Komuji Artvocation Musik Usung Tema “Beda Itu Nada”

Program Artvocation dari Komuji Indonesia kembali menghadirkan artist talk yang kali ini bertema “Beda itu Nada: Sadari Beda, Beda itu Biasa,” di IJI Sociopetal Space, di Jln. Bojongkoneng, Kabupaten Bandung, Jumat, 13 Januari 2023.

Artist talk bertema “Beda itu Nada: Sadari Beda, Beda itu Biasa” ini merupakan bagian Artvocation yang mengungkap keberagaman di bidang musik. Seminggu sebelumnya, artist talk mendalami bidang sastra.

Artvocation merupakan program yang ditujukan untuk membantu anak muda dalam menemukan potensinya, sekaligus mendorong minat anak-anak muda memasuki industri kreatif.

Kegiatan ini telah berjalan mulai dari workshop lintas disiplin antara bidang sastra, film, musik dan rupa yang menghasilkan karya kolaborasi 13 komunitas kreatif di Kota Bandung dan akan diluncurkan secara resmi pada tanggal 20 Februari 2023.

Sebelum menuju acara puncak nanti, Komuji menggelar kegiatan pra event dengan judul Artis Talk. Tujuannya untuk mengenalkan berbagai komunitas kreatif di Kota Bandung sekaligus menjadi ajang berbagi pengalaman dengan menghadirkan berbagai narasumber berpengalaman di industri kreatif.

Suasana Artvocation: Artis Talk “Beda itu Nada: Sadari Beda, Beda itu Biasa,” di IJI Sociopetal Space, di Jln. Bojongkoneng, Kabupaten Bandung, Jumat, 13 Januari 2023. Foto: Komuji Indonesia.

Artist talk soal musik ini bertujuan menyemangati anak muda agar lebih percaya diri mencipta karya musik serta mewadahi mereka berbagi keresahan dan mendapat tips menapaki industri musik.

Sebelum acara dimulai pukul 19.00 WIB, venue sempat diguyur hujan. Namun, audiens tetap antusias memenuhi area acara.

Mereka menanti kehadiran 2 pembicara artist talk kali ini yakni Hinhin Agung Daryana yang merupakan dosen serta musisi yang tergabung dalam enam band berbeda, serta vokalis band The Macademia, Rere.

Obrolan begitu mendalam dengan panduan ahli filsafat kotemporer Syarif Maulana serta musisi yang juga vlogger Igo Jalan-Jalan.

Acara ini dihangatkan dengan penampilan musik dari Jon Adalah. Band bergenre pop akustik tersebut menjadi pembuka acara. Lalu, Founder Komuji Indonesia, Eggy Fauzi memberikan sambutannya. Ia menggarisbawahi tentang bagaimana menerima perbedaan yang niscaya dalam konteks genre dan selera bermusik.

“Adanya sikap membeda-bedakan di kalangan musisi, justru berpotensi mengurangi kreativitas dalam diri setiap musisi. Jadi, program Artvocation ini bertujuan mendorong ekonomi industri kreatif di Kota Bandung saling bekerja sama,” ujarnya.

Suasana Artvocation: Artis Talk “Beda itu Nada: Sadari Beda, Beda itu Biasa,” di IJI Sociopetal Space, di Jln. Bojongkoneng, Kabupaten Bandung, Jumat, 13 Januari 2023. Foto: Komuji Indonesia.

Selera

Dengan pengalamannya sebagai dosen sekaligus musisi, Hinhin ingin menekankan bahwa setiap orang pasti mempunyai selera dan kebiasaan berbeda dalam bermusik. Perbedaan itu justru mewarnai aktivitas individu tersebut dalam berproses kreatif, bertemu orang banyak dan saling melengkapi.

“Musik itu betul-betul personal. Orang punya perspektif soal musik mana yang menenangkan, mana yang menggelisahkan. Untuk pribadi dia mungkin bermakna, bukan buat yang lain. Orang yang mendengarkan musik itu punya hak mau dibawa ke mana pemaknaannya,” kata Hinhin.

Pengalaman bermusik dirinya terbentuk setelah mengamati banyak perbedaan dalam industri ini. Menjalani karier bermusik bersama enam band berbeda genre tentu menjadi bukti sejauh mana perjalanan Hinhin.

“Ternyata setelah bergaul mencari tema yang dibuat, urusan teknis yang harus diramu, itu semua beda. Kita sendiri sebagai sosok atau individu, kita itu sebenarnya melengkapi yang lain. Kita enggak berhak menilai atau mendiskreditkan karena terbangun dari banyak aspek, sosial kultural, individu latar belakang keluarga, budaya. Saya beruntung bisa berpadu dengan banyak teman,” tuturnya.

Suasana Artvocation: Artis Talk “Beda itu Nada: Sadari Beda, Beda itu Biasa,” di IJI Sociopetal Space, di Jln. Bojongkoneng, Kabupaten Bandung, Jumat, 13 Januari 2023. Foto: Komuji Indonesia.

Sedangkan Rere merasakan hadirnya jarak antargenre hingga pemisahan berbasis reputasi musisi. Pesannya bagi calon musisi atau musisi muda agar jangan pernah mengeksklusifkan diri karena itu hanya membuat pribadi menjadi dangkal.

“Tidak dipungkiri, di industri musik itu ada kelas-kelas. Tapi bukan berarti karya kelas atas selalu baik dibanding kelas bawah. Karya musik yang otentik itu bisa siapa saja yang mencipta. Jadi, saran saya, kalaupun budaya pengelasan itu masih ada, kalian cukup buktikan dengan skill. Begitulah proses pendewasaan seorang musisi,” kata Rere.

Panji Sakti, musisi yang menjadi tutor workshop peserta Artvocation melihat perkembangan anak muda yang progresif saat sudut pandang soal musik begitu terbuka.

Ia menceritakan, sejak awal pendaftaran hingga berjalannya workshop atmosfer yang dibentuk menjadikan anak-anak muda ini beda dan unik. Meskipun mewakili kelompok, saat ada tugas dari tutor mereka digabungkan dengan komunitas lain supaya sadar akan kemampuan satu sama lain.

“Mereka berusaha mengerti teman baru mereka. Dan mereka memanfaatkan itu. Jadi bukan saling menjaga jarak atas genre atau selera,” ujarnya.

Para peserta Artvocation bidang musik ini sempat diberikan materi tontonan film yang dibisukan. Mereka diminta Panji untuk mengisi audionya. Prosesnya terhitung cepat dengan hasil yang memuaskan.

Dari 40 karya yang disaring dari workshop itu, ada delapan karya terpilih, Komuji akan mendaftarkannya ke berbagai platform digital streaming. Komuji juga akan mengambil empat dari karya untuk dijadikan soundtrack film.

“Setelah workshop itu yang paling penting. Setelah ada peserta yang terpilih, peserta yang tidak terpilih ikut gabung dan terlibat dalam proses produksi lainnya. Jadi kami betul-betul kerja sama. Semua itu jadi nampak indah justru karena ada perbedaan. Menjemukan jika semua sama. Bisa sepakat itu indah, dari kolase yang berbeda,” tuturnya.

Panji percaya jika “kelas” dalam musik itu ada dan akan bertahan hingga kapanpun. Yang harus diperbaiki adalah bagaimana kita menyikapi perbedaan kelas itu.

Syarif Maulana menambahkan, perbedaan itu tidak bisa dihilangkan. Perbedaan dihidupi dan jadi bagian sehari-hari, bahkan menjadi syarat untuk mengetahui siapa diri kita.

“Kita mengetahui kita bukan dari diri kita. Beda itu niscaya, tinggi-rendah itu penilaian,” ujar Syarif.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: