Kiprah Panggung Viatikara: Gebrakan Tari Kreasi Baru Indonesia, Dikenang 5 Benua

Seisi ruang tengah kediaman Irawati Durban, di Ciumbuleuit, Bandung, meriuh hangat sesaat setelah Paul Kusardy muncul bersama keluarga. Sang Tuan Rumah mengangkat senyumnya tinggi, menyalami Paul yang telah lama dinanti.

Rabu, 8 Mei 2022, pojok santai keluarga Irawati itu menjadi ruang reuni pendiri dan penari Viatikara, kelompok tari modern yang telah memasyhurkan tari Indonesia di lima benua. Demi pertemuan kecil para perintis Viatikara ini, Paul datang dari Jakarta setelah pindah dari tempat tinggalnya berpuluh tahun di Sabah, Malaysia. Peristiwa tatap muka ini tergolong langka bersama kehadiran Tanaka Hardhy, partner ide Paul sekaligus penata musik tari yang mereka bentuk, hingga deretan penari seperti Irawati Durban, Indrawati Lukman, Ayu Murniati dan Lukitawati serta para penari Viatikara muda.

Paul hadir dengan bantuan kursi roda yang didorong anaknya. Pria berusia 88 tahun itu tidak banyak merespons. Tetapi pandangannya berkeliling, seakan menyapa dan melepas kerinduan pada orang-orang di hadapannya.

Tak banyak yang bisa dilakukan, meski daya tangkap komunikasinya masih baik. Paul hadir dalam kondisi terkena stroke.

Meski dengan duduk terbungkuk, sejumlah testimoni dan cerita-cerita kiprah gemilang Viatikara di masa silam dicermati betul oleh Paul. Ketika giliran ia memegang mikrofon, suaranya parau, diikuti dengan penyampaian pesan yang terpatah-patah.

Akan tetapi, para penari seperti Irawati dan Indrawati yang turut membesarkan Viatikara mengisi kembali spirit Paul. Mereka mengisahkan betapa besar peran Paul dalam menempatkan tari modern Indonesia lebih universal, dan viral di zamannya.

Foto: Dokumentasi Viatikara.

Viatikara Bermula

Sejarah terbentuknya Viatikara berawal saat Tanaka tengah merancang sebuah acara amal di sekolahnya, SMAK Lyceum Dago, Bandung, pada 1957. Pria kelahiran Bandung, 17 April 1938 itu ingin acara dirancang berkesan. Nama yang pertama terlintas agar bisa mewujudkan itu yakni Paul, yang kebetulan alumnus SMAK Dago.

Nama Paul Kusardy saat itu begitu populer sebagai koreografer tari dan jago mengarahkan pertunjukan. Tanaka begitu semringah saat mengetahui Paul berkenan membantu mengatur acara amal itu.

“Saya yang minta bantuan, terutama untuk tenaga koreografi acara amal itu. Dia berkenan. Akhirnya setelah itu manjang. Kami mulai banyak mengisi acara bersama,” kata Tanaka.

Saat itu Paul aktif berkesenian di kampusnya, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar). Sementara Tanaka dikenal piawai bermusik. Ia memimpin Irama Togaso, sebuah grup musik langganan kompetisi, acara, dan Presiden Soekarno.

Irama Togaso juga dipilih Bung Karno untuk menghibur tamu negara dalam jamuan Konferensi Asia Afrika 1955. Semasa kuliah di Universitas Padjadjaran (Unpad), Tanaka mendapat sokongan baru dari seniman kenamaan Barli Sasmitawinata, yang saat itu aktif di Departemen Kesenian Unpad dan baru pulang dari pendidikannya di Belanda.

“Waktu sama Paul itu kita memang berniat cari satu orang lagi. Ketemulah Pak Barli. Pak Barli baru pulang dari Belanda. Lalu ketemuan, ngobrol-ngobrol, akhirnya kelompok ini jadi bertiga. Awalnya kan namanya Sendra Tari Nasional Indonesia Modern. Jadi Viatikara karena ide Pak Barli, dia kan ahli bahasa juga. Viatikara itu artinya serupa Bhinneka Tunggal Ika,” tutur Tanaka.

Foto: Dokumentasi Viatikara.

Kemasyhuran Viatikara

Ledakan ide dari isi kepala Paul mampu diimbangi racikan melodius yang diramu Tanaka. Dengan kemampuan negosiasi, promosi, dan luasnya relasi, Barli merangsek terdepan untuk membuka ruang-ruang panggung bagi rombongan Viatikara.

Dari frekuensi tinggi mengisi acara-acara lokal, kampus, dan pemerintahan, Viatikara melambung jauh hingga tur ke lima benua. Pemerintah Indonesia juga pernah mempercayakan kelompok tari ini dalam operasi kebudayaan.

Indonesia pernah mengirim Viatikara sebagai upaya meluruhkan ketegangan antara warga Indonesia dengan Malaysia pada 5 Mei 1968, yang didesain sebagai misi budaya. Rombongan Viatikara tak ingin hanya sekadar mampir untuk menari, meski kedua negara telah bersepakat mencairkan hubungan diplomatiknya.

Dinukil dari buku Viatikara: dari Bandung untuk Dunia yang ditulis oleh Mahpudi dan Enton Supriyatna Sind, perjalanan Viatikara itu untuk memenuhi acara Charity Premier yang diselenggarakan Brigade 3 Infanteri Tentara Diraja Malaysia.

Viatikara memboyong 70 personel. Dari Viatikara Bandung, ada tim penari klasik Sunda yang menjadi penari kreasi baru modern binaan Paul Kusardy plus personel band Togaso, calung Didi, kendang dan suling Sunda, serta pelatih angklung Udjo Ngalagena. Tim Viatikara cabang Surabaya dan Bali juga dilibatkan bersama para penari dan pemain gamelannya.

Dari kabar tersiar, kedatangan Viatikara telah disebarluaskan di tengah masyarakat Malaysia. Selain warga, rupanya telah siap menyambut yakni sejumlah jenderal militer Malaysia beserta para penari kesenian dan budaya Melayu, Cina, serta Iban. Akan ada penampilan kesenian lokal untuk menyambut rombongan Viatikara.

Barli, Paul, dan Tanaka kemudian merespons kabar prosesi penyambutan mereka itu dengan sebentuk kejutan. Dari pesawat Hercules TNI AU yang mereka tumpangi, rombongan Viatikara turun dengan kostum tari lengkap. Sedangkan pemain instrumen tradisional sebisa mungkin menggantungkan alat musiknya di tubuh agar leluasa dimainkan sambil berjalan.

Aksi pertunjukan yang memunculkan para penampil dari ekor pesawat itu seolah membalikkan situasi di landasan pacu bandara Kucing, Malaysia: Viatikara yang menyambut Malaysia.

“Di pesawat sudah siap penari berkostum, Pak Barli jadi lengser. Begitu pesawat mendarat, puluhan penari turun diiringi pembawa payung dan penabuh gamelan Bali dengan suara yang ingar bingar. Akhirnya penyambutan tuan rumah pun buyar. Kita selalu mencari sesuatu yang unik yang bisa membantu negara. Kita berjuang dengan budaya. Tidak politik dan segala macam. Ini cara Viatikara, bagaimana perjuangan kita membantu negara,” kata Tanaka.

Panitia penyambutan dan seluruh orang yang hadir di landasan akhirnya larut dalam kesenangan bersama pertunjukan itu. Keesokan harinya, penampilan Viatikara di Happy World Stadium, Kucing, dipadati tak kurang dari 3 ribu penonton yang memborong ludes tiket.

Foto: Dokumentasi Viatikara.

Pesona Penari

Para pejabat pemerintah setempat ikut hadir menikmati aksi Viatikara. Suasana kota itu begitu meriah dengan kehadiran Viatikara. Peristiwa bersejarah ini digambarkan utuh lewat laporan wartawan Harian Pikiran Rakjat, Joenoeswinoto yang melaporkan langsung dari lokasi acara.

Selain kekaguman pada penampilan spektakuler Viatikara, penonton juga terbius oleh pesona para penari. Sebagai pengasuh, Barli, Paul, dan Tanaka punya tanggung jawab untuk melindungi para penari.

Tanaka sampai membuat skema penjagaan khusus. Menjelang manggung di Amerika Serikat, ia membagi kelompok dengan formasi: Setiap dua anggota Viatikara perempuan wajib didampingi satu pria. Formasi ini harus melekat ke mana pun mereka pergi.

Irawati menuturkan, para penari Viatikara tentu menghormati Barli, Paul, dan Tanaka. Aturan-aturan yang dianjurkan akan mereka taati demi keselamatan para penari.

Nasihat bagi penari untuk tidak menatap mata saat penyambutan di sebuah tempat yang erat dengan kisah mistis juga mereka ikuti.

“Pernah satu waktu, kita mau turun dari pesawat. Lalu dibilang jangan tatap mata orang setelah turun dari pesawat. Katanya bisa diguna-guna. Ya, kita nurut. Kita lewati kerumunan dengan cara menunduk,” tutur Irawati.

Foto: Dokumentasi Viatikara.

Penari

Viatikara punya nama tiga penari legenda mereka yakni Irawati Durban, Indrawati Lukman, dan Mila Karmila. Mereka adalah generasi pertama Viatikara.

Buku Viatikara: dari Bandung untuk Dunia mencatat lengkap cerita Barli, Paul, Tanaka, dan profil para penari.

Irawati Jogasuria atau Irawati Durban lahir di Bandung, 22 Mei 1943. Paul mengajak Irawati yang telah mahir tari Sunda asuhan R. Tjetje Somantri di kursus tari Sunda Badan Kesenian Indonesia (BKI), dan sekolah balet bersama Gina Meloncelli di Bandung.

Sebagai penari Sunda sejak 1956, Irawati menjadi penari yang pernah tampil di hadapan Presiden Soekarno, Presiden Soeharto, Presiden Megawati Soekarnoputri, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Presiden Amerika Serikat George W. Bush.

Paul menganggap Irawati sebagai pembangkit ilham dan pembangkit inspirasi, yang ikut melahirkan sejumlah kreasi tari baru di Viatikara. Irawati bergabung dengan Viatikara hingga 1973, untuk kemudian menyelesaikan pendidikan Arsitektur Interior di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung pada 1975, lalu membuka kariernya di ruang desain interior.

Istri dari Durban Ardjo ini terus melanjutkan kariernya di bidang tari, hingga menjadi dosen dan ketua Jurusan Tari di ASTI Bandung. Pada 2009, ia mendirikan Yayasan Pusat Bina Tari (Pusbitari) yang merangkum Studio Pusbitari (Irawati Durban Dance Company, berdiri 1986)

Perkumpulan ini menyerap generasi muda yang berminat melestarikan tari Sunda. Irawati juga berhasil memodifikasi tari Merak yang diciptakan oleh Rd. Tjetje Somantri 1955. Dengan pengalamannya menonton berbagai pertunjukan seni kelas wahid ketika mengikuti delapan Misi Kesenian Indonesia yang dikirim Presiden Soekarno ke luar negeri, Irawati membaurkan unsur tari Bali, balet, dan modern dance, hingga menjadi ikon tari Jawa Barat sampai sekarang. Pada Desember 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengangkat tari Merak menjadi Warisan Budaya TakBenda (WBTB) Indonesia.

Selain mencipta tari dewasa, Irawati pun membuat tari khusus bagi anak-anak mulai dari tari Cangkurileung, Kukudaan, Hayu Batur, Baris, dan lainnya. Berinisiatif mewariskan ide-ide tariannya, Irawati menuliskan riset dan penelitiannya lewat buku Perkembangan Tari Sunda (1998), Tari Sunda 1940-1965 (2008), 200 Tahun Seni di Bandung (2011), hingga Teknik Tari Sunda (2013).

Indrawati Lukman menjadi penari yang diajak oleh Irawati untuk bergabung dengan Viatikara. Lahir di Bandung, 1 April 1944, Indrawati direkomendasikan pada Paul sebagai murid tari andalan Tb. Oemay Martakusuma dan R. Tjetje Somantri di BKI.

Sempat manggung di berbagai negara tak membuat Indrawati lama bergabung di Viatikara. Ia memilih fokus di pengembangan tari Sunda. Indrawati juga sempat menekuni pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, untuk akhirnya melanjutkan pendidikannya di Negeri Paman Sam lewat beasiswa pemerintah AS.

Kecintaannya pada tari membuat Indrawati lompat pendidikan ke jurusan koreografi. Selama dua tahun di AS, istri dari Winarya Lukman Machdar itu mempelajari tari India, Spanyol, Hawaii, dan tari modern Martha Graham.

Dari hasil pendidikannya di AS, ia kembali ke Indonesia dengan menciptakan tari Batik, dan tak kurang dari 40-an tari yang ia ciptakan sepanjang kariernya seperti Sasikirana, Rineka Dewi, Patilaras, Rarangganis, dan sebagainya.

Komitmen Indrawati pada tari tradisional diperkokoh dengan membangun Studio Tari Indra (STI) di Bandung, sejak 1968.

Mila Karmila menjadi bagian trio ikon penari Viatikara bersama Irawati dan Indrawati. Namun, wanita yang lahir di Bandung, 23 Januari 1943 ini menggeser kariernya sebagai pemain film.

Mila Karmila begitu populer sebagai artis film layar lebar era 60an hingga 80an. Dimulai dari perannya sebagai figuran lewat film Toha Pahlawan Bandung Selatan pada 1962, dan menaikkan pamornya lewat film Tudjuh Pahlawan (1965) sebagai pemeran utama.

Selanjutnya, Mila disibukkan dengan proyek film Liburan Seniman (1965), Di Balik Tjahaja Gemerlapan (1966), Senja di Djakarta (1967), Djakarta, Hongkong, Macao (1968), hingga Jeritan Si Buyung (1977), dan lainnya.

Selain tokoh di atas, ada juga peran pasangan Tjetje Sirodjudin dan Ayu Murniati. Keduanya berperan dalam mengorganisir sekaligus mengembangkan manajemen tari Viatikara. Tjetje bertugas mengorganisir anggota, mengatur proses latihan, sampai mengelola permintaan pertunjukan dari pihak luar.

Sedangkan Ayu melatih dan meneruskan makna tari kepada para anggota. Selain di Bandung, Ayu melatih di Jakarta, Surabaya, Bogor, hingga Jepang.

Memiliki nama lengkap Polim Maulana Kusardy, Paul Kusardy lahir di Semarang, 5 November 1934. Sempat tinggal di Majalengka, Paul pindah ke Bandung dan bersekolah di SMP St. Aloysius.

Selain di sekolah, Paul aktif melatih tariannya di sekolah balet Gina Meloncelli. Di kampus Unpar, ia pernah mengisi posisi ketua Dewan Mahasiswa Unpar bidang kesenian. Di organisasi kemahasiswaan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Paul mengisi bidang seni.

Tonggak kemajuan Viatikara yang ia pimpin diawali lewat Malam Kreasi Tari Nasional Modern (MKTNM), yang dihelat 25-26 Agustus 1961. Melalui acara itu, Paul ditantang wali Kota Bandung saat itu, R. Priatnakusumah untuk menyajikan karya tari yang merepresentasikan kepribadian Indonesia.

Lalu, Paul mengkreasikan tari Nu Geulis, Senja di Tanah Airku, Angin Timur, Payung Fantasi, dan Belenggu Penjajahan.

Foto: Dokumentasi Viatikara.

Sebagai penata koreo para penarinya, Paul tentu dikenal paling enerjik dengan semangat kreatifitas yang meluap. Sebagai konsekuensinya, ide-ide yang dibagikan terkirim tegas, atau bahkan dinilai cerewet oleh para penarinya.

Bersamaan dengan gestur itu, lahirlah kreasi-kreasi baru tari modern, bahkan pertunjukan yang menjadi terobosan di masanya. Tari Kunang-Kunang, misalnya, dibuat lebih hidup dengan tangan penari yang membawa lampu sebentuk lentera kecil.

Melengkapi rancangan tarian ciptaannya, Paul pun turun langsung untuk menyiapkan kostum, tata panggung, tata lampu dan properti yang akan membentuk tarian serasa paripurna.

Pada 1968, Paul dikirim pemerintah Indonesia untuk mengajar seni di Malaysia, yang membuatnya tinggal di wilayah Sabah. Nama Paul di Negeri Jiran semakin santer ketika dipercaya menata pertunjukan pada pembukaan SEA Games di Brunei Darussalam, 2001.

Pengusung motto hidup “Untuk dia yang mencintai dan ingin dicintai” itu menutup kariernya sebagai Cultural Officer Kedubes RI Brunei Darussalam, Direktur Kebudayaan Negeri Sabah dan Penanggung Jawab Kebudayaan Seluruh Sabah, dan Pembantu Konsul Kebudayaan Konjen RI di Sabah.

Keberadaan Paul Kusardy di Sabah dan merenggang jarak dengan Viatikara tentu membuatnya tak kuasa memendam rindu. Reuni Viatikara di kediaman Irawati, 8 Mei 2022 itu membuatnya terkesan.

“Hari ini kita sangat beruntung sekali, Ira (Irawati) telah memberi kesempatan kepada kita untuk bertemu. Dan saya lihat kawan-kawan Viatikara juga hadir. Mudah-mudahan Viatikara boleh bersatu,” tutur Paul.

Pertemuan Tanaka, Irawati, dan Indrawati bersama Paul memang telah lama dinanti. Momentum itu yang memantik Irawati menanyakan keputusan Paul meninggalkan Tanah Air.

Paul tak mampu mengingat tahun kepindahannya ke Malaysia. Tetapi pertimbangan utama dirinya merantau ke Negeri Seberang karena tugas yang diberikan pemerintah Indonesia sekaligus memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

“Untuk bekerja dan cari makan, untuk keluarga, untuk hidup. Sebetulnya saya juga ingin di Indonesia. Tetapi saya di Indonesia belum bisa menjamin ekonomi rumah tangga. Kebetulan sekarang setelah terkena stroke saya terlalu menyusahkan orang,” ujar Paul.

Kehidupan baru di Malaysia akhir tahun 1969 itu memang membuat kreasi baru Paul di Viatikara terhenti. Meski begitu, ia tetap menaruh harapan untuk dapat menciptakan tarian baru, mungkin setelah kondisi kesehatannya kembali pulih.

“Sebetulnya bukan saya tidak mau menciptakan (kreasi tari baru) di Indonesia. Semua yang diciptakan saya berdasarkan kecintaan saya kepada Indonesia, untuk meningkatkan budaya Indonesia. Mudah-mudahan kalau saya sudah bisa jalan lagi, lari, bangun, nanti masih banyak (cipta kreasi) tidak terbatas. Mudah-mudahan saya tetap (dalam kondisi) baik,” tuturnya.

Foto: Dokumentasi Viatikara.

Viatirakara untuk Indonesia

Viatikara boleh dibilang menjadi pelopor terbentuknya kreasi baru di ekosistem tari Indonesia. Keberanian dalam mengenalkan rancangan tari pada khalayak memunculkan standar baru dalam seni pertunjukan. Masa setelah Viatikara menggulirkan tuntutan pembaharuan dan terobosan dalam menyajikan unsur seni, budaya, dan hiburan.

Saat kemunculannya di tengah publik, gaya tari modern Viatikara memang mendapat perhatian. Pujian tentu datang bergelombang, tetapi kritikan juga pasti hadir.

“Dulu saya mendapat kritikan bukan main dari seniman. Enggak cocok unsur musik tradisional Pelog dengan musik barat. Padahal suara instrumen tradisional itu akan menandakan Indonesianya. Kenapa kita mesti dihalangi oleh patokan dan batasan? Yang kita butuhkan itu suara, dan menimbulkan Indonesianya itu ada,” kata Tanaka.

Ia menakar musik dalam tari Viatikara tidak untuk ditonjolkan segi musiknya. Musik lebih diarahkan untuk menyemangati penari dan memperindah pertunjukannya. Sisanya, Viatikara tetap mengutamakan tanggung jawab melestarikan budaya dan tradisi lewat kreasi tari.

Tanaka merasa Viatikara menjadi rumah bagi orang-orang yang ingin menomorsatukan bangsa dan negara di tengah keberagaman. Bagi Viatikara, seni budaya Indonesia dijadikan Ibu dari kesenian daerah.

“Jadi prinsip Viatikara adalah kita berjuang dalam bidang budaya. Kita tidak mau ikut-ikutan politik segala macam. Cukup budaya saja yang jadi profesi kita. Mudah-mudahan kita bisa membantu negara dalam budaya. Sejak kita berdiri sampai detik ini, Viatikara sudah bisa menjelajahi lima benua, itu yang kita banggakan. Jadi hampir semua negara sudah didatangi, dengan misi mengenalkan budaya ini,” ujar Tanaka.***

Tinggalkan Balasan

Back to top
%d blogger menyukai ini: