Extincted Setrum Ulang Agresifitas Metallic Hardcore

Dari gelombang genre yang telah hadir di muka bumi, band asal Bandung, Extincted lahir dengan memilih metallic hardcore untuk merangsek ke tengah ramainya ekosistem musik ekstrim.

Extincted menyetrum ulang kejayaan metallic hardcore masa 90an, dengan agresifitas death metal yang terkadang menyisipkan unsur hardcore dalam konstruksinya.

Para personel Extincted menunjuk pengaruh band jebolan 90an seperti In Flames, Arch Enemy, Trivium, hingga pasokan unsur hardcore dari band semacam Knocked Loose.

Extincted dibentuk 2021 oleh Lucky ‘Lukita’. Nama ini santer di kalangan underground Kota Bandung dari kontribusi mengisi Hellbeyond, Tragedi, Eyefeelsix, Godless Symptoms, Lose It All, sampai Birds of The Coming Storm.

Satu persatu, personel memenuhi tubuh Extincted. Ada Airlangga Leonardo (Rangga) dari Tragedi, Hellbeyond, dan Nemesis (vokal), Reza Pratama dari Vertical Abuse (gitar), Mufti Widi (drum), serta Reza Septian dari Punitive (gitar).

Sambil menunggu sederet pasokan 12 lagu yang telah siap menjadi album, berkenalan dengan metallic hardcore yang diusung Extincted ini bisa dimulai lewat single Piromania.

Lagu ini menjadi bagian dari album pita kaset kompilasi New Evidence besutan Grimloc Records beberapa waktu lalu, dan sudah bisa didengarkan via platform musik digital.

Lewat teknik serbacepat, Piromania dibuka bergemuruh. Gelegar drum bertempo rusuh dengan gaya bomb-blast yang menebalkan riff penuh palm-mute dan chug-part. Chorus diisi melandai, menetralkan massa moshpit untuk sekadar headbanging.

Tremolo khas death metal tersisip di tengah selepas chorus, mengimbangi beat drum yang kembali dipacu blasting. Piromania ditutup dengan breakdown berat bertempo rendah untuk menekankan pesan dari lirik.

Meski lagu diracik Lukita, ia membebaskan personel lain, terutama sektor vokal yang dipercayakan pada Rangga untuk mengeksplorasi teknik sendiri. Hasilnya, parau-kering yang dilantangkan Rangga bisa membaur kuat dengan karakter instrumen dan efek yang ditawarkan Extincted di Piromania.

Foto: Extincted.

Pilihan Genre

Lukita menceritakan, proses mencipta Piromania ini terhitung cepat. Meski telah menyimpan 12 lagu yang dicicil selama pandemi, Piromania dirancang mendadak demi memenuhi tawaran kompilasi New Evidence dari Grimloc Records.

Ia mengungkapkan, genre yang mereka usung membangkitkan kembali gairah metallic hardcore medio 90an. Meski sempat naik dalam beberapa masa, lima tahun terakhir ini nuansanya seperti hilang.

“Ketika kami kembali menggaungkan metallic hardcore 90an, kami meyakini kalau setiap genre musik tidak akan punah. Setiap genre akan terus mendapat respons di masa mendatang, dalam bentuk apapun. Semua musik terus berputar melewati masa,” ujarnya.

Dari setumpuk genre yang bisa mereka pilih, metallic hardcore diburu karena agresifitasnya. Di beberapa bagian, asupan hardcore bisa menekankan porsi narasi yang disodorkan. Campur-aduk tempo dalam lagu dibentuk supaya memberi kesempatan barudak di depan panggung mengatur nafas saat pogo.

“Sebenarnya kami memburu agresifitas metallic hardcore. Kalau hardcore hidupnya dari punk, beberapa ke thrash. Dari hardcore dimunculkan chugga, breakdown, crossing-crossing, sampai memasukkan unsur death metal. Metallic hardcore mempersatukan agresif thrash dan tentu saja brotherhood hardcore,” katanya.

Lukita menekankan pentingnya gairah nge-band yang tidak dipengaruhi misi menggaet pendapatan.

“Ketika kita bikin lagu, karya, terus mikirin bakal laku atau balik modal, berarti mikirnya bukan mau menghibur, tetapi pure bisnis. Pemilihan metallic hardcore juga karena passion, karena kalau fokusnya tajir mah milihnya genre yang ngetren,” kata Lukita, yang juga song writer stok lagu-lagu Extincted.

Reza Pratama tertarik bergabung dengan band ini karena metallic hardcore mampu melansir kemegahan 90an yang mudah direspons baik generasi berbeda.

“Karena landai, santai, enggak usah moshing. Dinikmati buat headbang. Kemunculan di luarnya juga sama kalau kita lihat pergerakan Dismember, Gatekeeper, Harm’s Way, ini kayak berputar balik lagi ke 90’s yang heavy, deep, low,” ujarnya.

Foto: Extincted.

Awal Terbentuk

Latar para personel Extincted telah dikenal ekosistem musik ekstrim dan subkultur Kota Bandung. Lukita punya pengalaman setumpuk di panggung ekstrim metal, punk, atau hardcore sejak SMA, bersama Hellbeyond, Tragedi, Eyefeelsix, Godless Symptoms, Lose It All, sampai Birds of The Coming Storm.

Jebolan Seni Rupa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung tahun 2000 itu juga kesohor sebagai ilustrator yang karyanya mengisi sampul album band hingga artwork di banyak artikel clothing kenamaan.

Reza Pratama sempat menulis artikel musik di berbagai zine dan majalah subkultur. Airlangga Leonardo yang biasa dipanggil Cepot jadi langganan pengolah visual band untuk Noah, atau menjejak karya visualnya di video Collapse, Kidsway, Alone At Last, dan yang terkini kolaborasi Burgerkill dengan produk sepatu Saint Barkley.

Dengan berbekal 12 lagu yang telah direkam di rumah dengan perangkat yang ada, Lukita akhirnya bisa mengumpulkan satu per satu personel dalam waktu 7 bulan.

“Semua lagu udah siap. Tinggal dikasih rasa sama personel yang baru gabung,” katanya.

Semua personel terkumpul tanpa proses ribet atau seleksi ketat. Reza Pratama mendadak direkrut saat nongkrong bareng.

Cerita Mufti yang sebenarnya unik. Meski telah mengasah teknik drum sejak SMP, ia lama memanjakan kuping dengan genre melodic core atau punk semodel Bad Religion, NOFX, atau No Use for A Name. Sodoran metal ekstrim yang ia dapat dari Lukita tak membuatnya lekas nyambung.

“Awalnya saya pikir genre (metallic hardcore) ini terlalu tua. Ke telinga ini harus pelan-pelan. Ada rasa penolakan ya, ke telinga. Waktu itu saya mikir, band hardcore Terror aja udah paling tua,” katanya, terkekeh.

Buat musisi yang selera pengaruh musiknya pilih-pilih sembari acak sembarang, Mufti mulai menemukan unsur-unsur serupa yang ia temui dari band papan atas lawas.

“Awal mulanya dicekokin terus dengerin band hardcore 90an. Dibikin ulang Extincted. Ketukan drum, style, di situ mulai kebuka musik-musik sampai Cataract, akhirnya masuk. Dengerin Knocked Loose, Chamber, Kublai Khan, lama-lama suka beneran,” ujarnya.

Meski tak mendapuk diri sebagai pimpinan band, Lukita tak bisa menolak bahwa dirinya paling senior, baik usia maupun pengalaman nge-band, di antara personel lainnya. Ia mengarahkan teknik berproses Extincted yang didesak mandiri, memanfaatkan proses rekaman di perangkat lunak komputer Lukita diterapkan ke seluruh personel.

Mereka diajari cara nge-take, sekalian pembelajaran tone nada, power, sampai endurance,

“Itu yang bikin saya semanget bikin band. Semua harus ngerasain proses dan semua ikut andil,” kata Lukita.

Rangga juga merasakan pengalaman sama. Sewaktu di Nemesis, ia menjalani proses band yang disiplin.

“Dulu recording sedikit-sedikit ke studio. Planning disusun, karena Nemesis band disiplin. Di Extincted koboy pisan. Kita diajarin home recording. Jadi kudu lebih adaptasi. Dulu take equipment-nya ya yang itu-itu. Sekarang ngulik jadi challenging aja sih, jadi lebih eksplor. Karena terbiasa dengan persiapan yang panjang, ini saya ngerasa beruntung karena ngerasain segalanya lebih gampang karena teknologi,” kata Rangga.

Dengan proses baru yang digarap sederhana ini, ia merasa teman-teman se-band sudah mengerti satu sama lain, nothing to lose. Bermusik jadi kerasa maksimal.

“Bisa dibilang cost-nya minim banget. Karena skill temen-temen sudah nambah, alat juga jelas. Saya jadi mikir, apa ini yang dirasain senior-senior yang main band lebih dulu? Udah enggak mikirin uang dari band. Dulu merhitungkan cost Rp15-20 juta recording doang. Sekarang biaya produksinya bisa ditekan,” katanya.

Lukita paham betul bagaimana cara mengembalikan Extincted ke gairah masing-masing personelnya. Awalnya ia sendiri yang akan mengisi posisi vokal.

“Asalnya mau saya. Tapi kerasa ribet lah. Mending nyari orang lain aja. Pas saya bikin lagu-lagu ini, saya mikirin teknik vokal. Tapi bukan sekadar nama atau kualitas vokalis. Lebih ke, ‘Mau enggak calon vokalisnya berproses sama saya?’ Karena meski materi sudah jadi tetap ada proses bersama,” tutur Lukita.

Tak banyak kriteria yang diharapkan Lukita saat mulai mencari unit-unit pengisi Extincted. Ia tidak pernah melihat dasar dan latar belakang persona, yang penting mau berproses dari awal.

Ia paham betul jarak generasi yang membuat Reza dan Mufti kesulitan melebur gairah dengan unsur musik Extincted. Tetapi generasi segar ini pula yang membuat kagum Lukita.

Personel muda ini yang punya karakter ngegas belajar, mendalami rilisan-rilisan terdahulu, yang membuat Lukita santai mengalirkan narasi-narasi dan hierarki band legendaris di awal sejarah perkembangannya.

“Intinya ini proses kreatif. Orang-orang kadang ada ide tapi enggak dikeluarin. Malu ngeluarin ide. Saya biasa mancing. Kan dari dulu kita kenal proses jamming. Makanya saya tinggal ngasih materi. Terus dipersilakan masukin unsur yang dipengenin personel,” kata Lukita.

Foto: Extincted.

Malas Gimmick

Bersama metallic hardcore yang akan dibawa moshing di tengah industri musik, Extincted memegang pakem untuk tetap fokus berkarya, tanpa memusingkan apa yang akan mereka dapatkan di masa berjalan.

“Kita pengen Extincted ngenalin diri dari karyanya, bukan dari jualan. Biasanya kalau yang kita kerjain enggak ada beban itu justru yang paling mahal. Bisa dibilang jadi aktual. Apa yang dilihat dan dirasain itu yang dibuat,” kata Rangga.

Reza Septian cukup yakin raungan nada berbau old skool bisa mudah diterima di arena musik modern.

“Yang saya denger, enggak ada di Bandung teh yang semacam metallic hardcore gini. Belom pernah denger. Dari hasil belajar bareng di Extincted, saya yakin musik ke depan enggak akan bisa lepas dari pengaruh oldskool. Saya yakin generasi saya juga bakal nerima musik ini,” katanya.

Dari sambutan single debut Piromania yang direspons bagus, tentu membuat dirinya makin bersemangat. Reza mengungkap, lirik yang ada di dalam lagu Extincted muncul dari keresahan dan diciptakan dengan jujur.

“Saya dari dulu mau bergabung sama band apapun, asalkan make music, not gimmick. Jadi kan gimmick tuh dibuat biar Si Band meledak, bukan ngasah karyanya tapi malah ngolah dramanya, dan itu sucks,” kata Reza.

Mufti juga lupa alasan dirinya diajak gabung di Extincted, karena beberapa baru ia kenal.

Tetapi ia melihat keseriusan bermusik di dalam band ini.

“Bermusik di sini bukan bertujuan komersial. Bermusiknya aja itu sudah menyenangkan, itu sudah terpenuhi. Selebihnya bersenang-senang aja. Dari mulai dengerin, ngulik, itu modalnya kesenangan. Ukuran saya sekarang mencoba meng-extend apa yang saya bisa kasih buat band ini,” ujar Mufti.

Dengan fondasi yang sudah kokoh, Lukita tinggal menjaga karakter band supaya tetap bisa konsisten produktif di masa mendatang.

“Jalanin Extincted mah ngalir aja tapi tetap diarahin. Tetap kita jaga karakter. Ikhtiar mah ikhtiar. Energi di-gas terus. Paling tinggal mapping waktu aja. Band mah urusannya membangun. Dasarnya apa? Komitmen, ketulusan, jujur,” ucapnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: