Godzkilla Necronometry: Pijakan Penting Langkah Homicide

Mini album Homicide “Godzkilla Necronometry” dirilis ulang pada November 2022 untuk merayakan 20 tahun album debut kolektif hiphop asal Bandung itu. Menghidupkan Godzkilla Necronometry selepas bubarnya Homicide pada 2007 pernah dilakukan pada 2013 melalui format piringan hitam dan sampul album baru.

Versi rilisan ulang dalam bentuk kaset bersama artwork awalnya kali ini betul-betul mengembalikan situasi pelik saat Godzkilla Necronometry dipublikasikan: Homicide yang miskin, alat produksi langka, di tengah suasana kekacauan sosial-politik pascakiamat orde baru.

Terbentuk dari hiphop jalanan sekitar tahun 1994, Homicide sudah mulai menyicil materi lagu sebelum dilansir menjadi mini album di 2002. Saat itu formasi diisi Morgue Vanguard (Herry “Ucok” Sutresna) sebagai produser/beatmaker yang juga MC, juga Sarkasz (M. Aszy Syamfizie) dan Punish (Adolf “Lephe” Triasmoro) sebagai MC.

Mereka disokong DJ yang juga produser, DJ Kassaf (Kiki Assaf) yang ambil bagian hingga 1999, untuk kemudian digantikan perannya oleh DJ-E (Ridwan Gunawan) sejak 2000. Ada juga keterlibatan mendiang Wahyu “Jojon” Permana dari band hardcore Balcony yang mengisi agresifitas gitar di karya Homicide.

Produksi

Upaya mewujudkan album rintisan ini lumayan berat. Saat itu, modal produksi pas-pasan. Sebelum Godzkilla Necronometry, sebenarnya sudah banyak materi lagu yang terkumpul.

Homicide juga sempat menguji karya mereka lewat demo-tape. Seiring pendanaan terhimpun, -meski seadanya, mereka mulai masuk rekaman.

“Sejak ‘94 kita memang selalu pengen bikin album. Cuma saat itu kami musisi miskin. Tetapi walau miskin sekalipun, pengen ngeband, ada alat live, ya dibikinlah seadanya,” kata Morgue Vanguard (MV).

Yang bikin pusing grup hiphop saat itu yakni kebutuhan sampler sebagai basis musik. Populasi sampler begitu langka, hanya Indra Lesmana dan label rekaman mayor yang punya.

Mereka kepayahan mencari penyewaan studio yang dilengkapi perangkat sampler. Rentang 2001-2002 akhirnya ditemukan studio yang memiliki sampler dan komputer, di Jakarta.

Masalah lain kemudian muncul. Dengan dana terbatas, Homicide harus mengemas waktu meracik komposisi sampling musik di bawah bayang-bayang biaya sewa studio yang terus bergulir.

“Studio dengan sampler dan komputer ini memang memudahkan. Tapi karena kita enggak pernah pegang sampler, saya dan DJ-E mesti belajar lagi sampler-nya. Itu satu shift bisa habis cuma buat ngulik alat. Itu baru bisa rekaman Godzkilla, itu pun cuma 6 lagu karena enggak ada uangnya. Butuh Rp1,5 juta di era itu,” katanya.

Foto: Grimloc Records.

Narasi

Setelah proses produksi yang berdarah-darah, hasil penjualan album ini juga tak berjalan mulus. Dari kaset yang diedarkan kurang dari 100 copy, Godzkilla Necronometry hanya terjual setengahnya.

Butuh waktu hingga 3 tahun sampai rilisan ini ludes di pasaran. Beda cerita ketika kemudian album ini diproyeksikan split bersama Balcony lewat “Hymne Penghitam Langit dan Prosa Tanpa Tuhan,” dan meraih jangkauan lebih luas dengan penjualan lebih dari 500 keping karena versi kaset ini dirilis juga di beberapa label independen luar Indonesia seperti Malaysia lewat Papakerma Records dan di Amerika oleh Arise Collective Records.

MV menakar lesunya penjualan Godzkilla Necronometry dimungkinkan karena penggayaan rap mereka yang menjadi anomali di masa itu. Dengan komposisi lebih avant garde, penyertaan pengaruh Public Enemy, Company Flow, yang dibuat tak lazim dan mungkin akhirnya dinilai sebagai musik yang tak enak didengar.

Kemungkinan lainnya soal narasi yang diusung Homicide yang boleh jadi terlalu rumit dikonsumsi. Musik hiphop yang menyodorkan isu soal masalah fasisme di tengah era reruntuhan orde baru, dan masih geger dengan letupan demokrasi dan kebebasan berekspresi mungkin dianggap terlalu dini.

“Akhirnya kenapa album ini buat kami penting, karena itu pertama kali Homicide keluar merepresentasi. 4 tahun sebelumnya mungkin album ini bisa dirilis. Tapi waktu dikenalkan di 2002 saja, materi ini bikin banyak orang yang kayak, ‘hareup teuing,’ (terlalu frontal). Bayangin kalau dirilis di tahun sebelumnya, album itu bakal dinilai lebih ‘terlalu maju’ lagi,” katanya.

Lagu

Kualitas reissue album ini juga menunjukkan keseriusan Homicide dalam memelihara arsipnya. Versi yang dirilis kali ini merupakan versi mastering ulang yang pernah dijadikan reissue dalam format vinyl pada 2013. Berbekal itu, format kaset di 2022 ini bisa dirayakan dengan kualitas suara yang menyamankan kuping.

Pada sisi lainnya, Grimloc mengikutsertakan remix baru dari Napalm Squad yang memberi tribut bagi inspirasi utama mereka di rentang waktu tersebut, mulai dari Company Flow, Public Enemy hingga Soul Assassins.

“Kita pengen ngasih tahu inspirasi kita waktu itu, makanya kita nge-remix dengan memakai musisi seperti Company Flow, Soul Assassins, Cypress Hill, Dr. Dre. Ketika orang dengar, kita lagi ngasih homage buat para musisi-musisi inspirasi kita saat itu,” katanya.

Dalam catatan Ucok di booklet “Homicide: Complete Discography,” Godzkilla Necronometry merupakan obsesi mereka pada nama-nama MC yang menyetrum pengaruh musik mereka. “Boombox Monger” adalah manifestasi Homicide untuk membuat track seabrasif Company Flow dengan intensitas Organized Konfusion.

Saat itu, Funcrusher Plus dan Extinction Agenda dijadikan kitab suci Homicide yang berperan besar dalam memberi inspirasi untuk mengacak-acak struktur konvensional hiphop dan keluar dari stigma “lagu politis.”

Foto: Grimloc Records.

“Boombox Monger” menjadi sebentuk luapan obsesi mereka untuk membuat manifesto pertama Homicide. Lirik “Boombox Monger” dieksekusi sesaat setelah Tragedi Semanggi II.

Ucok ingat betul, petikan rima “Pasca Molotov terakhir terlempar di Semanggi” dicatat di pagi hari, setelah semalam sebelumnya diburu Brimob dalam perang molotov, di Lapangan Gasibu, Bandung, September 1999.

Saat itu ia ikut dalam aksi penolakan terhadap rencana pemerintah yang akan mengesahkan RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya. Rancangan Undang-Undang itu sarat bernuansa fasis dan ditunggangi kekuatan laten militer.

Relevansi juga dihitung penting dalam penulisan lagu. Lirik “lupakan Columbus, karena Bush dan Nike telah menemukan Amerika,” juga frase “Seattle dan Praha” muncul sebagai representasi semangat anti-neoliberalisme di penghujung abad ke-20 sebelum tragedi 9/11 mengubah semuanya dan diksi “terorisme” sedemikian lekat hingga kini.

Selain itu, banyak pihak mengganggap lagu “Puritan” dibuat pertengahan tahun 2000 dan dikaitkan dengan isu fundamentalisme agama yang mereka tulis. Padahal lagu itu ditulis pada 1999, jauh sebelum orang menyadari ada kekuatan besar di balik fundamentalisme agama dan politik “anti-terorisme” yang digaungkan negara serta Detasemen Khususnya.

Saat itu marak pemberangusan tempat aktivitas komunitas dan pembakaran buku-buku “kiri.” Militer begitu aktif memprogandakan operasi ini sebagai bagian dari propaganda anti-komunisme, sekaligus sebagai upaya menepis isu demiliterisasi pasca Suharto lengser.

“Sekarang, situasi sosial-politik masih sama. Kita ini sial. Kita enggak kemana-mana. Metafor George Bush, jadi Trump, masih sama. Freeport juga masih. Momen perayaan album ini juga kami dedikasikan untuk gerakan kultur tandingan dan gerakan otonom akar rumput yang selama ini menjadi fokus kami dalam beririsan. Mulai dari ruang-ruang otonom di beberapa tempat juga gerakan melawan perampasan ruang hidup di beberapa titik, termasuk di kota kami, Bandung,” kata Ucok.

Foto: Grimloc Records.

Artwork

Sampul album Godzkilla Necronometry juga punya apresiasi yang baik dari sisi seni. Artwork ini begitu masif direspons oleh ruang-ruang komunitas dan lapak jualan. Poster tiga tangan kokoh representasi kekuatan pekerja yang masing-masing menggenggam mikrofon menawarkan kepuasan visual di tembok-tembok kota, toko buku, distro, atau ruang publik dan komunitas.

Latar garis berkelir merah-kuning bisa dengan mudah membangkitkan ritme pergerakan, senapas dengan visual bergaya propaganda sejak masa perang dunia pertama.

Komposisi karya ini lumrah dalam unsur propaganda di era Uni Soviet. Namun, sejak awal mendesain artwork Godzkilla Necronometry, Ucok bukan mau menawarkan sistem politik yang diimani Pemerintah Soviet saat itu.

“Sebenarnya ironis karena secara konten narasi Homicide pada waktu itu bukan kiri yang direpresentasikan Soviet saat itu. Kiri Homicide yang terpengaruh anarkisme, komunisme libertarian, tapi esensinya saya pengen narasi antikapitalisme, antifasisme. Banyak yang ketipu artwork ini disebut-sebut Marxis-Leninis. Justru waktu itu saya lagi ribut sama PRD (Partai Rakyat Demokratik), keluar dari PRD, lalu jadi bahan buat materi Homicide. Itu sekitar 1999-2000,” tuturnya.

Sebenarnya, inspirasi terbesar MV dalam merancang desain sampul album dan sejumlah materi poster saat itu berasal dari gaya konstruktivisme Rusia. Ia begitu mengidolakan seniman yang juga salah seorang pelopor konstruktivisme, Alexander Rodchenko.

Ucok bahkan meluangkan waktu untuk mempelajari studi konstruktivisme Rusia lewat poster, buku, dan visual yang begitu khas dan membuka jalan terbentuknya gerakan seni Dadaisme. Yang ia nilai menarik dari narasinya, konstruktivisme mewujud sebagai instrumentalistik; saat seni digunakan untuk agenda politik.

Ia tak sepenuhnya sepakat dengan fungsi itu tetapi wacana yang ditawarkan konstruktivisme bisa sesuai dengan penggayaan visual Homicide dalam menyampaikan ide dan narasi.

“Bagaimana kemudian konstruktivis ini mekanik banget, peruntukkannnya, seni itu dihilangkan auranya dan digantikan masifikasi, kebutuhan progpaganda, dan tidak ekslusif. Konstruktivisme ini mengubah saya soal seni. Meskipun saya enggak sepenuhnya sepakat dengan, apalagi disangkutkan dengan agenda partai. Tetapi itu memang eranya, pasca Bolshevik, perang dingin dengan barat. Tapi wacana itu tetap menarik,” ujar MV, yang merupakan jebolan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB itu.

Pengaruh cara konstruktivisme membagi ruang atau memainkan warna sudah cukup membuat MV terobsesi dengan gaya seni Rusia itu. Asupan aliran seni ini telah mengubah gaya MV di kemudian hari, termasuk saat ia menjalani peran sebagai ilustrator dan mengerjakan artwork bagi band-band ragam genre.

“Meskipun saya sudah enggak bikin model konstruktivis, pengaruh dia (Alexander Rudchenko) masih kerasa. Meskipun pada konteksnya Homicide enggak begitu 100 persen konstruktivis dan ada pengaruh Rodchenko, setidaknya masih tersisa vibe-nya,” tuturnya.

Buka Jalur

Dengan segala keterbatasannya, MV sudah merasa puas dengan format rilisan Godzkilla. Bagi Ucok, album ini pernah menjadi pintu menuju karya Homicide selanjutnya, menjadi produser, menyalakan proyek baru sebentuk grup hiphop hingga band punk, sampai berjejaring dan membesarkan Grimloc Records bersama band dan komunitas.

Jadi, tak akan pernah ada alasan untuk kembali menghidupkan Homicide.

“Reissue Godzkilla ini bukan untuk bernostalgia. Visi urang geus jauh di hareup. Kemunduran kalau bikin ulang Homicide. Iwan dan Aszi juga tidak tertarik membuat Homicide baru. Saya harus bikin yang lebih lagi. Bikin yang baru. Kayak Bars of Death tidak berusaha membuatnya menjadi Homicide. Proyek apapun bakal dibikin eksperimen dan fun berbeda,” kata MV.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: