mikrofon.id

Lewat ‘Silalatu’, Band Death Metal Forgotten Gambarkan Gelap-Terang Negara dalam 34 Menit

Sang Peracik Lirik, Addy Gembel, merasakan betul elektrik yang mengalir saat menuliskan syair untuk album termutakhir mereka, “Silalatu”. Foto: Grimloc Records.

MIKROFON.ID – Negara yang makin padat oleh para perusak membuat Forgotten makin terdesak untuk segera menyeretnya ke dalam karya. Bagi band yang lahir 1994, di Ujungberung, Kota Bandung, ketamakan para penguasa adalah penyulut bara karya-karya mereka.

Gaya kendali negara yang makin destruktif memicu Forgotten tambah produktif. Terlahir menentang orde baru, kini mereka terbentuk matang untuk menggedor penguasa tamak yang tak juga jera.

Sang Peracik Lirik, Addy Gembel, merasakan betul elektrik yang mengalir saat menuliskan syair untuk album termutakhir mereka, “Silalatu”, yang dirilis akhir 2020.

Album “Kaliyuga” yang dikenalkan dua tahun lalu berisi goresan karya saat Addy menghuni Republik Seychelles, sebuah negara kepulauan di tengah Samudera Hindia, dekat dengan Benua Afrika.

Lagu-lagu dari “Kaliyuga” mengandung imajinasi Addy yang sedang menjalani hidup di negeri tak berkonflik, tak ada persoalan, adem ayem, gaji tinggi, daratan bagi manusia yang bermimpi hidup di negara mapan.

“Saya hidup di negara yang tidak ada persoalan. Tidak ada inspirasi apa-apa jadi lirik. Saya mau gila. Yang ada itu pantai yang indah. Pokoknya udah enggak ‘Forgotten’ banget, tidak mengabarkan kabar buruk. Makaya lirik di ‘Kaliyuga’ aneh. Cuma bisa memantau Indonesia dari berita. Tidak bersentuhan langsung dengan masalahnya,” tutur vokalis Forgotten itu, saat ditemui mikrofon.id, beberapa waktu lalu.

Saat meramu “Silalatu”, ia telah lama hadir di Tanah Air. Jiwa Addy telah terisi oleh limpahan empati, dengan raga yang tak henti beralih ke berbagai lokasi; ke tengah demo RUU Minerba, RUU KPK, Omnibus Law Cipta Kerja, hingga aksi penggusuran warga Tamansari, Bandung.

“Saya bersentuhan langsung dengan objeknya, saya hadir di situ. Ini medan pertempuran sesungguhnya. Kita akan selalu menemukan musuh baru untuk dilampiaskan ke dalam karya,” kata Addy.

Sang Peracik Lirik, Addy Gembel, merasakan betul elektrik yang mengalir saat menuliskan syair untuk album termutakhir mereka, “Silalatu”. Foto: Grimloc Records.

Dua dekade Forgotten merasakan betul munculnya repetisi konflik di setiap rezim. Penguasa yang gerah terus menerus berupaya meredam aksi perlawanan.

Pergerakan yang abadi membuktikan kesia-siaan pemerintah dalam menahan aksi. Semakin ditumpas, bara api semakin meluas, menyebar, bertambah, dan berlipat.

Tebaran bara yang beterbangan diinjak langkah upaya peredaman itu yang dimaknai Silalatu.

“Situasi konflik yang sepertinya repetisi di setiap rezim akan dijegal aksi yang bertubi-tubi. Aksi yang coba dipadamkan, akan hadir lagi dan lagi. Semakin besar api, semakin coba dipadamkan, semakin banyak bara yang terbang. Bara makin banyak dan takkan pernah padam,” tutur Addy.

Silalatu

Lewat “Silalatu”, salah satu pemantik genre death metal di ranah underground Indonesia ini menunjukkan kebesaran namanya dengan kematangan konsep dalam berkarya.

Album ketujuh dalam karier Forgotten menjadi tantangan bagi band yang berisi Addy Gembel (vokal), Toteng (gitar), Gan Gan (gitar), Dicky (bas), dan Zalu (drum), untuk memberikan karya terbaru yang bukan “asal produksi”.

Album ini mencatatkan 9 lagu. Akan tetapi, rangkaian track sepanjang 34 menit ini terasa seperti satu kesatuan.

“Silalatu” dibuka dengan alunan seruling sunda yang mewakili kondisi kehidupan selaras manusia dengan alam. Pemilihan seruling dan pakem gaya memainkannya tak sembarangan.

Pirigan seruling yang dipilih mengandung kedamaian, dengan penggambaran situasi alam yang melarutkan rasa tenang dan nyaman. Forgotten secara khusus melibatkan Ekek, pemain seruling dari Karinding Attack.

Sebagai gitaris yang juga pelaku musik tradisional penguasa kecapi, rebab, serta seruling, Gan Gan berkontribusi mengawal ide ini.

“Sesuai pengalaman di album ‘Laras Perlaya’, kita memasukkan unsur tradisional bukan sebagai pelengkap jadi bagian intro. Kita kolaborasi, juga riset langsung ke ahlinya di Rancakalong. Kita enggak membuat gimmick instrument biar dibilang keren, atau sok-sokan melestarikan tradisi. Ini soal rasa, ‘deg’-nya di sini. Frekuensi ini bisa memengaruhi emosi dan melarutkan pendengar,” ujar Addy.

Membuka album, kesyahduan seruling solo ini memang meniupkan imajinasi awal dari sebuah situasi tenang, saat manusia bisa hidup selaras dengan alam sekitarnya, hidup seimbang dengan memanfaatkan alam secukupnya.

Seketika, menguntit dalam track selanjutnya, Forgotten membuka situasi negeri yang mulai menggerus alam berlebihan, dengan keinginan mengambil lebih dari apa yang mereka butuhkan.

Nyaris tanpa jeda dari seruling pembuka, rentetan efek suara ledakan muncul di angkasa. Keheningan ambience alam runtuh oleh gemuruh riff mencekam, ritme drum yang menderu kencang, gedoran bass yang menggempur, hingga teriakan reportase tentang penjarahan, perampasan ruang hidup, korosi total, fabrikasi ‘kebenaran’, tentang negara sebagai alat destruksi.

Rentetan spoken word yang menyalak dari MC legendaris, Herry “ucok” Sutresna seolah jadi pembuka gerbang segala macam keruwetan dan keserakahan yang terjadi. Transisi menuju lagu “Warta Derita” juga dirancang “tanpa-nafas”, demi menyegerakan reportase masyarakat yang menjadi korban saat melakukan perlawanan.

Sang Peracik Lirik, Addy Gembel, merasakan betul elektrik yang mengalir saat menuliskan syair untuk album termutakhir mereka, “Silalatu”. Foto: Grimloc Records.

Sebagai arwah dari album ini, lagu “Silalatu” dinaungi petikan gitar klasik oleh Gan Gan, dengan vokal bergaya choral oleh anggota paduan suara, Syifa Amelia.

Lagu “Silalatu” memuat seluruh pesan dalam album, dengan simbolisasi mother earth karena dunia itu sangat feminis, dengan makna perempuan yang meregenerasi semangat kehidupan mimpi.

Peralihan setiap lagu nyaris tak ada jeda. Setiap track saling merekatkan diri untuk terus menggiring orgasme kuping di setiap lagu.

Agak sulit untuk menghentikan kenikmatan di tengah album sepanjang 34 menit itu.

Antrean track list mengantarkan penikmatnya seolah berada dalam sebuah seni pertunjukan, dengan 9 daftar lagu yang seakan menjadi penggalan babak dalam sebuah pertunjukan teater.

Suatu saat Forgotten main di atas panggung, album “Silalatu” akan terasa sebagai sebuah konser death metal mewah, layaknya pertunjukan orkestra.

Album ini gemuk dengan pengaruh kental dari death metal Florida semacam Malevolent Creation dan Death, para eksponen NY seperti Cannibal Corpse dan Suffocation hingga melodi band-band death metal Swedia seperti At The Gates dan Dismember.

Meski masih menguat dengan komposisi oldschool death metal, Forgotten menyetrum setiap elemen suara dengan evolusi selera pendengar hari ini, termasuk sejumlah penyegaran pattern gitar, hingga infiltrasi pengaruh band-band terkini yang ditawarkan drummer muda, Zalu.

Addy memberi jaminan, evolusi Forgotten takkan pernah berujung. Proses kreatif masih banyak bermutasi untuk karya-karya mendatang yang menjanjikan.

“Karya baru pastinya secara musik akan terus berevolusi, menemukan bentuk baru. Proyek mendatang lagi digarap. Yang saya amati generasi kini mulai menggali kembali artefak masa lalu. ketika trash metal bangkit lagi dan dimainkan band-band hari ini. Mudah-mudahan bisa jadi inspirasi band baru, ketertarikan baru,” ujarnya.

Pelopor

Mewakili Grimloc Records, Herry “Ucok” Sutresna mengungkap ketertarikannya sedari awal untuk mengajak Forgotten merilis “Silalatu” melalui label mereka.

Bagi Ucok, Forgotten menjadi salah satu pelopor death metal di Indonesia sejak 1994, tentunya di samping Jasad. Konsistensi kualitas karya Forgotten menambah daya tahan death metal di tengah siklus tren musik Tanah Air.

“Jarang band pelopor masih eksis dengan album, konsisten, dan membuat karya yang layak. Forgotten ini jadi salah satu sedikit band yang bisa konsisten berkarya dengan bagus, dan berproses dari awal sampai sekarang. Ada pendewasaan musik dan tidak menghilangkan esensi death metal gaya Forgotten,” ujarnya.***

Tinggalkan Balasan

Back to top
%d blogger menyukai ini: