Kesatuan Pola Empat Seniman Muda dalam Pameran In Hindsight

Empat seniman muda unjuk gigi dalam pameran “In Hindsight (Anatomy of Convergence) di Galeri Thee Huis, Dago, 2-9 Desember 2022. Keempatnya adalah Asido Raduck, Nadim Suthan, Muhammad Hafizh Hasbie, dan Fania Naomi.

Dalam proses kekaryaan keempat seniman pada pameran ini, kecenderungan berkarya tersebut dijaga dan diperdalam. Terutama selama perjalanan mereka sebagai akademisi seni rupa, sebelum akhirnya diwakilkan dalam sebuah proyek besar.

Narasi karya pada In Hindsight mengarahkan kita pada manifestasi artistik yang tersaji beragam alias tidak tunggal.

Sesuai dengan sub judulnya: Anatomy of Convergence. Mereka coba menyajikan perjalanan yang membentuk kesatuan pola; medium, habitus, manifesto.

Empat seniman menampilkan ekspresinya dalam narasi yang beragam. Seri “Hell” yang merupakan karya Asido Raduck lahir dari narasi-narasi sebelumnya tentang kesenjangan antar kelas, ras, agama, suku, dan kebudayaan.

Ia menyajikannya dengan analogi visual kebinatangan serta kodrat-kodratnya dalam skema hidup. Ia mengeksplorasi batasan-batasan dari toleransi dan intoleransi dalam kehidupan sosial. Menurutnya, perbedaan yang tadinya memperkaya, justru kini malah menjadi pemisah.

Sementara itu Nadim Sulthan hadir dengan seri “Terbenam dan Terbitlah”, yang coba membangun hubungan emosional asing, mengisolasi, dan mencekam dari berbagai spektrum ketakutan manusia. Ia menyikapi ketakutan tersebut dengan membangun lanskap dengan skala yang lebih imersif.

Secara visual, pembauran dunia nyata dan simulasi yang disajikannya menciptakan pengalaman mendalam dan sangat personal.

Makna mendalam juga hadir dari karya Muhammad Hafizh Hasbie. Secara simbolik, ia menggunakan pendekatan dalil Alquran dan hadis dengan teknik etsa, dry point, dan aquatint.

Lewat keterangan resminya, ia menyebut gagasan ini merupakan kelanjutan dari pendekatan simbolik yang kuat pada karya-karya sebelumnya dalam bentuk fotografi. Terutama tentang kesementaraan dan begaimana semua akan rapuh dan melapuk pada waktunya.

Seri karyanya pada pameran ini antara lain: Yaa Ulul Albaab, Karat, Retak, Berlomba untuk Dunia, Jihad, Lebih Buruk dari Binatang Ternak, Hamba Dunia, dan Ketika Ajal Tiba. Ia coba menyajikan tema kefaaan dunia dan kematian dalam sudut pandang Islam.

Karya-karyanya hadir sebagai sebuah renungan tentang relasi manusia dan dunia, di mana ia ungkapkan dari hasil refleksinya bahwa dirinya mengerahkan usaha yang sangat besar untuk hal-hal duniawi. Hal itu disebutnya tak sebanding dengan usaha mencapai tujuan akhirat.

Lalu ada Fania Naomi dengan karyanya “Shadow Work”, yang menampilkan sisi fiksasi akan eksidis manusia secara psikis. Ia menganalogikan ini layaknya lapisan kulit tua yang mengelupas. Dengan tersirat, ia menyampaikan lapisan tersebut dilihat lebih jauh, dan menampilkan bayangan diri yang kerap ditutup-tutupi demi membentuk persona ideal di masyarakat.

Seri karyanya menampilkan seorang wanita dengan berbagai pose; menari, bercermin, serta menutupi bagian tubuhnya dengan tampilan kulit yang mengelupas.***

Profil Penulis

Suka menulis, musik, fotografi, bengong, menyendiri, dan lihat pohon. Pernah keluar tidak baik-baik dari salah satu perusahaan media beken di Jakarta lalu di-doxing setelahnya. Pernah diolok-olok geng ibu-ibu wellness di Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: