Komuji Artvocation Ungkap “Beragam Tidak Seragam” di Industri Film

Program Artvocation dari Komuji Indonesia menyelenggarakan artist talk ketiga sebelum melangsungkan acara puncak, di IJI Sociopetal Space, di Jln. Bojongkoneng, Kabupaten Bandung, Jumat, 27 Januari 2023.

Diskusi kali ini bertema “Beragam Tidak Seragam,” yang membahas lingkup kolaborasi dalam industri film. Bahasan film ini melengkapi artist talk sebelumnya yang telah mengeksplorasi sastra, musik, dan seni rupa.

Artist Talk dalam tema “Beragam Tidak Seragam,” ini menghadirkan sutradara film Ray Nayoan dan Dosen Luar Biasa Prodi TV dan Film Unpad, Annisa Winda.

Para pembicara mengungkap tentang campur aduk emosi dalam proses produksi film. Rupanya, perbedaan pandangan yang kerap muncul dari setiap individu produksi film justru menghasilkan kolaborasi yang menguatkan.

Suasana Artvocation: Artis Talk “Beragam Tidak Seragam,” di IJI Sociopetal Space, di Jln. Bojongkoneng, Kabupaten Bandung, Jumat, 27 Januari 2023. Foto: Komuji Indonesia.

Moderator acara yang juga ahli filsafat kotemporer Syarif Maulana memantik kedua narasumber terkait cara memahami keberagaman lewat ranah film. Proses produksi film dikenal kuat dalam sisi kolektif dengan kepadatan unsur yang terlibat di dalamnya.

Ray Nayoan mengungkapkan, sisi keberagaman memang begitu kental di dalam proses produksi film. Deretan individu yang terlibat di tengah produksi memaksa lahirnya inklusifitas untuk bergerak bersama.

“Inklusifitas itu enggak bisa diharapkan. Itu sesuatu yang harus diciptakan. Karena kalau kita ngomong industri film, kita ngomongin duit besar. Kita ngomongin cast panjang lebar sampai kateringnya. Kalau ngomongin film maker kita ngadepin sesuatu yang inklusif. Semua punya role. Yang penting kita tahu role mereka, karena akan ada ego-ego yang muncul, yang akan men-drive,” tutur Ray.

Belum lagi soal keberagaman dalam satu produksi film. Ketika bekerja sama dengan individu dari negara luar, misalnya, akan menemui rintangan kultur lainnya.

“Produser gue pernah orang bule. Itu different culture. Ketika ketemu, pusing. Tetapi itu sesuatu yang harus hadapi,” katanya.

Baca Juga :   Film Ancika 1995: Daftar Pemeran, Pengganti Dilan, Tayang 2023
Suasana Artvocation: Artis Talk “Beragam Tidak Seragam,” di IJI Sociopetal Space, di Jln. Bojongkoneng, Kabupaten Bandung, Jumat, 27 Januari 2023. Foto: Komuji Indonesia.

Annisa Winda mengatakan, proses penciptaan film merupakan kolaborasi antarpraktik seni. Setiap unsur seni yang melengkapi sebuah film berperan penting untuk menyajikan tujuan cerita secara utuh.

Tetapi di luar misi inklusifitas itu, ia memandang perlunya upaya menyetarakan gender di lingkup industri film.

“Saya melihat gate-keeping untuk masuk industri film untuk perempuan masih sulit. Karya yang dilirik seakan harus punya semacam histori, kedekatan dengan pihak di dalam industri film. Peluang untuk menghadirkan perempuan di dalam film masih sulit,” ujar penulis buku “Memaksa Ibu Jadi Hantu” itu.

Annisa menambahkan, untuk menguatkan kolaborasi dalam pembuatan film harus bisa dipastikan bahwa setiap stafnya mempunyai tujuan dan objektif yang sama, bisa saling bernegosiasi satu sama lain.

“Dan saling bertanggung jawab apapun yang terjadi dalam produksi, pasca produksi, agar tidak menghalangi untuk mencapai tujuan bersama yaitu membuat film untuk dinikmati publik,” ucapnya.

Sedangkan Ray menempatkan aspek komunikasi sebagai penopang utama terbentuknya inklusifitas dalam proses produksi film.

“Jangan emosional. Kadang-kadang kalau kita emosional itu malah baperan. Sementara bikin film itu soal komunikasi. Komunikasi enggak akan mulus, it’s ok, itu enggak apa-apa. Jangan harapin inklusifitas, tetapi elu yang harus membuka diri, terutama dalam kolaborasi film. Film itu inklusif, siapa saja, dengan bakat aja, kalau mau masuk bisa. Itu sesuatu yang harus dijaga,” ujarnya.

Artist Talk kali ini ditemani penampilan Ali Zaki dan Teman Gerrring yang sekaligus menutup acara.

Artvocation

Founder Komuji Indonesia, Eggie Fauzi mengatakan, pertumbuhan berbagai komunitas kreatif di satu sisi menjadi value yang tinggi. Namun, d isisi lain justru memunculkan berbagai masalah.

Seperti sikap eksklusif, fanatisme kelompok yang mengangap kelompoknya yang paling hebat. Hal ini juga terjadi pada bidang kreatif industri film, komunitas cenderung terfragmentasi bergerak masing-masing. Akhirnya justru melemahkan pertumbuhan ekosistem di industri film.

Baca Juga :   Film Tara dan Preserving The Seke: Sesak Air di Kolam Urban

“Berdasarkan hal itu Komuji melalui agenda program Artvocation bidang Film dan Artist Talk  yang berupaya mendorong penyadaran penerimaan keberagaman menjadi sebuah kekuatan,” kata Eggie.

Artvocation merupakan program yang ditujukan untuk membantu anak muda dalam menemukan potensinya, sekaligus mendorong minat anak-anak muda memasuki industri kreatif.

Kegiatan ini telah berjalan mulai dari workshop lintas disiplin antara bidang sastra, film, musik dan rupa yang menghasilkan karya kolaborasi 13 komunitas kreatif di Kota Bandung dan akan diluncurkan secara resmi pada tanggal 20 Februari 2023.

Sebelum menuju acara puncak nanti, Komuji menggelar kegiatan pra event dengan judul Artis Talk. Tujuannya untuk mengenalkan berbagai komunitas kreatif di Kota Bandung sekaligus menjadi ajang berbagi pengalaman dengan menghadirkan berbagai narasumber berpengalaman di industri kreatif.***

Posts created 399

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top