Exploratorium Musik Bandung, Wadah Lengkap Inkubator Ekosistem Musik

Exploratorium Musik Bandung menjadi museum perjalanan musik Kota Bandung, yang telah lalu hingga yang terlahir di kemudian hari. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

MIKROFON.ID – Upaya untuk menjaga semangat musisi produktif berkarya telah dimulai melalui Exploratorium Musik Bandung.

Gerakan ini akan menjadi museum perjalanan musik Kota Bandung, yang telah lalu hingga yang terlahir di kemudian hari.

Exploratorium Musik Bandung tak hanya mengangkat kembali artefak musik yang telah hadir sebagai inspirasi, tetapi juga menjalankan serangkaian program pembentuk ruang-ruang kreatif terbuka sebagai fondasi pendongkrak kualitas musik masa mendatang.

Exploratorium Musik Bandung dibentuk dari tiga komunitas besar mulai dari Jendela Ide, Bandung Music Council, hingga Komunitas Musisi Mengaji (Komuji).

Bertepatan dengan Hari Musik, Komunitas Musisi Mengaji, Bandung Music Council, dan Jendela Ide, berkolaborasi untuk meluncurkan program Eksploratorium Musik Bandung dalam acara “Road to Exploratorium Musik Bandung #1,” yang digelar Selasa, 9 Maret 2021.

Acara ini diselenggarakan dalam format offline dan online. Di sore hari, sosialisasi perkenalan Exploratorium Musik Bandung dibuka dengan diskusi dan paparan interaktif secara online dengan mengundang Triawan Munaf, Purwacaraka, Disbudpar Provinsi Jawa Barat, dan Disbudpar Kota Bandung.

Musisi senior asal Bandung, Purwacaraka sengaja hadir langsung di Rumah Komuji Indonesia, di Jalan Cilaki, untuk berdiskusi bersama para penggagas serta para pemangku kepentingan yang hadir melalui zoom meeting.

Bagi Purwacaraka, gerakan ini bukan main-main. Sudah saatnya Bandung merealisasikan impian memiliki museum sekaligus wadah pergerakan pendorong kemajuan musik Tanah Air.

“Ini bentuk komitmen serius dari teman-teman. Saya sengaja datang ke Bandung untuk dimulainya program ini. Bandung ini kan legenda musiknya jadi sesuatu banget untuk bangsa ini, ya. Enggak banyak daerah yang menghasilkan musisi. Kalau wadah bersama ini enggak bisa dilembagakan atau diwujudkan menjadi sebuah museum, sungguh kebangetan,” tuturnya.

Founder Bandung Music Council, Angga Wardhana menuturkan, sebenarnya ide membuat sebuah tempat yang menjadi data musik sudah lama. Persoalannya, waktu yang terbuang cukup lama hanya untuk mencari bagaimana merealisasikan gerakan ini.

Ia cukup menggantungkan harapan pada embrio pergerakan besar yang dimulai dari tiga komunitas penggagas Exploratorium Musik Bandung ini.

“Kalau enggak mulai, kita enggak akan mulai-mulai. Dasarnya adalah bagaimana kita mendata ketika kita ingin tahu perkembangan musik di Kota Bandung, sampai berkembang ke Jawa Barat. Semua berkarya tetapi tidak pernah ada yang mencatat. Padahal permusikan Bandung memengaruhi nasional dan internasional. Kota Bandung memerlukan big data, suatu saat kita bisa mencari data itu,” ujarnya.

Direktur BMC Erlan Efendi mengatakan, desakan untuk mengusung kolaborasi bersama ini telah berkembang menjadi wujud Exploratorium Musik Bandung. Penantian lama terciptanya kesepakatan untuk memajukan musik, menjaga ekosistem musik, hingga membenahi kesejahteraan para pelaku industri musik telah dimulai lewat Exploratorium Musik Bandung.

Akan tetapi, gerakan ini juga membutuhkan keseriusan dari sisi pemegang regulasi yang bakal bersinggungan dengan pelaku industri musik, yakni pemerintah.

“Perlu perrwujudan yang riil dari pemangku jabatan. Perlu komitmen tegas. Dengan pertemuan ini rancangan memajukan industri musik bisa terang benderang,” katanya.

Exploratorium Musik Bandung menjadi museum perjalanan musik Kota Bandung, yang telah lalu hingga yang terlahir di kemudian hari. Foto: Muhammad Fikry Mauludy/mikrofon.id.

Independen Berkolaborasi

Pendiri Komuji Indonesia Eggie Fauzi menambahkan, para pelaku industri musik Bandung dibesarkan oleh komunitas independen. Segalanya terbangun dengan spirit kemandirian. Jumlahnya banyak, namun tersebar.

Kondisi itu yang dirasakan menjadi tidak efektif. Sebab, langkah untuk membangun ekosistem industri musik yang lebih baik adalah dengan berkolaborasi.

“Ide dan gagasan besar lewat wadah inkubasi, semisal bagi teman-teman dan anak muda berpraktik di dunia kreatif ini perlu didukung, karena bukan berpikir kepentingan kelompok apalagi perseorangan, tetapi demi seluruh pelaku musik,” katanya.

Kini, Bandung yang dikenal kehebatannya di lingkungan musik mengalami penurunan drastis. Produk dan karya terbatas, dengan rilisan karya yang tersendat.

Yang perlu dicermati dari melunturnya label Bandung sebagai barometer musik dan penggerak tren mengarah pada sejauh mana industri musik ini menjanjikan bagi para pelakunya, terutama soal kesejahteraan.

Penurunan minat dalam berkarya musik juga terganjal pemangku kepentingan, terutama soal sulitnya mendapat perizinan gelaran acara. Industri acara musik makin dijauhi setelah pandemi membatasi ruang gerak kreativitas.

Eggie menjelaskan, Exploratorium Musik Bandung berharap menjadi ruang inkubasi yang bisa menyaingi subsektor ekonomi kreatif lainnya. Bandung sebagai kota fesyen telah berdiri kukuh dengan jejaring industri clothing hingga perguruan tinggi yang terus mendukung penelitian di bidang tekstil sebagai penyokongnya.

“Integrasi industri di luar musik sudah terjalin. Walaupun ekosistem musik itu ada, sudah tumbuh, tetapi tidak terintegrasi. Nantinya semua bisa kolaborasi, saling dukung, langkah pencapaiannya yakni bandung punya inkubasi musik,” tuturnya.

Dengan adanya museum musik, kata dia, explorasi jejak database tentang penelitian musik, atau perekenomian subsektor musik, bisa semakin mudah. Lebih jauh lagi, museum ini akan berfungsi sebagai inti pengembangan eksosistem industri musik.

“Museum ini harus ideal. Di situ harus ada fasilitas, yang embrionya ada permainan industri musik, yang membuat museum menyenangkan. Ada ruang interaksi sehingga menimbulkan pengalaman, lalu ada fasilitas yang merangkum kebutuhan seluruh pelaku industri musik. Museum nanti punya studio broadcasting, ruang pamer, ruang riset, hingga ruang pertunjukan,” tutur Eggie.

Direktur Jendela Ide Indonesia, Djaelani, mengungkap betapa pentingnya fungsi museum dari rumah besar Exploratorium Musik Bandung. Di dalamnya akan menampilkan sejumlah perjalanan musik di Bandung.

Para pelaku industri musik akan banyak menyerap pergerakan dan kualitas karya musisi masa lalu, semisal kiprah Harry Roesli. Museum ini akan merekam perkembangan musik yang sempat dikawal media pencatat perjalanan musik, namun telah berguguran.

“Majalah Aktuil hadir sejak 1957, tutup 80an awal, setelah itu tidak ada lagi. Baru 90an muncul Ripple. Setelah Ripple, 2009 ada Bandung World Jazz. Betapa hal ini nyata, tidak ada spirit kebersamaan. Harus coba kita rangkai lagi supaya keinginan diwujudkan bersama,” tuturnya.

Djaelani menegaskan, Exploratorium Musik Bandung takkan jadi sekadar cerita. Program 5 tahun pertama akan tercantum di dalam milestone pergerakan baru ini.

Sokongan UU Pemajuan Kebudayaan menjadi energi yang cukup bagi Exploratorium Musik Bandung untuk bergerak bersama pemerintah.

“Bertepatan Hari Musik, kami membuat konsorsium yang akan mengelola Exploratorium Musik Bandung. Kami berharap konsorsium ini terus berkembang. Maka, kami membuka ruang luas untuk pihak lain yang ingin bergabung,” katanya.

Dari Bidang Ekraf Disbudpar Kota Bandung, Trisye Avianti bersiap untuk berkolaborasi bersama Exploratorium Musik Bandung. Ia berjanji membuka ruang Bandung Creative Hub untuk dimanfaatkan sebagai fasilitas pendukung gerakan ini.

Adi Panuntun dari Sembilan Matahari juga siap ikut urun tenaga untuk membangkitkan kembali industri musik Bandung.

“Saya bersemangat ikut memeriahkan Exploratorium Musik Bandung. Terlihat ada take-off yang real. Ada sesuatu dari kebersamaan teman-teman musik. Yang jelas kita enggak mau ketinggalan merayakan komitmen ini bersama teman-teman Exploratorium Musik Bandung,” tuturnya.

Penyiar asal Bandung yang kini menjadi anggota DPR RI, M. Farhan siap menjadi penghubung kebutuhan Exploratorium Musik Bandung pada pemerintah pusat.

Bagi Farhan, Exploratorium Musik Bandung akan memiliki peran strategis sebagai media bagi musisi untuk bisa bersentuhan denga khalayak ramai. Peran strategis ini bisa menyentuh publik bukan hanya sebagai penghibur telinga dan pembagi emosi, tetapi juga bisa mengkomunikasikan peran kepada masyarakat secara musikal.

“Sebagai pribadi dan penikmat musik, saya sangat mendukung dibentuknya Exploratorium Musik Bandung sebagai pemelihara data musik. Tentunya kita ingin Bandung bukan hanya dikasih label sebagai kota musik, tetapi juga diakui sebagai kota yang bisa membangun ekosistem musik sebagai bagian dari aset bangsa,” ujarnya.

Acara ‘Road to Exploratorium Musik Bandung #1,’ ini adalah media yang merepresentasikan Eksploratorium Musik Bandung dalam versi ‘Mini’, sebagai gambaran dari sebagian apa saja yang akan ada di Exploratorium tersebut.

Kegiatan offline digelar di Rumah Komuji Indonesia, Bandung dengan menyajikan sederet display mini dari rencana museum yang menjadi jejak perjalanan perkembangan musik Kota Bandung.

Pameran ini melibatkan Rumah Musik Hari Roesli Alm yang menjadi salah satu perwakilan Maestro Musik Bandung. Selain itu, terdapat aksi Kendang dari komunitas Kendangers Bandung, alat-alat musik inovasi teknologi dari Kang Indra Fardiansyah, Motio Labs Indonesia yang merupakan penggagas aplikasi kursus musik online, serta komunitas kreatif Sembilan Matahari.

Pameran ini berlangsung mulai 9 hingga 11 Maret, dengan jam kunjungan dari 12.00 hingga 20.00 WIB.

Di malam hari, ada penampilan live music yang akan dilakukan dengan format Youtube Live, mulai pukul 19.00-21.00 WIB. Akan ada Bob Anwar, Uke fox, Tsaakif, dan Ali zaki, sebagai musisi-musisi yang merupakan jebolan Recvolution, salah satu program workshop musik Komuji di tahun 2020.

Exploratorium Musik Bandung adalah sebuah program jangka panjang, yang bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekosistem musik di Bandung, dengan mendirikan sebuah wadah yang menjadi inkubator dari ekosistem musik itu sendiri.

Ke depan, akan hadir kegiatan rutin ekosistem musik yang terintegrasi mulai dari hulu hingga ke hilir.

Acara ini diharapkan dapat menyebarkan informasi akan perjalanan perwujudan rencana Exploratorium Musik Bandung, sebagai bentuk perhatian para pelaku budaya musik terhadap pertumbuhan ekosistem musik itu sendiri, dan mendapat dukungan masyarakat dan para pemangku kebijakan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top
%d blogger menyukai ini: