Hoaks Covid dan Dua Karya Isu Perempuan Jadi Karya Terbaik Seventh BaCAA

Patriot Mukmin, Perempuan Pengkaji Seni, dan Victoria Kosasie, terpilih sebagai pemenang utama Bandung Contemporary Art Awards (BaCAA) Ke-7. Malam penganugerahan atas tiga karya terbaik ini diselenggarakan di Lawangwangi Creative Space, Jumat, 12 Agustus 2022.

Dari sederet submisi karya yang diterima Seventh BaCAA, Dewan Juri menyayangkan masih timpangnya presentase antara seniman laki-laki, perempuan maupun non-biner. Namun, keikutsertaan Victoria Kosasie dan kolektif Perempuan Pengkaji Seni rupanya mampu meredam kekecewaan juri.

Bersama keberhasilan berhasil mengangkat persoalan gender lewat karya-karya performans yang kuat, kritis dan menggugah, dewan juri menilai hadiah utama sangat pantas diberikan kepada keduanya.

Perempuan Pengkaji Seni, salah satu pemenang utama Seventh BaCAA. Foto: BaCAA.

Perempuan Pengkaji Seni merupakan kelompok seniman dan peneliti yang selama ini fokus pada isu-isu gender. Pertunjukan mereka, Rotary, menampilkan lima orang perempuan duduk melingkar di bangku-bangku sembari memegang mesin jahit portabel mini di pangkuan masing-masing.

Sesaat alarm berbunyi, serentak para perempuan ini mulai menjahit kain-kain perca yang tersambung satu sama lain. Di tengah kepungan suara mesin jahit, mereka menekuni aktifitas tanpa bersuara, tanpa interaksi. Lingkaran perempuan menjahit ini menampakkan gestur kepatuhan dan keseragaman.

Karya ini ditawarkan untuk memancing asosiasi-asosiasi yang rumit di antara persoalan perempuan, konsumerisme dan limbah, yang menarik didiskusikan. Tetapi bukan melulu kaitan dengan mayoritas buruh perempuan di pabrik-pabrik garmen di Indonesia, tapi juga dengan kehidupan perempuan Indonesia pada umumnya sebagai ‘buruh gratisan’, ketika harus bekerja di rumah dan hanya dibebani pekerjaan-pekerjaan domestik.

Victoria Kosasie, salah satu pemenang utama Seventh BaCAA. Foto: BaCAA.

Sementara pada karya BASINS, Victoria Kosasie menyajikan sebuah teks serupa surat seorang ibu kepada anak perempuannya. Surat itu berisi wejangan, petatah-petitih atau ajaran yang berisi keharusan dan larangan bagi seorang perempuan, terutama dalam budaya Jawa.

Sekilas bunyi surat itu terdengar seperti tuntunan tentang kodrat seorang perempuan, sekaligus menggambarkan ekspresi seorang ibu yang ingin anaknya kelak menjadi ‘perempuan baik-baik’.

Dalam durasi 22 menit, Victoria membacakan teks tersebut dengan posisi tubuh berbaring menghadap air yang menetes dari sebuah wadah yang lama kelamaan membasahi tubuhnya.

Victoria mempertanyakan berbagai stereotipe perempuan yang konstruksinya justru diwariskan dari kaumnya sendiri, dan menyembunyikan struktur kuasa patriarki yang telah menjadi warisan menyejarah di Indonesia.

Patriot Mukmin, salah satu pemenang Seventh BaCAA. Foto: BaCAA.

Karya Discourse of the Disease dari Patriot Mukmin disebut yang paling kuat dari segi gagasan, metode maupun presentasinya, di antara sejumlah karya finalis yang mengangkat refleksi atas fenomena Covid-19.

Proyek Patriot digarap selama dua tahun, sejak masa awal pandemi. Di tengah kekhawatiran dan ketakutannya pada masalah kesehatan dan kematian, ia menyadari psikis masyarakat secara umum di masa pandemi sangat dipengaruhi oleh peredaran informasi, termasuk melalui media sosial.

Lalu, ia menginisiasi sebuah proyek partisipatoris melibatkan pengguna media sosial untuk bersama-sama mendekonstruksi kebohongan-kebohongan tentang Covid-19.

Bagian penting lainnya dari proyek ini adalah ratusan QR code yang secara instingtif ia buat untuk menunjukkan lokasi dan aktivitasnya pada masa pandemi. Proyek ini seperti membuktikan ujaran bahwa kreativitas artistik justru lahir dalam situasi yang sulit dan menekan.

Kuntari mengisi malam penganugerahan Seventh BaCAA. Foto: BaCAA.

Seventh BaCAA

Panel juri di Seventh BaCAA adalah para profesional di bidangnya, FX  Harsono (Perupa, indonesia), Tom Tandio (Direktur Art Fair, Indonesia), Aaron Seeto (Direktur Museum  MACAN, Indonesia), Evelyn Halim (Kolektor, Indonesia) dan Wiyu Wahono (Kolektor, indonesia).

Perupa yang memenuhi syarat adalah para perupa berbakat yang telah memamerkan karyanya di galeri seni mapan, ruang seni publik atau ruang seni baru dengan portofolio dan agenda tahunan yang terdefinisi dengan baik.

Karya yang diterima adalah karya yang diproduksi antara tahun 2020 hingga 2022. Seluruh  karya submisi yang terkumpul melalui proses seleksi menyaring hingga 15 karya finalis untuk dipamerkan di Lawangwangi Creative Space. 

Adapun 15 finalis Seventh BaCAA itu yakni Aditya DP & Amajid Sinar, Arief Budiman, Asmo Adji, Candrani Yulis, Fransisca Retno Setyowati, Kartika Oktarina, Muhammad Sabiq Hibatulbaqi, Nesar Ahmad, Oberlan Monre, Patriot Mukmin, Perempuan Pengkaji Seni, Riyan Kresnadi, Rizal N. Ramadhan, Suvi Wahyudianto, dan Victoria Kosasie.

Di malam penganugerahan yang digelar Artsociates bersama Lawangwangi Creative Space, Jumat 12 Agustus 2022, tiga karya terbaik dianugerahi hadiah berupa uang tunai sebesar Rp100 juta, residensi seni di Intermondes, la Rochelle, Perancis dan art trip ke pusat seni rupa internasional.

Salah satu juri Seventh BaCAA, Aaron Seeto menuturkan, para juri sangat terkesan dengan kualitas dan keragaman dari karya para seniman Indonesia yang  terdaftar, yang menyuarakan beragam suara baru. Dewan juri menyadari bagaimana para seniman mengeksplorasi pengalaman mereka selama pandemi lewat penampilan serta format-format tampilan karya yang baru.

“Secara statistik, kami juga menemukan lebih sedikit representasi perempuan perupa yang mendaftar, dan kami harap ke depannya imbalan penghargaan turut merefleksikan keragaman kita semua. Tiga perupa yang telah terpilih merupakan hasil dari diskusi panjang dan para juri sangat terpukau dengan relevansi karya-karya terpilih dengan situasi kita hari ini,” kata Aaron.

Karya Finalis

Terlepas dari keragaman mediumnya, Dewan Juri Seventh BaCAA menilai karya-karya para finalis menunjukkan minat dan perhatian pada sejumlah topik tertentu. Sebagian finalis merespons problem-problem sosial yang aktual.

Melalui karyanya Pseudo Delights ASMR, Fransisca Retno memparodikan gaya kuliner eksklusif yang sering ditampilkan di media sosial untuk menujukkan status sosial, atau keberadaan seseorang sebagai bagian dari kelas elite tertentu.

Dengan mimik muka, gestur, tatapan dan videografi yang khas media sosial, pertunjukan Retno menjadi suatu kritik halus atas perilaku pengguna media sosial yang menyajikan kenyataan secara manipulatif.

Sound of Hoax, karya instalasi Arief Budiman menayangkan fragmen-fragmen situs hoaks tentang situasi sosial politik Papua dengan derau (noise) pada pelantang-pelantang bising dan mengganggu.

Budiman mengangkat soal ‘kabar bodong’ atau hoaksyang kini mudah dibuat dan disebarkan dengan internet. Ia juga menyorot sisi kontradiktif internet yang mengaspirasikan demokratisasi. Internet tidak hanya efektif menciptakan ‘kebenaran’, tapi juga memelintir kenyataan.

Duo seniman beranggotakan Aditya DP dan Amajid Sinar, AJ, dan Kartika Oktorina dan adalah bagian dari generasi baru seniman Indonesia yang fasih memanfaatkan bahasa pemograman komputer untuk menghasilkan kemungkinan artistik baru. Akan tetapi, baik karya Oktarina maupun AJ tidak sekadar membentuk afirmasi terhadap teknologi media baru terutama kecerdasan buatan, tetapi juga menggunakannya sebagai jalan masuk untuk mempertanyakan posisi manusia di hadapan kecanggihan teknologi.

Riyan Kresnandi hadir dengan menjadikan internet dan semesta virtualnya sebagai arena bermain subversif. Proyeknya, MIVUBI Museum, memanfaatkan fitur dalam game Minecraft untuk mengangkat narasi-narasi yang terpinggirkan dalam sejarah.

Rizal N. Ramadhan memahami bahwa sains dan teknologi mampu melahirkan berbagai bentuk bahasa dan logika baru yang memperluas makna manusia dan kemanusiaan. Karyanya, Bog Instict, mengambil inspirasi dari sebuah algoritma yang merumuskan DNA sebagai konstruksi ingatan tentang masa lalu.

Tersusun atas batang- batang logam, resin, kabel-kabel, selang plastik yang dominan di antara pasir, air dan uap kimia, instalasi Rizal memaksimalkan bentuk-bentuk asimetris, terserak dan tak beraturan, seolah benda-benda itu hidup dan punya sifat organis. Baginya, material-material industrial/sintetik sesungguhnya masih menyimpan kode-kode kromosom organisme purba yang pernah ada di alam semesta jutaan tahun yang lampau.

Karya Muhammad Sabiq H., Forever Fun, menyiratkan gambaran berbagai aspek dalam kehidupan sehari-hari manusia modern yang juga terkodekan sedemikian rupa ke dalam angka-angka dan grafik. Video ini mengacaukan batasan antara bahasa fotografi dengan grafik berbasis kode numerik dan kode batang (barcode) yang Sabiq gunakan sebagai acuan untuk membuat sekuens gambar bergerak. Tempo pergantian gambar objek-objek konsumer yang cepat seperti menggambarkan bagaimana kode-kode itu bekerja dengan cara menekan laku reflektif kita.

Karya Asmo Adji berbicara tentang suatu daya yang menggerakkan sebuah mesin sosial. Daya itu tak kasat mata, namun bekerja secara otomatis, organik, tanpa rencana. Adji menghadirkan miniatur arsitektur urban marjinal sebagai metafor untuk struktur sosial yang tumpang tindih, tak beraturan namun saling mengisi. Pemilihan material dan cara Adji mengkonstruksi bentuk karya ini menonjolkan kesan keriuhrendahan yang ringkih.

Menarik untuk membicarakan karya-karya Nesar Eesar, Candrani Yulis dan Suvi Wahyudianto dalam kerangka kerja tentang ingatan. Dalam seni kontemporer, ingatan adalah pokok-soal yang tak habis- habisnya dijelajahi dan digali, terutama ketika prinsip modernisme (yang cenderung lebih menekankan proyeksi ketimbang regresi) dianggap sebagai skenario yang ‘gagal’.

Baik Nesar, Candrani maupun Suvi menempatkan ingatan masing-masing sebagai perangkat yang membangun pemahaman dan pengetahuan yang, tidak melulu berurusan dengan biografi personal, tapi juga merepresentasikan konstruk sosio-budaya masyarakat di mana mereka hidup.

Nesar adalah seorang penyintas pengungsian perang , yang pernah harus mengalami penantian panjang di Pakistan untuk bisa kembali ke kampung halamannya di Afghanistan. Ingatannya sebagai pengungsi mendorongnya menarasikan kisah yang dialami para pencari suaka asal Afghanistan yang juga banyak terdampar di Jawa melalui karya ini.

Eternal Waiting adalah soal pengalaman personal berada dalam sebuah duree. Filosof Henri Bergson merumuskan duree (waktu) sebagai pengalaman subjektif yang ‘otentik’, yang lepas dari berbagai matra dan ukuran objektif seperti jam, hari, minggu, bulan, tahun, dst.

Suvi dan Candrani sama-sama bicara tentang sosok ibu. Lebih menarik lagi, karya kedua finalis ini juga sama-sama memiliki muatan puitik yang kental. Berlatar ingatan personal tentang ibunya, instalasi Candrani, Sarang Kosong #3, adalah juga sebuah ode untuk para ibu kebanyakan, yang harus menanggung tekanan psikis ketika ditinggalkan oleh anak yang beranjak dewasa. Bagi Candrani, sindrom ‘sarang kosong’ tak terpisahkan dengan konstruk patriarkis yang menempatkan perempuan sebagai ibu rumah tangga belaka.

Sama dengan Candrani yang menghadirkan benda-benda domestik untuk mengingat sang ibu, Suvi juga menempatkan baju almarhum ibunya dalam instalasi. Bedanya, bagi Suvi, baju itu adalah memento mori: sebuah pengingat kematian. Dalam Eulogia, baju sang ibu dipajang bersanding dengan baju Suvi sendiri bagaikan sebuah monumen. Tidak hanya itu, Suvi ‘mengaktivasi’ karya ini dengan sebuah performans yang lebih menyerupai sebuah ritual sepanjang hidup. Pada tanggal-tanggal yang mengingatkannya pada kematian sang ibu, Suvi akan mengenakan bajunya sendiri, menanggalkan dan melipatnya kembali pada hari yang lain, begitu seterusnya, sampai ajal menjemputnya. Suvi tidak hanya memaknai karya ini sebagai sebuah catatan personal, tapi juga sebagai cara untuk mengingat wabah Covid-19 yang merenggut nyawa ibunya dan jutaan orang lainnya di dunia.

Dewan Juri memahami bahwa selain Suvi, terdapat beberapa finalis (dan puluhan peserta Seventh BaCAA) lainnya yang merefleksikan pengalaman pribadi berhadapan dengan pandemi ke dalam karya-karya mereka. Wabah COVID-19 memang catatan besar dalam sejarah abad ke-21, termasuk dalam sejarah seni.

Dampak wabah ini, dapat dipastikan akan terus diingat oleh umat manusia di masa mendatang. Harus diakui, terlepas dari jutaan nyawa yang melayang, fenomena ini bak sebuah portal yang telah membawa kita pada tatanan kehidupan yang baru.

Oberlan Monre termasuk finalis yang merefleksikan fenomena wabah COVID-19, seperti ditulisnya, “…secara ‘positif”. Berawal dari kerinduannya terhadap suasana alam, instalasinya, Sound of Nature, merepresentasikan keberadaan entitas sintetik/digital yang semakin diterima sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari manusia.

Para pemenang utama Seventh BaCAA bersama dewan juri. Foto: BaCAA.

Dorong Seniman

Seperti edisi-edisi sebelumnya, Seventh BaCAA tidak hanya menerima karya-karya peserta seniman Indonesia yang tinggal dan bekerja di berbagai kota di Indonesia, tapi juga luar negeri. Proses penilaian berlangsung secara bertahap selama satu bulan.

Dewan Juri mencatat, secara umum karya- karya yang masuk ke dalam kompetisi Seventh BaCAA tahun ini mengindikasikan masih dominannya praktik seni dengan medium dwimatra dan trimatra yang konvensional.

Bagi Dewan Juri, karya-karya itu memang sah untuk diikutsertakan dalam kompetisi ini. Tetapi Panel Juri menyayangkan sebagian besar karya yang diikutsertakan kurang memperlihatkan eksplorasi baru yang mendobrak.

Dalam catatan juri, Bandung Contemporary Art Award menjadi satu-satunya kompetisi seni di Indonesia yang memberi penghargaan pada keragaman jenis ekspresi artistik, terutama melalui label seni kontemporer. ejak penyelenggaraan edisi pertama pada 2010.

Sepanjang kehadirannya, BaCAA telah memberikan penghargaan pada karya-karya new media, video, pertunjukan, instalasi, hingga seni konseptual yang nir-objek dan ephemeral. BaCAA membuktikan diri sebagai platform bagi karya-karya inovatif dan eksperimental yang tidak terakomodasi dalam kompetisi-kompetisi seni lainnya di Indonesia.

Meski begitu, dibandingkan dengan awal 2000-an, pemberian penghargaan pada karya-karya dan proyek inovatif seniman muda di Indonesia terus berkurang dalam lima tahun terakhir.

Maka, begitu mudah menemui banyak seniman muda yang cenderung langsung terjun ke pasar arus utama melalui pameran-pameran di galeri dan art fair, misalnya, yang dianggap lebih menjanjikan untuk keberlangsungan karir mereka. Situasi yang menyulitkan bakal dihadapi karena pasar seni rupa di Indonesia secara umum hanya mampu menyerap karya-karya dengan jenis tertentu.

Idealnya, ada lebih banyak lagi kompetisi ataupun inisiatif lain yang memberikan penghargaan kepada para seniman muda, sehingga semangat dan eksplorasi mereka bisa terus terjaga.

Gambaran besar yang didapatkan dari karya-karya yang masuk ke meja kerja Dewan Juri Seventh BaCAA menunjukkan betapa seniman muda pada umumnya masih memerlukan dorongan lebih besar lagi untuk dapat mengakselerasi penjelajahan artistik mereka.

Dewan Juri menakar kondisi ini boleh jadi menunjukkan situasi medan seni rupa Indonesia yang belum bisa dikatakan kondusif. Terlebih situasi dua tahun belakangan memang cenderung memburuk.

Gelombang pandemi yang masih belum sepenuhnya reda membatasi kesempatan para seniman muda melakukan berpameran dan mengikuti lokakarya atau program residensi di luar negeri.

Dukungan yang lebih berarti kepada seniman-seniman muda dalam bentuk, misalnya, pemberian hibah (grant) yang kompetitif untuk merealisasikan riset, konsep, rancangan dan proyek-proyek yang inovatif masih sangat dibutuhkan.

Oleh karena itu, Dewan Juri Seventh BaCAA menaruh apresiasi setinggi-tingginya kepada pada ArtSociates dan Lawangwangi Creative Space yang terus mendukung kreativitas seniman-seniman muda Indonesia.

ArtSociates

ArtSociates merupakan perusahaan manajemen seni dan seniman yang didirikan pada 2007 oleh Andonowati sebagai bagian dari Yayasan AB. Tujuan utamanya adalah untuk mempromosikan seniman Indonesia ke khalayak yang lebih luas, dalam lingkup nasional maupun dunia internasional.

Bersamaan dengan itu, ArtSociates juga berfokus pada ranah manajemen industri kreatif, yang bertujuan untuk menciptakan taman seni (art park) yang mengawasi pengembangan dan inovasi dalam perihal seni dan budaya.

Untuk mencapai mimpi tersebut, pada tahun 2010 Lawangwangi Creative Space dibangun untuk meningkatkan  pertumbuhan dalam seni dan budaya, juga untuk menyediakan ruang untuk pameran seni dan acara di  ranah yang sama.

Harapannya, Lawangwangi maupun ArtSociates dapat menjadi pusat untuk kemajuan seni dan budaya di masa yang akan datang.

Sebagai sarana untuk mencapai tujuan itu, ArtSociates mengelola dan membantu perkembangan seniman perwakilannya dengan memperkuat dasar-dasar kualitas intrinsik mereka dengan cara menentukan distribusi karya seni mereka, sambil juga bekerja pada peningkatan kualitas portofolio seniman perwakilan tersebut.

ArtSociates pun secara aktif mencari seniman muda baru yang berbakat dan inovatif melalui program penghargaan dua tahunan, Bandung Contemporary Art Award.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: