Kidsway dan Upaya Menyambung Jejaring Hardcore Hingga Kota Kecil

Selepas mengantongi album termutakhirnya, Hardcore Pagebluk, pada tahun lalu, Kidsway menjalankan tur ke sejumlah kota. Mereka memandang penting kunjungan langsung ke kantong-kantong penggerak hardcore, hingga ke kota dan kabupaten berpopulasi kecil.

Kidsway memanaskan seluruh instrumennya untuk mengulur nilai kolektif sejauh mungkin, elastis, meliuk-liuk ke kantong-kantong satu energi di banyak tempat. Bagi band berisi Amet, Febby, Vicky, dan Idan, kunjungan ke teman lama di berbagai daerah ini bikin candu.

Mereka terkagum dengan atmosfer komunitas hardcore kecil yang dengan ruang terbatas mampu merawat kolektif, bergerak mandiri, dan menghidupkan aktivasi. Perjumpaan di tengah kepungan sing-along dan guyuran keringat ruang kecil ini selalu diakhiri dengan diskusi padat mengurai upaya-upaya merentang masa depan hardcore.

“Jejaring kayak gini memang selalu ada ada di seluruh skena, termasuk hardcore. Tetapi yang bikin Kidsway kepompa semangatnya tiap lihat teman-teman di daerah yang terus aktif, terus eksis,” kata Febby, saat ngobrol bareng mikrofon.id, awal November 2022.

Selain menyambangi kota-kota besar di timur Jawa pada Agustus 2022, Kidsway menunjuk titik kota dan kabupaten di Jawa Barat sebagai tur lanjutan. Ada rangkaian mini stage di Cirebon, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Kuningan, dan Sukabumi, sepanjang September 2022.

Febby menceritakan, persinggahan Kidsway di daerah yang secara populasi (termasuk jumlah penyuka hardcore) tak begitu masif, malah menyulut semangat makin bergolak.

Di tengah sulitnya menemukan venue, barudak HC lokal Sumedang punya tempat bernama Tofu Monster, sebuah studio milik pribadi yang dikelola bersama.

Di Garut, Kidsway meliarkan penonton yang memenuhi gigs, di sebuah tempat aerobik. Komunitas hardcore setempat melakukan pendekatan personal supaya pemilik studio aerobik itu berkenan mengizinkan tempatnya jadi arena moshpit. Akhirnya studio boleh disewa murah asal pengunjung membeli minuman di tempat tersebut.

Di datarang tinggi Kabupaten Kuningan, Kidsway main di lapangan kecil di depan sebuah kedai kopi. Izinnya pun serupa event di Garut dengan cukup meramaikan pembelian minuman di tempat itu.

“Dan animo yang datang di daerah-daerah ini rame banget. Yang saya heran, kita tuh kan baru rilis, tapi mereka udah tahu lagu-lagunya. Di setiap daerah sing-along. Sampai-sampai di Kuningan kita terus diminta main meski set-list habis. Pokoknya atmosfer main di tur kemarin bikin kita puas banget,” kata Febby.

 

Kidsway saat tampil di panggung. Foto: Kidsway.

Bikin event rutin yang mengundang band tamu dari dalam dan luar daerahnya itu buat Febby serasa balik ke zaman mereka merintis, sulit venue, tetapi bisa mendesak event terwujud. Sepaket dalam acara semua unit di kumpulan mereka bikin media sendiri, menyediakan merchandise, sampai bikin gigs kecil meski tak mendulang cuan.

“Pergerakan ini ada di setiap daerah, dan terus hidup di daerah. Saya lihat di daerah skena musiknya terus berkembang. Ternyata show gigs ini banyak. Memang skalanya tidak besar, tetapi mereka ada, dan aktif,” katanya.

Selepas manggung, kumpulan kecil ini memanfaatkan waktu untuk berbagi informasi. Informasi soal menggerakkan kolektif untuk merancang sebuah tur tentu sangat dibutuhkan.

Selain itu, Febby, yang kebetulan mengelola label Grimloc Records bareng Ucok Homicide, E-one Eyefeelsix, dan lainnya, tentu mendapat banyak pertanyaan soal merawat label rekaman tetap layak. Ia pun menyorong teman-teman di daerah untuk mewujudkan label rekaman terus bertumbuh.

“Saya ingat bangun Harder dulu bareng Ucok dan teman lainnya, ya dari titik mereka sekarang. Butuh waktu untuk bisa menguatkan jejaring bersama supaya bisa mendapatkan apa yang diharapkan bersama,” ujarnya.

Isi diskusi dari waktu perjumpaan yang panjang ini memang tidak terungkap ke permukaan.

“Buat teman-teman di daerah, manggung di Bandung mungkin ada yang menganggap sebuah pencapaian. Tetapi sebaliknya, sebuah pencapaian dan kehormatan buat Kidsway bisa main di daerah, datang ke sana, bertukar komunikasi, itu pencapaian. Jamuan ini akan selalu ada timbal balik. Amet juga sering bikin event buat band lokal dan luar daerah yang mau tur di Bandung. Buat band hardcore, punk, atau lainnya, di tempat seadanya, dilakukan rutin,” kata Febby.

Kidsway saat tampil di panggung. Foto: Kidsway.

Jejaring

Soal pertemanan yang menjadi landasan narasi penyuka hardcore ini coba diseriusi oleh Amet. Ia mendirikan Non Blok Crew dengan misi sederhana: supaya tak muncul renggang di setiap skena musik di Bandung. Gerakan ini diharapkan bisa menjaga ekosistem bermusik melalui aksi saling dukung.

“Sebenarnya di skena hardcore tidak ada istilah rockstar, karena terkesan senioritas. Saya me-reduce itu dengan membuat Non Blok Crew,” katanya.

Ia meyakini, dengan gerakan bersama ini mampu menghasilkan acara luar biasa meskipun hal itu dilakukan dengan kemampuan kolektif seadanya.

“Hilangkan batasan, ayo bareng-bareng, cari band, sponsor dengan musyawarah. Menurut saya hal itu juga sudah bisa mewakili,” tuturnya.

Non Blok Crew pun telah menghidupkan Kota Bandung dengan sejumlah agenda mulai dari berkolaborasi dengan Disaster Showcase menghadirkan band luar negeri, Odd Man Out di Fresh Beer Braga, hingga berbagi panggung bersama Asia Minor, Kandala, Kidsway, Step Ahead dan Under18.

Amet menceritakan, album pertama mereka, self-titled, pada 2017, juga diperkenalkan pertama kali lewat tur ke luar Bandung. Mereka langsung berkendara ke Surabaya, Jawa Timur, bersama 2 rombongan band lainnya, Jeruji dan Joey The Gangster.

Agenda tur “Bless The Punk Tour” itu meliputi Malang, Bali juga Lombok. Bagi Kidsway, tur adalah soal berjejaring.

“Sebenarnya lebih memperluas networking,” ujar Amet.

Ia sangat mengakui bahwa tur menjadi pelekat koneksi yang kuat bagi pertemanan yang kokoh, terutama di ranah hardcore.

Pentolan Take A Stand ini pun sempat terkejut saat tur jalur Priangan banyak yang menantikan penampilan Kidsway.

“Di Kuningan juga Tasik banyak yang nungguin kita. Mereka senang bisa sing-along bisa have fun bareng,” ujarnya.

Pengalaman tur sebagai pembuka distribusi jejaring juga dialami saat mereka mengunjungi Jepang.

“Ketika tur Jepang kita menambah relasi. Juga bertemu dengan personel Angel Dust. Sama record label Pop Wig juga. Kalau di Indonesia kerasa banget tiap kota banyak teman. Ini juga bisa hasilkan kolaborasi, ” kata Amet.

Foto: Kidsway.

Pesan Pertemanan

Ia mengatakan, dalam karya yang diciptakan, Kidsway lebih mengorasikan soal pertemanan hingga isu hangat di sekitarnya.

“Kalau Kidsway isunya tidak berat kayak politik. Paling angkat isu hangat di sekitar kita saja, soal pertemanan atau waktu itu lagi ada isu soal pelecehan seksual,” ujar Amet.

Dari beberapa nomor hits lagu Kidsway di platform musik, “Tatapan Kosong Gorilla Gadget,” “Mercusuar,” dan “Estafet Seruan Gombal Moshpit,” masih terunggul.

Amet mengatakan, dalam lirik lagu “Estafet Seruan Gombal Moshpit” ini menceritakan ajakan untuk menjaga nilai-nilai pertemanan.

“Bagaimana kita ber-estafet tidak jauh dari pertemanan. Itu kenapa judulnya ‘Estafet Seruan Gombal Moshpit.’ Maknanya bergiliran berada di stage, untuk meneruskan pesan, itu salah satu kultur hardcore,” ujarnya.

Soal konstruksi sosial juga jadi perhatian mereka. Nomor “Mercusuar” menyampaikan kemunculan hiruk pikuk berbagai fenomena sebagai dampak dari perkembangan menghidupi dunia digital.

“Ini tentang hiruk pikuk kota yang fenomena bergeser ke baru perkembangan gadget. Ada satu sisi antara tidak siap manusia menerima gadget, banyak kengawuran di sosial media,” tutur Amet.

Hardcore Pagebluk

Kidsway terbentuk pada 2014 dari individu-individu yang besar bersama band papan atas mulai Balcony, Take A Stand/Full of Hate, Savor of Filth, hingga Asia Minor. Para personel melebur gairah mereka pada hardcore berkat pengaruh dari pergerakan band semacam Turnstile, Sick of It All, Strife, Snapcase, One King Down, Battery, serta Downset.

Namun, Kidsway berupaya untuk menjaga kejayaan hardcore era 90-an dari racun semacam band-band NYHC layaknya CIV dan Warzone, Snapcase, juga Beastie Boys.

Hardcore Pagebluk berpadatkan pengalaman mereka selama pandemi.

Album ini dirilis dalam format CD atas kerja sama dua label, Grimloc dan Disaster. Amet mengatakan, setiap album yang digarap selalu ada kolaborasi bersama para penyanyi. Kali in, sejumlah musisi tamu dihadirkan di Hardcore Pagebluk. Ada rapper Tuan Tigabelas, Vansu dari salah satu unit HC Bandung, Revival Mode, hingga Alicetriana.

Tuan Tigabelas berkolaborasi di lagu Polemix Pandemix. Lagu tersebut menceritakan soal permasalahan hal-hal baru di masa pandemi, juga bagaimana hiruk pikuk selama masa pembatasan itu. Kini, Kidsway sedang menyelesaikan video klipnya bersama Tuan Tigabelas dan menyiapkan showcase di Kota Bandung.

Hardcore Pagebluk Track List:

  1. INTRO PENYINTAS DUA GELOMBANG 02. DETAK IRAMA UNITY
  2. MENUJU LINGKARAN API
  3. NOT THE END
  4. POLEMIX PANDEMIX (feat. Tuantigabelas)
  5. DON’T BREAK IT (feat. Vansu of Revival Mode) 07. SELEBRASI AKUN BODONG
  6. GELAP (feat. Alicetriana)
  7. BANDUNG HARDCORE (FULL OF HATE COVER) 10. KURIKULUM PEMUDA 7 DETIK (BONUS TRACK)

Recorded at Teargas Studio Bandung;

Mixing & Mastering: Irsyad at Teargas Studio Bandung except “Kurikulum Pemuda 7 Detik” by Yoni Gayot;

All musics written by Vicky & Kidsway;

All lyrics written by: Amet & Kidsway, except “Polemix Pandemix” written by Amet & Tuan Tigabelas;

Guest rap vox on “Polemix Pandemix”: Tuan Tigabelas Guest vox on “Rise Up”: Vansu Of Revival Mode;

Guest vox on “Gelap”: Alicetriana;

Intro vox on “Gelap”: Wulanda;

Effects and Samples on “Polemix Pandemix” & “Gelap”: Jaydawn;

Effects and Samples On “Intro Penyintas Dua Gelombang”: Hendra Of RNRM;

Artwork Cover and Kidsway Logo: Ken Terror Graphic Design: Herry Sutresna;

Band Photo: Masemasee.***

Andryan

Profil Penulis --- Andryan Ramadhany, lulusan Jurnalistik Universitas Pasundan ini lahir di Kota Bandung, 15 Maret 1992. Dilatarbelakangi kecintaanya dengan musik underground, Andryan banyak dipengarui musik berbau youth crew, seperti Youth Of Today, Gorilla Biscuits, Judge, sampai Mindset. Namun, ia tergiring menyukai musik keras diawali suntikan metal senada Black Dahlia Murder, Bleeding Through, Eighteen Visions, sampai Trivium. Di ranah musik lokal, rasa musik Adryan diiringi awal kebangkitan Buckskin Bugle, Right 88, Restrain, Pitfall, sampai Alone At Last.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top
%d blogger menyukai ini: