Iridescent: Memori dan Cinta Kasih Sang Ibu dalam Visual

Karya di pameran bertajuk “Iridescent” di Galeri Sanggar Olah Seni (SOS), Babakan Siliwangi, Bandung, 22-26 Desember 2022. Foto: Rayhadi Shadiq.

Sebanyak 11 seniman menggelar pameran bertajuk “Iridescent,” di Galeri Sanggar Olah Seni (SOS), Babakan Siliwangi, Bandung, 22-26 Desember 2022.

Pameran singkat ini coba menyajikan visual yang sarat akan makna Hari Ibu.

Karya di pameran bertajuk “Iridescent” di Galeri Sanggar Olah Seni (SOS), Babakan Siliwangi, Bandung, 22-26 Desember 2022. Foto: Rayhadi Shadiq.

Secara teknis, para seniman dipersilakan bercerita tentang apa, siapa, dan bagaimana sosok ibu yang ada dalam hidupnya masing-masing dalam sudut pandang bebas dengan tetap memperhatikan ketentuan yang ada.

“Ibu merupakan sosok yang memberikan peran besar dalam kehidupan kita. Dikatakan juga sebagai sumber cinta yang mengakar pada diri manusia. Menjadi pendidik pertama dan menemani dalam proses lain,” kata Nova Dwi Ramadhani, dalam catatan kuratorial pameran “Iridescent”.

Karya di pameran bertajuk “Iridescent” di Galeri Sanggar Olah Seni (SOS), Babakan Siliwangi, Bandung, 22-26 Desember 2022. Foto: Rayhadi Shadiq.

Refleksi pewarnaan akan sosok Ibu tampil dalam sajian visual yang beragam. Mulai dari gambar potret yang tampak minimalis, hingga komposisi rumit yang sarat akan metafor.

Sebut saja karya Muammar Haikal Gibran dengan karya yang coba menyajikan visual sederhana dan langsung pada poin inti: potret sang Ibu.

Karya di pameran bertajuk “Iridescent” di Galeri Sanggar Olah Seni (SOS), Babakan Siliwangi, Bandung, 22-26 Desember 2022. Foto: Rayhadi Shadiq.

Seniman muda asal Majalengka ini dalam catatannya mengaku kalau ia terlambat menyadari jika dirinya ingin selalu bersama Ibunya bahkan hingga kehidupan selanjutnya.

“Aku menyadari Amih adalah sosok yang tidak ingin ku berpisah dengannya,” tulis Haikal.

Adapun Arul Efansyah, seniman asal Bogor yang menyajikan visual Ibu dengan hasil yang relatif lebih kompleks dan sarat makna simbolik.

Sekilas, kita dapat menginterpretasi lukisan Arul seperti lukisan bunga dengan komposisi warna yang berapi-api.

Karya di pameran bertajuk “Iridescent” di Galeri Sanggar Olah Seni (SOS), Babakan Siliwangi, Bandung, 22-26 Desember 2022. Foto: Rayhadi Shadiq.

Namun, ia menyampaikan pesan mendalam untuk sang Ibu yang telah merawat dan medidiknya.

Sementara itu Elvania Azalia Yasifa menekankan pesan bahwasannya menjadi seorang Ibu adalah sebuah pekerjaan mulia dan memiliki level perjuangan berbeda dan istimewa.

Mardani dan Arvin Witana juga hadir dengan sentuhan yang lebih populer. Keduanya membawa pesan yang mirip-mirip, yakni bagaimana peran ibu sebagai teman yang setia, baik untuk dirinya maupun mimpi-mimpinya.

Karya di pameran bertajuk “Iridescent” di Galeri Sanggar Olah Seni (SOS), Babakan Siliwangi, Bandung, 22-26 Desember 2022. Foto: Rayhadi Shadiq.

Warna serupa juga bisa dilihat dalam karya M. Aqil Zahry. Dengan lukisan penuh warna yang tampak sederhana, ia coba menyiratkan pesan bahwa sang Ibu merupaka hidup, cinta, kasih sayang, keringat, tulang, senang sedih dan alasan utamanya berkarya.

Sementara itu Desyifa Sumelian punya konsep unik tentang Ibu. Lewat visual yang menampilkan dua flora jamur yang seolah sedang menari, ia mempertanyakan mengapa manusia memiliki hak atas ibu itu sendiri?

“Ada banyak hal mengenai ibu. Bisa jadi itu hanyalah bentuk perumpamaan atau sebagai sosok yang dikenal dengan banyak perjuangan di dalamnya,” tulis Desyifa.

Ada lagi Arkan Genggam Danuarta yang hadir dengan karya dengan nuansa “psikedelik”-nya. Lewat karyanya ini, ia menampilkan pesan bahwa Ibu adalah awal dari segala kehidupan.

Lalu terakhir ada Adila Nugraha Lukisyana yang tampil dengan karyanya yang punya sisi lain tentang Ibu. Ia mengambil sudut pandang ibu yang berani dan lantang bersuara.

Karya di pameran bertajuk “Iridescent” di Galeri Sanggar Olah Seni (SOS), Babakan Siliwangi, Bandung, 22-26 Desember 2022. Foto: Rayhadi Shadiq.

Menurut dia, keheningan di pagi, siang, sore, atau bahkan malam takkan pernah terjadi karena suara sang Ibu yang selalu ada menemaninya.

Dengan serangkaian proses kontemplasi di dalam dirinya, lahirlah “Iridescent.” Jika saja ada waktu lebih lama lagi, rasanya bukan mustahil akan lahir lebih banyak lagi cerita atau ingatan tentang Ibu dari setiap kepala penikmatnya. ***

Profil Penulis

Suka menulis, musik, fotografi, bengong, menyendiri, dan lihat pohon. Pernah keluar tidak baik-baik dari salah satu perusahaan media beken di Jakarta lalu di-doxing setelahnya. Pernah diolok-olok geng ibu-ibu wellness di Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: