Keyakinan Mahasiswa Seni Rupa UPI Lewat Karya Lukis di Pameran Sraddha

Sekelompok mahasiswa Pendidikan Seni Rupa UPI angkatan 2019 menggelar pameran bertajuk Sraddha, di Griya Seni Popo Iskandar (GSPI) Bandung, 13-15 Januari 2023.

Pameran ini merupakan rangkaian program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Proyek Seni Lukis sekaligus dalam rangka penyusunan tugas akhir untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana di Pendidikan Seni Rupa.

Ada dua belas seniman yang memamerkan karya mereka sebagai hasil dari Proyek Seni Lukis. Mereka yakni Ananda Nur Syamsi, Ambarsaffanah Iraputri, Eka Nur Lia, Firda Faridah Yasmin, Hanif Fajar Sobirin, Helena Gayatri Putri, Indri Asofah, Indri Sri Lestari, Putri Sinta, Lestari Reva Dwiyanti Ariin, Salsabila Sizkia Maulidina, serta Uswatun.

Judul Sraddha yang memiliki arti keyakinan ini memuat beragam manifestasi artistik untuk mengingat kembali makna hidup, serta perlunya menemukan keberanian untuk percaya bahwa segala sesuatu yang kita ambil adalah sesuai dengan arah tujuan hidup kita masing-masing.

Sraddha dipetik sesuai makna serupa dengan “keyakinan, kesetiaan, atau iman.” Keyakinan maupun iman yang kuat bisa sangat membantu, di saat merasa “tersesat dan tak tahu jalan pulang.”

Karya mahasiswa Seni Rupa UPI Angkatan 2019, Ananda Nur Syamsi, di Pameran Sraddha, GSPI, 13-15 Januari 2023. Foto: Griya Seni Popo Iskandar.

Lewat karya “Break The Code #1,” Ananda Nur Syamsi menelusuri jalan keluar dari kebimbangannya selama ini. “Break The Code #1” merupakan salah satu karya dari tujuh seri proyek tugas akhir.

Dominasi garis bentuk geometris dengan pola berulang menutup seluruh permukaan bidang, ;ayaknya pendekatan gim labirin yang memiliki satu jalan keluar di setiap seri dan memiliki kerumitan dan polanya sendiri.

Irama hendak dicapai melalui pengulangan garis yang membentuk pola segitiga. Kecenderungan pemilihan bentuk segitiga terpengaruh memori masa lalu tentang permainan gim konsol yang identik dengan simbol kendali perangkat berbentuk segitiga, kotak, dan X.

Karya ini mencoba memprovokasi apresiator dengan pemilihan judul “Break The Code #1” yang memiliki pesan tersirat untuk memecahkan kode yang ada dalam karya berupa mencari jalan keluar.

Karya mahasiswa Seni Rupa UPI Angkatan 2019, Ambarsaffanah, di Pameran Sraddha, GSPI, 13-15 Januari 2023. Foto: Griya Seni Popo Iskandar.

Ambarsaffanah Iraputri menyajikan dua karyanya, “The Gatekeeper” dan “The Soldier.” “The Gatekeeper” merupakan salah satu dari lima karya seniman yang mengambil objek anjing berkepala tiga sebagai fokus utama. Objek ini merupakan salah satu hewan mitologi yang terdapat pada film Harry Potter seri 1, yaitu The Sorcerer’s Stone.

Pengambilan objek ini didasari oleh kemiripan karakter objek dengan salah satu hewan mitologi Yunani yang bernama Cerberus, yang mana keduanya sama-sama anjing penjaga benda dan tempat-tempat terlarang untuk melindungi manusia.

Karya mahasiswa Seni Rupa UPI Angkatan 2019, Ambarsaffanah, di Pameran Sraddha, GSPI, 13-15 Januari 2023. Foto: Griya Seni Popo Iskandar.

Sementara “The Soldier” menampilkan hewan mitologi berama “Buckbeack” dari film Harry Potter seri 3 yang berjudul The Prisoners of Azkaban. Ciptaan ini merupakan adaptasi dari hewan mitologi hibrida, penggabungan antara singa dan berkepala elang yang biasa dikenal Griffin.

Keduanya dipercaya sebagai hewan yang paling kuat di habitatnya masing-masing dan disimbolkan sebagai hewan kesatria dan paling bijak. Berdasarkan mitologi dan film tersebut, hewan ini hanya menghormati orang-orang yang layak dihormati, sehingga Griffin seringkali disimbolkan sebagai hewan yang setia seperti tentara.

Karya mahasiswa Seni Rupa UPI Angkatan 2019, Eka Nur Lia, di Pameran Sraddha, GSPI, 13-15 Januari 2023. Foto: Griya Seni Popo Iskandar.

Dalam karya “Call Of The Peacock,” Eka Nur Lia memilih teknik batik menggunakan pewarna alam. Karya tersebut terinspirasi dari sebuah tempat wisata aviary di Kota Bandung yaitu Bird and Bromellia Pavillion.

Lukisan tersebut menggambarkan tentang seekor Merak yang cantik nan indah yang divisualkan dalam gaya dekoratif. Objek merak pada karya tersebut ditujukan untuk menyampaikan pesan tersirat dari kelangsungan hidup berbagai unggas di Bird and Bromellia Pavillion.

Visualisasi karya lukis menggambarkan seekor burung Merak yang sedang singgah sambil memperlihatkan sayapnya, diiringi dengan tanaman Bromellia di bawah awan yang biru. Karya tersebut dibuat dengan memperindah objek asli dari burung merak tersebut, dengan tujuan untuk menarik perhatian wisatawan agar animo wisata di Bird and Bromellia Pavillion selalu terjaga, dan hewan terjamin kelangsungan hidupnya.

Warna yang digunakan sesuai dengan konsep penciptaan yaitu back to nature agar tercipta kesan teduh nyaman dan alami.

Karya mahasiswa Seni Rupa UPI Angkatan 2019, Firda Faridah, di Pameran Sraddha, GSPI, 13-15 Januari 2023. Foto: Griya Seni Popo Iskandar.

Firda Faridah Yasmin menawarkan karya “Rajawali” sebagai salah satu karya dari seri “Benjang Helaran” sebagai rangkaian tugas akhirnya. Seni Benjang Helaran merupakan sebuah mahakarya masyarakat Ujungberung, suatu daerah di pinggiran Kota Bandung tempat seniman lahir dan dibesarkan.

Sebagai sebuah seni yang merakyat, seni arak-arakan ini mempunyai elemen-elemen berbeda yang menyatu, salah satunya adalah jampana (tandu) yang digunakan untuk mengangkut anak khitan. Dalam perkembangannya, jampana bertransformasi menjadi berbagai bentuk, salah satu yang populer saat ini yaitu burung Rajawali.

Dalam lukisan, objek-objek terbentuk dari adanya impresi cahaya yang kuat dengan sapuan kuas yang kasar agar memberikan kesan dramatis. Sedangkan warna-warna yang digunakan merupakan perpaduan warna komplementer untuk menghasilkan harmoni sekaligus memberikan kesan ekspresif dengan penggunaan warna yang tidak biasa untuk langit.

Karya mahasiswa Seni Rupa UPI Angkatan 2019, Hanif Fajar, di Pameran Sraddha, GSPI, 13-15 Januari 2023. Foto: Griya Seni Popo Iskandar.

Karya “Masa Depan #1” dari Hanif Fajar Sobirin merupakan salah satu karya dari lima karya seniman yang merupakan self-portrait dengan objek kain kavan dan gelas. Ia mengutip perkataan Teuku Umar “Andai mati hari ini mati syahid, besok hidup minum kopi,” sebagai pengingat akan masa depan yang tidak akan terlewat yaitu kematian.

Karya mahasiswa Seni Rupa UPI Angkatan 2019, Helena Gayatri, di Pameran Sraddha, GSPI, 13-15 Januari 2023. Foto: Griya Seni Popo Iskandar.

Helena Gayatri Putri membawa karya “Ngais” mengangkat memori masa kecil saat ayahnya membelikan beragam hadiah. Termasuk hadiah berupa boneka anjing bernama Odi, boneka anak perempuan yang dinamai Cindy, dan boneka-boneka Barbie yang selalu berganti nama saat dimainkan. Kenangan indah yang ia terima sewaktu anak-anak ini didedikasikan menjadi karya untuk ayah terkasih yang tidak pernah lelah untuk menjadi ayah terbaik bagi dirinya.

Karya mahasiswa Seni Rupa UPI Angkatan 2019, Indri Asofah, di Pameran Sraddha, GSPI, 13-15 Januari 2023. Foto: Griya Seni Popo Iskandar.

Karya “Meranggas” dari Indri Asofah diambil dari istilah biologi yaitu proses menggugurkan daun. Meranggas bagi pohon memiliki fungsi untuk pertahanan dan penyesuaian diri dengan lingkungan, yaitu proses pengguguran daun untuk mengurangi penguapan air dan pohon bisa menyimpan cadangan air.

Namun, dalam karya ini cuaca yang dihadirkan adalah hujan, bukan kemarau. Hal ini merupakan kisah lanjutan dari series sebelumnya. Hujan yang digambarkan pada karya ini seniman gambarkan sebagai penghujung hujan yang akan menemui musim panas, dan seolah-olah digambarkan jika karya ini berjalan atau bergerak.

Karya mahasiswa Seni Rupa UPI Angkatan 2019, Indri Sri, di Pameran Sraddha, GSPI, 13-15 Januari 2023. Foto: Griya Seni Popo Iskandar.

Pada karya “Honesty and A Purity Of Heart,” Indri Sri Lestari bercerita mengenai jiwa yang keras sekalipun bisa menangis ketika mereka benar-benar merasa sedih, kecewa, atau bahagia. Kejujuran dari hati manusia itu bisa terbaca lewat air mata.

Karya mahasiswa Seni Rupa UPI Angkatan 2019, Putri Sinta, di Pameran Sraddha, GSPI, 13-15 Januari 2023. Foto: Griya Seni Popo Iskandar.

Putri Sinta Lestari menghadirkan karya “Lost,” yang berbicara tentang sebuah jiwa yang sudah lama terpuruk dalam kegelapan, kesendirian, dan termenung dalam waktu yang lama. Jiwa ini ingin terlepas dari bayang bayang gelap itu, jiwa yang ingin menemukan cahaya dan terlepas dari kegelapan. Jiwa ini memiliki banyak parasit yang dibuat oleh diri sendiri tetapi dengan keinginannya yang kuat untuk mencari cahaya. Ia berusaha mencari cahaya itu sedikit demi sedikit hingga menemukan cahaya dan bahkan keindahan yang lain yang ada di dalam dirinya.

Karya mahasiswa Seni Rupa UPI Angkatan 2019, Reva Dwiyanti, di Pameran Sraddha, GSPI, 13-15 Januari 2023. Foto: Griya Seni Popo Iskandar.

Karya Reva Dwiyanti Ariin yang berjudul “Derana Walau Termala,” mengangkat sebuah tema pengalaman kekerasan seksual yang dialami pelukis. Pengalaman traumatis tersebut membuat pelukis kehilangan motivasi, memiliki rasa bersalah dan penyesalan, bahkan ketakutan berlebih yang sangat mengganggu kesehariannya.

Dukungan emosional dari orang terdekat membuat pelukis dapat terus berjuang hingga saat ini. Makna seseorang yang sedang berlayar dengan perahu adalah gambaran pelukis yang tetap berusaha berlayar di lautan kehidupan.

Karya ini merupakan salah satu dari rangkain seri pengalaman dan perjuangan pelukis ketika mengalami kekerasan seksual. Derana walau termala bermakna sebuah sikap tabah walau dalam situasi yang sulit.

Karya mahasiswa Seni Rupa UPI Angkatan 2019, Salsabila, di Pameran Sraddha, GSPI, 13-15 Januari 2023. Foto: Griya Seni Popo Iskandar.

Melalui karya “Nirmala,” Salsabila Sizkia Maulidina mengambil objek kucing Tuxedo sebagai hewan peliharaan yang sudah tiada sebagai objek utama. Sifatnya yang lucu dan menggemaskan selalu menjadi kenangan tersendiri bagi sang seniman.

Kebiasaan unik yang selalu sosok kucing Tuxedo lakukan ketika semasa hidupnya yaitu berburu dan membawa hasil buruannya sebagai hadiah. Salah satu hasil buruan yang sering diberikannya sebagai hadiah yaitu kupu-kupu yang berukuran kecil.

Nirmala yang artinya bersih, suci, tidak bernoda, merupakan sebuah representasi sosok figur kucing Tuxedo yang semasa hidupnya belum pernah merasakan masa-masa pubertas/birahi, karena ia mati ketika masih berumur di bawah usia rata-rata kucing ketika pubertas/birahi.

Karya mahasiswa Seni Rupa UPI Angkatan 2019, Uswatun di Pameran Sraddha, GSPI, 13-15 Januari 2023. Foto: Griya Seni Popo Iskandar.

Pada karya “Persiapan Cuene,” merupakan karya pertama Uswatun dari empat karya yang memvisualisasikan rangkaian kegiatan upacara adat Ngarot di Desa Lelea, Indramayu.

Pada karya ini seorang kasinoman putri atau disebut dengan Cuene sedang bersiap-siap, sudah mengenakan kebaya, mengenakan perhiasan, kain batik Lenggang Kangkung, dan Selempang.

Persiapan dimulai sekitar pukul 05.00 WIB pagi di rumah masing-masing, maupun secara massal di salah satu rumah yang biasa digunakan untuk persiapan para Cuene.

Cuene sedang dikenakan rangkaian bunga yang nantinya menutup bagian kepala sebagai mahkota oleh Ibu-Ibu yang sudah terbiasa mengenakan rangkaian mahkota bunga pada para Cuene.

Rangkaian bunga terdiri dari bunga kenanga asli yang dihimpun oleh Sosong. Pemasangan Sosong dengan cara ditusukkan ke sela-sela rambut Cuene. Kemudian bunga melati, bunga cempaka, hingga bunga mawar replika terbuat dari kertas.

Pameran Sraddha ini di bawah bimbingan Ketua Prodi Pendidikan Seni Rupa Dr. TASWADI, M.Sn., serta Dosen Pembimbing MBKM Dr. Zakaria S. Soetedja, M.Sn., Ardiyanto, M.Sn., dan Yulia Puspita, S.Pd., M.Pd.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: