Kematangan Konsep Baru Lose It All di Album Bentala Sirna

Band hardcore metal asal Bandung, Lose It All, merilis album ketiganya, “Bentala Sirna,” pada medio Juli 2022. Jeda panjang proses album ini sebanding dengan munculnya kematangan band dari sisi konsep musik, formasi, serta narasi.

Band yang dipadati John Indrawan (guitar), Rengga (bass), Lucky (guitar), Azi (drums, percussion dan sampling), kini mendapat Anggara, pelantang lirik baru yang sebelumnya sempat diisi Phopi RA dan Prabu.

Kehadiran Angga (nama panggilan Anggara) lumayan menjanjikan untuk menambah barisan band sidestream berkarakter vokal kokoh di masa-masa mendatang. Meski bukan berlatar vokalis band cadas, Angga cukup lama melatih area diafragma dan pita suaranya untuk meraih teknik yang diperlukan untuk menopang gaya output setipe growl, scream, atau suara agresif dan berdistorsi.

Nuansa gelap makin kental dengan keputusan memilih drop-tuned dari riff-riff pengisi 10 nomor dalam album ini. Lewat Bentala Sirna pula, Lose It All berani menyegarkan teknik bermusik dari pasokan-pasokan breakdown dan chugga-chugga, mengarah groove metal.

Konsep baru yang ditawarkan Lose It All ini sengaja dibentuk untuk membungkus narasi lagu-lagu dari album Bentala Sirna yang diambil dari pesan 7 Dosa Mematikan versi biblikal.

7 Deadly Sins ini menjadi narasi yang mengungkap tabiat-tabiat pemusnah kemanusiaan. Dosa mematikan dari watak serakah, rakus, nafsu, yang juga menggambarkan kebobrokan moral para pengendali kuasa di negeri ini seakan takkan pernah terkoreksi walau rezim berganti.

Bagi Lose It All, masa depan kemanusiaan sepertinya akan terus dipaksa mati. Bentala Sirna makin brilian dengan tampilan artwork dari karya-karya maestro lukis Raden Saleh. Tiga karya Raden Saleh dalam rilisan CD ini ikut menyeret kuat arus keterikatan narasi album Bentala Sirna.

Album

Dalam wawancara dengan mikrofon.id, pertengahan Juli 2020, Azi dan Lucky mengakui bahwa Bentala Sirna mengubah Lose It All yang biasa dikenal, terutama dibandingkan dua album sebelumnya New Beginning (2014) dan Contentious (2017).

Selain segi tuning yang diubah, secara konsep musik lebih dark ketimbang album yang pernah mereka ciptakan. Banyak bagian beatdown dan tempo cepat khas hardcore yang nyaris hilang.

“Dari segi aransemennya juga lebih full ambience. Dari segi vokal banyak ‘singing voice’, lebih melodius, harmonis. Tapi saya merasa Bentala Sirna masih hardcore,” kata Azi.

Pertimbangan rasa groovy di album ini juga diciptakan supaya Lose It All lebih adaptif di beberapa format panggung. Mereka pernah merasakan sulitnya membawakan lagu-lagu dari album sebelumnya dalam format akustik.

“Dulu pernah interview di radio pas album kedua. Dibawa akustik, teu ngeunaheun (enggak dapet feel-nya),” kata Azi.

Makanya, kali ini mereka bikin aransemen yang lebih catchy supaya saat dibawa akustik tetap terjaga asyik.

“Kita bikin lagu yang bisa diadaptasi di banyak ruang. Riff enggak terlalu banyak mute. Open-string. Banyak single string. Diaransemen akustik ternyata malah lebih catchy,” ujar Azi, menambahkan.

Lucky mengatakan, lagu-lagu di Bentala Sirna sengaja menghadirkan latar rekaman live. Aura live recording ini akan memancing adrenalin buat penikmatnya. Kualitas paripurna dari hasil rekaman merupakan hasil tangan ahli pemoles sonik album band-band metal papan atas, Zoteng Kampret.

“Rekaman live ini karena pengen memburu vibe. Kalau main live adrenalin akan lebih terasa. Tetapi di sisi lain, kami ingin sound lebih beda. Di era digital sekarang, justru suara digital itu terlalu clean. Sedangkan saya ingin kembali ke masa lalu, masa Led Zeppelin, Deep Purple yang membuat sound terdengar mentah, raw. Kalau dulu memang teknologi terbatas, sekarang ini lebih jadi kemasan seni,” kata Lucky.

Single mula Manufaktur Siwalingga telah lebih dahulu diperkenalkan dan sudah bisa diakses di platform digital.

Foto: Lose It All.

Vokalis

Bentala Sirna mengubah suasana Lose It All dengan asupan nada minor yang lebih dominan di album sebelumnya untuk mengentalkan sisi darkness. Secara tempo, komposisi riff gitar dan drum dibawa lebih kalem, memunculkan easy listening di satu dan dua lagu.

Meski terkesan ringan, dalam prosesnya aransemen yang mereka ingin capai tak sederhana. Bentala Sirna bangkit dengan referensi baru dari Hatebreed, Walls of Jericho, Slayer, sampai Gojira.

Pengaruh baru dari genre metal dengan ciri vokal yang tetap melodius ini mendesak mereka mencari vokalis yang bisa mengatur irama dalam output garau. Cukup sulit menemukan tipe vokalis yang bisa memenuhi kualifikasi itu.

Sebenarnya, posisi frontman Lose It All pernah diisi Prabu, selepas era Phopi RA. Tetapi Prabu tak bisa lanjut. Akhirnya, mereka dipertemukan dengan Angga. Seluruh personel Lose It All terpuaskan saat Angga membawakan “Unsainted” dari Slipknot.

“Terus dicobain lagu single pertama kami ‘Substansial Block’. Memang beda karakter sama Prabu. Tapi ternyata beda teknik. Angga lebih menguasai dan paham teknik. Karena udah enak dan nyambung, proses album sama Angga tergolong cepat,” kata Azi.

Lucky menambahkan, sulit untuk mendapatkan kecocokan karakter vokal yang bakal memenuhi konsep baru Bentala Sirna ini. Di awal proses pertemuan dengan Angga, mereka mencium potensi proyek-proyek Lose It All di album-album mendatang.

“Selain musik, vokal itu anak panahnya, karena dia frontman. Dari segi musikalitas, anak panah ini yang harus menancap ke telinga. Saya lebih suka karakter personel yang mau berproses dalam bermusik. Dari nol lagi juga oke. Karena yang abadi bukan personalnya, tetapi karyanya,” kata Lucky.

Angga mengungkapkan, beberapa tahun ke belakang ia memang menjalani les vokal demi menguasai teknik suara yang benar. Ia bersemangat setelah disodori materi album ketiga Lose It All yang terdengar berbeda dengan album sebelumnya.

Ia meyakini materi baru ini bisa menggaet atensi pendengar baru dan diterima ke penikmat musik yang lebih luas.

“Karena dari segi aransemen nuasna lirik vokal bisa lebih didengar banyak orang. Kebetulan saya lagi seneng teknik vokal false chord. Banyak kejadian saat live baru lima lagu teknik vokalis udah habis. Nah, false chord ini Lebih ngebantu ke endurance. Makanya enggak begitu sulit ketika rekaman dan live. Apalagi enak kerja bareng Lose It All,” kata Angga.

Foto: Lose It All.

7 Dosa Mematikan

Lewat album baru ini, basis Lose It All, Rengga, merasakan betul Lose It All yang lebih konseptual dari segi lirik dan aransemen.

“Sebelum penggarapan album, proses kreatifnya kerasa beda. Mulai embrio ide awal sampai anarsemen. Lebih enak mendeteksi setiap kekurangan lagu. Dengan Bentala Sirna, dua album sebelumnya jadi terkesan asal jadi,” kata Rengga.

Sebagai peramu lagu dan narasi album, Lucky berupaya membongkar ide lirik dari runtuhnya esensi kemanusiaan yang tengah hadir dalam beberapa masa terakhir. Rupanya, syair yang telah ia ciptakan begitu terhubung dengan 7 Dosa Mematikan atau 7 Deadly Sins yang disinggung dalam Alkitab.

Fenomena ketamakan, keserakahan, hingga hawa nafsu yang lepas kendali begitu mudah tampil di berbagai media. Bentala menjadi bagian tanah di bumi yang terlihat semakin sirna di bawah kontrol penguasa di dunia.

“7 Deadly Sins ini jadi lebih lagi ke kita ketika menyikapi fenomena. Mau ikut-ikutan atau mau diam? Album ini bikin Lose It All lebih dewasa. Di balik fenomena 7 Deadly Sins, tekanan pemilik kuasa akan selalu ada, hanya beda kondisi zaman,” kata Lucky.

Foto: Lose It All.

Karier

Di luar Lose It All, masing-masing personel punya karier pekerjaan lain. Mulai dari operator studio rekaman sampai admin perusahaan jagal sapi. Selain mesti pandai menyiasati waktu dengan nafkah, mereka juga wajib mengisi peran di tengah keluarga.

Lucky menuturkan, personel band yang sudah berkeluarga jadi makin bijak dalam mengatur waktu. Perlu berlaku adil antara waktu bersama keluarga, bekerja, dan nge-band.

“Sebisa mungkin sesuai dengan porsinya. Dulu pernah berpikir kerja untuk main band. Sekarang kan kerja untuk keluarga, main band buat refreshing. Tentu ada konsekuensi ketika band harus terima undangan main di mana saja, luar kota,” katanya.

Bersama rilisan Bentala Sirna, Lose It All masih menyimpan energi untuk tetap berkarya di masa mendatang. Selain memikirkan manajemen, tim, atau kru yang selalu berada di belakang Lose It All, ada pula fans yang terus mendukung keberadaan band ini.

“Kalau melihat sekarang, fans yang dulu tentu sudah berubah. Yang ngikutin Lose It All sejak awal mungkin sudah bekerja dan berkeluarga. Sekarang makin seneng ada fans baru, anak sekolah dan kuliah. Kedekatan sama fans ini yang terus membuka relasi baru,” ujar Lucky.

Rengga menyambut kehadiran fans baru yang kebanyakan terhubung dari akses medium digital. Maka, tur bakal berpengaruh penting untuk mempertemukan fans lama dengan yang baru.

“Tur itu penting karena membangun fanbase. Ketika kita datang ke satu wilayah kita buat ruang jejaring dan memanjakan mereka dengan musik kita,” tuturnya.

Di luar itu, John berharap Lose It All bisa dikenal orang awam yang tidak hanya mengenal latar mereka, tetapi lebih memahami karya mereka. “Tentunya kami ingin makin lebih intim dengan penonton di gigs manapun,” katanya.

Unsur groove yang ditonjolkan di Lose It All di album Bentala Sirna mengawali proses mereka untuk mengenalkan kreasi baru di kekaryaan selanjutnya. Azi ingin Lose It All terus menyegarkan karya baru agar ranah musik tak mengenal jenuh.

“Kami ingin terus menambahkan hal baru, di hardcore, di metal. Lose It All pengen terus berkarya, bermusik,” katanya.

Seri karya Raden Saleh di Album Bentala Sirna. Foto: Grimloc Records.

Raden Saleh

Herry “Ucok” Sutresna, dari Grimloc Records, tak banyak pertimbangan saat membahas proses perilisan Bentala Sirna bersama Lose It All. Materi album ini cukup memberikan banyak kejutan dari Lose It All yang pernah dikenal sejak kemunculannya pada 2008.

“Karena sebelumnya kita rilisnya album keduanya (Contentious), enggak ada kepikiran bakal jadi groove metal. Saya cukup kaget dengan album ini. Saya pikir bakal kenceng seperti album sebelumnya. Pas listening session itu, album ini di luar dugaan. Banyak yang ketipu waktu bagian lagu berbahasa Inggris disangkanya band Amerika,” katanya.

Ucok kepincut dengan materi Bentala Sirna dari segi corak musik, komposisi lagu, sampai yang paling menonjol penulisan lirik. Suntikan synthesizer di dalam album ini juga tak sekadar asal menyelipkan bumbu industrial.

“Banyak element of surprise-nya. Enggak susah buat saya untuk memutuskan bahwa album ini enggak usah diapa-apain lagi. Buat saya cuma sequencing (track list), supaya benang merahnya enak ngedengernya. Jadi Grimloc cuma tinggal ngebungkus, supaya delivery-nya proper, pesan album sampai, gregetnya sampai,” ujar Ucok.

Masukan di sektor nilai estetik yang mungkin cukup alot di awal diskusi antara Grimloc dengan Lose It All. Ucok berharap artwork yang condong eksperimental namun tetap bernilai istimewa.

Tebersit karya seni murni yang dinilai relevan bersama narasi 7 Deadly Sins. Ucok ingin karya lukisan hasil seniman lokal tetapi mendunia.

“Kebetulan Lucky anak seni rupa. Ngomongin artwork album metal yang pakai lukisan, Behemoth, dan lainnya yang menggunakan fine art. Maksudnya, kita kan kalau lihat album metal luar kan pakai seniman klasiknya barat, itu melekat di kita. Kita ingin ke sana, tradisi hardcore metal. Tercetuslah pakai lukisan seniman lokal. Tapi lebih kayak, kita nyari yang klasik,” kata Ucok.

Akhirnya mereka menemukan karya Raden Saleh yakni lukisan hasil cat minyak Kapal Karam Dilanda Badai yang dibuat 1840, Kapal Di Tengah Badai (1840), dan Banjir Di Jawa (1865-1876) yang saat ini dikoleksi Tropen Museum, Belanda. Karya-karya lukis bergaya Romantisisme itu mampu mengantarkan pesan tentang karamnya kemanusiaan, dan sirnanya harapan manusia di masa depan, bersama badai tak berujung.

“Kebetulan akhirnya kita melihat satu lukisan Raden Saleh. Awalnya Kapal Karam, cuma satu. Dari situ mulai nyari lagi yang senada. Ada Banjir Di Jawa. Irisannya sama bahwa ada tragedi di sana. Banjir di Jawa itu antara manusia dengan manusia menghadapi bencana. Menurut saya ini merepresentasikan kita dari mulai menggunakan seniman klasik lokal dan makna album,” tuturnya.

Diskusi berlanjut saat Ucok mencari dalil lisensi penggunaan karya Sang Maestro. Dengan bantuan temannya di Galeri Nasional, mereka tertolong dengan adanya Creative Commons, penyedia fasilitas lisensi hak cipta.

Berdasarkan UU Hak Cipta Tahun 2014, karya seni rupa menjadi karya domain publik jika telah melewati 70 tahun selepas penciptanya tutup usia. Ketiga karya lukis Raden Saleh yang dipakai Lose It All telah melewati tahun bebas hak cipta dan bisa dimanfaatkan publik.

Penunjukkan lukisan Raden Saleh untuk materi Bentala Sirna juga mempertimbangkan soal teknis dan komposisi kemasan album. Saat kotak CD dibuka, karya Kapal Karam Dilanda Badai membentang dari sampul depan hingga ujung belakang. Dengan mengoleksi album Bentala Sirna ini, nilai apresiasi tak hanya tertuju pada Lose It All, tetapi juga Raden Saleh.

Ucok menambahkan, pemilihan karya Raden Saleh juga sekaligus mendekatkan publik dengan Sang Maestro. Nama Raden Saleh mungkin banyak dikenal, tetapi kejutan muncul saat sampul Bentala Sirna dilempar di masa promosi.

“Ketika prarilis banyak yang nanya itu cover siapa waktu promo. Ternyata cover ini mendekatkan Raden Saleh ke era sekarang,” ujarnya.

 

Track Bentala Sirna – Lose It All:

  1. Threnody (Prelude)
  2. Swarm of Apathetic
  3. Surup Dasamuka
  4. Cataclysm
  5. Insatiable Hunger
  6. Before The Fall
  7. Bentala Sirna
  8. Coup de Grace
  9. Substantial Block
  10. Manufaktur Siwalingga

Untuk mendapatkan CD dan rilisan merchandise Lose It All, bisa mengakses langsung grimlocstore.com.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: