mikrofon.id

Lewat Festival “Merawat Beda”, Komuji Kolaborasikan Seni Rupa, Musik, dan Sastra

MIKROFON.ID – Komunitas Musisi Mengaji (Komuji) melangsungkan Festival “Merawat Beda”, yang diselenggarakan selama 2 pekan, mulai 22 September hingga 6 Oktober 2020. Selain merilis 24 lagu terbaik hasil program Recvolution, festival ini dimeriahkan talkshow, pameran kolaboratif karya seni rupa, sastra, dan musik dari para pegiat seni Kota Bandung terkini.

Founder Komuji Eggie Fauzi menuturkan, selama 2 pekan digelar juga pameran berbentuk instalasi, sketsa, dan puisi. Ada 4 peserta terlibat, yaitu Iwonk/Ridwan Solehudin (perupa), Willy Fahmy Agyska (penyair), Marsten L. Tarigan (penyair), dan Fajar M. Fitrah (penyair). Keempatnya adalah pegiat muda yang konsisten di bidangnya selama 5 tahun terakhir.

Karya-karyanya terlibat pameran seni dan ajang sastra berskala nasional, menjuarai sayembara, serta tersiar di beberapa media massa cetak dan digital. Dalam pameran ini, mereka berkolektif menanggapi isu perdamaian (dalam makna luas).  

Ada pula 2 talk show, yaitu Buka Tutup Kepala dan Ada Karena Beda. Buka Tutup Kepala adalah salah satu program Komuji, menghadirkan berbagai narasumber kompeten dan tidak homogen secara sudut pandang. Sebuah diskusi yang mengangkat tema hangat dan tak jarang mengandung unsur pro-kontra.

Eggie menjelaskan, Buka Tutup Kepala dimaksudkan membuka ruang berpikir dialogis bagi audiens. Tujuan konsistensi program ini adalah pembiasaan terhadap perbedaan dan keragaman pendapat di masyarakat. Sementara Ada Karena Beda merupakan event pembuka dari rangkaian “Merawat Beda”. Event ini berbentuk pengantar pameran dan diskusi kekaryaan. Dihadirkan 3 pembicara, yaitu Zulfa Nasrulloh (seniman, kritikus sastra), Ust. Rosihan Fahmi, dan Syarif Maulana (ahli filsafat, musisi).

Sejak 2010, Komuji memang konsisten menyuarakan nilai-nilai keberagaman dan inklusifitas. Komuji berdiri dilatarbelakangi peningkatan minat belajar agama di kalangan muda perkotaan. Fenomena tersebut berujung pada banyak friksi pemikiran, khususnya di kalangan musisi.

Bertempat di Jalan Cilaki no 33, Kota Bandung, Komuji berkembang menjadi organisasi yang memfasilitasi anak muda untuk menemukan potensi di bidang kreativitas. Komuji mewadahi pertemuan ide, kolaborasi kegiatan, dan pembelajaran bersama. Komuji fokus pada pengembangan critical thinking anak muda sehingga terbiasa menghadapi perbedaan gagasan dan budaya.

Hal tersebut diformulasikan dalam 5 rumus bergaul ala Komuji, yaitu: keunikan, perbedaan, kesetaraan, keberagaman, dan persaudaraan. Atas dasar rumusan bergaul tersebut program-program Komuji berjalan, baik berbentuk ruang diskusi, kegiatan kreatif, maupun kelas bimbingan belajar.

“Komuji berupaya hadir sebagai alternative voice yang menyampaikan pentingnya keterbukaan pemikiran dalam proses pembelajaran. Setelah itu, diharapkan tumbuh sikap saling menghargai yang mendorong pada penerimaan dan kebermilikan akan keberagaman di masyarakat,” tutur Eggie.*** 

Tinggalkan Balasan

Back to top
%d blogger menyukai ini: