Garapan Mutakhir Street Art Uncle Joy di Pameran Tunggal “Grafitikasi”

Uncle Joy menggelar pameran tunggal bertajuk “Grafitikasi”. Hadir dengan garapan mutakhir, pameran ini menggambarkan bentuk ungkapan seni jalanan yang kemudian bertransformasi ke dalam bentuk-bentuk seni rupa kontemporer terutama seni lukis.

Berbicara soal makna “Grafitikasi,” Kurator pameran Rifky Effendy menulis dalam catatannya, beberapa dekade terakhir para praktisi seni jalanan (street art) menunjukan kecenderungan berekspansi ke dunia seni lukis, dari low art ke high art.

Beberapa tokoh seniman seperti kelompok Apotik Komik, Farhan Siki di Yogya, atau Darbots, Tutu, Muklai di Jakarta dan lainnya kemudian banyak melakukan pameran-pameran di galeri-galeri seni dan mendapat sambutan besar dari khalayak peminat seni kontemporer.

Pada praktiknya, pria bernama Tri Haryoko Adi atau biasa dipanggil Yoyo ini menyajikan karya lukisan di atas kanvas, instalasi dari kain perca, dan patung atau mainan berbahan bubur kertas (paper mache) dengan isian sampah plastik.

Karya Uncle Joy dalam pameran tunggal “Grafitikasi,” di Orbital Dago, Foto: Orbital Dago.

Ia menerapkan warna kontras, berani nan atraktif pada garapan bentuk-bentuk stilasi berbasis bentuk tanaman, bentuk elemen-elemen alam lainnya seperti lumut dan bebatuan melalui polesan, belobor dan goresan kuas cat akrilik, bercampur dengan drawing, maupun cat semprot (spray), marker, kadang digabung dengan untaian benang dan kain.

Lukisan-lukisan Uncle Joy menunjukkan bagaimana kebebasan mengungkap berbagai fenomena sekitarnya ia serap lalu dipindah ke dalam kanvas-kanvasnya dengan mencampurkan teknik melukis dan metoda membuat mural: dengan marker, cat semprot atau media lainnya yang ia anggap menarik atau mempunyai kaitan personal.

Selama tinggal di Bali ia banyak bersentuhan dengan kehidupan seni dan budaya Bali, yang kemudian banyak mempengaruhi karya-karyanya di kemudian hari.

Persentuhan melalui pengalaman keseharian, seperti benda-benda ritual, hiasan pura dan elemen-elemen tradisional masyarakat Bali.

Hal ini tampak dari garapan-garapan yang lebih rinci seperti pengisian-pengisian dalam gambar-gambar yang berbasis pada bentuk flora, bebatuan yang mengadopsi cara melukis tradisi di Bali.

Karya Uncle Joy dalam pameran tunggal “Grafitikasi,” di Orbital Dago, Foto: Orbital Dago.

Batik

Lukisannya juga mengingatkan pada cara melukis kain batik. Ia mengemukakan bahwa ketika masih tinggal di Yogyakarta, sempat belajar membatik di sekolah menengah pertama selama tiga tahun.

Karya-karya tiga dimensional seperti pada karya Bad Hair Day, sosok seperti makhluk dua kaki yang hampir seluruh badannya diselimuti kain perca, lainnya dilumuri cat serta disekujur badannya penuh dengan kancing. Bentuk patung atau toys ini cenderung jenaka, yang menurutnya bentuk tersebut ditemukan tak ada patokan tetapi mengikuti materi isian plastik sampah.

Namun karya tiga dimensional ini mengingatkannya kepada patung-patung barong, bangkung. Sementara instalasi gulungan dan jalinan kain perca mengingatkan kepada elemen-elemen Pura dan ritual keagamaan di Bali.

Penggunaan kain perca pada karya-karya mutakhir Unce Joy kian sering muncul akhir-akhir ini. Ia mengenang perkenalan dirinya dengan kain sudah dimulai sejak ia kecil.

“Gua banyak berkutat dengan kain. Nenek dan nyokap jahit, bikin selimut-selimut. Gua suka tertarik. SMP, gua ambil ekstrakurikuler membatik, dan berjumpa lagi dengan kain. Baru setelah mulai mengeksplorasi karya-karya ini, muncul ide buat pakai kain-kain bekas atau perca yang lebih banyak dibuang-buang. Kalau kita minta, garmen itu dengan sukarela dan senang banget. Dari situ gua menggali lagi, dan seni tekstil itu ada dan eksperimentasinya bisa bermacam-macam,” kata Joy.

Karya Uncle Joy dalam pameran tunggal “Grafitikasi,” di Orbital Dago, Foto: Orbital Dago.

Hal yang  paling menonjol pada karya-karya seniman berbasis street art ini adalah kebebasan yang mutlak dalam garapan artistiknya, yang tampak tak mengikuti suatu kaidah-kaidah akademik Yang ada hanya pertimbangan-pertimbangan artistik yang didasari pengalaman dan pengaruh-pengaruh dalam praktek di dunia komunitas street art.

“Maka judul ‘Grafitikasi’ menjadi suatu kata kerja yang menunjukan kecenderungan pengaruh masuknya praktek seni jalanan, termasuk juga lukisan mural ke dalam praktok seni lukis, sekaligus pelesetan dari istilah gratifikasi yang sering kita dengar sehubungan dengan kasus-kasus korupsi. Termasuk penggayaan dan penggunaan teknik dalam berkarya pada karya-karya Uncle Joy,” kata Rifky.

Uncle Joy atau Yoyo lahir tahun 1972 di Papua, lalu tinggal di Yogyakarta dan kemudian melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) tahun 1990-97 di Bandung. Dengan minat utama ke dunia seni dan desain lebih besar, maka kemudian ia melanjutkan kuliah di Akademi Desain Visi Yogyakarta (ADVY), di Yogya 1998-99. Tahun 2008, Uncle Joy kembali bekerja di industri surfing di Bali hingga 2013 dan mulai menjadi seniman lepas hingga sekarang.***

Profil Penulis

Suka menulis, musik, fotografi, bengong, menyendiri, dan lihat pohon. Pernah keluar tidak baik-baik dari salah satu perusahaan media beken di Jakarta lalu di-doxing setelahnya. Pernah diolok-olok geng ibu-ibu wellness di Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: