi Kekhawatiran Seniman Taat Joeda yang Menjadi Nyata

MIKROFON.ID – Mengemban tugas untuk tanggap dalam mengurangi dampak bencana, masalah pelaksana sistem anggaran terus menerus berulang. Hasrat kuat untuk menyelamatkan diri (sekaligus memperkaya diri) di tengah bencana, baik pribadi atau bersama kelompoknya, telah membenamkan rasa kemanusiaan hingga ke dasar bumi.

Informasi dan berita tentang penyelewengan dana tanggap bencana kerap muncul pasca terjadinya musibah. Termasuk yang paling baru, korupsi bantuan sosial (bansos) COVID-19.

Dalam situasi bencana yang setara dengan kiamat kecil bagi seluruh umat manusia di dunia, pola kejahatan serupa masih saja dijalankan.

Sejak ancaman virus Covid-19 tersiar, keresahan manusia begitu merata di seluruh dunia. Namun, yang paling membuat sesak, di saat banyak pihak tengah berupaya saling bantu, saling tolong, saling menyembuhkan jiwa yang luka, ada sebagian umat manusia di Indonesia yang malah membuat luka makin dalam dengan mainan pisau korupsinya.

Ancaman korupsi yang bisa jadi datang dari lingkungan terdekat masyarakat itu ditorehkan seniman senior Kota Bandung, Taat Joeda melalui lukisannya berjudul “Terkutuk”. Panjangnya rangkaian “tangan-tangan siluman” dari makhluk yang nyaris tak berwujud itu tertuang dalam kanvas terhubung 4.5×1.5 meter.

Pelukis kelahiran Cirebon, 14 Juli 1948 itu menggambarkan situasi mencekam yang tak hanya berasal dari ancaman virus corona, tetapi dari kejadian di belakangnya. Dalam kenyataan, kata dia, upaya penanggulangan pandemi yang telah beberapa bulan berjalan sudah mulai memperlihatkan banyak masalah.

Ada kabar penimbunan alat medis, masker, baju pelindung diri petugas medis yang terbatas, sampai bentrok kebijakan pemerintah pusat dan daerah. Yang lebih parah, muncul anggaran yang tak terserap, persoalan dana bantuan sosial, hingga anggaran yang tak jelas.

“Ini jadi arena bancakan, dari awal. Proyek nasional dan internasional. Belum yang dari donasi pribadi. Akan lebih banyak korbannya, bangsa dan negara. Negara bangkrut, jadi bancakan. Ini sudah kenyataan jadi lahan mencari duit. Jadi ekses dari virus corona ini lebih jahat daripada penyakitnya. Itu yang lebih bahaya. Sampai sekarang dampaknya, sampai masa mendatang,” tutur Taat, beberapa waktu lalu.

Monster

Lukisan ini begitu kentara memperlihatkan monster yang sangat ditakuti, yang menjadi hantu yang mengancam keberlangsungan negara. Monster ini merupakan semua bentuk kejahatan, sesuatu yang mencekam, menakutkan, di belakang penyakit corona itu sendiri. Tidak jelas tangan dan kepala siapa yang ada dalam lukisan itu, tetapi jumlahnya banyak sekali.

Di bagian lain, terdapat gestur dari masyarakat yang terpana, tertegun, bingung, pasrah, tanpa perlawanan. Manusia yang terdiam, tanpa gestur apapun itu merepresentasikan sikap defensif.

Karya “Terkutuk” ini menjadi lukisan di luar kebiasaan dirinya. Tidak ada manis-manisnya. Padahal Taat adalah pelukis yang dikenal dengan karya berwarna cerah, manis, bebungaan, kali ini memilih warna mengikuti warna tradisi: warna coklat batik untuk mengisahkan tentang kondisi Indonesia kini.

Orang tahu, sebagian besar karya Taat dikenal menghidupkan ruangan dengan lukisan ragam warna, bertema keindahan flora, demi membangkitkan rasa nyaman. Dengan latar belakang pendidikan yang berpindah-pindah beberapa jurusan di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, mulai Grafis Murni, Interior, DKV, hingga belajar melukis sendiri dengan “menengok kiri-kanan” sampai saat ini, karya Taat Joeda telah banyak menghiasi bandara, hotel, ruang komersial, hingga kantor dan rumah.

Taat yang dikenal sebagai pelukis produktif sejak awal melukis pada 1995 telah berpameran di Singapura, Malaysia, Jerman, Perancis, Hongkong, Tokyo, Arab Saudi, Kanada, Belgia, hingga Amsterdam. Hingga kini, ada sekitar 1.300 karya terjual yang tercatat dan bersertifikat.

Karya Taat didorong untuk membangkitkan optimisme. Semak sering dijadikan tema lukisan, sesuatu yang dianggap tidak berguna, kumuh, yang coba diangkat menjadi indah. “Di luar teknis atau tampilan, semak itu indah. Jangan menganggap sesuatu dari kulitnya. Bunga itu indah biasa. Tetapi semak indah itu luar biasa. Terbukti, objek semak bisa hadir untuk menghidupkan ruangan,” ujarnya.***

Tinggalkan Balasan

Back to top
%d blogger menyukai ini: