Galeri Pusat Kebudayaan Gelar Pameran Virtual Seni Rupa Wayang ‘Ramayana Mahabaratha’

MIKROFON.ID – Galeri Pusat Kebudayaan menggelar pameran Seni Rupa Wayang “Ramayana Mahabaratha”. Kali ini, pameran yang menjadi agenda rutin setiap hari wayang se-dunia di bulan November ini dilangsungkan secara online di Instagram dan Facebook Galeri Pusat Kebudayaan, berkenaan dengan situasi pandemi COVID-19.

“Dalam pameran ini diikuti 70 perupa se-Jawa  Barat dengan karya 100 lebih hasil seleksi. Melestarikan wayang dengan karya seni rupa bisa sangat menarik. Penyelenggaraan pameran ini tentunya akan menggalang donasi untuk para pekerja wayang. Semoga pameran ini bisa bermanfaat,” tutur Kurator Pameran Seni Rupa Wayang “Ramayana Mahabaratha”, Isa Perkasa, di Bandung, beberapa waktu lalu.

Dalam catatan kurator, menurut sejarahnya wayang ada di Indonesia sebelum munculnya agama hindu. Wayang merupakan warisan asli nenek moyang di pulau Jawa yang memiliki fungsi sebagai pemujaan kepada roh nenek  moyang dalam bentuk pertunjukan bayang-bayang, ketika  itu masih menganut animisme,  dinamisme.

Pada masa masuknya agama hindu di Indonesia, wayang  dipakai sebagai pertunjukan untuk agama dengan cerita Ramayana Mahabharata karya sastra dari India. Pada masa itu cerita wayang dia badikan dalam relief candi, seperti candi panataran, candi  jago, candi sukuh, dll. 

Pertunjukan wayang mulai dipentaskan dalam bentuk wayang beber purwa yang dibuat dari kertas daluang yang terbuat dari kulit kayu. Wayang beber ini berkembang  pada masa kerajaan Majapahit.

Pertunjukan wayang beber membuka gulungan ker tas daluang yang bergambar wayang, ceritanya Ramayana Mahabharata tetapi sudah mengalami akulturasi lokal seperti unsur Punakawan. 

Kemudian wayang beber ini makin berkembang dengan cerita Panji. Bentuk wayang  terus mengalami perkembangan dan perubahan terutama  penyempurnaan bentuk sehingga munculnya wayang kulit. 

Ketika munculnya agama Islam di pulau Jawa yang dibawa wali songo. Wayang pada masa ini selain sebagai sarana pendidikan juga berfungsi untuk dakwah. Dengan mengadopsi cerita Ramayana Mahabharata yang diubah menjadi sangat Islami seiring jatuhnya kerajaan Majapahit. 

Maka kerajaan Islam mulai tumbuh di Nusantara seperti masa kerajaan Demak, kerajaan Pajang, Mataram dan Cirebon.

Pada masa kerajaan Demak, bentuk wayang mengalami perubahan. Saat itu Wali Songo melakukan pembaharuan pada wayang yang meliputi bentuk wayang, pagelaran, cerita, peralatan seperti kelir,  blencong, atau lampu, debug  pisang untuk menancapkan wayang, gamelan dan bahan wayang seperti kulit kerbau.

Wayang menjadi karya seni  adiluhung, menjadi tontonan dan tuntunan. Pada masa kerajaan Demak, semua  wayang peninggalan Majapahit diangkut ke kerajaan Demak termasuk wayang beber. 

Kemudian wayang beber dianggap wujudnya tidak sesuai dengan kitab fiqih. Maka wayang beber tidak digunakan oleh kerajaan Demak. Para wali membantu raja Demak untuk mengubah dan menyesuaikan bentuk gambar dari wayang beber menjadi wayang kulit supaya tidak bertentangan dengan kitab fiqih.

Maka Sunan Giri melengkapi wayang purwa menjadi wayang kera serta menyusun ceritanya. Sunan  Bonang membuat pedoman posisi wayang kiri dan kanan panggungan. Sunan Kalijaga melengkapi wayang dengan kelir atau layar, gebog pisang, blencong, kotak wayang, kotak wayang, gunungan.

Sunan Kudus sebagai dalang wayang dengan iringan gamelan salendro. Raden Trenggana yang bergelar Sri Sultan Syah Alam Akbar III membuat wayang purwa dengan memperkecil ukurannya. Wayang perempuan rambut terurai, wayang ini disebut wayang raksasa bermata dua, wayang berwarna kuning dengan prada, wayang ini disebut wayang kidang kencana. 

Sunan Giri membuat wayang gedog tanpa kera dan raksasa memakai tekes, wayang perempuan rambut terurai, rapek, jamang, kalung, gelang, anting-anting, kelat bau, cerita lakon jenggala, Kediri, singosari, dll.

Sunan Kudus sebagai dalangnya. Pada waktu itu wayang beber yang dipertunjukkan di luar keratin memakai musik terbangan. Sunan Kalijaga membuat topeng  dari kayu, pertunjukan topeng  berdasarkan wayang gedog.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: