Extreme Moshpit: Media Alternatif Impian Eben Burgerkill yang Mewujud Nyata

Eben. Foto: Burgerkill.

MIKROFON.ID – Entah sudah berapa kali kuping Eben mendengar, “BK lagi, BK lagi. Burgerkill lagi, Burgerkill lagi.”

Para pelantang cibiran itu lupa, ada Extreme Moshpit. Orang-orang itu lupa. Eben yang menjadi bidan kelahiran Extreme Moshpit.

Tetapi, visi awal Eben merintis Extreme Moshpit bukan untuk menutup mulut orang-orang yang terus menyindir BK,seolah-olah band yang terlahir di Ujungberung ini menjadi penghalang band pendatang baru untuk mencuat.

Bagi banyak orang, Eben adalah motor penggerak Burgerkill. Tetapi bagi mikrofon.id, Eben adalah bahan bakar bagi perjalanan panjang musik Indonesia.

Bahan bakar itu ia kumpulkan dari berbagai sumber, latar belakang, genre, aliran, untuk disebarluas melalui pengaruh Extreme Moshpit sebagai media alternatif.

Lewat artikel ini, mikrofon.id ingin mengangkat arsip hasil wawancara kami dengan Eben pada 2019 lalu.

Artikel ini adalah bentuk apresiasi tertinggi mikrofon.id atas kontribusi almarhum Aries Tanto, atau biasa dikenal Eben, pada masa depan ekosistem musik beserta sektor pendukung di sekitarnya.

Awal Terbentuk

Rancangan mentah Extreme Moshpit telah dicicil oleh suami dari Anggi Pratiwi itu sejak lebih dari 15 tahun lalu. Pemicunya, Burgerkill kelimpungan mencari media promo album baru mereka saat itu, ”Beyond Coma and Despair” tepatnya pada 2006.

Kala itu, ruang bagi musisi bawah tanah masih belum mendapatkan tempat khusus di kanal media digital yang ada. Masa itu merupakan awal era internet yang masih merangkak: tak ada keramaian Instagram, belum hadir ingar-bingar Youtube.

”Dulu enggak ada radio yang punya program nyetel musik ekstrem. Setelah zaman Radio GMR habis, pemutaran musik keras di Bandung susah, belum ada yang berani nyetel grind, metal, dan musik yang dianggap ekstrem,” kata Eben, ketika itu.

Pengisi gitar di Burgerkill itu sibuk mencari media yang bersedia menjadi peluncur promo album metal berisi 12 lagu, yang dirilis 2006 itu. 

Pada akhirnya, ia diterima Radio CBL, yang bisa menampung warna musik keras, dengan dibantu teman-temannya. Impian Eben untuk mengangkat potensi karya ekosistem musik cadas terwujud.

Setahun kemudian, pria kelahiran Jakarta, 26 Maret 1997 itu dipercaya mengisi program ”Radio Distorsi” bersama Irvine Jasta. Raungan lagu berdistorsi keras mulai leluasa diputar. Pecinta musik bawah tanah mendapat asupan banyak informasi terkait perkembangan musik, promo gigs, hingga wawancara band.

Sekitar 2009, Irvine lepas dari acara itu. Kemudian, Eben diajak Gebeg, drummer Taring (dan juga additional drummer untuk sederet band papan atas lainnya), untuk membuat program serupa di Radio Oz.

Ketika itu, Gebeg aktif di Radio Oz, memandu program Oz Galasin. Baru pada Januari 2010, dimulailah siaran perdana Extreme Moshpit dengan duet Eben-Gebeg.

Mereka diberi ruang siaran selama dua jam, setiap Kamis. Kala itu, scene metal tengah merangkak naik. Nama Burgerkill pun sedang menanjak.

Di Radio Oz, siaran Extreme Moshpit makin lengkap. Ada studio beserta instrumen dan sound system pendukung, sebagai penjamu live perform band tamu.

Dengan kelengkapan itu, band yang merilis album atau single baru bisa diuji langsung. Sejak saat itu, rekaman-rekaman band cadas makin sering menggelontor ke meja Extreme Moshpit, berharap dapat dikurasi.

”Saat uji coba siaran 3 bulan, sebulan sudah nyentang. Kami berdua enggak ada background penyiar. Tetapi band nyaman karena kayaknya kami terbiasa dengan jejaring komunitas yang kuat. Extreme Moshpit sempat mengalahkan program lain. Sempat menjadi program radio terbesar di Indonesia, apalagi setelah bisa streaming, karena Oz berjejaring di beberapa kota,” kata Gebeg, yang menjadi duet permanen Ebenz di Extreme Moshpit TV, bahkan hingga Eben berpulang, Jumat, 3 September 2021.

Torehan Youtube

Bertahun-tahun, sepaket host ini berhasil menjadi penghubung antara musisi dengan penggemar musik ekstrem selama beberapa tahun. Eben-Gebeg mulai membuat acara di Youtube, Extreme Moshpit TV, yang membuat acara ini makin nge-hits, apalagi setelah disuntik kocaknya co-host Andre Vinsens yang menambah geger tawa di tengah acara.

Suasana studio Extreme Moshpit dirancang untuk nyaman ditonton anak muda. Ruangan studio di Chronic Rock, Jalan Sawahkurung, dibuat layaknya kamar tempat ngumpul kawan setongkrongan.

Ada sofa dengan latar beragam stiker, poster, hingga koleksi rilisan fisik vinil serta CD. Ada juga area khusus yang disebut Extreme Moshpit Corner sebagai sudut pengupas album band dalam dan luar negeri, serta Roots yang mengangkat personal musisi inspiratif.

Acara ini padat dijejali banyolan, keisengan, dan aksi ­nyeleneh. Selain membahas perkembangan musik ekstrem dari negara lain, termasuk Amerika Serikat dan Eropa, mereka menambah tema spesifik seperti mengundang manajer band atau membahas artwork karya musisi.

Beberapa kali Extreme Moshpit siaran di konser besar seperti Hammersonic, sampai festival luar negeri di Kuala Lumpur, dan acara sekelas Wacken Open Air di Jerman.

Extreme Moshpit TV juga sempat siaran di Pendopo Kota Bandung. Penghuni rumah dinas yang kala itu diisi Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menyediakan waktu untuk membahas perkembangan musik di Kota Bandung. Wawancara dilakukan eksklusif, mengalir tanpa naskah.

Duet penyiar ini boleh jadi merasa minim pengalaman sebagai pembawa acara. Tetapi mereka unggul dalam materi wawancara dan bongkar album dibanding acara serupa. Apalagi mereka ikut nongkrong, menjadi bagian, sekaligus dibesarkan lingkungan underground.

Mereka menjadi saksi dalam perjalanan banyak band hingga mencapai label legendaris. Dengan keterlibatan sebagai pelaku di perkembangan lingkungan bawah tanah, Eben-Gebeg dengan mudah membedah personel band, termasuk gosip dari lingkaran rockstar.

Acara dibuat seadanya, spontanitas, saling bertukar cerita, sehingga selalu ada hal baru yang menjadikan Eben-Gebeg tak bosan mengawal Extreme Moshpit.

”Mereka (musisi) tahu risiko saat review (karya) bakal dipoyokan (dicela). Mereka penasaran bakal dicela apa. Saya dan Gebeg membaca dari kecenderungan yang ada, ketika semua talkshow sama gayanya, kita balikin. Kira-kira dapat respons enggak sesuatu yang kita balikin? Ternyata sambutannya keren, ketika kita kasih edukasi dan disusupi humor daripada talkshow serius tentang industri. Konsep kita mah dibawa nongkrong, bikin nyaman musisi,” tutur Eben.

Kekuatan Kolektif

Selama 11 tahun, Extreme Moshpit memegang peranan sebagai penahan kokohnya jembatan antara musisi, karya, dan penikmatnya.

Tembok penghalang dalam eksistensi karya musik cadas juga harus dilompati Extreme Moshpit pada awal kemunculannya.

Kini, Extreme Moshpit terus melengkapi kanal medianya dengan acara podcast, atau fitur lain yang bisa diakses langsung dari aplikasi Extreme Moshpit Radio.

Tak berlebihan jika Eben dianggap sebagai konseptor penggerak industri musik Tanah Air. Lewat Extreme Moshpit Radio, ia mengajak kawanan musisi untuk mengisi siaran dengan keragaman genre, kepadatan isu, setiap hari selama seminggu.

Merawat ekosistem musik underground yang sudah terbangun sejak era 1990-an, 30 tahun lalu, bukan perkara mudah.

Minimnya ruang pertemuan antara pecinta musik dengan musisi bisa berakibat merosotnya hasrat berkarya, terputusnya regenerasi musisi, sampai hilangnya lagu penyemangat hidup para penggemarnya.

Eben pernah mengisi ruang promo lewat zine, di masa medium cetak masih berjaya. Dengan menorehkan luapan ekspresi via zine, Eben telah menyadari pentingnya regenerasi.

Di era media elektronik dan digital, ia masih berjuang untuk menyuarakan talenta yang terpental dari radar trending

Melalui Extreme Moshpit, Eben berupaya untuk menyuntik mental-mental pelaku musik untuk tetap menuliskan liriknya, mengaransemen musik, menawarkan rasa kekaryaan baru, supaya bisa terus memasok energi bagi para penggerak circle pit di depan panggung.

Extreme Moshpit mungkin menjadi salah satu impian Eben yang terlaksana. Namun, tak semua ambisi menjadikan seseorang ingin “manggung” sendiri.

Sebab, leburan manusia yang terlibat atau sekadar menikmati Extreme Moshpit menjadi bukti: pergerakan kolektif di ranah musik bawah tanah selalu terjaga.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top
%d blogger menyukai ini: