Jawless: Meneruskan Tradisi Stoner Doom

Foto: Jawless. Grafis: Dadan “Ogoss” Ramdhani.

Unit doom/stoner asal Bandung, Jawless, telah meluncurkan debut albumnya yang bertajuk Warrizer pada 2 Februari 2022. Warrizer sendiri dimaksudkan menjadi sebuah karakter yang dibangun dengan nuansa kecemasan dan kegundahan atas situasi yang terjadi di sekelilingnya.

“Setelah kami terka sampai pada saat ini, mungkin Warrizer juga bisa dikatakan sebuah representasi dari arti nama Jawless itu sendiri,” ujar Bob, sang gitaris, ketika dihubungi pada November 2022.

Bob bercerita bahwa asal muasal nama Jawless tercetus dari kompatriotnya di departemen gitar, yakni Yudha. Secara harfiah, Jawless bisa diartikan “tanpa rahang”. Namun bagi Bob, Jawless diartikan juga sebagai cerminan situasi dari adanya represi kuasa yang membungkam siapapun di luarnya.

“Alasan Yudha memberi nama Jawless karena yang dirasakan, hari demi hari ini semakin banyak suara-suara yang terbungkam. Sehingga kami anggap rahang ini sudah tidak ada,” kata Bob.

Jawless sendiri terbentuk dari tahun 2019. Saat ini Jawless terdiri dari Toni (basis dan vokalis), Bob (gitaris), dan Yudha (gitaris). Sementara untuk posisi drum diisi oleh pemain additional, yakni Rivan dari band sludge/doom asal Bandung, Flower In Sun.

Foto: Jawless. Grafis: Dadan “Ogoss” Ramdhani.

Basis sekaligus vokalis Jawless, Toni, bercerita tentang pertemuan yang unik ketika membentuk Jawless. Tidak seperti cerita-cerita tentang pembentukan sebuah band yang biasanya dipersatukan oleh kesamaan tongkrongan. Sebelum membentuk Jawless, setiap personel justru tidak saling mengenal.

“Awalnya ada salah satu teman dari Yudha yang mempertemukan dan memperkenalkan kami semua. Kami semua kemudian bertemu, belum pada kenal tuh. Akhirnya kami coba-coba untuk latihan berbekal lagu yang dibuat Yudha,” kata pria yang terlihat sangat terpengaruh busana 1970-an ini saat dijumpai pada November 2022.

Pertemuan tersebut akhirnya tidak sia-sia. Malah berkelanjutan hingga akhirnya mereka berhasil menelurkan karya berupa debut album pada awal tahun 2022. Bisa dibilang, kisah pertemuan mereka adalah kisah pertemuan yang produktif dari segi kreativitas.

Berangkat dari pertemuan itu juga, Bob akhirnya bisa mewujudkan keinginannya untuk memainkan musik stoner/doom. Ia mengatakan, sempat berkeinginan memainkan musik di seputaran doom/stoner sejak tahun 2014. Tapi, angan-angan itu baru bisa terwujud pada tahun 2019.

“Obsesi saya pribadi untuk mempunyai band yang memainkan musik doom/stoner/heavy metal sudah timbul sejak tahun 2014. Tetapi, karena sulitnya mencari teman yang memiliki selera sama, jadi semua itu baru tercapai 5 tahun berikutnya, yaitu pada tahun 2019, dimana tahun tersebut tahun terbentuknya Jawless,” kata Bob melalui email, November 2022.

Foto: Jawless. Grafis: Dadan “Ogoss” Ramdhani.

Warrizer

Mendengarkan debut Jawless, mereka yang terbiasa mendengarkan musik di seputaran stoner/doom/heavy metal, mungkin akan langsung menangkap komposisi-komposisi yang disuguhkan dalam Warrizer. Riff-riff bluesy, distorsi/fuzz yang kerasukan spirit musik-musik rock n roll era 70-an, dan arwah Black Sabbath (tentu saja), bertebaran dalam 8 lagu yang ada di album Warrizer.

Bila mendengarkan lagu pembuka di album Warrizer yang berjudul “G.O.D (Genuine Obsessive Disruptive)”, beberapa mungkin akan sepakat bila Jawless menyuguhkan sebuah komposisi old school fashioned stoner/doom.

Musik dibuka dengan petikan gitar bernada suram, kemudian secara perlahan tempo naik dengan tetap menjaga kesuraman yang dihasilkan dari petikan-petikan di awal lagu. Pada awalnya mungkin akan terasa hawa psikedelik.

Tapi, pada akhirnya tempo memuncak dan berhamburanlah banjir bandang riff dan groove ala-ala The Sword, Karma To Burn, Acrimony dan sejenisnya.

Menarik bila melihat komentar-komentar pendengar Warrizer dalam bandcamp Jawless. Sebuah akun bernama “FDJ”, misalnya, menuliskan bahwa Warrizer menyuguhkan suatu vibe stoner rock yang klasik dan di beberapa lagunya hampir terdapat tempo-tempo yang doomy. Tetapi, dengan nuansa hard rock klasik yang tetap terjaga.

Salah satu catatan bagi album Warrizer ini mungkin aspek produksi sound yang masih belum maksimal. Tapi, bagi mereka yang menyenangi tipe-tipe musik dengan sound yang raw, Warrizer bisa menjadi alternatif untuk memuaskan telinga. Bob sendiri mengatakan, terdapat kendala teknis dalam studio rekaman yang akhirnya berpengaruh terhadap output sound secara keseluruhan. Kendala teknis itu misalnya seperti ada beberapa peralatan studio yang sebenarnya tidak layak untuk digunakan dalam proses rekaman.

“Kendala selalu ada saja, baik teknis maupun nonteknis. Tetapi untuk kami, semua kendala itu sangat berharga sebagai pengalaman dalam proses bermusik ke depannya,” ujar Bob bercerita tentang proses produksi album.

Bob bercerita butuh waktu hampir setahun untuk menyelesaikan Warrizer. Dalam prosesnya, mereka juga dibantu dari segi pendanaan oleh sebuah jenama clothing lokal, yakni Auswitch History.

Foto: Jawless. Grafis: Dadan “Ogoss” Ramdhani.

Artwork

Bila melihat artwork album Warrizer, hawa-hawa alam fantasi yang apokaliptik seakan terasa. Terlihat seseorang yang menggunakan masker sedang menunggangi sebuah hewan imajiner, seakan paduan antara garuda, naga, atau…itu adalah hippogriff seperti dalam cerita Harry Potter? Entahlah.

Tapi, satu yang pasti, imaji-imaji tentang dunia antah berantah sudah menjadi tema umum di dunia musik selingkaran metal. Wabil khusus, band dengan musik seputaran stoner/doom. Seseorang mungkin bisa menengok gaya-gaya sampul album Elder atau The Sword, untuk melihat bagaimana dunia fantasi diterjemahkan secara visual untuk melengkapi suguhan musik-musik yang distortif.

Mengenai proses kreatif sampul album Warrizer, Bob bercerita, artwork-nya dikerjakan oleh seseorang dengan sebutan “Terorski”. Pengerjaannya memakan waktu selama enam bulan. Terorski ini adalah semacam alias yang Bob enggan sebut nama sebenarnya. Menurut Bob, Terorski sendiri yang memang enggan untuk mengekspose jati dirinya kepada khalayak. Namun, menurutnya, Terorski sedikit banyak sudah dikenal di komunitas seni-seni mural jalanan di Kota Bandung.

“Dia sebenarnya banyak bergeraknya di jalanan lah ya. Tapi, kalau untuk identitas, ya enggak bisa dibuka euy. Dianya juga enggak pernah mau ngebuka gitu identitasnya kaya gimana,” ujarnya.

Bob mengatakan, sisi lain dari Terorski adalah bahwa ia memiliki kesamaan referensi dengan Jawless dalam hal visualisasi.

“Kami sangat menyukai karya artwork yang dibuat oleh Arik Roper, Roger Dean dan Ken Kelly. Secara kebetulan, Terorski memiliki referensi dan inspirasi yang sama seperti kami,” kata Bob.

Foto: Jawless. Grafis: Dadan “Ogoss” Ramdhani.

Materi Baru

Kini, para personel Jawless tengah kembali ke studio. Dengan memanfaatkan fasilitas di Bandung Creative Hub, mereka kini tengah sibuk merekam lagu.

Menurut Toni, pada awalnya mereka mencoba mengajukan proposal ke BCH untuk bisa merekam studio. Proposal itu akhirnya bisa tembus dan mereka mendapatkan waktu 3 shift untuk rekaman tanpa dipungut biaya. Hal ini tentunya akan dimaksimalkan oleh para personel Jawless.

Saat ditanya tentang materi lagu-lagu yang tengah direkam, Toni mengatakan bahwa ada beberapa perubahan gaya bermusik. Ia menyebutkan High on Fire berpengaruh cukup signifikan terhadap Jawless. Dan pengaruh itu juga yang kali ini akan membentuk corak musik Jawless secara signifikan.

Menurut Bob, tempo musik Jawless yang tengah direkam akan lebih cepat.

“Agak geber yang sekarang. Biar enggak ngantuk yang dengernya. Hahaha,” kata dia melalui pesan singkat.

Bob menambahkan, hal yang dilakukan Jawless dalam waktu dekat ini adalah menyicil lagu. Ia sendiri masih belum bisa memperkirakan apakah rekaman itu akan berbuah mini album atau album penuh. Namun hal yang ia yakini, proses rekaman tersebut akan dimaksimalkannya.***

Profil Penulis

M. Ashari. Lulusan Jurnalistik Universitas Padjadjaran dan Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Masa remajanya banyak terpengaruh oleh band-band cepat power violence, terutama Hellnation. Tapi semakin tua, kesenangan musiknya malah semakin lambat, seperti Saint Vitus, Warhorse dan Khanate. Saat ini bermain gitar dan berteriak di Madah Tundra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: