mikrofon.id

Galeri Mola dan Pameran Sunshine of Life, Upaya Menghidupi Seni dari Cimahi

Pameran seniman perempuan “Sunshine of Life” yang dilangsungkan 11 Februari-11 Maret 2022 mengiringi diresmikannya Galeri Mola Cimahi. Foto: Galeri Mola.

MIKROFON.ID – Seniman perempuan, Mola baru saja mengubah Art Mola’s Studio miliknya menjadi Mola Art Gallery yang lebih terbuka untuk publik. Bertempat di Kompleks GACC Blok N 23, Jln. Kolonel Masturi KM 3, Cipageran, galeri ini akan menjadi pendamping energi generasi peminat seni di Kota  Cimahi.

Peresmian Galeri Mola dibarengi dengan Pameran “Sunshine of Life” yang dilangsungkan 11 Februari-11 Maret 2022.

Untuk membangun vibrasi yang lebih kuat, maka seluruh seniman dalam pameran ini merupakan perempuan, termasuk kurator dan penulis yang mengawal berlangsungnya pameran ini.

Sunshine of Life menampilkan karya-karya perupa perempuan dari Bandung, Cimahi, Sukabumi, Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, Magelang, dan juga Papua.

Pameran ini sekaligus menyambut International Women’s Day (IWD) yang biasa diperingati setiap 8 Maret di seluruh dunia.

Dalam catatan kuratorialnya, Alia Swastika mengungkap ikatan antara isu lingkungan, terutama soal perubahan iklim dan degradasi kehidupan dengan bagaimana peran perempuan yang sangat kuat dalam proses menjaga ekosistem alam.

Dalam kelahiran gagasan eko-feminisme, para perempuan menjadi pusat bagi energi kehidupan dan menjadi penjaga utama bagi siklus pelestarian lingkungan.

Dalam eko-feminisme atau tepatnya feminisme yang menyandarkan diri pada peran dan pengalaman perempuan, energi kehidupan dilihat sebagai sesuatu yang feminin.

“Di sini, metafora ibu bumi muncul sebagai sebuah filsafat tandingan untuk melihat bagaimana alam bekerja dengan perspektif yang lebih feminin (feminisasi alam). Kemudian melihat identifikasi sifat-sifat alam dengan kondisi alamiah perempuan. Metafora ibu bumi merujuk ke tanah yang menjadi sumber kelangsungan hidup mahluk di dunia, sebagaimana seorang ibu yang melahirkan kehidupan baru di dunia,” tuturnya.

Dalam ruang-ruang kajian akademik, wacana ibu bumi kemudian banyak direlasikan melalui konsep eko- feminisme, yang juga terdiri dari beragam perspektif bergantung pada situasi kultural budaya di berbagai tempat. Di Indonesia, ada banyak contoh yang menunjukkan bagaimana perempuan mempunyai peran yang besar dalam upaya menjaga alam.

Perjuangan para ibu di Kendeng, Jawa Tengah, dalam menolak pembangunan pabrik semen di daerahnya, menjadi salah satu bukti nyata bahwa perempuan memahami alur kehidupan yang selama ini mereka rawat dan jaga.

“Mereka menggunakan cara-cara seni dan budaya yang puitik untuk melakukan perlawanan, dan berhasil bertaut dengan ingatan banyak orang,” kata Alia.

Demikian pula yang dilakukan Mama Aleta Baun di Nusa Tenggara Timur yang menggunakan tradisi tenun untuk menolak pembangunan infrastruktur di daerahnya.

“Perempuan mempunyai kesadaran bahwa mereka perlu untuk terus berefleksi karena kehidupan mereka berperan dalam membentuk makna bagi dunia. Baik di masa lalu maupun masa depan,” ujarnya.

Ibu Pemberi Energi

Karya-karya dalam dalam Pameran “Sunshine of Life” memberikan penghormatan pada sosok perempuan sebagai perawat dan penjaga kehidupan.

Seniman seperti Astuti Kusumo atau Dyan Anggraini menggemakan kembali relasi perempuan dan semesta.

Karya Astuti Kusumo berjudul “Ibu Bumi”, menunjukkan figur perempuan yang muncul di ”pusat,” memberikan energi pada seluruh mahluk hidup dan bentang alam yang mempunyai makna dan perannya masing-masing.

“Dengan menyadari posisi perempuan sebagai ibu bumi, kita menghormati seluruh kehidupan yang lahir dari rahimnya. Perempuan dalam lukisan ini digambarkan sebagai penari, untuk menyimbolkan beragam tradisi yang dijaga dan dihidupi oleh perempuan dari generasi ke generasi,” ucapnya.

Karya Dyan Anggraini melihat bunga matahari sebagai simbol dari energi yang menggerakan seluruh semesta. Matahari selama ini dipercaya menjadi pusat dalam kosmos bimasakti, di mana seluruh planet dan benda-benda alam berputar dalam garis edar mengelilinginya.

Dyan seperti menegaskan bahwa matahari menjadi sosok perempuan, di mana kehidupan berporos pada dirinya dan ia memberi energi bagi semua.

Karya Lini Natalini yang berjudul “Landscape” membawa imajinasi atas bentang alam masa kini yang sudah berubah karena campur tangan manusia, di mana yang alami dan yang buatan sering kali telah kabur batasannya dan mengubah cara kita memandang alam itu sendiri.

Woro Indah Lestari mencatat ada banyak perubahan yang muncul berkaitan dengan bagaimana manusia menghadapi pandemi. Lukisan ini menampilkan pohon sebagai metafor utama untuk melihat relasi antara manusia dengan alam dan semesta.

Pohon menjadi sumber kehidupan. Tetapi menjadi hal yang paling banyak dikorbankan ketika manusia berupaya mengejar kemajuan.

Sedangkan Emmy Go menggambarkan desa tempatnya tinggal di kaki Gunung Ijen, Banyuwangi. Ia ingin membagikan perasaan damai yang dialaminya ketika melintasi hutan pohon, membaui dedauan dan embun pagi, bahkan pengalaman untuk memakan buah-buahan yang ditemukan di hutan.

Yashumi Iisi dan Setia Utami melihat bagaimana kehidupan dan bahasa dari mahluk lain juga merefleksikan apa yang dialami oleh manusia. Yashumi Iisi dalam karyanya “Beda Bahasa” melihat bagaimana manusia seringkali tidak dapat berkomunikasi dengan baik untuk mencapai kesepahaman, karena ada bahasa-bahasa berbeda yang tidak bisa dimengerti satu sama lain, yang kemudian dimunculkan dalam metafor ikan lele dan burung.

Sementara Setia Utami tertarik untuk mengamati kehidupan rusa purba Irlandia, salah satu jenis hewan yang hampir punah, sebagai cara untuk melihat kembali bagaimana perkembangan kehidupan manusia telah membuat hewan-hewan tersingkir dan tak lagi punya habitat kehidupan.

Kehadiran hewan ini digambarkan dalam gaya yang naif, untuk memberi nuansa humor di tengah kegamangan kita melihat bagaimana hewan purba mulai punah satu per satu.

Pameran seniman perempuan “Sunshine of Life” yang dilangsungkan 11 Februari-11 Maret 2022 mengiringi diresmikannya Galeri Mola Cimahi. Foto: Galeri Mola.

Pengalaman Diri

Sebagian dari para seniman juga melihat ke dalam diri dan pengalamannya sendiri: Tentang bagaimana perempuan masih perlu untuk terus memperjuangkan identitasnya agar bersama-sama setara dengan gender- gender yang lain atau meraih kebebasan individual untuk kehendak diri, dan refleksi personal lain yang lahir dari cara mereka merawat ingatan dan pengalaman.

Desy Gitary merefleksikan pengalamannya menjadi perempuan lajang yang harus berhadapan dengan berbagai stigma masyarakat yang bahkan sering memaksanya berhadapan dengan sesama perempuan.

Status lajang memancing banyak kisah fiksi yang diedarkan dalam perbincangan keseharian yang biasanya mengarah pada hal-hal yang negatif. Perempuan lajang didesak bersiap untuk memasuki ruang yang penuh intrik dan halusinasi.

“Bagi Desy, melalui karyanya Positive Dualism, jawaban bagi kegundahan-kegundahan ini adalah memperkuat sumber kebahagian dari diri, berpikir positif atas posisinya, dan menggunakan energi untuk hal yang produktif,” ujar Alia.

Karya Inanike Agusta menggunakan metafora kupu-kupu untuk menyimbolkan identitas dirinya sebagai perempuan yang hidup sebagai awak pesawat. Kupu-kupu diyakini sebagai simbol keindahan, tetapi juga mempunyai kehendak bebas untuk terbang dan melintasi angkasa.

Dalam lukisannya, ia juga menggunakan lorong sebagai metafor atas perjalanan waktu yang dialaminya, perubahan identitas sosial dari lajang, menikah hingga menjadi ibu, dan bagaimana tubuh dan dirinya berubah seiring dengan pergeseran identitas tersebut.

Mola membawa kisahnya masuk dalam dunia seni sebagai inspirasinya berkarya. Dalam karya ini, ada ingatan tentang bagaimana ia memasuki seni sebagai caranya untuk ‘mengada’, atau memberi makna baru pada kehidupan yang telah dilaluinya.

Melalui seni, ia mengolah dimensi batin dalam kehidupannya, sehingga menemukan seni sebagai manifestasi rasa cinta terhadap hidup dan kemanusiaan.

“Mola melihat bahwa manusia melakukan aktivitas seni untuk mencari keseimbangan antara dunia lahir dan dunia batin, dunia material dan non-material, serta mendapatkan sesuatu untuk mengisi jiwa. Semangat ini pula yang ingin ditularkan ketika ia menggagas ide untuk mendirikan galeri,” tutur Alia.

Pameran seniman perempuan “Sunshine of Life” yang dilangsungkan 11 Februari-11 Maret 2022 mengiringi diresmikannya Galeri Mola Cimahi. Foto: Galeri Mola.

Karya Maria Tiwi merupakan ungkapan atas sosok perempuan dengan kompleksitas pemikiran, pengalaman, dan pemaknaan hidup.

Dalam berbagai teori kajian perempuan, dipercaya tidak ada definisi atau cara hidup yang tunggal karena semua perempuan mengalami kehidupan berbeda sesuai dengan sejarah, kebudayaan, tata cara masyarakat, yang bahkan menunjukkan perbedaan dalam hal personal seperti makna tubuh, institusi pernikahan, dan sebagainya.

Berkait dengan yang digambarkan Maria Tiwi, Ulfah Yulaifah melihat secara khusus bagaimana perempuan memainkan perannya sebagai seorang ibu. Ulfah bermaksud menunjukkan bagaimana perbedaan dan keragaman pemikiran dan kehidupan perempuan ini, serta lapis-lapis konteks sosial budaya yang ada di baliknya, juga mempengaruhi konstruksi sosial seorang ibu.

Termasuk bagaimana ibu menjadi sosok yang diharapkan bisa mengirimkan doa kepada mereka yang pernah hidup di dalam tubuhnya. Ibu juga acap dikaitkan dengan metafor “Sayap Pelindung” yang menjadi judul bagi karyanya.

Ada juga beberapa seniman yang mencoba membawa persoalan kebebasan dan kehendak individu ini dalam kaitannya dengan kehidupan di sekitarnya, meskipun tidak secara langsung berbicara tentang konteks sosial atau politik dalam huruf kapital.

Relasi antar manusia dalam kehidupan nyata menimbulkan pergesekan yang muncul dari perbedaan cara pandang, atau bagaimana kelompok dominan memaksakan nilai yang dianggap normal dan menetapkan batasan sosial menurut ukurannya.

Prajna Dewantara melalui karyanya menelusuri kisah dalam Mahabharata tentang sosok Drupadi yang merupakan figur penting dalam kisah tersebut. Tetapi perannya seringkali direduksi sebagai pihak yang dikorbankan dalam perang saudara tersebut.

Prajna menawarkan pembacaan baru yang tidak banyak diulas dalam kisah Mahabharata ketika apa yang dialami Drupadi ketika tubuhnya dilucuti dan diobjektivikasi menjadi tontonan. Dalam pandangan Prajna, inilah bentuk pelecehan seksual yang justru dirayakan, dan Drupadi harus diam tak berdaya, menerima dengan penuh kekuatan.

Karya Nia Gautama membenturkan ruang publik dan ruang privat, serta bagaimana perempuan melakukan negosiasi atas batasan keduanya yang acap memosisikan perempuan sebagai pihak terpinggir, terutama pada periode waktu ketika kehidupan manusia mengalami disrupsi dunia maya.

Dengan menegosiasi keduanya, perempuan membangun ruang aman -sesuatu yang harus diperjuangkan- dan menjadikan solidaritas antar perempuan sebagai cara untuk bertahan untuk menghadapi bentuk-bentuk kekerasan baru termasuk di dalamnya persoalan pelanggaran privasi, distribusi citra gambar tubuh perempuan yang cenderung mengobjektivikasi, dan lain sebagainya.

Nia juga merefleksikan bagaimana masyarakat modern menjadi semakin ”performatif” dengan membagikan kisah hidupnya kepada orang banyak melalui media sosial.

Pameran seniman perempuan “Sunshine of Life” yang dilangsungkan 11 Februari-11 Maret 2022 mengiringi diresmikannya Galeri Mola Cimahi. Foto: Galeri Mola.

Kekuatan Berjejaring

Alia menuturkan, keenambelas seniman dengan enambelas karya ini pada akhirnya menawarkan enambelas gaya seni yang berbeda. Setiap orang diberi kebebasan untuk menafsir tema ”human interest” yang ditawarkan penyelenggara dan memberinya narasi baru sesuai dengan bagaimana mereka memandang dunianya.

Demikian pula dengan gaya lukisannya, semua seniman dapat mempresentasikan karya yang sesuai dengan kecenderungan karyanya selama ini. Beberapa menunjukkan gaya ekspresif.

Merujuk pada bagaimana berkarya atau melukis menjadi bagian dari cara untuk mengartikulasikan percakapan dalam dirinya atau emosi-emosi yang selama ini tak bisa disampaikan karena ada anggapan bahwa perempuan tidak boleh mengungkapkan perasaan secara jujur.

“Jadi dapat dikatakan bahwa melukis atau menciptakan karya merupakan sebuah wahana untuk mengenali diri melalui emosi yang seringkali terpaksa ditutupi karena konstruksi sosial atas sebuah gender,” ujarnya.

Para seniman dalam pameran ini menunjukkan bahwa sapuan kuas dan goresan mereka adalah energi kehidupan yang dibangun melalui pergulatan dengan kehidupan dan pengalaman dalam mengolah realitas.

Selain bersifat ekspresif, beberapa karya juga merupakan sebuah percobaan menggabungkan realisme dengan gaya-gaya yang lebih impresionistik. Sehingga realitas yang coba mereka tawarkan mendapatkan garis bawah, diberi penekanan, untuk bisa menciptakan imajinasi baru yang berjarak dari kehidupan itu sendiri.

Karya-karya yang bersifat abstrak juga menjadi bagian dari gagasan untuk menggali nilai-nilai individualitas, di mana para seniman mesti bersitegang dengan beragam kemungkinan untuk bisa menemukan dirinya, menemukan karakter kekaryaannya.

Dengan cara itu, Alia menambahkan, karya dan diri seniman kemudian menjadi satu ruang untuk saling becermin. Dalam gaya-gaya abstrak, para seniman tidak menjadikan objek atau benda sebagai cara mengekspresikan pemikiran atau perasaannya. Melainkan melalui garis, sapuan kuas, warna, komposisi, dan sebagainya.

Karena dekatnya pengalaman penciptaan ini dengan upaya untuk menemukan dan mengenali diri, maka tidak mengherankan jika gaya abstrak juga sering dibaca dalam konteksnya dengan spiritualisme.

“Apakah karya-karya seniman perempuan menunjukkan bentuk ”feminin”? Adakah yang dapat dikenali sebagai femininitas dalam karya-karya seniman perempuan? Dalam literatur sejarah seni kanon, sering kali disebut bahwa estetika feminin merujuk pada hal-hal yang bersifat kerajinan (dianggap bukan seni), misalnya merajut, menjahit, membuat karya keramik, atau anyaman,” katanya.

Para perempuan yang melakukan kerja-kerja kreatif dan seni semacam itu tidak dianggap sebagai seniman. Karenanya banyak di antara mereka kemudian hilang dalam catatan sejarah seni. Sejarah seni lebih berpihak pada narasi-narasi besar, bentuk-bentuk seni modern yang monumental, dan kanonik.

Ia menjelaskan, gagasan bahwa karya perempuan mengandung nilai feminin seharusnya lebih dihubungkan dengan kenyataan bahwa karya-karya ini lahir dari mereka yang bergender perempuan dengan pengalaman, pemaknaan atas tubuh, respons terhadap situasi sosial, yang berbeda dengan gender-gender lain. Femininitas dibangun oleh subjektivitas diri. Bukan melalui batasan atau kategori yang ditentukan oleh para akademisi/teoretisi.

Melalui peristiwa pameran semacam ini, kata Alia, para seniman membangun dialog tentang dunia yang dibayangkan bersama yang aman untuk perempuan.

Di tengah berbagai perjuangan persamaan hak dan kesetaraan yang jalannya tampak masih sangat panjang, misalkan bagaimana para perempuan berjuang untuk mengesahkan Rancangan Undang-Undang anti Kekerasan Seksual, Undang-Undang Pekerja Rumah Tangga, atau perjuangan menentang disahkannya Omnibus Law.

“Semua itu mendorong perempuan untuk makin kuat berjejaring dan berjuang bersama untuk kehidupan yang lebih baik. Dari pameran ini, pertemuan antar perempuan bisa menjadi ruang untuk saling menguatkan satu sama lain. Kemudian memberikan energi yang lebih untuk perempuan lain di sekitarnya,” tuturnya.

Pameran seniman perempuan “Sunshine of Life” yang dilangsungkan 11 Februari-11 Maret 2022 mengiringi diresmikannya Galeri Mola Cimahi. Foto: Galeri Mola.

17 Peserta Pameran:

Dyan Anggraini dari Yogyakarta

Erica Hestu Wahyuni dari Yogyakarta

Yasumi dari Magelang

Astuti Kusumo dari Yogyakarta

Innanike dari Jakarta

Setia Utami dari Yogyakarta

Prajna Dewantara dari Jakarta

Ulfah Yulaifah dari Sukabumi

Mola dari Bandung

Desy Gitary dari Yogyakarta

Nia Gautama dari Bandung

Emmy Go dari Sorong

Tiwiq Maria dari Jakarta

Ulil Gama dari Jakarta

Woro Indah Lestari dari Surabaya

Lini Natalini Widhiasi dari Surabaya

Penulis Pameran:

Alia Swastika dari Yogyakarta

Heti Palestina Yunani dari Surabaya.***

Tinggalkan Balasan

Back to top
%d blogger menyukai ini: