Ireland’s Eye, Memandang Dunia Lewat Mata Irlandia

Enam perupa Irlandia, Anishta Chooramun, Jamie Cross, Louis Haugh, Vanessa Jones, Bara Palcik, serta Ciara Roche menggelar Pameran bertajuk Ireland’s Eye, di Ruang Sayap Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, 17 Juni-31 Juli 2022.

Para seniman ini merupakan lulusan pascasarjana di National College of Art and Design dan Institute of Art, Design and Technology, di Dublin Irlandia.

Dari Mata Irlandia, keenam perupa ini menampilkan penjelajahan persoalan representasi diri dari tempat tinggal mereka yang boleh jadi terhubung dengan beberapa kesamaan di Indonesia.

Karya-karya yang mereka ciptakan menelisik sederet ruang dan peristiwa yang membentuk identitas individu sekaligus identitas kolektif di dunia kontemporer yang terpolarisasi.

Sekelompok seniman Irlandia ini menyajikan sudut pandang masing-masing atas memori masa kecil, bahasa yang digunakan bersama, benda-benda dan tempat-tempat yang berjejak dalam ingatan, tubuh yang didefinisi berdasarkan gender, serta pola pengasuhan yang membentuk masyarakat.

Karya perupa Irlandia Anishta Chooramun dalam Pameran Ireland’s Eye, di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, 17 Juni-31 Juli 2022. Foto: Selasar Sunaryo Art Space.

Lewat karya Little Pieces of Us, Anishta Chooramun mengangkat isu tentang perpindahan dan aspek identitas yang selalu berubah. Karya ini terbentuk dari pengalaman Anishta, yang lahir di Mauritius dan tinggal di Irlandia.

Bersama sebentuk karya mixed media berukuran 100 cmx140 cm, Anishta menemukan cara untuk menerjemahkan gerak tubuh dari kinerja fisik menjadi objek.

Ia mencoba menafsirkan tarian yang dilakukan oleh para pelancong nomaden melalui kacamata seni patung. Anishta berfokus pada elemen ritual dan penceritaan dalam tradisi tari klasik Kathak (sebuah Tari India).

Karya perupa Irlandia Jamie Cross, dalam Pameran Ireland’s Eye, di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, 17 Juni-31 Juli 2022. Foto: Selasar Sunaryo Art Space.

Jamie Cross hadir dengan karya hasil eksplorasi benda-benda keseharian di lingkungan rumah dan ruang yang ia huni. Ia mengirimkan pesan karyanya melalui medium cetak Duratrans yang ditampilkan pada layar LED.

Melalui karya berjudul Screenshot dan 5 seri A Soft View, ia mencoba menjawab pertanyaan, kapan sebuah ruang dimulai? Ia tertarik pada eksplorasi ruang tak berpenghuni dan konsep bahwa ruang dihasilkan melalui pengalaman seseorang atas ruang tersebut.

Karya perupa Irlandia Louis Haugh, dalam Pameran Ireland’s Eye, di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, 17 Juni-31 Juli 2022. Foto: Selasar Sunaryo Art Space.

Louis Haugh bergerak dalam dunia fotografi, video, dan instalasi. Praktiknya berkaitan dengan ekologi, sejarah, sosiologi, identitas dan tempat.

Proyek penelitian jangka panjangnya melihat sejarah kehutanan komersial di Irlandia dan sejarah kolonial yang menyebabkan deforestasi di Irlandia hingga tahun 1850 dan reboisasi di Irlandia pasca-kemerdekaan selama abad lalu.

Karya perupa Irlandia Vanessa Jones, dalam Pameran Ireland’s Eye, di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, 17 Juni-31 Juli 2022. Foto: Selasar Sunaryo Art Space.

Vanessa Jones menghadirkan karya lukis , penggabungan budaya Barat dan Timur untuk mencerminkan dirinya yang memiliki latar keturunan Amerika dan Korea.

Vanessa merupakan pelukis figuratif yang praktiknya mengeksplorasi tema-tema seputar isu ‘feminin’ menggunakan potret diri.

Bersama karya cat minyak di kanvas dan kain linen, ia menggunakan sejarah lukisan Barat serta asosiasi simbolik abad pertengahan dan primordial, melihat mitos, keindahan, replikasi dan dualitas yang berkaitan dengan arketipe feminin. ‘Kepribadiannya’ mendiami lanskap yang familiar, namun tidak dikenal dengan kekayaan simbolisme budaya, dan sebagai ‘potret diri’.

Karya seniman Irlandia Bara Palcik, dalam Pameran Ireland’s Eye, di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, 17 Juni-31 Juli 2022. Foto: Selasar Sunaryo Art Space.

Bara Palcik menyodorkan tayangan audio-visual berjudul Hiding in The Grain berdurasi 15 menit. Ia mengeksplorasi identitas, kehilangan identitas, kepemilikan, dan ruang ‘di-antara’ yang tidak memiliki tempat tertentu.

Ide-ide ini dipandang tidak hanya dalam hal ‘tempat’ tetapi juga dalam hal identitas seksual, preferensi seksual dan ‘ke-di-antara-an’ identitas non-biner. Karya Bara terinspirasi oleh kenangan dan pengalaman hidupnya sendiri yang tumbuh di Republik Ceko.

Karya perupa Irlandia Ciara Roche, dalam Pameran Ireland’s Eye, di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, 17 Juni-31 Juli 2022. Foto: Selasar Sunaryo Art Space.

Ciara Roche mengeksplorasi pengalaman atas tempat-tempat umum sehari-hari dan bagaimana kita bergerak melalui ruang-ruang ini – pompa bensin, pameran ritel mewah di mana seseorang didorong untuk menghabiskan waktu dan uang.

Ia mengeksplorasi melalui riset dan representasi yang dilukis, bagaimana tempat-tempat ini dibangun untuk mendorong kebutuhan, dan bagaimana pencapaian objek material menjadi ukuran kesuksesan seseorang: Bagaimana kita terus-menerus mencari hal berikutnya untuk membuat kita bahagia tetapi hal itu mungkin tidak akan pernah tercapai.

Karya perupa Irlandia dalam Pameran Ireland’s Eye, di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, 17 Juni-31 Juli 2022. Foto: Selasar Sunaryo Art Space.

Penghubung Dunia

Mata Irlandia, atau ‘Ireland’s Eye’ adalah sebuah pameran baru yang dikuratori oleh Mark Joyce dan Sarah Durcan; menjelajahi ide tentang bagaimana seni rupa sebagai “cara pandang kritis” atas dunia yang makin terhubung satu sama lain namun pada saat yang sama terpolarisasi.

Mark Joyce menuturkan, sejarah baru Irlandia punya banyak kesamaan dengan perjalanan Indonesia menuju kemerdekaan. Di Irlandia, para penyair dan penulis revolusioner turut serta dalam proses perwujudan bangsa yang baru. Sedangkan di Indonesia para perupa memainkan peran penting dalam merumuskan visi persatuan bangsa yang lahir dari riwayat panjang kolonial, sejarah, dan kebudayaan kepulauan.

Hari-hari ini, identitas kultural dan artistik bangsa Irlandia maupun Indonesia memiliki banyak kesamaan yang termanifestasikan dalam banyak bentuk, dari mulai nyanyian dan tarian, hingga tenun dan seni urban.

“Menurut saya, ketika kita berkarya, kita mengekspresikan budaya kita sendiri. Namun, saat kita berkarya menggunakan beragam penelitian pascasarjana, anda menemukan bahwa budaya Anda mungkin terbentuk dari beragam budaya lain. Enam perupa dalam pameran ini sedang mencoba ide dan aspek yang beragam, baik itu mengenai lingkungan, pribadi, tubuh, atau hal-hal yang mereka jumpai setiap hari. Ada banyak hal dalam karya masing-masing enam perupa ini yang mengupas semangat Irlandia di masa kini,” ujarnya.

Pameran ini terselenggara hasil kerja sama antara Selasar Sunaryo Art Space dan ISA Art and Design, Jakarta dan didukung oleh Culture Ireland dan Kedutaan Besar Irlandia di Indonesia.

Karya-karya lengkap yang dipamerkan dalam Ireland’s Eye bisa dinikmati melalui Galeri Foto mikrofon.id via link berikut: Pameran Ireland’s Eye.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: