Fotografi Abstrak Isi Pameran The Appearance of Disappearance di Orbital Dago

Di Orbital Dago, Bandung, gelaran Bandung Photography Triennale mengangkat subtema Dystopian Diffraction: The Appearance of Disappearance. Ada lima karya seniman yang dipamerkan selama 14 September-14 Oktober 2022.

Kelima perupa ini menampilkan keutamaan aspek-aspek formal, cenderung mengarah pada abstraksi, atau menjauh dari visual fotografi yang umumnya bersifat representasional.

Meski karya-karya yang diciptakan ditampilkan secara abstraksi, para perupa membawa pesan yang aktual yang menyinggung terkait kondisi lingkungan, kritik dalam media fotografi, serta tegangan antara keindahan sekaligus kehilangan.

Kurator pameran Bandung Photography Triennale di Orbital Dago, Rifky “Goro” Effendy mengungkap, meski berlatar fotografer, beberapa perupa tidak lagi menggunakan alat kamera. Seperti pada karya Iswanto Soerjanto, ia menggunakan kertas foto khusus yang sensitif kepada sinar.

Kertas foto ini kemudian dilumuri atau direndam ke dalam cairan kimia (Cyanotype) dan teknis fotogram, mengontrol cahaya secara manual sehingga menghasilkan berbagai efek warna spektrum biru di atas permukaan kertas tersebut.

Sedangkan karya-karya dari Shopie Chalk asal Amerika Serikat dihasilkan dengan menggunakan medium kimia yang digabungkan dengan materi alami. Praktik fotografi keduanya menandai bagaimana memaknai fotografi yang berkembang ke arah konsepsi pembentukan citra abstrak, yang cenderung sublime, nyaris spiritual, mendekati proses dan visual seni lukis abstrak modern.

Michael Binuko dari Indonesia menampilkan karya berbeda dengan tiga seniman lainnya yang masih menggunakan kamera tetapi menghasilkan citraan/image abstraksi. Ia menghadirkan empat formasi ritmis lingkaran-lingkaran yang terbentuk melalui foto digital dari pantulan dua cermin yang berhadapan, sehingga menghasilkan jumlah lingkaran dan kedalaman virtual yang tak terhingga walaupun bidang cermin itu datar.

Karya foto Jessica Arseneau dari Kanada menangkap suasana dari pemandangan polusi industrial dengan pengaturan kompisisinya sehingga menghasilkan gambar yang dramatis.

Sementara foto-foto Anh-Thuy Nguyen dari Amerika Serikat menghadirkan citraan hitam-putih yang puitis, suatu rangkaian citraan batang pohon yang meneteskan cairan berwarna kehitaman.

Rifky menutukan, karya ketiga seniman ini selain mengeksplorasi bentuk visual foto, juga sekaligus mengkritik persoalan-persoalan: baik jebakaan di dalam media fotografi saat ini maupun menyentuh isu-isu kerusakan alam dan lingkungan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: